Pamit

Pamit
106. Dek


__ADS_3

Masih fokus pada Dara dan Rifki yang tengah duduk berhadapan, kini mereka sedang duduk di atas rerumputan dengan jajanan yang memisahkan mereka. Menikmati snack sebelum obrolan mereka kembali dimulai.


"Kamu makannya jangan banyak-banyak, udah gendut aku nggak mau, ah kalau aku punya pacar gendut- gendut. Aku kan mungil orangnya nanti nggak seimbang."


"Astagfirullah, baru juga mau buka udah di protes aja. Janji gak akan gendut lagi, Sayang. Nanti aku diet."


"Kenapa manggilnya berubah-ubah, sih. Tadi dek, sekarang sayang. jangan-jangan kamu punya sayang yang lain."


"Ya sudah maunya dipanggil apa?" Rifki benar-benar menahan amukannya saat ini. Meskipun di satu sisi ia bahagia dengan kembalinya Dara yang begitu cepat. Namun, di sisi lain ia juga harus mengontrol emosinya dan kekesalannya karena mulai sekarang ia akan menghadapi keribetan Dara setiap hari.


"Terserah kamu aja," jawab Dara setelah beberapa saat berpikir.


Sebenarnya gadis itu ingin dipanggil seperti tadi saat di rumah, tapi ia terlalu malu dan gengsi untuk mengatakan itu.


Astagfirullahaladzim Dara, terus tadi kenapa protes.


"Kakak setelah ini mau kerja apa?"


"Belum tahu. Tapi kemarin pas di rumah sakit itu aku mau coba jadi supir taksi online dulu, sih. Ya Sambil aku nyari-nyari kerjaan kayak dulu. Cari kerjaan sekarang, kan nggak gampang, nggak yang hari ini ngelamar ke perusahaan besok kerja atau besok dapat panggilan, kan nggak gitu. Jadi rencananya aku, tuh nanti aku mau melamar ke banyak perusahaan sambil nyupir taksi online gitu maksudnya. Daripada aku nggak ngapa-ngapain selama nunggu panggilan, ya, kan? Lebih baik aku cari uang. Gimana bagus nggak rencana aku?"


"Bagus. Tapi supir taksi online kebanyakan penumpangnya perempuan, kan?"


Kayaknya ini anak mau cari gara-gara lagi.


"Ya terus kenapa?"


"Kok kenapa? Ya nanti kamu berdua-duaan dong di mobil sama perempuan lain."


"Kan cuman nganter aja, nggak ngapa-ngapain juga. Ya apa kamu ikut aku nyupir?"


"Jangan malam-malam kamu pulang kerjanya dari pagi sampai sore aja malamnya buat aku."

__ADS_1


Rifki tertawa kecil. "Iya, Dek, iya. Malamnya aku buat kamu," ujar Rifki mengacak kerudung Dara pelan.


Dara mengatupkan mulutnya ketika mendengar panggilan itu terdengar lagi di telinganya. Wajahnya sudah bersemu merah salah tingkah. Entahlah, ia merasa bingung, karena Rifki selalu tahu apa yang ia inginkan tanpa diucapkan.


Obrolan mereka berlanjut membicarakan perihal masa depan mereka nantinya dan juga rencana-rencana apa yang akan mereka ambil untuk melanjutkan hidup bersama.


Hingga sebuah suara yang begitu dekat, membuat mereka menghentikan obrolannya sejenak dan mengalihkan perhatian pada si pemanggil. Dara seketika menggeser duduknya ke samping Rifki.


"Kalian di sini? Udah lama banget aku nggak ketemu sama kalian. Apa kabar? Baik, kan semuanya sehat, kan?" Fadil memberondong Rifki dengan berbagai pertanyaan. Pria itu dan juga istrinya yang sedang menikmati weekend dengan jalan-jalan santai duduk bergabung dengan keduanya. "Kau sudah bisa melihat sekarang? Aku ikut senang untukmu. Selamat."


"Alhamdulillah, aku baru saja selesai operasi kemarin."


Rifki yang mengerti kegundahan Dara mencoba untuk menenangkannya dengan menggenggam erat tangannya. Lalu ia Letakkan ke ke atas pahanya dan mengelusnya pelan.


Ada pertanyaan di benak Fadil mengenai ekspresi Dara yang begitu menyembunyikan ketakutan. Gadis dekat itu juga tidak menatapnya sama sekali, hanya menatap bungkusan snack yang sudah hampir tandas. Ia ingin bertanya, namun terasa sungkan.


