
Di hari yang masih pagi, seluruh keluarga Jaka sudah berdandan rapi, bersiap akan ke pernikahan Fadil dan Fitri. Nampak Rifki yang juga ikut dengan calon keluaga istrinya.
"Anin sama kembar ikut mobil Om, yuk. Mobil Om lega, nih." Tanpa menunggu jawaban dari anak-anak kecil itu Rifki membawa si kembar dalam gendongannya.
Entah mengapa ia merasa gagah dan menjadi laki-laki sesungguhnya jika menggendong anak seperti sekarang ini.
Dara hanya mengikuti langkah sang kekasih dari belakang seraya menggandeng Anin. Sedangkan yang lain masih sibuk memasukkan barang yang akan mereka bawa. Belum lagi keperluan anak bungsu yang masih berusia tiga bulan, sungguh hanya ingin menghadiri pernikahan saja mereka serepot ini, bisa di bayangkan jika mereka akan pergi berlibur. Mungkin jika rumah beserta isinya bisa diangkat maka meraka akan melakukan itu.
Mobil mulai berjalan ketika semua orang sudah berada di mobil. Baru saja berjalan beberapa meter dari rumah, keributan antara kembar dan Anin mulai terjadi. Entah ada saja yang mereka ributkan hingga membuat salah satu di antara mereka menangis. Dara sejak tadi bergantian menenangkan mereka, lama-lama ia kesal sendiri dengan tingkah tiga bocah yang berusia sama itu.
"Ini semua gara-gara kamu, Kak. Kenapa kamu bawa mereka ke dalam mobil kita? Udah tahu mereka sering geger malah di satukan. Aku jadi repot sendiri," Sungut Dara kesal karena sejak tadi lelah harus bolak-balik melerai mereka yang ada saja hal yang diributkan.
"Ya kamu kenapa nggak protes dari tadi, Yang. Seharusnya tadi belum masuk mobil kamu ngomong. Nggak apa-apa, latihan dulu sekarang, aku mau punya anak banyak juga kayak Jaka. Dan jaraknya nggak mau jauh-jauh. Setidaknya setiap tahun kamu harus hamil." Rifki berceloteh dengan antusias dan membayangkan jika ia sudah menikah.
Dara mendelik, "Ya kamu aja sana yang hamil dan melahirkan," seloroh Dara ketus.
Rifki hanya tertawa melihat respon Dara. Namun, sejurus kemudian
"Yang, kalau seandainya terjadi sesuatu sama aku, apa rasa kamu yang sekarang tetap sama?" Tiba-tiba saja Rifki menanyakan hal yang membuat Dara takut.
"Ngomong apa, sih, Kak? Ngomongnya yang baik-baik, ucapan adalah doa. Aku nggak mau kamu terjadi apa-apa. BukanĀ masalah perasaan, justru karena aku cinta sama kamu, aku nggak mau kamu kenapa-napa. Ini pertanyaan terakhir kamu nanya-nanya gini. Aku nggak mau jawab atau aku akan marah sama kamu kalau kamu nanyain hal yang nggak penting begini." Dara sedikit marah, karena jujur saja, ia merasa takut jika terjadi apa-apa dengan calon suaminya.
__ADS_1
"Iya, nggak nanya lagi." Rifki menggenggam mesra jari jemari kekasihnya agar tak ia teruskan merajuknya itu.
Sedang fokus di jalan, Rifki melihat kegaduhan dari arah berlawanan. Mobil berkecepatan tinggi dengan ganasnya menabrak kendaraan-kendaraan di depannya. Baik itu roda dua dan empat semuanya di gilas habis oleh mobil berwarna merah itu.
Kejadian yang sangat cepat membuat Rifki tak bisa melakukan apapun selain membanting setirnya ke arah kiri yang terdapat jurang dalam di sana. Ia hanya berpikir bahwa ia harus menyelamatkan banyak nyawa di dalam mobilnya.
Citttt
Mobil berhenti tepat di bibir jurang, bagian depan mobil Rifki sudah benar-benar barada di atas angin. Bergerak sedikit saja mobil beserta isinya akan terjun bebas ke jurang.
Semua masih syok, mereka mengatur nafas dalam diam dan berusaha untuk tak membuat pergerakan sedikit pun. Dara yang beberapa di penumpang bagian depan bahkan tak berani berucap apapun.
