
Rifki terduduk sendiri dengan tatapan kosong ke depan. Dirinya dibuat bingung oleh semua orang. Tidak ada yang bisa dirinya hubungi pula, bahkan istri Jaka yang merupakan sahabatnya pun tiba-tiba seperti menghindar dari Rifki. Bahkan Ponsel Dara pun tiba-tiba tidak aktif, padahal semalam dirinya dapat memastikan dengan baik, jika ponsel Dara masih bisa dihubungi.
Rifki merasa benar-benar bingung dan tak tahu harus melakukan apa. Dirinya tidak bisa menghubungi siapapun, tentu saja rasa khawatir itu pasti selalu ada, namun pikiran buruknya berkata lain, seolah menyuruh Rifki untuk sadar diri, perihal keadaannya saat ini.
Mungkin saja semua orang tengah menghindar darinya, mungkin saja semua orang sudah sadar bahwa ia sangat tidak berdaya, termasuk calon istrinya.
Rifki tidak bisa hanya sekedar berpikir jernih saat ini. Segala sesuatu hal yang terjadi sungguh di luar pemikirannya sejak tadi malam. Mungkin jika Jaka mengatakannya dengan jelas, Rifki tidak akan terus berpikiran buruk seperti ini. Sayangnya Jaka tidak melakukan itu, Jaka maupun Dara terus saja menghindar darinya. Entah itu disengaja ataupun tidak, namun pikiran Rifki tetap sama.
Rifki pun mencoba untuk memikirkan kesalahan apa yang telah dirinya buat, hingga mereka bertingkah seperti itu padanya. Namun, Rifki rasa tidak ada kesalahan yang dirinya buat hingga membuat semua orang jauh darinya.
"Mungkin semua orang sudah sadar, jika aku gak sepantasnya ada di antara mereka. Mungkin juga mata dan juga pikiran mereka sudah terbuka, kalau aku ini nggak berguna," gumam Rifki bermonolog.
Rifki masih berusaha terus memikirkan segala kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Sekalipun hal itu entah benar atau tidak, namun tetap saja Rifki pun memilih untuk sadar diri dan tidak bersikap terlalu mengharapkan mereka di sini.
Rifki menghela nafas berat, entah mengapa hatinya terasa begitu sakit. Semua orang bertingkah sangat aneh, dan ini sungguh begitu tiba-tiba bagi Rifki. Andai saja ada jeda sebelum ini terjadi, namun sayangnya hal itu tidak dirinya dapatkan sejak awal. Bahkan semalam semuanya seolah mengalir begitu saja, dirinya terus bersama dengan Dara, dirinya menghabiskan waktu bersama Dara, hingga tiba-tiba saja Dara pulang dan semuanya menjadi berubah.
Apa mungkin Dara berubah pikiran?
__ADS_1
"Mungkin sudah seharusnya aku mencoba untuk sadar diri, dan tidak mengharapkan banyak hal dari orang lain, aku ini tidak berguna, apalagi dalam keadaanku yang seperti ini," gumam Rifki lagi dan lagi mencoba untuk menyadarkan dirinya. Jika semua orang bersikap sangat aneh padanya.
Rifki tiba-tiba menganggukkan kepalanya berkali-kali, "Ya, aku harus melupakan Dara, mau bagaimanapun juga Dara berhak bahagia, dan Dara berhak mendapatkan yang lebih dari diriku ini," sambung Rifki masih bermonolog. Dirinya berbicara pada dirinya sendiri, sekalipun hatinya terasa begitu sakit dan sulit untuknya memahami segala hal yang terjadi.
Namun, tetap saja Rifki tidak ingin membuat semua orang tampak kesulitan hanya karena dirinya. Rifki rasa hanya dengan dirinya sadar diri saja hal itu sudah cukup membuat semuanya lebih baik. Setidaknya semua orang tidak akan pernah kesulitan karenanya.
Ya, Rifki sudah bertekad, dirinya harus melupakan Dara, dirinya harus mengikhlaskan Dara, sekalipun sulit, namun Rifki harus tetap melakukannya, mereka pasti sudah sadar jika Rifki bukanlah orang yang tepat untuk mereka, apalagi dalam keadaan Rifki yang seperti ini.
