Pamit

Pamit
39. Bertemu


__ADS_3

Sudah lima hari terhitung sejak Ayu dan jaka mengelilingi setiap sudut rumah sakit. Bahkan Ayu sudah melapor polisi atas tidak kejelasan keberadaan Alif. Namun, hingga kini belum ada kabar dari pihak kepolisian.


Sementara kini Ayu hanya bisa berbaring di rumah sakit. Tubuhnya tak lagi mampu menyangga kepala karena terlalu memikirkan sang anak yang hingga kini tak terlihat batang hidungnya.


Bu Lasmipun kini juga sedang menjalani pemeriksaan pihak berwajib karena ulahnya sendiri. Hidupnya semakin memgenaskan ketika Anang benar-benar pergi dari kehidupannya. Tak ada lagi kabar dan tak pernah menjenguk ibunya di rumah. Tak ada lagi perhatian dari anak sulungnya, beliau benar-benar kehilangan salah satu anaknya.


Tepat hari ini, hari ke tujuh Alif menghilang, Anang dan ibunya akan sama-sama di mintai keterangan. Hari ini adalah pertama kalinya Anang dan ibunya akan bertemu setelah lima hari yang lalu Anang pamit dengan membawa seluruh pakainnya.


"Nang, ibu kangen. Kamu apa kabar? Pulang lah, Nak!" pinta Bu Lasmipun saat mereka baru saja selesai dengan kesaksian mereka.


"Aku tidak punya rumah di sana. Lagi pula jika aku kembali hanya luka yang aku dapat. Sekarang aku hanyalah pria yang hidup sebatang kara. Tak punya siapa-siapa. Aku tak lagi bisa bertemu dengan semua buah hatiku, baik dari mantan istri sah maupun siri. Hidupku sudah tiada guna lagi."


"Jangan bicara begitu, kamu masih punya Ibu," pekik Bu Lasmi tertahan.


"Aku punya ibu tapi tidak dengan kasih sayangnya. Sudahlah, nggak perlu kita bahas ini. Aku ingin sendiri, aku permisi."


Anang bicara tanpa menoleh pada ibunya sedikitpun. Tatapan kosong yang ia lempar seakan menggambarkan kehidupannya yang kini benar-benar kosong.


Beberapa hari yang lalu Anang tak sengaja bertemu Rifki. Sahabat mantan istrinya itu mencercanya dengan caci maki yang menyakitkan hati. Bahkan ia tahu Ayu sedang sakit juga dari sahabatnya itu.


"Nggak perlu! Lu nggak perlu tahu bagaimana keadaan Ayu sekarang. Dan harusnya lu memang nggak sekepo itu, setelah lu nyakitin dia dengan begitu parahnya, lu tambah lagi lukanya. Udah nggak usah ketemu dia lagi! Lagian lu juga udah nggak boleh ketemu sama anak-anaknya."


Kalimat yang terlalu panjang untuk diingat, tapi hanya itu yang terngiang-ngiang di telinga Anang.


*


"Gimana kondisi kamu? Sudah jauh lebih baik?"

__ADS_1


"Alhamdulillah sudah, Mas. Udah enakan badannya. Udah bisa buat jalan meski sedikit pusing. Aku nggak tahu lagi harus bilang apa sama keluarga kamu, Mas. Aku terlalu merepotkan kalian. Kamu dan Ibu pasti cape jaga anak-anakku beberapa hari ini belum lagi kalian sering bergantian ke sini."


"Ngomong apa, sih? Kita, kan udah kayak keluarga. Bukannya dalam sebuah keluarga nggak boleh sungkan-sungkan begini? Jangan dipikirkan!"


"Gimana nggak kepikiran? Kamu aja jadi kerja malam karena harus jaga anak-anak.  Sekarang kondisi aku sudah jauh lebih baik, Mas. Nggak masalah kalau aku sendirian. Ada banyak suster juga di sini."


"Iya, nggak usah mikir apa-apa. Fokus saja sama kesehatan kamu."


Beberapa saat kemudian, pintu terdorong dari luar. Menampilkan sosok Rifki di sana. Ia meringis sungkan saat ada seseorang yang duduk di kursi dekat ranjang.


"Eh, ada tamu, ya? Biasanya Bu Lin yang di sini, jadi aku main buka pintu aja. Maaf sudah menggangu, aku akan kembali nanti." Rifki hendak menutup kembali pintunya namun tertahan karena larangan dari Ayu.


Sudah lama wanita itu ingin memperkenalkan sahabatnya pada Jaka. Dan baru sekarang ia mendapatkan momen ini.


