Pamit

Pamit
43. Tenggelam Dalam Penyesalan


__ADS_3

"Malu sama siapa?"


"Ya sama Tuhan lah. Dosa banyak, kelakuan amburadul, pas di timpa musibah baru ingat dosa. Pas sehat jangankan ingat, ngerasa ada dosa aja nggak."


"Akan lebih memalukan kalau kita udah tahu dosa banyak tapi nggak berubah. Berubah dan meminta ampuan dalam kondisi apapun dan seburuk apapun pasti di terima sama Allah yang penting kita sungguh-sungguh. Jangan berpikir sesempit itu."


"Jadi aku masih ada kesempatan untuk mendapat pengampunan?"


"Tentu saja. Mau aku bantu duduk untuk sholat?"


"Aku bisa sendiri, aku harus belajar untuk tidak bergantung dengan orang lain."


"Dalam situasi tertentu kita tetap akan membutuhkan bantuan orang lain. Semandiri apapun kita."


Rahma membantu Anang untuk duduk lebih tegap. Ia merasa iba pada pasiennya satu ini. Datang ke rumah sakit dengan kondisi yang memprihatinkan dengan luka yang cukup parah.


"Kenapa Dokter mau bantu saya? Saya hanyalah manusia kotor," ucap Anang pada merasa jijik pada dirinya sendiri.


"Bapak bukan satu-satunya manusia kotor di dunia ini. Lagi pula kita ini sesama manusia harus saling tolong menolong, bukan? Kita bisa memperoleh pahala dari hal-hal terkecil sekalipun.


Getaran di meja dekat ranjang pasien membuat dua orang yang berada di sana mengalihkan pandangan ke arah yang sama. Rahma melihat Anang yang hanya menatap ponsel itu tanpa berniat untuk menyentuh.


"Ambilah dan terima panggilan ini. Orang ini sangat peduli padamu," ucap Rahma menyerahkan ponsel yang sejak tadi bergetar.

__ADS_1


Anang menerima ponsel itu dan melihat nama yang tertera di layar.


"Orang ini tidak peduli padaku. Dia hanya peduli pada dirinya sendiri."


Anang yang kesal memutuskan panggilan tersebut. Ia tahu maksud Galuh terus menerus meneleponnya, memang kenapa kalau ibunya sakit? Ia bukan dokter yang bisa menyembuhkan sakit sesorang, ia juga bukan dukun yang bisa memindahkan penyakit seseorang ke orang lain, juga bukan Tuhan yang bisa menghilangkan penyakit orang. Kenapa adiknya yang satu ini terus mengganggunya? Rutuk Anang dalam hati yang sudah kerasa kesal sangat.


"Kenapa dimatikan?"


"Dia tidak berguna, sudah ku bilang dia tidak peduli padaku. Kenapa kamu masih bertanya?" Anang tanpa sadar bicara ketus pada Rahma.


"Untuk apa dia telepon kalau tidak peduli padamu? Jangan-jangan kamu punya hutang yang belum di bayar makannya kamu anggap dia nggak berguna." Rahma sengaja bicara seperti itu bukan bermaksud untuk memancing emosi Anang.


Entah apa yang membuat Rahma merasa penasaran sekali dengan Anang. Pria yang mengatakan tak punya siapa-siapa dan apa-apa ini selalu memanggil nama anaknya di dalam tidurnya. Lalu bagaimana bisa ia mengatakan tak punya siapa-siapa ketika ia sendiri punya anak? Bukankah anak adalah harta yang tak tergantikan oleh apapun bagi orang tuanya?


"Salah satu tanda seseorang itu taubat dengan sungguh-sungguh adalah bersikap sabar terhadap apapun, tidak sedikit-sedikit marah, karena terkadang orang-orang yang pemarahlah yang jauh sama Allah. Karena mereka lebih mudah dikuasai oleh para setan, iblis, dan juga kawan-kawannya."


Anang menatap Rahma sejenak, ada guratan rasa bersalah ketika ia sadar sudah membentak wanita di depannya.


"Maaf," ucap Anang lirih. "Jika kamu tahu, aku benar-benar sendirian di dunia ini. Aku di tinggalkan orang-orang yang aku cintai," imbuhnya dengan tatapan sendu.


