Pamit

Pamit
61. Sudah Dewasa


__ADS_3

Kawin kawin bulan depan aku kawin


Kawin kawin tidur ada yang nemenin


Kawin kawin status di KTP nanti jadi


Kawin hey kawin hey kawin hey kawin


(Project pop-kawin)


Jaka bersenandung ria seraya menggosok mobilnya dengan sabun. Mulutnya sejak tadi tak berhenti menyanyikan lagu yang mengandung aroma bahagia dan berbau kebucinan.


"Bang... Bang, gayamu kayak nggak pernah kawin aja, udah pernah ngerasin tenggelam di goa masih aja kayak bujang," ledek Dara seraya menjemur pakaian yang baru saja ia cuci.


"Sirik, aja!" balas Jaka melirik dengan gaya tak suka, namun di buat-buat.


"Abang bentar lagi ninggalin aku dong? Yang ngajak aku berantem siapa? Yang ngasih aku yang jajan siapa? Nggak ada lagi yang bikin aku marah, ngambek, aku sedih tahu Bang." Dara mengubah ekspresi wajahnya. Ia buat wajah yang manis itu se sendu mungkin.


"Bukannya seneng, rumah bisa kamu kuasai? Lagian Abang pindah ke rumah samping aja, jarak satu rumah doang. Udah kayak pindah menyebrangi lautan aja," gerutu Jaka membantu sangat adik menjemur pakaian yang terlampaui banyak.


"Abang masih kasih aku uang jajan nggak kalau udah nikah lagi?"


"Lihat nanti. Kamu, kan tahu kalau Abang udah nikah anak Abang jadi lima, belum nanti kalau ternyata yang di Atas ngasih rezeki lagi jadi enam. Itu semua jadi tanggung jawab Abang. Kamu udah kerja, udah bisa menghasilkan uang sendiri, kan? Jangan boros-boros, jangan jajan terus. Kamu udah dewasa, nabung dikit-dikit."

__ADS_1


"Iya, bawel."


"Kamu yang bawel. Nggak rela banget kamu kalau Abang nikah," gerutu Jaka memerengut.


Pria itu melipir pergi bahkan disaat pakaian masih tersisa satu bak.


"Dasar ambekan," gumam Dara pelan.


***


"Kamu dengar, kan tadi apa kata Dokter? Ayo dong, Mas kamu nurut apa kata Dokter. Aku sekarang tinggal punya kamu, masa kamu tega ninggalin aku?" Rengek Fadil di samping ranjang sang Kakak yang tengah terbaring lemah di rumah sakit.


"Nggak usah, Fad. Udah biarin aja begini, cepat atau lambat, kan semua orang bakal mati juga. Kamu udah dewasa, udah bisa mandiri. Kamu udah bisa cari uang sendiri dan mengurus dirimu sendiri. Ada atau nggak ada aku, harusnya bukan masalah yang besar buat kamu. Toh, aku ada buat merepotkan kamu doang, kan?" Anang sudah pasrah dengan hidupnya.


"Jangan ngomong begitu, Mas. Semua orang yang sakit berharap sembuh, nggak berharap mati kayak kamu," omel Fadil yang sudah jengah dengan sikap Anang.


"Aku nggak sakit, Fadil. Udah jangan ngajak debat, aku mau sholat dhuha dulu."


"Taubatnya udah bener, tapi kalau nggak ada usaha untuk sembuh, ya sama aja bohong. Tuhan juga nggak suka sama hamba-Nya yang pasrah tanpa usaha." Fadil bergumam seraya memindahkan tubuhnya dari kursi dekat ranjang ke sofa yang terpasang di ujung ruangan.


Anang yang mendengar hanya menggelengkan kepala seraya sedikit menarik ujung bibirnya membentuk senyuman. Fadil sudah banyak berubah sejak kematian Ibunya. Jika ia dahulunya sosok anak yang suka keluyuran tak jelas, sejak kepergian Ibunya ia berubah menjadi sosok anak yang dewasa. Belajar lebih mandiri dan tanggung jawab. Apalagi sekarang ia juga harus balas budi dengan kebaikan sang Kakak.


