Pamit

Pamit
59. Janji Jaka


__ADS_3

Ayu dan Jaka masih saling pandang di bawah atap yang sama. Sesekali terdengar desiran angin malam yang memaksa masuk telinga. Sementara Alif masih berdiri di depan mereka dengan tatapan bingung. Kenapa Ibunya dan juga Jaka hanya saling pandang dalam diam? Kira-kira itulah yang menjadi pertanyaan Alif.


"Kamu sadar dengan apa yang kamu bilang barusan?" tanya Jaka masih tak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Sadar. Emang Om nggak mau jadi Ayah aku? Bukannya Om pernah bilang ke Ibu kalau Om mau jadi Ayah aku? Om berubah pikiran?" cerca Alif.


"Nggak. Om nggak pernah berubah pikiran kalau itu. Jadi kamu udah mengizinkan Om menikah dengan Ibu?"  Jaka bertanya sekali lagi.


"Iya, Om selama ini udah baik sama kami. Bahkan nggak hanya baik, tapi juga peduli. Selalu jaga kami, Om udah dua kali dipukuli orang karena nolong Ibu. Alif merasa butuh Om buat bantuin Alif jaga Ibu."


Seulas senyum Jaka terbitkan untuk anak kecil yang sudah dipaksa dewasa oleh keadaan itu. Ia membawa Alif dalam dekapannya. Memberikan sedikit pelukan hangat seorang Ayah, pelukan yang tak setahun terakhir tak pernah lagi ia dapatkan.


"Itulah Cinta. Om hanya memberikan contoh bagaimana seorang laki-laki harusnya bersikap dengan perempuan. Kelak jika kamu dewasa kamu bisa menghargai dan menghormati mereka. Tidak hanya Ibu, tapi semua orang terutama perempuan. Terima kasih sudah mempercayai Om untuk jaga Ibu dan kalian." Jaka mengelus pelan kepala anak itu. Sungguh ia tak menyangka, dibalik nyeri dan ngilu luka babak belur yang ia terima ternyata mampu membayar restu Alif.


"Sekarang Alif tidur dulu, ya. Istirahat, besok harus sekolah."


Alif mengangguk dan berjalan menuju kamar tanpa banyak bertanya. Secara tidak langsung sebenarnya anak itu sudah merestui hubungan mereka sejak awal. Hanya saja kesalahan pahaman yang ia lihat menutupi mata hatinya.


Kini tinggalah menyisakan dua manusia yang akhirnya bisa bernafas dengan lega. Mereka kembali saling pandang dengan senyuman. Akhirnya apa yang mereka perjuangkan bisa mereka bayangkan di depan mata.


Mereka diam sejenak, menikmati rasa yang singgah. Rasa yang rupanya tidak hadir sementara.


"Aku akan secepatnya urus pernikahan kita. Aku tidak mau menunda hal baik, cukup sudah satu tahun lebih aku harus mengerem diriku sendiri agar bersikap layaknya seorang teman pada orang yang aku anggap kekasih. Kamu nggak keberatan, kan kalau pernikahan kita sederhana?" Baru beberapa detik yang lalu mengantongi restu, Jaka sudah membicarakan perihal pernikahan. Rupanya ia tak sabar ingin memiliki Ayu dengan cepat.


"Bahkan jika aku harus menikah masal pun aku nggak masalah, Mas. Aku nggak peduli dengan pestanya. Hanya perubahan status yang aku pentingkan. Selain itu juga bagaimana hari-hari kita nantinya, aku berharap sikap kamu ke aku nggak akan pernah berubah dalam kondisi apapun."


Entah mengapa Jaka membawa Ayu ke dalam pelukannya, mengelus elus lembut kepalanya. Hal yang sebenarnya lama ia ingin lakukan namun terhalang oleh status mereka.

__ADS_1


"InsyaAllah aku akan jaga terus rasa ini buat satu orang. Hanya buat kamu, hari ini aku benar-benar bersyukur, Yu. Akhirnya aku bisa memilikimu. Setiap malam terselip doa hanya untuk ini."


Jaka semakin mengeratkan pelukan yang di rasa semakin hangat dan membuat mereka nyaman. Dalam hati Jaka, tak henti-hentinya ia mengucap syukur atas apa yang sudah ia terima hari ini. Tak ada yang lebih penting mengenai apapun kecuali Ayu dan keluarganya sendiri.


***


"Rif, ayo buruan nggak usah banyak alasan! Cepat atau kita akan terlambat!" Ibu Rifki berteriak seraya membenarkan letak jilbabnya.


Minggu pagi, wanita yang menginginkan anaknya segera menikah itu hari ini akan mempertemukan Rifki dengan anak temannya. Beliau sangat bersemangat karena untuk pertama kalinya Rifki bersedia menerima ajakan Ibunya.