"Kita memang tidak kenal dekat, bahkan kita baru bertemu seminggu yang lalu sebagai pasein dan dokter. Kamu bisa anggap aku sebagai teman jika kamu mau. Kamu bisa panggil aku, Rahma." Wanita berparas cantik itu berjalan ke arah jendela yang menampilkan jalanan yang masih ramai kendaraan.


"Memang akan terdengar aneh jika kita bicara sesuatu atau problema yang sangat pribadi kita ke orang yang baru kita kenal. Kita punya banyak teman, kita punya keluarga, kita punya saudara tapi merasa tak punya siapa-siapa. Terkadang memang itu cara Tuhan untuk mengingatkan kita agar semua keluh kesah di keluhkan hanya pada Sang Pencipta. Tapi yang namanya manusia terkadang butuh bahu yang nyata hanya untuk bersandar melepas penat. Lalu Tuhan mengirimkan satu orang yang bisa jadi itu adalah jalan kita untuk lebih dekat pada-Nya. Anggap saja aku adalah orang itu, orang yang di kirim Tuhan untuk kamu yang tidak punya siapa-siapa." Rahma masih berada di tempat yang sama. Menerawang jalanan yang tak henti-hentinya di lindas oleh kebisingan.

__ADS_1


"Kamu bicara begitu karena belum kenal aku, seandainya kamu tahu masa laluku. Aku tidak yakin kamu akan bicara seperti itu." Anang menatap tajam Rahma. Sedangkan yang di tatap masih tersnyum dengan anggun.


"Semua orang punya masa lalu yang buruk. Terkadang baiknya seseorang di masa sekarang adalah orang yang pernah melewati masa lalu yang begitu buruk. Kalau sudah tahu masa lalu buruk, kenapa nggak di coba untuk merubah masa sekarang agar lebih baik? Agar masa depan juga indah.


Kenapa fokusnya di masa lalu yang sudah jelas kita tidak akan bisa rubah? Kita tidak bisa kembali ke sana. Kamu menyesali masa lalumu, kan? Kenapa kamu nggak coba untuk bangkit dan memperbaiki masa depanmu mulai dari sekarang?" Rahma berjalan dan duduk di tepian ranjang.


"Aku memperbaiki masa depan untuk siapa?"


"Dirimu sendiri. Katanya kamu merasa kotor, banyak dosa. Kalau ucapan kamu tadi hanya omong kosong, ya sudah. Lupakan semua ucapanku dan selamat menikmati penyesalanmu."


Rahma bangkit dan berjalan menuju pintu. Hingga sebuah suara dari Anang membuatnya menghentikan langkah.


"Tunggu! Terima kasih sudah membuka jalan pikiranku."


"Sama-sama. Sampai ketemu besok, aku pulang dulu." Rahma melanjutkan langkahnya setelah itu.


Setelah pintu tertutup dan Rahma sudah benar-benar pergi, Anang memantapkan diri dan memberanikan diri untuk mulai kembali ke jalan yang sudah lama ia tinggalkan.


Mengambil wudhu dengan cara tayamum membuatnya kembali ingat pada Ayu. Wanita yang mengajarinya tayamum, wanita yang di jadikan sebuah alasan bagi Anang untuk tetap beribadah meski tak sehat.


'Ah kenapa semua hal dan semua yang aku lakukan selalu mengingatkan aku pada Ayu. Seberharga itu kamu untukku, Yu. Kamu terlalu berharga untuk pria bodoh sepertiku.'


Tak kuat dengan penyesalan yang kembali Anang rasakan, ia akhirnya tenggelam dalam isakan. Memori yang sudah ia bangun dengan Ayu selama bertahun-tahun tiba-tiba saja menari-nari di pelupuk mata, memenuhi kepala dan sukses membuat dada semakin sesak.

__ADS_1


Setelah merasa lega dengan tangisan, ia pun melaksanakan sholat isya. Kewajiban yang ia tinggalkan sejak bertemu dengan Winda, untunglah ia masih ingat urutan gerakan dan juga setiap bacaan. Dalam sholatnya pun Anang masih terisak, ia benar-benar malu sekian lama tak menghadap pada-Nya, kini ia kembali dengan keadaan yang berbeda.


__ADS_2