Pamit

Pamit
20. Teman Rasa Keluarga


__ADS_3

Keesokan harinya, rumah baruku benar-benar ramai oleh para tetangga. Rupanya, warga di kompleks sini memang sangat kompak, mereka patungan untuk membeli peralatan dapur dan akan mareka pakai jika ada warga kompleks yang hajatan, seperti aku sekarang ini. Padahal aku tak ikut iuran, aku datang ketika semua sudah lengkap. Tapi mereka tetap saja memberiku pinjaman barang.


"Kalain dapat ide dari mana untuk beli alat dapur dan dibuat ramai-ramai begini? Jujur ini sih penghematan banget ya, jadi warga kompeks sini nggak perlu beli sendiri-sendiri. Jadi hemat juga, apa ada peralatan yang belum punya, Bu Lin?" tanyaku pada ketua perkumpulan ibu-ibu di sini.


"Ini ide ibu, Yu. Biar kita itu nggak susah pinjam sana sini, selain itu juga benar kata kamu tadi, bisa hemat. Ada sih peralatan yang belum ada, peralatan buat kue."


"Aku aja yang kasih bu, biar aku beli peralatannya. Itung-itung buat bayar sekarang, kalian semua bersedia meminjamkan aku meskipun aku baru di sini."


"Ya jangan, kita kumpulin uang sama-sama saja, siapapun yang akan menjadi warga sini pasti akan di perlakuan baik kok, Yu. Kompleks kita ini kan termasuk kecil, kalau nggak kekeluargaan ya nggak betah."


"Nggak apa-apa, bu, aku ada rezeki untuk beli alat-alat masak. Jadi please jangan tolak rezeki, nggak baik," kataku yang akhirnya mendapatkan persetujuan dari bu Lin Dan ibu yang lain.


Aku sangat tidak fokus bekerja hari ini, Anin yang mungkin masih asing dengan lingkungan di sini, sedikit-sedikit merengek dan tak mau jauh dariku. Sementara Alif dan Agil sudah bisa berbaur dengan anak-anak yang lain.


Para tetanga yang pernah jadi ibu muda sangat mengerti situasi. Mereka memaklumi ku yang harus sering meninggalkan dapur untuk menenangkan anakku.


"Yu, itu laki-laki yang cari rumah ini buat kamu siapa? Ibu pikir dia yang bakal nempatin, lumayan cakep orangnya, pengen ibu jadiin mantu padahal," tanya Bu Imah yang akhirnya mendapat sorakan dari ibu yang lain.


"Oh, saudara jauh bu," jawabku bohong. Entah kenapa kata-kata itu yang tercetus dari mulutku. "Kenalin aja, bu. Barangkali jodoh, belum punya istri juga dia," sambung ku.


Tak lama kemudian, orang yang dibicarakan muncul.


"Wih, rame nih. Ada apa?" tanyanya


"Selametan biar rumah nya berkah. Nggak kerja kamu?" tanyaku balik.


"Udah kaya nggak perlu kerja, uang datang sendiri." Jawaban dari Rifki sontak saja mengundang ceramah dari ibu-ibu yang lain. Sementara aku hanya menertawai nya karena dia salah bicara.


Kehadiran Rifki membuat aku sedikit terbantu, dia mengambil alih Anin. Selain itu adalah dia juga mengurus anakku yang lain. Sudah persis seperti baby sitter, aku yang tak pernah melihat Rifki begini jadi geli sendiri. Baru kali iki aku melihat sahabat kecilku itu bercengkrama dengan anak kecil.

__ADS_1


Sudah banyak menit kami lalui dengan berkutat di dapur. Berteman dengan bumbu dapur dan alat dapur lainnya. Akhirnya pekerjaan kami selesai di jam tiga sore. Satu persatu semua ibu yang membantu pamit pulang untuk membersihkan diri masing-masing. Tinggal aku dan Rifki yang masih duduk di ruang tamu tanpa kursi.


"Capek, nih minum!" Rifki menggeser segelas es yang entah di mana dia beli. Aku menyeruputnya sedikit, ada rasa ngilu di sudut bibirku yang masih sedikit memar.


"Laporin aja suami lu ke polisi, kekerasan dalam rumah tangga adalah kriminal," ucapnya tiba-tiba.


"Kok kamu tahu yang melakukan ini Anang?"