Rifki mengerti arti tatapan Fadil. Pria perasa itu merasakan bahwa Fadil tidak tahu apa yang menimpa Dara. Akhirnya muncul pertanyaan di kepala Rifki, apakah selama ini Fadil tidak pernah bertemu atau berkunjung ke rumah keluarga Dara.


"Jalan lima bulan." Tetapan Fadil masih pada Dara.


Sementara gadis itu semakin mengeratkan genggamannya di tangan Rifki.


"Nggak apa-apa, Dek. Dia Fadil adik iparnya Mbak Ayu. Nggak apa-apa jangan takut," ujar Rifki pelan.


Fadil semakin bingung, ia menatap Rifki solah ia meminta penjelasan atas apa yang baru saja ia ucapkan.


"Kau kelihatan bingung dari tadi, Fad. Apakah kau tidak pernah berkunjung ke rumah Dara setelah kalian menikah?"


"Nggak Rif, kebetulan setelah menikah aku sudah tidak menempati rumah yang lama. Aku keluar kota karena memang aku dipindah tugaskan ke sana. Aku ke sini juga karena Fitri yang pengen mengunjungi orang tuanya. Apa ada sesuatu yang terjadi? Tidak ada satu orang pun yang memberitahuku. Padahal aku sering, loh teleponan sama mas Jaka atau Mbak Ayu."


Akhirnya Rifki menceritakan apa yang terjadi dengan bahasa yang ia buat sehalus mungkin,karena ia takut Dara mengingat kejadian malam itu dan membuat ia trauma kembali.

__ADS_1


Wajah terkejut tak bisa mereka sembunyikan. Meskipun masih syok dengan apa yang diceritakan Rifki. Fadil berusaha untuk mengembalikan suasana menjadi cair dengan membahas hal lain.


"Lupakan yang sudah terjadi. Aku harus belajar banyak hal darimu. Cintamu memang luar biasa. Lalu Kapan kalian akan menikah?"


"Secepatnya, pasti akan aku kabari kau tenang saja."


Obrolan demi obrolan mengalir begitu saja. Sudah lama tak bersua membuat mereka tak kehabisan topik Siang itu. Selamat tahun ketakutan Dara berangsur-angsur sirna.


Tepat pukul tiga sore mereka berhamburan untuk pulang ke rumah masing-masing. Mereka pulang dengan pasangan masing-masing dan segenggam cinta yang mudah-mudahan saja tidak akan pernah luntur selamanya.


"Mau ada sesuatu yang dibeli sebelum pulang?" tanyak Rifki saat mereka baru saja masuk mobil.


Dara berpikir sejenak, " Apa, ya? Nggak usah, deh Kak. Lagi nggak pengen apa-apa."


Mobil melaju setelah mendapat jawaban dari Dara. Beberapa meter berjalan Rifki melihat penjual martabak yang berada di pinggir jalan. Ia pun menghentikan mobilnya dan membeli beberapa kotak martabak untuk keluarga Dara dan juga dirinya sendiri dan Bu Rini.


"Bahagia banget, ya itu si Fadil sama istrinya," celetuk Rifki.


"Semua orang juga terlihat bahagia di mata orang lain, tapi, kan kita nggak tahu dalam rumahnya seperti apa. Yang pasti pernah ada cekcok, bertengkar, bosan, nggak cocok, pasti pernah, kan. Seperti orang lain tadi yang melihat kita di taman. Mereka berpikir seakan-akan kita ini paling bahagia di dunia. Padahal banyak rintangan yang kita lalui untuk sampai sekarang, kan. Mereka nggak tahu beratnya ujian kita. Kita juga nggak tahu ujian mereka semua, ya kan."


"Uluh-uluh, Sayangku ini bisa dewasa juga ternyata. Makin cinta." Rifki mencubit gemas gemas gadis ititu


Tak berselang lama, penjual martabak menghampiri mobil dan menyerahkan beberapa kotak martabak. Dara melotot melihat jumlah kotak yang begitu banyak.


"Banyak banget, Kak?"


"Iya nanti buat orang-orang di rumah. Ambil satu kalau kamu mau."


"Nggak ah, Kak. Pulang aja, badan aku capek, kepalaku pusing dikit. Nggak kenapa tiba-tiba pusing."


"Ya udah kita pulang kecapean kamu kayaknya."

__ADS_1


__ADS_2