
Galuh masih tak beranjak dari tempat. Duduk diam menatap sang kakak yang sejak tadi hanya diam. Yang terdengar hanya suara gesekan antara daun yang satu dengan yang lainnya yang saling berdesakan tertiup angin yang berhembus mesra.
"Mas," panggil Galuh sekali lagi seraya meletakkan tangannya di kaki Anang.
Merasa ada yang aneh dengan kaki yang ia pegang, pria yang berwajah mirip dengan Anang itu meneliti dan meraba kaki sang empunya.
"Mas, kakimu? Ka...kakimu kenapa?" Galuh yang terlalu syok bertanya dengan terbata-bata.
Anang mengambil nafas dalam-dalam sebelum bercerita, "kecelakaan. Aku kecelakaan ketika pulang dari sidang Ibu. Jadi waktu berkendara pikiranku sedang berkelana jadi nggak fokus sama keadaan jalan. Lampu merah aku trobos aja, dari jalur kanan truk melaju kencang, aku juga kencang. Akhirnya kami sama-sama tak sempat injak rem dan ya udah, aku terpental beberapa meter dan kakiku terlindas mobil. Dan akhirnya seperti yang kamu lihat ini." Anang menjelaskan dengan mengingat kembali momen tragis itu. Momen di mana ia hanya berharap kematian tapi justru takdir menyelamatkannya meski harus mengambil satu kakinya.
"Ya ampun, Mas. Jadi ini yang buat kamu nggak mau ketemu Ibu?" Galuh yang semula ingin marah merasa iba atas apa yang menimpa Kakaknya.
"Nggak juga. Alasan aku masih sama. Kamu kalau mau cari aku untuk bujuk aku biar ke sana, aku kasih tahu dari sekarang. Kamu hanya buang-buang waktu saja. Aku nggak akan pernah mau ketemu sama Ibu."
Rahma yang berada di tengah-tengah mereka hanya diam menatap adik dan kakak itu bergantian. Ia tak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan. Anang tak pernah menyenggol masalah keluarganya saat bersama dengan dirinya. Meskipun setelah keluar dari rumah sakit, mereka beberapa kali bertemu tak pernah Anang cerita soal ibunya.
'Persidangan Ibu? Nggak mau ketemu sama Ibu? Persidangan apa? Kenapa nggak mau ketemu? Apa orang yang sering menghubungi Mas Anang waktu di rumah sakit adalah pria ini?" Rahma berpikir keras serta menebak-nebak apa yang ia dengar.
"Sekali saja, Mas. Ibu pengen ketemu kamu. Hanya itu yang Ibu inginkan, setidaknya kamu bisa jadi support sistemnya dia." Galuh masih kekeh membujuk sang kakak.
"Aku sendiri butuh dukungan banyak orang, Luh. Bagaimana bisa aku jadi support sistemnya orang lain?"
"Kamu anak kesayangan Ibu, Mas. Apapun keadaan kamu, bagaimana kondisi kamu sekarang, itu nggak akan merubah kenyataan bahwa memang yang diinginkan Ibu ketemu kamu. Cuma ketemu doang. Ibu nggak berharap apapun lagi dari kita, Ibu udah pasrah jika dan menerima kenyataan soal hukumannya, Ibu cuman butuh kita temani saja, Mas."
'Hukuman? Apa yang mereka maksud adalah penjara? Kesalahan apa yang di perbuat sampai harus ditahan di usia yang aku yakin sudah tak lagi muda? Setega itukah?" Rahma masih bicara dengan dirinya sendiri.
Bukan bermaksud untuk ikut campur, tapi kehidupan Anang jujur saja membuatnya penasaran, banyak rahasia dan sepertinya kehidupan kelam sedang bersenggama dalam keluarga Anang.
"Anak kesayangan Ibu itu kamu."
__ADS_1
"E maaf sebelumnya, maaf jika saya lancang. Ini tempat umum, saya mohon untuk jangan berdebat di sini. Tidak enak dengan pengunjung lain. Selesaikan masalah kalian di rumah," sela Rahma memberanikan diri karena merasa sudah tak nyaman dengan beberapa pengunjung yang mengedarkan pandangan ke meja mereka.
"Kamu dengar, kan? Lebih baik kamu pulang. Aku akan datang menemui Ibu jika aku sedang khilaf, paham?" ujar Anang lirih namun penuh penekan.
Merasa tak bisa lagi banyak bicara dengan Anang, Galuh bangkit dan meninggalkan meja mereka. Ia berjanji pada dirinya sendiri akan datang lagi lain hari dan akan terus datang sampai Anang mau bertemu dengan Ibunya.