"Eh, Rif. Jangan balik! Masuk sini!" cegah Ayu.


Pria yang selalu berpakaian rapi itu berjalan perlahan. Momen yang sebenarnya sangat Jaka hindari, ia merasa insecure saat bersama dengan Rifki. Bagi Jaka, Rifki adalah sosok pria yang berwibawa sangat jomplang dengan kepribadiannya.


"Rif, kenalin ini Jaka, anaknya Bu Lin."


Rifki seketika mengangguk dan mengulurkan tangan untuk kenalan. Mereka menyebutkan nama masing-masing.


"Senang bertemu denganmu, udah lama aku ingin bertemu denganmu. Kau tahu? Ayu sering bicara tentangmu dan keluargamu, dia bilang ka..."


"Rifki apaan, sih," potong Ayu seraya memberikan pelototan pada Rifki. "Jangan di dengar, Mas. Rifki memang begini orangnya, terlalu banyak bicara." Ayu beralih bicara pada Jaka.


"Iya, nggak masalah. Kalau begitu aku permisi dulu, ya. Kalian mungkin perlu waktu untuk berdua."

__ADS_1


"Nggak, Jak. Aku ke sini bentaran doang, kok. Mau kerja juga, tiap hari memang aku ke sini sebelum berangkat dan nanti ke sini lagi pas udah pulang. Tapi ya cuman satu sampai dua jam aja. Nggak lama."


"Begitu, ya," kata Jaka yang sejujurnya canggung berdiri di tengah-tengah mereka.


Rifki yang sudah banyak tahu soal Jaka berusaha untuk mengakrabkan diri. Ya, Ayu sering bercerita mengenai Jaka dan Bu Lin yang banyak membantunya. Keluarga yang selalu di agung-agungkan oleh Ayu di depan Rifki.


Memang benar, Rifki yang sudah bertemu dengan Bu Lin beberapa kali membenarkan apa yang pernah dikatakan Ayu. Bu lain memang sangat baik dan mudah bergaul dengan orang baru. Buktinya Rifki pun sekarang juga akrab dengan beliau.


*


"Bagaimana, masih sering pusing kepalanya?" Gita bertanya seraya menyuapi sarapan untuk Alif.


Anak kecil itu baru saja beberapa hari keluar dari rumah sakit. Namun, ia saat ini masih di rumah Gita atas permintaan Alif sendiri. Anak kecil itu tak mau langsung pulang bukan karena tanpa alasan, ia tak mau membuat Ibunya khawatir dengan luka dan kepala yang masih di balik perban.


Alif menunggu kepalanya terbuka lebih dahulu baru ia akan meminta antar pulang. Meskipun masih ada beberapa luka dibagian tubuhnya, tapi luka tersebut sudah mulai mengering dan akan sembuh beberapa hari lagi.


"Udah nggak, Tante. Terima kasih sudah mau nolong Alif dan kasih tumpangan Alif tidur. Setelah ini Alif mau pulang, kepala Alif udah nggak di perban, luka-lukanya juga sudah mulai kering. Ibu nggak akan terlalu khawatir hanya luka seperti ini. Tapi aku nggak tahu jalan pulang, Tante." Alif menjawab dengan panjang serta dengan semangat mengunyah makanan. Sudah beberapa hari makan makanan rumah sakit yang hambar membuat Alif banyak makan setelah keluar dari sana.


"Nggak apa-apa, nanti kita ke kantor polisi. Ibu kamu sudah lapor polisi untuk cari kamu. Tante juga baru tahu kemarin, habis ini kita pulang. Makan dulu sampai kenyang, ya."


Selesai sarapan, Gita dan Alif menuju ke kantor polisi terdekat. Gita menjelaskan duduk permasalahan hingga detik ini yang Alif meminta untuk tak diantar pulang terlebih dahulu.


Merasa Alif sudah sehat dan bisa di tanya-tanya, polisi yang sejak tadi berjaga menanyai kronologi bagaimana bisa Alif hilang dan hingga kecelakaan.


"Baiklah, kalau begitu saya hubungi ibu kamu dulu, ya. Mau ngasih kabar kalau anaknya sudah ketemu." Salah satu polisi yang bertugas menekan-nekan layar ponselnya untuk menghubungi Ayu.


"Selamat siang, Bu. Saya Burhan dari pihak kepolisian, ingin mengabarkan bahwa anak ibu yang dilaporkan kecelakaan sekarang sedang berada di kantor kami."

__ADS_1


__ADS_2