
Keesokan harinya pukul sembilan pagi Rifki berdiri di depan cermin kamarnya. Melihat cermin di depannya dari atas hingga bawah. Ia berkali-kali memastikan pada dirinya bahwa ia sudah terlihat tampan.
Style Rifki tidak pernah berubah, cukup dengan kaos oblong yang ditumpuk dengan kemeja flanel kotak-kotak sudah cukup membuatnya tampan. Dipadukan dengan celana coklat dan juga sepatu hitam gambar garis tiga mampu menyempurnakan penampilannya. Tak lupa ia menggulung lengan kemejanya hingga bawah siku. Sebuah jam tangan dan juga gelang kembar yang diberikan oleh Dara.
"Perfect." Rifki memuji dirinya sendiri. "Aku jadi pengangguran enam bulan lebih kayaknya, kok malah gendutan sih. Padahal selama menjadi pengangguran Aku sedih malah gendut. Nggak apa-apa lah masih ganteng ini."
Merasakan penampilannya sudah cukup bagus. Rifki melangkah keluar kamar. Ia tersentak begitu melihat ibunya yang berada di tengah-tengah pintu kamarnya. Entah sejak kapan wanita itu berdiri di situ.
Bu Rini masih diam menatap Rifki dengan posisi tangan yang menyilang di dada. Wanita itu tidak menampakkan ekspresi apapun.
Rifki yang mendapat tatapan tak biasa kembali meneliti dirinya sendiri dari atas hingga bawah. Tidak ada yang salah dengan penampilannya, bahkan ini lebih dari sempurna. Kenapa ibunya menatap seperti itu?
"Jangan bilang Ibu jatuh cinta sama aku, ya. Aku anak Ibu, Jangan sampai jatuh cinta sama aku, Bu. Aku tahu aku ganteng tapi, ya nggak anaknya juga."
"Terserah kamu aja lah, Rif. Capek Ibu lama-lama ngomong sama kamu." Bu Rini pergi dari pintu kamar Rifki.
"Ibu, kan belum ngomong. Ibu mau ngomong apa?" tanya Rifki seraya berlari mengejar ibunya.
"Tadinya, tuh cuman mau bilang, kamu yakin mau ketemu sama Dara hari ini? Kan Jaka pernah bilang kalau Dara belum siap. Nanti takutnya Dara nggak mau ketemu kamu. Kamu yang kecewa, sedih lagi, putus asa lagi, menyerah lagi, Ibu juga yang repot." Bu Rini menyampaikan unek-uneknya.
"Nggak Ibu, Rifki yang sekarang udah beda. Kalau Dara tidak mau ketemu aku, nggak mungkin juga aku langsung putus asa kayak yang udah-udah. Aku harus meyakinkan dia seperti dia meyakinkan aku waktu itu. Kalau dia keras kepala aku juga harus lebih keras kepala lagi. Udah, Ibu tenang aja. Ibu cukup doakan aku dari jauh. Ibu tahu besarnya cintaku untuk dia. Ibu juga tahu gimana Dara mencintai aku. Semua orang tahu kalau cintaku dan Dara itu sama-sama besar, udah nggak ada lagi yang bisa pisahin kita. Ujian-ujian berat udah kita lewati selama berbulan-bulan dan nyatanya kita tetap dipersatukan, aku yakin Dara yang terbaik buat aku. Ibu nggak perlu khawatir soal penolakan. Ibu merestui aku dan Dara, kan? nggak berubah pikiran, kan?" Rifki tiba-tiba saja merasa takut, karena di hari sebelumnya ibunya tak pernah membahas ini.
"Kalau Ibu nggak merestui kamu udah Ibu larang kamu ketemu sama dia dari awal-awal. Ibu akan merestui dan mendoakan apapun yang terbaik buat kamu. Perjuangkan bahagianya kamu, masa depan kamu, kamu sendiri yang menentukan dan menjalani. Hidup memang seperti itu, butuh perjuangan untuk bisa meraih kebahagiaan. Dan tidak semua perjuangan itu ringan. Ya sudah, sana berangkat!"
Rifki menggangguk mantap seraya tersenyum. Ia mengecup singkat kening ibunya lalu beranjak pergi dari sana. Namun, suara panggilan dari ibunya membuat langkahnya terhenti seketika.
__ADS_1
"Rifki berubah, dong udah tua!"
Rifki mengernyit. "Apalagi yang harus aku rubah?" tanyanya bingung.
