Pamit

Pamit
104. Jalan-jalan


__ADS_3

"Khem."


Entah berapa orang yang sedang menatap mereka beradu kening. Menyalurkan hasrat kerinduan yang sedang berusaha mereka cairkan melalui sentuhan kulit.


Mendengar suara deheman dari beberapa orang membuat penyatuan kening itu buyar seketika. Keduanya menatap sekeliling, ternyata tidak hanya Bu Lin yang berada di rumah itu. Entah kapan datangnya sepasang suami istri yang sedang menggendong anak berusia sepuluh bulan itu.


Mereka menatap Rifki dan Dara dengan tatapan datar. Sadar dengan tindakan yang salah, Rifki hanya nyengir menatap mereka satu persatu seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Iya-iya yang lagi bucin. Ada orang datang sampai nggak sadar," ledek Jaka.


Rifki hanya tersenyum sungkan, sedangkan Dara terus menundukkan kepala mengatupkan mulutnya menahan senyum.


Jaka lalu memberikan kode pada ibunya untuk membiarkan mereka berdua ruang. Sebagai laki-laki yang sama-sama mencintai seorang wanita Jaka tahu betul bagaimana perasaan Rifki. Pria itu pasti menginginkan quality time dengan Dara.


Seolah mengerti dengan kode yang diberikan oleh anak sulungnya, Bu Lin mengangguk-anggukkan kepala.


"Ya udah, Sayang kita pulang aja, yuk! Kita pergi berdua aja, Dara ada lagi ada tamu," ujar Jaka pada istrinya.


"Abang sama Mbak mau pergi? Ke mana?" Dara yang bertanya.


"Puncak. Lain kali aja kamu ikut, nanti aja kalau udah nikah. Biar enak kalau mau nginep di mana-di mana juga."


"Kalau kita nggak ikut yang jagain anak-anak?"


Jaka dan Ayu saling bertukar pandang. Setelah en bulan Dara kehilangan jati dirinya, kini jati diri itu sudah kembali bersama dengan kembalinya Rifki.


"Kita ajak salah satu atau dua anak toko aja nggak apa-apa lah. Udah tenang aja atau anak-anak juga udah gede, kan. Ya udah lanjutkan kangen-kangennya Abang sama Mbak mau pergi dulu." Jaka menatap Rifki. "Kangen boleh tapi jangan bablas, ya masih belum halal," ucap Jaka mengingatkan Seraya menepuk pelan pundak Rifki.

__ADS_1


"Siap." Rifki membungkukkan sedikit badannya lalu mereka berdua terkekeh pelan.


Rifky dan Dara duduk pendampingan di sofa yang sama. Bu Lin lalu melipir pergi keluar tengah, menyalakan tv dan duduk tenang di sana. Beliau beberapa kali mengganti channel tv-nya, sedikit menggeruru karena semua TV memberitakan artis yang sama, beliau sungguh kesal. Pandangan beliau sesekali diarahkan pada ruang tamu. Di balik sofa beliau mengintip-intip mereka, berjaga-jaga jika mereka bablas. Biar bagaimanapun mereka adalah dua manusia normal yang memiliki hasrat.


Rifki diam tanpa suara memandangi wajah Dara lekat-lekat, seakan-akan kerinduan yang memuncak belum berkurang secuil pun.


"Kenapa liatin aku begitu? Ada yang salah sama muka aku?" Dara bingung seraya meraba-raba wajahnya.


"Nggak ada, nggak ada yang salah. Yang salah itu kangennya aku yang nggak berkurang-kurang. Enam bulan lebih itu bukan waktu yang singkat buat aku. Rasanya udah bertahun-tahun nggak lihat kamu. Boleh pegang, ya aku kangen banget." Rifki memohon di akhir kalimat dengan nada yang memelas. kera


"Pegang apa?" pekik Dara dengan suara sedikit keras.


Mendengar suara teriakan Dara membuat Bu Lin mendongak arah ruang tamu.


"Astaghfirullah, jangan keras-keras ngomongnya. Nanti kalau Ibu dengar dikiranya aku mau pegang apa. Pegang tangan doang, Sayang."


"Kita, kan dari tadi udah lebih pegang dari pegang tangan, malah peluk-pelukan."


"Selama ini aku udah nggak pernah keluar rumah lagi, sih Kak. Ke rumah aja Bang Jaka aja aku nggak pernah. Aku malu sekaligus takut sama tetangga. Aku takut nanti kalau aku tambah down dengar mereka ngomongin aku."