Banyak hikmah yang keluarga Anang petik dari semua rangkaian peristiwa dan musibah yang menimpa mereka. Meskipun semua sudah berakhir dengan perpisahan, tak ada kata terlambat untuk berubah selagi nafas masih ada.

__ADS_1


Mata Fadil masih terpaku pada Anang yang dengan kusyuk berdoa. Menengadahkan tangan, mengungkapkan semua yang di rasa dan mungkin saja yang di minta. Ada kesedihan di mata Fadil saat melihat sang Kakak yang sudah tak ada keminatan untuk sembuh.


Sudah banyak sekali perubahan di fisik Anang yang sedikit demi sedikit menggerogoti kesehatannya. Mulai dari rambut yang rontok hebat, sering mimisan dan berat badan yang semakin hari semakin menyusut saja.


"Jangan nangis, atau aku minta pulang saja sekarang!" ancam Anang yang melihat adiknya meneteskan air mata.


Fadil bangkit dari sofa, kembali menduduki kursi yang sempat ia tinggalkan.


"Nggak mau lihat aku nangis tapi kamu buat aku nangis, Mas. Aku sedih lihat kamu yang pasrah tanpa usaha. Tuhan pun nggak suka itu. Kalau nggak mau operasi minimal kemoterapi. Kalau kamu nggak mau melakukan demi aku aku atau diri kamu lakukan ini demi anak-anak kamu, Mas. Memang mereka udah nggak sama kamu, tapi kan kalian tetap ada hubungan darah. Dan Anin, Anin butuh kamu sebagai walinya. Kamu nggak mau lihat anak-anak kamu menikah nantinya? Duduk di pelaminan bahagia gitu, nggak mau? Kamu nggak mau lihat aku nikah juga? Lihat aku bahagia sama istriku, nggak mau kamu?"


Anang terkekeh, "Kamu bisa aja, udah jangan buat aku sedih kamu." Anang merubah raut wajahnya, menjadi sendu. Bibirnya ia katupkan demi menahan tangis. Matanya ia tatapkan ke langit putih rumah sakit agar deraian air mata yang sudah menumpuk tak terjun dengan bebas.


Jujur saja, Anang merindukan ketiga anaknya. Sudah satu tahun ini ia tak bersitatap dengan buah hatinya yang dulu ia tak hiraukan.


"Kamu kangen, Mas sama mereka? Makanya cepat sembuh nanti aku antar ke sana," tawar Fadil.


"Aku nggak mau buat mereka sedih dengan keadaan aku begini."


"Kamu nggak tahu bagaimana perasaan mereka nggak ketemu kamu gimana? Jangan mentang-mentang kalian nggak dekat dan kamu pernah jahatin mereka, terus kamu pergi dari mereka. Itu nggak boleh, Mas. Seburuk apapun kamu, kamu tetap Ayah mereka. Bisa jadi mereka juga kangen sama kamu, diam-diam menyelipkan doa biar bisa ketemu sama kamu. Kayak kamu yang diam-diam mendoakan kebahagiaan Mbak Ayu dan anak-anak."


Hati Anang terasa tercubit dengan ucapan adiknya. Selama ini memang Anang merasa Ayu dan anak-anak sudah tak butuh dirinya, mereka sudah menemukan kebahagiaan mereka sendiri. Anang lupa bahwa ikatan mereka tidak akan ada yang bisa memisahkan meski itu maut. Meski maut sudah menjemput, hubungan mereka tetaplah Ayah dan anak.


"Adik aku udah dewasa banget sekarang," puji Anang mengacak rambut sang Adik.

__ADS_1


"Ya, kan nggak mungkin jadi anak-anak terus. Gimana? Kamu mau aku antar ke Mbak Ayu, Mas? Sekalian juga aku mau ketemu sama ponakan aku, selama ini, kan mereka nggak dekat sama aku. Mereka hanya tahu namaku begitupun dengan aku yang tak mau peduli dengan mereka. Keponakan aku juga harus kenal sama Om nya, mereka juga harus tahu kalau punya Om yang unyu." Fadil sengaja memuji diri sendiri agar Anang bisa sedikit terangkat bebannya. Ia hapal betul, Anang akan selalu mengejeknya jika ia memuji diri sendiri.


__ADS_2