
"Kak, deg-deg an. Aku nanti harus ngapain pas kumpul sama teman-teman kamu?" tanya Dara mencengkram lengan Rifki dengan kuat.
"Ngereog," jawab Rifki asal.
"Kak," rengek Dara dengan manja. Baru kali ini Rifki melihat rengekan dari seorang gadis. Sangat menggemaskan.
"Ya udah duduk aja santai, yang lain makan, ya makan, ada yang tanya jawab, nggak ada yang tanya ya udah diem aja. Tapi aku yakin, sih. Nanti kita akan jadi seleb dadakan, pasti banyak yang tanya-tanya," ujar Rifki jumawa.
"Kak, aku nervous banget ini." Dara masih sibuk dengan detak jantungnya dan kegugupannya.
"Yaelah. Ketemu sama anak-anak doang, nggak sama penghulu. Ya udah, aku gini, deh biar kamu nggak nervous." Rifki menggenggam jari jemari tangan Dara yang melingkar ditangannya.
Bukannya membaik, jantung Dara semakin terasa keras bertalu-talu. Berkali-kali ia menarik dan menghembuskan nafas dengan pelan demi mentralkan detak jantungnya.
Setelah beberapa lama berjalan, akhirnya mereka sampai di meja teman-teman Rifki. Ada banyak sekali para pria bersama dengan para pasangannya masing-masing. Mungkin jumlah mereka bisa jadi lebih dari lima pasang orang.
"Wih, raja jomblo dateng, nih," sahut salah satu teman Rifki yang mengetahui kedatangan pria paling tampan di perkumpulannya itu.
"Lo nggak lihat, dia ada gandengan. Sembarangan kalau ngomong. Hai, kenalin gue Bram, si tampan yang suka dengan kebisingan," ucapnya pada Dara serta menyodorkan tangan untuk kenalan. Lalu diikuti oleh teman-teman yang lain.
Kegugupan semakin merajai diri Dara. Ia sampai tak mau melepas tautan tangan antara dirinya dan Rifki. Sungguh ini adalah pertama kalinya ia bercengkrama dengan orang-orang dewasa dan lawan jenis dalam jumlah banyak.
"Nih, menunya. Kita udah pesan." Bram melempar buku menu ke arah Rifki. Untunglah dengan sigap pria itu bisa menangkap buku tersebut atau kalau tidak wajahnya akan jadi sasaran buku bergambar makanan itu.
"Mau makan apa, Sayang?" tanya Rifki dengan nada mesra.
"Iya-iya yang baru punya sayang. Aduh, umbar terus," ledek salah satu teman Rifki.
"Kalian udah berapa lama menjalin hubungan? Tahun lalu Rifki masih sendiri soalnya, pasti baru, ya. Pasti masih anget-angetnya, ya, kan?" goda salah satu wanita.
__ADS_1
"Pengantin baru kali, ah anget. Hahaha," sahut Bram uang membuat Rifki semakin gugup. Tangannya pun tergerak untuk melempar kembali buku menu yang sejak tadi ia bawa.
"Heh, udah dong. Jangan di ledekin terus. Nanya ya nanya tapi yang wajar aja, kasihan Dara kalau harus dengar dan lihat tingkah kita yang begini. Nanti aja nyablaknya kalau udah beberapa kali pertemuan. Jangan menciptakan suasana yang nggak nyaman untuk orang baru." Satu wanita akhirnya bisa berpikir dengan normal.
"Akhirnya, ada yang bener juga. Aku padamu Sinta," ujar Rifki yang mendapat pelototan dari suami Sinta.
Dara terlihat duduk dengan tak nyaman dan gusar. Hal itu nampak dari posisi duduknya yang ia geser beberapa kali. Matanya pun beberapa kali melihat jam yang terpasang di dinding.
Obrolan semakin lama semakim hangat dan tidak menyudutkan Rifki ataupun Dara. Pertanyaan yang mereka lontarkan pun rasanya biasa saja dan tak ada lagi nada menggoda seperti tadi. Namun, Dara tetap saja belum bisa merasakan nyaman sejak tadi.
Rifki yang menyadari hal itu akhirnya melancarkan aksinya yang tak pernah ia tunjukkan pada siapapun kecuali Ayu. Tangannya targerak untuk melingkari pinggang ramping Dara. Memberikan sedikit sentuhan agar ia bisa tenang dan nyaman. Mungkin memang tindakan Rifki terlalu percaya diri, tapi nyatanya caranya berhasil membuat Dara terdiam dari duduknya.
"Kayaknya Dara ini masih muda, deh. Kamu umur berapa? Kayaknya nggak seumuran sama kita. Lihat dia aku merasa jadi sangat tua." Sinta bertanya.
