Pamit

Pamit
112. Dara Yang Polos


__ADS_3

Jika pengantin baru menghabiskan waktu dengan honeymoon, lain halnya dengan Rifki dan Dara. Mereka memang menghabiskan waktu sepanjang hari di kamar selama dua hari ini, tapi tidak melakukan apapun? Jika pasangan pengantin baru gencar memproduksi keturunan, mereka gencar memperbanyak perusahaan di permainan monopoli.


Entahlah, entah kurang kerjaan atau memang mereka ini kurang menikmati kebahagiaan di masa kecil mereka. Dengan niat yang utuh dan bulat, bisa-bisanya Dara meminjam mainan Alif dan Agil lalu ia bawa ke rumah ibu mertuanya.


"Aduh Mas sakit, ih jangan kenceng-kenceng," teriak Dara kesakitan.


Bu Rini yang kebetulan melintas di depan kamar sang anak, seketika menghentikan langkanya. Kepala beliau mendongak ke dinding yang terpasang sebuah jam di sana.


"Masih jam tiga sore. Rifki terlalu aktif, mungkin karena lagi hujan, jadi mereka butuh yahh hangat-hangat," gumam bu Rini menahan senyum lalu beranjak dari depan kamar anaknya.


"Jangan keras-keras, nanti dikiranya kita lagi ngngapain," protes Rifki membekap mulut istrinya.


"Lagi hujan petir di luar, nggak mungkin denger juga. Lagian kalau dengar emang kenapa? Orang kita udah suami istri."


Mendengar ucapan Dara yang menyebutkan mereka adalah sepasang suami istri membuat Rifki sedikit ngilu. Pasalnya,Ā  sudah tiga hari ini mereka menjadi sepasang suami istri, tapi aset mereka sama sekali belum bertemu. Jangankan bertemu bertegur sapa pun belum.


"Kenapa diam Mas?"


"Hah? Nggak, nggak apa-apa. Emang Mas harus guling-guling?"


"Kamu pasti lagi mikirin itu, ya?"


"Apa?"


Belum sempat Dara menyahut, suara petir yang sudah beberapa lama terdiam tanpa aba-aba tiba-tiba menggelegar begitu keras. Dara yang gampang terkejut seketika melompat ke arah Rifki. Menyembunyikan kepalanya di pundak sang suami dan memeluknya dengan erat.


"Modus, nih pasti modus, mau peluk Mas aja harus nunggu petir dulu emang?"


Plak


"Aku kaget beneran tahu, Mas."

__ADS_1


Mata mereka bertemu. Untuk sesaat mereka saling tatap di bawah heningnya hari yang menuju senja. Tangan Rifki terangkat untuk menangkap wajah istrinya.


"Kita keluar kamar, yuk! Hawanya nggak cocok buat, Mas. Mas ini laki-laki normal, Dek. Tapi Mas juga nggak mau maksa kamu. Lebih baik Mas nunggu kamu siap daripada kamu harus teringat dengan masa lalu kamu."


"Kita hampir melakukannya, kan waktu itu? Sebenarnya aku hanya trauma dengan rasa sakitnya saja. Kejadian itu membuat aku berpikir bahwa setiap kali melakukan hubungan suami istri pasti akan terasa sakit."


"Kalau Mas melakukannya dengan pelan mau? Janji nggak akan sesakit itu, tapi kalau kamu belum siap nggak apa-apa. Mas akan sabar menunggu." Rifki bicara masih dengan nada lembutnya.


"Sebenarnya aku juga nggak mau menunda-nunda, Mas. Karena aku ingat, Mas pernah curhat ke aku kalau Ibu mendesak Mas untuk menikah agar Mas segera memberikannya cucu."


"Memang, iya, tapi untuk sekarang Ibu pasti sudah tidak akan mendesak lagi, kan Mas udah nikah cepat atau lambat pasti akan ngasih cucu. Jangan memikirkan hal yang aneh-aneh. Yang terpenting sekarang buat Mas, ya hanya kamu."


Rifki mendekatkan kepalanya ke wajah Dara seperti yang ia lakukan dua hari yang lalu. Tanpa mengucap apapun atau melakukan gerakan untuk sebuah penolakan Dara lagi-lagi hanya pasrah dan memejamkan matanya.