"Biasakan cium tangan sebelum pergi dan pulang dari manapun. Kamu harus belajar menjadi dewasa kalau kamu menikah dan punya anak nantinya kamu akan dijadikan contoh oleh anak-anakmu. Jadi mulai sekarang belajar menjadi ke bapak-bapakan jangan kekanak-kanakan. Jangan terus-terusan ngajak ribut Ibu ataupun Dara. Ibu dan Dara bukan satu-satunya orang terdekat kamu yang sering mengeluhkan kelakuan kamu, ya Rif, tapi Kakak kamu juga."
"Astaghfirullah Ibu, iya. Iya nggak lagi. Ya udah sini mana tangannya aku cium." Rifki menyodorkan tangannya dan meraih tangan ibunya untuk ia kecup. "Assalamualaikum."
" Waalaikumsalam hati-hati, ya."
Teriakan Bu Rini kembali terdengar sangat Rifki menampakan kakinya di tanah. Ia pun mau tak mau menghentikan langkah dan menoleh pada ibunya yang berjalan ke arahnya.
"Ada apa lagi, Bu?"
"Jangan ngebut bawa mobilnya, ya. Pelan-pelan aja, Ibu masih trauma. Kamu baru saja bisa melihat, pokoknya jangan ngebut-ngebut pelan aja asal selamat."
Bu Rini melepas Rifki dengan senyuman. Ia mengantar kepergian Rifki hingga mobil yang dinaikinya tidak terlihat oleh mata. Lalu Beliau kembali masuk ke rumah.
Rifki benar-benar mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang ia tak mau terburu-buru. Sebenarnya dalam dirinya rasa trauma juga masih sesekali menghantuinya.
Sesekali Rifki melirik jalanan samping kanan dan kirinya yang sudah sangat lama tak ia lihat. Semuanya nampak berbeda di mata Rifki.
Bibir pria itu sejak tadi tak pernah lurus, selalu melengkung ke atas menunjukkan bahwa ia sedang bahagia. Hingga sebuah senyuman itu berubah menjadi debaran harus dijantungnya. Detak jantung Rifki bertalu-talu bukan tanpa alasan. Hal itu terjadi karena ia sampai di rumah Dara. Pria itu tak langsung turun, berusaha menarik nafas dalam dan mengeluarkan secara perlahan. Ia lakukan itu berkali-kali untuk menetralkan rasa gugupnya.
"Bismillahirohmanirohim." Rifki membuka pintu mobil dan turun dari kendaraan itu. Berjalan dengan mantap dan berwibawa menuju rumah kekasihnya.
__ADS_1
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Bu Lin yang menjawab, wanita itu segera membuka pintu. "Nak Rifki, kamu sudah sehat?" tanya Bu Lin sumringah.
"Alhamdulillah, saya sudah sehat, Bu." Rifki mencium buku tangan Bu Lin dengan lembut.
"Maafkan Ibu karena Ibu tidak datang ke rumah sakit selama kamu di rawat di sana. Nggak ada yang jaga Dara, jadi ibu suruh Jaka saja yang ke sana."
"Itu bukan masalah yang besar, Bu. tidak masalah untuk saya, tidak apa-apa."
Setelah obrolan singkat itu, Bu Lin mengajak Rifki untuk masuk ke rumah dan berlalu ke belakang untuk mengambil sesuatu yang bisa dimakan dan diminum.
Hanya beberapa menit saja wanita itu pergi ke belakang dan kembali ke ruang tamu dengan membawa minuman dan juga beberapa camilan.
"Ibu apa kabar? Baik, kan?" Bu Lin yang bertanya.
"Alhamdulillah, Bu. Kami semua baik."
Bu Lin duduk di hadapan Rifki dengan dibatasi sebuah meja panjang. Sementara Rifki celingukan ke sana kemari mencari seseorang, rumahnya nampak sepi. Ingin bertanya, namun rasanya masih sungkan karena ia baru saja datang.
Hingga tak lama kemudian.
"Ibu aku mau ke rumah Bang Jaka mau jemput Na...." ucapan Dara terhenti karena ia sampai di ruang tamu.
Rifki menoleh ke sumber suara. Matanya tak lepas dari sosok gadis yang tengah berdiri tak jauh darinya. Dengan masih mengenakan kerudung rumahan berwarna favoritnya, yakni pink. Dara masih terlihat sama di mata Rifki, hanya saja tubuhnya lebih kurus dari yang terakhir kali ia lihat.
__ADS_1
Sementara Dara hanya mematung di tempat.