"Sayang, kamu dengar aku! Jangan panik, aku mohon jangan panik. Aku akan buka pintu belakang biar anak-anak turun, setelah mereka, kamu harus cepat turun, kamu dengar, kan?"
"Sayang, please ini bukan waktunya debat. Kita debat nanti setelah semuanya turun, kamu jangan gerak, aku mau buka pintu belakang, kamu siap-siap buka pintu. Nurut sama aku! Buka pintunya, Yang. Ini punyaku udah aku buka sedikit. Begitu anak-anak turun, kita langsung turun."
Dara hanya mengangguk. Rifki dengan gerakan super duper pelan dan sesekali kali berhenti bergerak untuk menyeimbangkan mobilnya.
"Anak-anak, turun pelan-pelan dan jangan berebut, ya. Anak-anak Om Rifki pinter, kan, ya. Anak hebat harus bisa turun dari mobil sendiri, yuk gantian turun, Anin duluan turun. Om udah buka pintunya."
Anak-anak yang berusia empat tahun itu seakan mengerti dengan ucapan Rifki. Mereka turun dengan pelan dan bergantian. Begitu Ghia sudah berada di pinggiran pintu dan bersiap melompat, Dara juga melompat dari kursinya.
__ADS_1
Setelah di rasa semua aman, Rifki juga melakukan hal yang sama. Namun naas, kakinya saat menapak tanah tak seimbang, ia terjatuh dan terjun bebas ke jurang di susul dengan mobilnya.
"KAK RIFKI!" Dara berteriak histeris. "Tolong, siapapun yang dengar saya tolong." Dara meraung-raung meninggalkan ketiga keponakannya yang menatap ia bingung.
Tak berselang lama, Jaka dan yang lain datang. Jaka yang juga bersimpangan dengan mobil merah yang diduga mengalami rem blong menjadi teringat dengan Rifki dan yang lain.
"Dara!" Kalau berteriak seraya berlarian ke arah adiknya.
"Ibu anak-anak, Bu!" Jaka masih berlari.
"Kamu nggak apa-apa? Mana yang luka? Rifki mana? Dek, bilang sama Abang mana yang sakit?" Jaka yang terlampau khawatir mencerca Dara dengan berbagai pertanyaan. Bahkan untuk pertama kalinya ia memanggil Dara dengan sebutan 'Dek'.
"Di sana, Kak Rifki sama mobilnya terjun, Bang. Ini semua gara-gara aku, kenapa aku nggak bantu dia tadi pas dia jatuh, ini karena aku, Bang. Tolong, tolongin Kak Rifki, aku mohon, Bang. Aku nggak mau dia kenapa-napa. Dia pasti butuh bantuan di bawah sana, dia pasti cari aku. Dia..."
Jaka membawa Dara ke dalam pelukannya. Ia memberi kode pada Ayu untuk menghubungi polisi. Seakan sudah seiya sekata, Ayu hanya mengangguk dan merogoh tasnya.
"Udah, udah. Kita akan tunggu polisi datang ke sini. Rifki baik-baik saja, dia nggak akan kenapa-napa buat kamu. Dia cinta sama kamu, pasti dia akan berjuang buat cinta kalian. Kamu harus percaya dengan kekuatan cinta."
Dara masih tersedu-sedu dalam pelukan sang Kakak. Disaat bersamaan, ia teringat dengan obrolan sesaat sebelum kecelakaan. Ia ingat jawaban yang ia berikan tak memuaskan.
'Kamu tadi nanya buat ini, Kak? Aku mohon maafkan aku, rasaku padamu akan tetap sama, sama seperti sekarang. Apapun keadaan kamu. Ku mohon kembalilah padaku dengan selamat. Enam bulan lagi kita tunangan, kamu sedang tidak berusaha untuk mengingkari janji, kan? Kamu nggak akan menghilang untuk kedua kalinya, kan? Aku mohon maafkan aku, Kak. Aku tak sempat menjawab pertanyaan yang kamu ajukan. Sekarang kamu udah tahu jawabannya, kan? Kalau begitu kembalilah, Kak.'
__ADS_1
maaf telat banget up nya. ada kepentingan mendadak.