"Aku baru kuliah semester empat, kak," balas Dara dengan tenang. Tak se gugup tadi.
Semua orang di meja itu nampak terkejut.
"Tahu, tiga puluh lima tahun, kan? Memang kenapa? Kak Rifki bisa jagain aku, bisa ngemong aku, nggak hanya berperan jadi pacar. Bisa jadi sahabat, teman, kakak. Kak Rifki bisa berperan jadi apa aja sesuai dengan kondisi hati aku. Bahkan Kak Rifki bisa berperan jadi Bapak juga, iya kan?" Dara menyenggol perut Rifki dengan sikunya.
Mendengar penuturan dari Dara mambuat semua orang tertawa. Sementara Dara menerima tatapan sebal dari Rifki. Ia tak terima, bagaimana bisa gadis itu mengatakan bahwa ia bisa berperan jadi Bapak.
"Lo lebih pantes di bilang Bapak tahu nggak, Rif." Bram berucap seraya terkekeh.
Obrolan berlanjut mengenal lebih dalam Dara. Banyak pertanyaan dari teman Rifki yang membuat pria itu jadi tahu lebih banyak soal Dara. Ternyata sentuhan darinya membuat Dara terasa nyaman. Buktinya ia bisa lues bergaul dengan teman-teman Rifki setelah tangannya melingkar di pinggang Dara. Bahkan sentuhan darinya membuat gadis itu terlampaui nyaman karena ia berubah menjadi lebih banyak bicara dibanding Rifki.
"Kak, udah jam setengah sembilan," bisik Dara di telinga Rifki.
"Pulang sekarang?" tanyanya balik.
__ADS_1
"Ha? Masih sore, kok pulang?" sahut Sinta.
"Ya bagi lo sore. Bagi Dara, ya nggak. Dia, kan masih gadis. Nggak baik pulang malam-malam. Gue cabut dulu, ya. Lain kali bisalah kita ngumpul pas weekend, pagi aja biar panjang waktu ketemunya. Ya udah gue cabut dulu." Rifki berpamitan dengan semuanya lalu diikuti Dara.
"Ya udah hati-hati, langsung antar pulang. Anak orang, tuh," pesan Bram.
Rifki hanya menjawab dengan kode dan melipir pergi. Tangan mereka sudah lagi tak terpaut, namun tangan Rifki nangkring di pundak mungil Dara.
"Huuuh, akhirnya aku bisa lepas dari belenggu kegugupan yang merajai diri. Akhirnya aku bisa kembali bernafas dengan tenang, nyaman, dan segar," ujar Dara merentangkan kedua tangannya seraya memejamkan mata menghirup udara sedalam-dalamnya.
"Gimana? Temen aku asyik, kan?" tanya Rifki melajukan mobil meninggalkan restoran.
"Lumayan, lah. Bisa di terima. Tapi aku nggak terima, ya tadi kamu pegang-pegang aku. Emang aku barang apaan di pegang-pegang begitu," ucap Dara kesal, sangat berbanding terbalik dari respon yang Rifki lihat saat di restoran tadi.
"Hey, Nona. Kamu aja tadi diem dan ngasih respon yang nyaman saat aku melakukan itu. Kenapa baru protes sekarang? Kenapa nggak tadi aja pas di dalam?" balas Rifki tak terima.
"Lah, kan kamu sendiri yang bilang kalau aku harus nurut sama kamu. Lupa tadi sebelum masuk bilang apa aja? Susah memang kerja sama sama orang tua," gerutu Dara membuang muka.
Rifki menggaruk kepalanya yang tak gatal. Sungguh ia frustasi dengan gadis satu ini, ia merasa semua yang ia lakukan salah di matanya. Padahal Dara sendiri yang memberikan kode dirinya nyaman, tapi lagi-lagi ia yang di salahkan.
"Kenapa? Nggak terima aku bilang tua? Emang, iya, kan? Emang udah tua, kan? Pokoknya aku mau jajan aku di tambah. Nggak ada dalam perjanjian pegang-pegang. Aku nggak menerima protes."
"Terserah. Mau jajan setoko, dua toko bodo amat," jawab Rifki kesal.
"Kok jadi bodo amat? Eh jangan coba untuk mengingkari janji, ya. Aku bilangin ke Bang jaka kalau sampai bohongin aku. Aku aduin kalau kamu culik aku semalaman," ancam Dara.
"Astaghfirullah, iya Dara ku, Sayang, iya. Aku nggak akan ingkar janji. Kamu bebas mau minta jajan berapa banyak."
"Nggak usah panggil Sayang. Sandiwara sudah selesai."
__ADS_1
'Astaghfirullah, kenapa lo nggak ngubur gue aja, sih Ra?' batin Rifki putus asa.