***
Di tempat lain, Jaka tengah terduduk di sofa, di hadapannya sudah ada Lia. Jaka sudah siap menunggu penjelasan dari Lia, mengingat Lia yang menariknya untuk keluar dan membiarkan Dara sendiri terlebih dahulu, alhasil Jaka setuju. Lagipula ada banyak tanda tanya besar yang terdapat di dalam kepalanya, belum lagi Romi yang tidak sempat mengatakan apapun padanya, membuat Jaka merasakan kebingungan yang tak ada habisnya.
Untuk beberapa saat, Lia terdiam. Mencoba untuk memikirkan dari mana dirinya harus mulai bercerita. Melihat bagaimana raut wajah yang Jaka pancarkan saat ini, sangat terlihat jelas jika Jaka sangat amat khawatir dengan keadaan Dara.
Ya, hal itu bukanlah hal yang baru lagi, tentu saja Jaka selalu mengkhawatirkan Dara. Apalagi kini keadaan Dara sungguh sangat memprihatinkan, jauh dari kata baik.
"Sebenarnya aku nggak bisa ngejelasin banyak, cuman awal pertemuan aku sama Dara itu pada saat Dara tiba-tiba aja lewat di depan kedai. Mas Romi yang lihat itu pun langsung pergi buat tanya keadaan Dara, namun bukannya menjawab, Dara malah teriak histeris, persis kaya tadi, bahkan Dara gak mau bilang apa-apa, dia kayak lagi ketakutan," beber Lia mencoba untuk memulai pembicaraan diantara mereka.
__ADS_1
Belum sempat Jaka bertanya, Lia kembali melanjutkan ujarannya, "Jadi, pada saat Dara lagi histeris, aku coba buat samperin dia, aku udah coba tanya sama Dara. Cuman Dara nggak mau jawab, jadi aku memutuskan buat bawa Dara ke dalam kedai, tapi lagi-lagi Dara kembali histeris saat Mas Romi datang. Padahal dia cuman coba nanya sesuatu sama Dara. Aku juga nggak ngerti, Dara seolah nggak bisa berhenti teriak. Alhasil, aku memutuskan buat bawa Dara ke rumah ini, aku ganti baju dia, awalnya keadaan dia nggak sebersih itu, dia kotor dipenuhi lumpur, dan pakaiannya benar-benar berantakan," sambungnya.
Hal itu semakin membuat Jaka memasang raut wajah khawatir bercampur amarah yang pekat. Jaka tak bisa berhenti memikirkan apa yang terjadi kepada Dara sebenarnya, semua orang pasti mengira jika Dara dilecehkan, termasuk Jaka dan juga Lia yang berpikir demikian.
"Aku coba bicara sa..."
"Nggak! Tolong jangan buat Dara semakin menderita, aku tahu betul gimana ada di posisi dia. Mungkin aku nggak pernah ngalamin gimana sakitnya mendapatkan sesuatu hal yang sangat membuat dia hancur. Tapi setidaknya perasaan aku dan perasaan dia sama, tolong jangan buat dia semakin ngerasa hancur," kata Lia menahan Jaka untuk tetap diam.
Jaka menghela nafas perlahan. Benar apa yang dikatakan Lia, tak mungkin jika Jaka kembali pergi dan mencoba berbicara kepada Dara, karena mau bagaimanapun juga Dara tampak sangat kesulitan menghadapinya.
Lia menatap ragu ke arah Jaka, dirinya ingin mengatakan ini sedari tadi, namun dirinya tahan.
Hingga pada akhirnya, Lia pun memutuskan untuk mengatakannya sekarang juga.
"Aku memiliki sebuah feeling, jika mungkin Dara dilecehkan," kata Lia hati-hati, tidak ingin menyinggung Jaka, mengingat itu hanya dugaannya saja.
Bak di sambar petir, remuk redam sudah hati Jaka. Matanya seakan memahami kalimat Lia dan juga perasaannya. Sudut netra Jaka berembun dan menitikkan air mata.
__ADS_1
Jaka tiba-tiba saja bangkit dari duduknya, dirinya mencoba untuk menetralkan nafas dan emosinya yang menggebu-gebu, setelah dirasa cukup, barulah Jaka buka suara, "Aku akan pulang untuk menjemput Ibu."