Rifki jadi membayangkan kehidupan Dara setelah kejadian malam itu. Pasti hidupnya lebih hancur dari ketika ia mendapati bahwa ia buta. Apalagi ia sempat berpikir bahwa Dara sudah menikah dengan pria lain. Padahal yang terjadi adalah kekasihnya itu sedang berperang dengan kenyataan dan mempertahankan kewarasan di tengah gempuran cobaan.


"Ada aku, nggak usah takut, ya! Aku yang akan berdiri di depan kamu, nggak akan ada yang menyakiti kamu lagi." Rifki meraih tangan Dara lalu ia letakkan di telapak tangan yang satunya. Sedangkan tangan yang satunya mengelus-elus punggung tangan gadis cantik itu.


"Jalan-jalan, yuk! Buat kamu latihan juga supaya kamu berani lagi lihat orang baru, kan nggak mungkin kamu di rumah terus, Sayang. Ada aku nggak usah takut, ya."


"Ya udah, aku ganti baju dulu, kamu izin sama Ibu."

__ADS_1


Dara berjalan menuju kamarnya. Berapa detik kemudian Rifki juga mengikuti langkah Dara meninggalkan sofa ruang tamu. Namun, langkahnya bukan ke kamar Dada melainkan ke ruang tengah, di mana Bu Lin sedang duduk menonton acara TV favoritnya.


"Nonton apa, Bu?" tanya Rifki hanya sekedar basa-basi lalu duduk di sebelah wanita itu.


"Biasa, sinetron. Dara mana? Kok kamu ke sini?" tanya Bu Lin menengok ruang tamu yang sudah kosong.


"Ganti baju, Bu. Boleh, kan aku ajak Dara keluar sebentar? Cuman ke taman aja kok, Bu ke taman yang nggak jauh dari sini itu loh."


"Boleh aja kalau Dara mau. Perginya sama kamu, jadi Ibu nggak khawatir. Ibu percayakan dia sama kamu. Nggak ada lagi yang Ibu raguin dari kamu, nggak ada alasan juga buat Ibu melakukan itu. Ibu hanya bisa berdoa buat kebahagiaan kalian. Ibu berharap cinta kalian akan seperti ini terus. Ibu tahu tidak mudah untuk kalian mencapai ke titik ini. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya, jadi Ibu hanya minta Tuhan mempertahankan cinta kalian sampai akhir."


"InsyaAllah, Bu. Saya pun berharap seperti itu."


"Terima kasih sudah mau menerima apa adanya Dara. Kamu nggak pergi setelah apa yang terjadi dengan dia, justru kamu membuat Dara kembali seperti dirinya yang dahulu."


"Nggak perlu terima kasih, Bu. Saya cinta sama Dara dari hati saya kok. Saya nggak peduli bagaimana masa lalu Dara, apa yang sudah menimpa Dara. Saya berusaha untuk tidak mau ingat-ingat itu. Hal itu hanya menyakitkan untuk dia. Yang saya fokuskan saat ini adalah membahagiakan dia itu saja."


Bu Lin hanya mengangguk tersenyum. Di saat yang bersamaan Dara keluar dari kamar.


"Udah siap?" Rifki berjalan menghampiri gadis itu.


Gadis itu selalu nampak cantik dengan baju longgar yang selalu ia kenakan. Gamis berwarna coklat yang senada dengan kerudungnya membuat Dara semakin menampak Anggun dan dewasa.


"Udah izin Ibu?"


"Udah, Ra. Ibu izinkan kalian pergi. Jangan sampai sore, ya pulangnya. Ini, kan udah mau siang. Sampai sore cukuplah untuk jalan-jalan, iya, kan, Rifki?" tanya Bu Lin menyentuh lengan Rifki.


"Cukup, Bu. Itu sudah cukup. Saya bisa ke sini kapanpun, kan?"

__ADS_1


"Pintu akan selalu terbuka untuk kamu. Ya udah sana sekarang pergi, nanti keburu panas."


Rifki dan Dara mencium punggung tangan Bu Lin secara bergantian. Lalu mereka beriringan berjalan menuju mobil Rifki yang terparkir sejak tadi di halaman. Dara terus berjalan dengan ekor mata yang melirik ke sana kemari. Mungkin ia takut jika ada tetangganya ada yang melihat ia keluar rumah. Seakan mengerti kegundahan hati Dara, Rifki merangkul pundak Dara dan mengelus-elusnya pelan, seakan sentuhan itu bisa membuat gadis itu tenang.


__ADS_2