Pamit

Pamit
60. Di Luar Rencana


__ADS_3

"Kamu sudah gila, Kak? Mana mungkin aku bisa berbohong di depan orang tua? Nggak mau!" tolak Dara cepat begitu tahu apa yang harus ia lakukan untuk menolong Rifki.


"Ku mohon, Ra. Sekali ini saja!" pinta Rifki menyatukan kedua telapak tangan memohon. Wajahnya sangat memelas dan justru mengundang tawa di bibir teman-teman Dara.


"Kamu lihat, dong Ra! Itu lihat! Masa aku nikah sama gadis bertubuh besar seperti itu? Kamu bisa bayangkan malam pertama kami, mungkin aku sudah habis ditimpa olehnya." Rifki masih merengek dan justru membuat Dara tertawa.


"Udah, Ra bantu aja!" ucap salah satu teman Dara dan diikuti teman lainnya.


Dara berdecak, "Ya udah. Untuk kali ini aja, aku nggak mau kalau di suruh melanjutkan sandiwara ini di kemudian hari, ya." Dara memberi peringatan untuk Rifki.


"Iya, makasih, ya. Aku ke sana dulu." Rifki kembali berjingkat-jingkat menuju ke belakang lagi.


Sebelum ia benar-benar pergi ke meja Ibunya, ia merapikan rambut dan baju terlebih dahulu. Ia baru sadar bahwa saat bertemu dengan Dara tadi penampilannya seperti penampakan.


"Lah ini, dia. Ini Rifki, anak saya." Ibu Rifki memperkenalkan anaknya.


Rifki dan gadis gemuk itu berkenalan dan kembali duduk berhadapan. Beberapa menit berlalu, Rifki tampak gusar menunggu kemunculan Dara. Berkali-kali ia menengok ke meja yang tadi digunakan oleh Dara.


Rifki menggeram kesal begitu melihat Dara masih asyik dengan teman-temannya. Mengeluarkan tawa dan sesekali saling pukul dengan temannya. Entah apa yang mereka obrolkan.


Rifki menunjuk-nunjuk Dara saat salah satu temannya menatap Rifki. Seakan memberi kode agar Dara segera menolongnya dari situasi yang membuatnya terhimpit ini.


"Tuh, lu suruh ke sana sama kekasih, lu," beritahu salah satu temannya.


"Hem, ya udah gue ke sana dulu, ya. Repot banget perjaka tua satu itu," gumam Dara bangkit meninggalkan kursi nyamannya.


Gadis itu ke toilet terlebih dahulu, membenarkan letak kerudung dan memeriksa pakaian apakah sudah rapi atau belum. Jangan tanyakan kenapa Dara melakukan ini, ia sendiri juga tak tahu kenapa ia melakukannya.


Saat di rasa cukup, Dara melangkah meninggalkan toilet. Dengan degup jantung yang berkejaran dengan waktu, Dara melangkah maju lebih dekat dengan meja di mana Rifki duduk.


"Aduh, kenapa jantungku begini?" gumam Dara dengan langkah yang semakin pelan.


Ujung netranya menatap Rifki yang ternyata juga menatapnya. Pria itu memberikan kode agar lebih cepat berjalan. Sungguh Rifki benar-benar tak betah dalam situasi ini.

__ADS_1


"Bismillah," gumam Dara pelan dan sedikit menambah kecepatan laju jalannya.


"Kak Rifki, kamu ada di sini?" sapa Dara mulai menjalankan apa yang diminta Rifki.


"Oh, Hai. Iya aku sedang...." Rifki mengalihkan pandangan pada Ibunya. "E, bu kenalin ini Dara." Rifki mendekat ke telinga Ibunya. "Bu, sebenarnya aku sedang dekat dengan dia. Aku memang belum mengatakan apapun ke Ibu karena dia masih kuliah. Aku berpikir aku akan memperkenalkan Ibu sama dia ketika dia sudah siap. Tapi Ibu terus menyuruhku menemui anak teman Ibu," bisik Rifki se pelan mungkin.


Ibu Rifki memberikan pelototan pada anaknya. Anaknya sungguh membuat wanita itu malu. Dengan kesal Ibu Rifki menginjak kaki anaknya. Pria itu hanya menahan sakit dengan menggigit bibir bawahnya. Dan hal itu sukses membuat jantung Dara melorot dari tempatnya.


"Ini siapa? Katanya Rifki nggak punya pacar," tanya wanita yang menjadi teman Ibu Rifki.


