Pamit

Pamit
113. Selesai Sudah


__ADS_3

Entah ada apa dengan hari ini. Di antara banyak hari, Tuhan memilihkan hari ini sebagai hari di mana Rifki dan Dara begitu tegang, gugup dan bahagia dalam satu waktu yang bersamaan. Jika dua tahun yang lalu Rifki dan Dara begitu tegang karena akan melaksanakan ijab qobul maka hari ini mereka juga sedang merasakan hal yang sama karena menantikan kelahiran anak mereka yang pertama.


Rifki duduk dekat kepala sang istri untuk memberikan kata-kata penenang dan mengurangi ketegangannya saat menjalani operasi pengambilan bayi mereka yang kembar. Pria itu lancar bicara seolah dirinya sangat santai dan tenang, padahal ia sendiri saat ini gugup dan tegang setengah mati.


Melihat istrinya di masuki jarum suntik di beberapa bagian tubuh saja membuat Rifki terasa ngilu, apalagi jika diminta membayangkan perut istrinya diobrak-abrik untuk melahirkan keturunannya.


"Mas, kenapa operasinya lama sekali. Bayi kita nggak apa-apa, kan?"


"Sabar, Dek. Kan bayi kita ada dua. Kamu ada yang sakit nggak?"


"Nggak..."


Belum sempat Dara menyelesaikan ucapannya, terdengar suara tangisan bayi yang begitu menggema memenuhi seluruh ruangan.


Rifki dan Dara terdiam seketika. Mereka nampak speechless, mereka mendadak linglung mendengar suara tangisan itu. Hingga beberapa menit kemudian terdengar suara tangisan kembali, di saat itulah Dara dan Rifki sadar bahwa mereka sudah menjadi orang tua. Mereka sudah benar-benar memiliki keturunan yang selama ini mereka tunggu.


Sepasang suami istri itu saling tatap lalu menangis bersama. Bukan tangisan kesedihan tapi tangisan yang menggambarkan rasa bersyukur mereka, selama dua tahun Penantian terbayar sudah dengan lahirnya dua bayi yang berjenis kelamin perempuan.


Rifki menghujani sang istri dengan ciuman. Tak peduli dilihat oleh berapa orang di ruangan itu,Β  ia hanya ingin menunjukkan bahwa ia begitu menyayangi istrinya, ia benar-benar berterima kasih pada wanita itu. Entah dengan cara apa Rifki membayar seluruh pengorbanan Dara dimulai dari ia hamil dan hingga melahirkan hari ini. Nampaknya memberikan rasa kasih sayang yang utuh saja masih kurang.


"Anak kita sudah lahir, Mas? aku sudah jadi ibu. Kita sudah jadi orang tua?" tanya Dara tak percaya seraya masih terus menangis.


"Iya kita jadi orang tua. Terima kasih, ya kamu berhasil membawa anak-anak kita lahir dengan selamat ke dunia ini. Aku tahu untuk sampai di titik ini menjadi kamu pasti tidaklah mudah." Rifki menghapus tetesan air mata yang mengucur di pipi sang istri.


"Terima kasih sudah mau bersusah payah hanya untuk melahirkan keturunanku. Mas cinta kamu." Sekali lagi Rifki memberikan kecupan di kening Dara, namun dengan durasi yang lama.


Pertemuan bibir dan kening itu terpisah ketika dua orang suster memberikan bayi mereka untuk dilihat kedua orang tuanya. Rifki menerima salah satu bayinya dan bayi yang lain diletakkan di box bayi.


Matanya kembali menggenang ketika tangannya mendekap bayi mungil nan cantik. Hingga detik ini pun dia masih tak percaya bahwa ia sudah memiliki seorang bayi.

__ADS_1


"Jangan egois, Mas itu anakku juga, aku juga mau lihat."


"Astagfirullah, Maaf Mas lupa." Rifki terkekeh lalu meletakkan bayi itu di dekat kepala istrinya.


Dara pun tak bisa menyembunyikan rasa harunya saat wajah sang anak begitu dekat dengan wajahnya.


"Mirip ke kamu semua aku nggak kebagian," ujar Dara cemberut. " yang satunya mana? Coba lebih deketin sini, aku mau cium."


"Kan anaknya Mas, ya wajarlah kalau mirip Mas. Mas ambil yang satunya, ya."


Dara mengangguk.


"Taraaaa ternyata dia mirip sama Mas juga."