Dua hari yang lalu, Dara merasakan sentuhan lembut bibir suaminya dan kini ia kembali merasakannya. Masih dengan irama dan sesapan yang sama. Lagi-lagi sentuhan kelembutan yang Rifki berikan berhasil membuat Dara terbuai dan entah terbang ke mana.


Tak mau membuang waktu lagi, Rifki melepas satu persatu kancing piyama Dara. Logikanya dan juga perasaannya kini tengah berperang di tengah cumbuan panas di bawah derasnya hujan. Logikanya mengatakan untuk 'teruskan' tapi perasaannya mengatakan hal lain.


Yes!


Rifki berhasil melucuti pakaian Dara dan membuangnya ke lantai tidak ada reaksi apapun selain membalas ciuman yang terus ia sodorkan.


Rifki melepas pagutan bibir itu sebentar lalu menatap Dara begitu dalam. Ia menyatukan kening sesaat lalu kembali membungkam bibir Dara. Rifki merasakan cengkraman tangan Dara begitu kuat di lengannya. Merasa bahwa ini adalah sebuah kode, Rifki memperdalam lidahnya memasuki gua.


Tak berselang lama Rifki menidurkan Dara di tempat tidur. Pria itu menyudahi kegiatannya dan berpindah di lemak kembar milik Dara yang baru pertama kali ia lihat setelah menjadi suaminya selama tiga hari ini.


Rifki begitu berlama-lama menetap di undangkan kembar milik Dara yang menantang itu. Puncak undukan yang begitu ranum berhasil menaikkan level hasratnya yang lama terpendam.


Merasa sudah tak sanggup lagi untuk bertahan Rifki mendongak menatap istrinya. Wajah Dara begitu tenang tak ada raut takut sama sekali ataupun khawatir Rifki tak menemukan itu. Lama Rifki menatap wajah istrinya lalu,


"Kamu siap? Mas janji akan melakukannya dengan pelan. Kamu bisa bilang ke Mas kalau kamu merasa kesakitan agar Mas bisa lebih hati-hati. Janji nggak akan sakit, Dek."

__ADS_1


Dara mengangguk lemah. Ia tak ada pilihan lain, melihat wajah Rifki yang begitu memelas ia menjadi iba dan berusaha mengalahkan rasa takut yang selama ini menghantuinya.


"Mas akan buat kamu tidak berfokus pada proses masuknya agar kamu tidak merasakan sakit." Rifki mengubah posisinya dan juga Dara, ia sudah bersiap akan mencetak gol sore hari ini. "Jangan tegang, ini tidak sesakit yang kamu kira," Bisik Rifki dengan nada suara yang berbeda. Hal itu membuat Dara seketika menelan ludahnya kasar.


Dengan perlahan namun pasti, Rifki menuntun adiknya untuk menuju ke singgasana sempit yang akan membuatnya betah berlama-lama di sana. Hanya membutuhkan waktu sebentar saja, adik Rifki sudah hampir tenggelam di singgasana itu. Mungkin saja dengan hanya satu kali dorongan saja, adik Rifki sudah benar-benar tenggelam dalam lautan yang akan membawanya lupa daratan.


"Sudah hampir tenggelam nggak sakit, kan?" Di saat sedang begini saja Rifki masih sempat bertanya.


"Apanya yang tenggelam?" Pertanyaan yang kembali di jawab oleh pertanyaan dari Dara.


"Adiknya Mas, Dek."


Dara terlihat kebingungan, "Adik? Yang mana? Lagi bahas apa, sih, Mas?"


"Yang kita lakukan sekarang."


"Kita lagi buat baby, kan? Bukan adik?"


Rifki menghela nafas panjang. "Sakit, nggak?"


"Nggak, kok. Aku nggak merasakan sakit. Enak malah."


Sedetik di kemudian, Dara sadar dengan apa yang ia ucapkan. Seketika wajahnya memanas lalu ia meraih bantal dan menutupi wajahnya dengan benda itu.


Rifki terkikik geli. Dengan segera ia membuang bantal itu dan


Blush


Adiknya benar-benar tenggelam dalam lautan yang sempit itu.


(Untuk hari ini cukup satu bab saja, ya emak-emak. Besok kita akan berpisah dengan Rifki dan Dara. Belum bisa move on sebenarnya, tapi otor merasa sudah cukup memberikan mereka ujian. Jadi kisah mereka akan berakhir besok. Terima kasih untuk yang sudah setia menemani dari awal hingga sekarangšŸ™)

__ADS_1


__ADS_2