"Memang siapa lagi? Lu kagak ada musuh, lagipula cuma laki-laki yang mukul sampai memar begitu. Cewek paling cuma nampar doang. Sini deketan duduknya, gue kasih obat. Gue yakin ini luka nggak lu apa-apain. Sebel gue sama lu, jangan menyepelekan apapun, keliahatannya aja sepele luka begini, tapi buat makan nggak enak, nggak kasihan apa lu lihat anak-anak?" Kebiasaan Rifki mulai kambuh, niatnya baik, tapi disertai omelan khas ibu-ibu. Entahlah, aku merasa dia adalah pengganti ibuku yang tak pernah aku temui sepanjang hidupku. Ya, ibuku tiada demi menghadirkan aku ke dunia.


"Aku obatin sendiri aja, Rif. Nggak apa-apa."


"Bisa diem nggak? Nggak nurut sama gue, gue samperin Anang sekarang!" ancamannya.


"Mau apa?"


"Gue cekik lehernya," jawabnya emosi.


Aku memejamkan mata saat tangan Rifki mulai menyentuh bagian wajahku yang terluka. Sentuhannya begitu halus dan lembut. Aku jadi teringat Anang, dia juga seperti ini dahulu.


Tak terasa air mataku luruh ketika kenangan manis menari-nari di mata dan kepalaku. Rifki seketika menghentikan aktivitasnya.


"Kenapa? Gue terlalu kenceng, sakit?" katanya bingung.


"Nggak, aku inget masa lalu aja," jawabku seraya mengusap air mata.


Tangan Rifki meraih tanganku untuk dia genggam. Sempat melihat goresan tangan yang juga memar, tapi ia lebih memilih menenangkan aku dahulu.


"Gue tahu ini sulit buat lu, Yu. Lu nggak sendirian, gue masih ada." Sentuhan dari Rifki membuat aku sangat rapuh, tanpa sadar aku meletakkan kepalaku di pundaknya. Aku kembali terisak di sana.

__ADS_1


Tangan Rifki tak henti-hentinya menepuk-nepuk pelan pundak ku.


"Nangis aja kalau mau nangis, jangan di tahan. Semua itu hanya butuh waktu, Yu. Lambat laun pasti kamu bisa sembuh. Kamu tidak bisa melupakan kenangan bersama dia, nggak akan bisa. Tapi kamu bisa sembuh, dan itu hanya masalah waktu. Ketika kamu sudah sembuh nanti, kamu tidak akan menangis lagi mengingat kenangan apapun, baik sedih atau manis. Udah yuk, nangisnya. Kasihan anak-anak, ikut sedih juga nanti."


Aku bangkit dari pelukan Rifki. Menghapus sisa-sisa air mata yang masih ada.


"Makasih, kamu selalu ada buat aku. Bahkan di saat aku tak memiliki siapapun dan apapun, kamu masih ada di samping aku. Aku berharap persaudaraan kita akan terjalin hingga maut, aku mau anak-anak ku nanti bersahabat juga denganmu dan anakmu."


"Pasti, aku udah anggap kamu seperti adikku sendiri, bagaimana mungkin aku meninggalkan kamu seorang diri. Mandi sana! Udah sore, bentar lagi aku juga harus pulang, ada urusan."


Aku bangkit dan berjalan menuju kamar.


"Eh Yu, lu kagak beli perabot rumah?"


Astaga, baru saja dia bersikap baik dan sopan dengan menyebut aku, kamu, dalam hitungan detik kenapa kumat lagi kelakuannya.


"Ya beli lah, mana sempat aku beli, baru juga pindahan. Kalau ada waktu lah aku beli. Besok mau urus sekolah Alif sama merubah status jadi janda."


"Sama siapa ngurusnya? Ribet lu kalau harus bawa anak kemana-mana."


"Katanya suruh aku mandi, kamu ada urusan apa nggak?" tanyaku kesal.


"Ya nanya doang. Gue nawarin jasa babu sitter kalau lu butuh."


"Baby, Rif. Bukan babu. Emang nggak kerja kamu?"


"Ya bukan gue sih yang jagain, babu sitter yang ada di rumah kan ada. Bisa titipin ke rumah, gitu maksudnya."


"Gampang, nanti aku hubungin kamu kalau butuh."

__ADS_1


"Ya, kalau butuh doang lu hubungi gue," gumamnya yang masih bisa aku dengar.


__ADS_2