Galuh melakukan ini juga untuk dirinya sendiri agar tak terlalu sering pulang pergi dengan menempuh jarak yang jauh. Belum lagi istrinya yang selalu saja banyak bicara saat Galuh lebih memilih bertemu dengan Ibunya saat weekend.
Rasa lapar yang sempat mendera mendadak hilang saat bertemu dan berdebat dengan sang Kakak. Ia melintas di meja makan yang tadinya akan ia gunakan untuk mengisi perutnya, sudah ada nasi dan lauk yang tadi ia pesan. Hilang selera untuk makan membuat Galuh meninggalkan uang di meja tanpa menyentuh sedikitpun makanan tersebut.
Kini tinggal Anang dan Rahma yang sedang adu tatap dalam diam.
"Kenapa kamu jadi lihat aku begitu? Dia adikku, satu-satunya orang selalu meneleponku saat di rumah sakit." Anang menjelaskan tanpa ada pertanyaan sedikitpun yang terlontar dari mulut Rahma. Seakan tatapan yang Rahma lempar sudah mengatakan semuanya.
"Kamu adalah masalah sama Ibu kamu?" Pertanyaan Rahma rupanya tak ada hubungannya dengan penjelasan yang Anang katakan tadi.
"Nggak semuanya harus aku ceritakan ke kamu, kan?"
"Kamu salah jika mengatakan Ibu melakukan kesalahan besar tanpa sengaja, dia melakukannya dengan sadar dan tanpa paksaan dari siapapun. Bahkan dia sama sekali tidak merasa bersalah setelah melakukannya. Itu yang membuat aku pergi dari rumah."
"Apa dia sudah mendapatkan hukuman dari kesalahannya itu?"
"Sudah."
"Lalu apa lagi yang membuat kamu marah dan tidak ingin bertemu dengannya? Dia sudah dapat balasan atas apa yang di perbuat, kan?"
Hening.
*
__ADS_1
Ayu akhir-akhir ini sedang banjir pesanan baju anak dan skincare yang ia jual. Hari-harinya ia habiskan di toko bersama dengan dua karyawan yang ikut membantunya mengemas pesanan.
Tak masalah bagi Ayu meskipun ia harus kurang istirahat dan tidur dalam beberapa pekan terakhir. Yang terpenting adalah ia bisa mencukupi kebutuhan anak-anaknya dan menafkahi mereka dengan layak.
"Ibu, aku pengen liburan," keluh Alif menghampiri ibunya di toko.
Liburan? Bahkan Ayu sejak pindah rumah tak pernah membawa mereka ke mana pun meski hanya sekedar mengelilingi jalan. Entah sudah berapa bulan mereka tak pernah mendinginkan otak.
"Ke mana sayang?" Ayu bertanya tanpa mengalihkan fokusnya mengemas paket untuk di kirim.
"Aku pengen renang."
"Kita berangkat sekarang!" Ayu, Alif dan semua orang yang berada dalam ruangan itu menoleh ke sumber suara.
"Om Rifki, Om mau temani aku renang?" Alif melangkahkan kaki menuju pintu, di mana Rifki berdiri dengan bersandar pada gawang pintu.
"Iya dong."
"Sama Ibu dan adik-adik, ya Om."
"Iya." Rifki beralih menatap Ayu yang ternyata memperhatikan interaksi mereka.
"Tunggu apa lagi? Buruan berdiri, pulang dan bawa keperluan renang. Nggak usah banyak tanya, apa lagi protes. Otak sama badan juga perlu liburan, kerja keras boleh, penyakitan jangan," seloroh Rifki tertawa yang akhirnya mendapatkan lemparan kardus dari Ayu.
Alif nampak sangat antusias hari ini. Weekend pertama yang ia habiskan tak hanya di rumah atau bermain dengan teman-temannya.
"Woy, Jak dari mana?" sapa Rifki yang melihat Jaka melintas di depan rumah Ayu.
"Eh, Rif. Ini dari supermarket depan, ada yang di beli." Mata Jaka tak sengaja melihat Ayu yang memasukkan tas ke dalam mobil Rifki. "Mau ke mana? Kok kayak bawa banyak barang?" tanyanya.
__ADS_1
"Oh, si Alif ngajak renang. Mumpung aku di sini, ya udah berangkat aja."
Jaka hanya manggut-manggut lalu pamit pada Rifki. Ia berjalan dengan menahan kesal, entah kesal pada siapa, ia sendiri tak tahu.