"Memang ini bukan pacar saya, kok Tan. Hanya dekat, kami hanya dekat saja," sahut Rifki pura-pura.


"Tapi, kan kakak kemarin bilang kalau mau serius sama aku? Kakak lupa?" tanya Dara yang membuat Rifki menoleh seketika.


Ucapan ini tidak ada saat perjanjian tadi, kenapa tiba-tiba Dara mengarang ucapan yang membuatnya terasa tercekik oleh pandangan Ibu Rifki. Pria itu menatap panik satu-persatu orang yang satu meja dengannya.


"E, bu Dian. Saya benar-benar minta maaf, sepertinya saya harus bicara dengan anak saya. Sekali lagi saya mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Beri waktu saya untuk menyelesaikan kekacauan ini. Saya permisi," ucap Ibu Rifki sungkan dan menggeret anaknya keluar restoran.


Dara pun ikut seta terseret karena sejak tadi tanpa sadar tangan mereka saling terpaut satu sama lain.


"Ya, seperti yang aku bilang tadi, Bu. Aku sedang dekat dengan Dara dan alasan aku nggak bilang dulu ke Ibu sudah aku jelaskan tadi, kan?"


"Sudah berapa lama kalian kenal? Ibu merasa dia terlalu muda untuk yang sudah berumur seperti kamu."


"Dua tahun."


"Satu tahun."


Dara dan Rifki menjawab bersamaan namun keduanya mengucapkan kalimat yang berbeda. Mereka saling pandang dalam kepanikan.


"Maksudnya gini, Bu. Kami kenal sudah dua tahun tapi dekatnya baru satu tahun ini. Begitu," ralat Rifki dengan cepat.


Ibu Rifki menyilangkan tangan di depan dada. Menunjukkan ekspresi tak percaya, menatap keduanya dengan bergantian. Menyelidiki kebenaran dari sorot mata yang mereka pancarkan.

__ADS_1


"Kamu masih kuliah? Semester berapa?" tanya Ibu Rifki dengan masih bersedekap.


"Baru semester empat, Tan."


"Kamu yakin mau sama anak saya? Anak saya usianya sudah tiga puluh lima. Kalau untuk bermain-main lebih baik jangan, karena saya mencari menantu bukan cari pacar untuk Rifki."


Dara bingung hendak jawab apa, sungguh ini bukan skenario yang mereka rencanakan. Rifki tak kalah panik, ia sedang berpikir keras untuk keluar dari situasi ini. Namun, entah mengapa semakin ia berpikir kepalanya semakin pusing dan ia sama sekali tak mendapat ide.


"Bu, Ibu nggak enak, dong tanya begitu ke Dara. Lain kali saja kita bahas, ya. Sayang, ayo aku antar pulang."


Mata Dara mendelik seketika. Namun melihat Rifki yang bersikap biasa saja membuat Dara berpikir bahwa ia salah dengar.


"Tunggu, sayang? Katanya masih teman dekat, kok manggilnya sayang?" tanya Ibu Rifki bingung.


"Sayang?" gumam Rifki. Pria itu menatap Dara bingung seakan ia mencari jawaban pada gadis itu.


Dara hanya mengedikkan bahu acuh.


"Ibu nggak salah dengar, ya. Kamu tadi manggil Dara sayang. Kamu makin lama  makin aneh, Rif. Sudahlah, Ibu mau pulang." Ibu Rifki memasuki mobil. "Pulang nggak?" tanyanya yang melihat Rifki hanya diam mematung.


"Aku di sini dulu."


Tanpa menjawab lagi mobil melaju begitu saja meninggalkan suara yang perlahan hilang di telan angin.


"Huft." Akhirnya Rifki bisa bernafas kembali. Debu yang memenuhi rongga paru-parunya seakan hilang dan pergi bersama dengan Ibunya.


"Udah selesai, kan? Aku mau balik ke temen-temen." Pertanyaan Dara membuatnya tersadar bahwa ia harus berterimakasih pada gadis itu.


"Iya, udah. Makasih, ya."


"Kembali kasih. Oh, ya. Kamu masih punya hutang penjelasan kenapa kamu manggil aku sayang. Jangan bilang kalau kamu beneran ada rasa sama aku," goda Dara lalu berlari menjauh dari Rifki.


"Ha? Sayang?"

__ADS_1


mampir juga di novel temen otor, ya. cerita yang nggak kalah seru dan bikin deg-deg an. cus mampir! ☺☺



__ADS_2