Namun, lain halnya dengan Rifki. Sangat berbanding terbalik dari tingkah Ibunya yang sejak tadi mengulum senyum termanis. Rifki justru sangat malas, bahkan ia berpenampilan apa adanya.


"Ini anak Ibu? Astaghfirullah, jelek sekali. Mana ada laki-laki yang berpakaian seperti ini saat akan bertemu dengan calon istrinya? Yang benar saja. Ayo ke kamar lagi, Ibu akan carikan baju buat kamu." Ibu Rifki menggeret anaknya ke kamarnya.


"Memang kenapa dengan baju ini? Dia masih layak pakai. Aku masih tampan hanya dengan menggunakan kaos dan celana seperti ini. Kalau dia mau sama aku, ya harusnya nggak mempermasalahkan apa saja yang aku pakai," bantah Rifki namun tetap mengikuti langkah Ibunya yang menyeretnya.


Mengobrak-abrik isi lemari dan mengeluarkan seluruh baju yang ada. Rifki hanya menatap melakukan Ibunya dengan melongo.


"Nih, pakai. Buruan! Apa kamu butuh bantuan Ibu untuk memakaikannya? Ya udah ke sini, kamu!"


"Nggak-nggak. Aku pakai sendiri," tolak Rifki cepat.


Begitu sampai di kamar mandi, Rifki menjereng pakaian pilihan Ibunya. Hem flanel berwana coklat dan celana yang berwarna senada dengan hemnya. Ia menghembuskan nafas panjang. Memakai dengan malas pakaian yang dijadikan Ibunya pilihan. Ia tahu ia akan terlihat semakin tampan dengan pakaian-pakaian yang Ibunya pilihkan. Dan ini akan menyulitkannya jika wanita itu benar-benar jatuh hati padanya.


"Nah, kalau begini kan ganteng." Ibu Rifki memuji anaknya sendiri seraya tangannya tergerak untuk merapikan hem dan rambut sang anak  yang sebenarnya baik-baik saja.


***

__ADS_1


Setengah jam perjalanan membuat Rifki sangat bosan. Ia bingung dengan Ibunya kenapa memilih restoran yang begitu jauh, padahal di dekat rumahnya banyak rumah makan yang tak kalah elit.


"Sebentar, Bu. Teman Ibu yang mana? Aku mau lihat anaknya dulu, kalau cantik aku mau ketemu, kalau burik aku nggak mau. Yang mana teman Ibu?" tanya Rifki begitu sampai di pintu masuk restoran.


Plak.


"Enak aja kalau ngomong, Ibu yakin dia cantik," jawab Ibu Rifki seraya mengeplak anaknya. Lalu pandangannya ia edarkan ke seluruh ruangan restoran hingga matanya menemukan di mana tempat duduk temannya, "Nah, itu dia," seru Ibu Rifki menunjuk sebuah sudut. Rifki dengan cepat mengikuti arah yang di tunjuk Ibunya.


Matanya seketika membelalak lebar, "Allahuakbar, Ibu. Bagaimana bisa Ibu mencarikan aku istri yang begitu gemuk? Benar-benar Ibu ini," protes Rifki dengan suara tercekik.


"Ya mana Ibu tahu kalau dia gemuk. Tapi dia cantik, nggak akan merusak keturunan. Berat badan bisa diatur, banyak orang gemuk yang bisa kurus juga. Udah kita temuin dulu, belajar menghargai orang meskipun kita nggak suka sama orang itu." Ibu Rifki menggeret anaknya lagi untuk masuk.


Rifki tak henti-hentinya merengek, ia benar-benar tak mau dengan wanita pilihan Ibunya. Dengan malas ia berjalan mengikuti langkah Ibunya seraya matanya menatap sekeliling barangkali ada gadis cantik yang bisa ia bayar untuk menjadi kekasih. Hingga sudut netranya menangkap sosok yang ia kenal, gadis berkerudung merah muda sedang tertawa dengan beberapa teman-temannya. Otak Rifki langsung bisa bekerja dengan cepat.


"Bu aku mau ke toilet sebentar, Ibu ke sana duluan."


"Awas kalau kamu kabur, ya. Ibu akan nikahkan kamu minggu depan kalau kamu berani kabur!" ancamnya.


"Iya, iya."


Rifki berjalan ke belakang, seolah-olah ia benar-benar ke toilet. Setelah Ibunya benar-benar duduk bersama temannya, Rifki diam-diam melipir ke arah meja gadis berkerudung merah muda.


"Ra, tolong aku, Ra," pekik Rifki pelan. Ia tak mau Ibunya mendengar suaranya.


"Kak Rifki, ada apa?" tanya Dara bingung sekaligus terkejut.


Rifki secara singkat menjelaskan tujuannya datang ke sini. Tak lupa ia membeberkan apa yang harus Dara lakukan untuk membantunya.

__ADS_1


"Apa?" pekik Dara tak terkejut.


__ADS_2