"Ya udah, deh nggak apa-apa nanti buat lagi sampai ada yang mirip sama aku." Dara juga memberikan satu kecupan di pipi sang anak.


"Khem. Yang ini aja baru lahir. Masa udah mikirin buat lagi," sahut dokter perempuan yang menangani kehamilan Dara hingga melahirkan. Jadi sedikit banyak dokter itu tahu perjuangan Dara hamil anak kembar.


"Mas Adzani mereka dulu, ya."


***


Satu hari setelah operasi, banyak keluarga dan juga teman Dara maupun Rifki yang datang untuk melihat bayi sepasang suami istri yang kehidupannya penuh warna dan ujian. Dara sampai tak sempat istirahat karena orang-orang silih berganti datang ke ruangannya, tapi tak masalah baginya, karena itu membuatnya begitu bahagia dan merasa dicintai banyak orang.


"Permisi, paket," ucap Bram seraya membuka pintu. "Selamat, ya nyet. Akhirnya lo punya buntut juga. Di saat pria seusia lo udah punya anak perjaka dan gadis lo baru menetaskan bayi. Nggak masalah, tidak ada kata terlambat untuk hal apapun. Sekali lagi selamat karena sudah berhasil menjadi orang tua, ini adalah satu-satunya pencapaian lo yang sulit banget untuk lo raih, dan gue tahu perjuangan lo sampai untuk sampai di sini." Mata Bram berkaca-kaca lalu memeluk sahabatnya itu.


"Makasih. Nggak ada lo, nggak ada kalian semua gue bisa apa, sih? Kalian bukan hanya sahabat gue tapi keluarga gue juga."


"Udah dong melow nya, kan kita ke sini mau lihat dedek bayi. Mana keponakan aku yang kembar itu, mana mana mana. Di antara kita semua hanya Rifki yang punya anak kembar." Sinta berceloteh seraya menuju box bayi yang dikelilingi oleh para sahabat Rifki.

__ADS_1


"Masya Allah, cantik banget. Sayang mukanya kayak bapaknya."


Plak


"Emang kenapa kalau mukanya mirip gue," seloroh Rifki ketus.


Obrolan mereka berlanjut. Di antara ketiga sahabat Rifki hanya Bram dan istrinya yang mengetahui dari awal bagaimana perjalanan hidup Rifki hingga berdiri di titik ini. Karena ucapan Bram tadi akhirnya mau tak mau teman yang menjadi memaksa Rifki untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.


Tentu saja tak semua Rifki ceritakan, ia merahasiakan bahwa istrinya itu pernah dilecehkan oleh preman mabuk. Pria itu menggantinya dengan drama penculikan salah orang.


Dara mengulim senyum saat Rifki menoleh padanya. Ucapan terima kasih saja rasanya tak cukup untuk semua pengorbanan suaminya.


"Aku berjanji pada diriku sendiri, aku akan menyerahkan seluruh hidupku untukmu, suamiku. Hidupku sekarang milikmu dan anak-anak kita."


"Namanya siapa?" tanya Sinta mengambil salah satu di antara keduanya.


"Cinta dan kasih."


"Bagus banget namanya, menggambarkan kalian banget. Kalian itu harus jadi motivator dengan judul The power of love. Kisah kalian benar-benar menginspirasi banyak orang kalau kekuatan cinta mengalahkan segalanya. Ngomong-ngomong ini gimana caranya bedain mereka?" Sinta menatap bayi yang di box dan di gendongannya bergantian.


"Yang namanya Cinta ada tanda lahirnya di telapak tangan. Kalau Kasih nggak ada. Itu aja."


Tiba-tiba bayi yang ada di gendongan Sinta menangis. Wanita itu segera memberikannya pada ibunya.


Setelah tangisan bayi itu mereka semua pamit untuk pulang ke rumah masing-masing. Kini hanya menyisakan keluarga kecil bahagia yang baru dikaruniai dua orang anak. Rifki berjalan menghampiri Dara dan Cinta yang baru saja menyesap-nyesap asinya, sementara Kasih berada dalam gendongannya.


"Akhirnya, kehidupan aku lengkap juga. Aku nggak minta apa-apa lagi sama Tuhan. Aku hanya minta diberi kesehatan untuk menjaga kalian, para bidadariku sampai akhir hayat. Aamiin."


...TAMAT...

__ADS_1


Terima kasih mak-emak atas dukungannya. Untuk yang baca tanpa meninggalkan jejak satupun juga terima kasih banyak πŸ™. Salam sehat dan sayang dari diriku, si mak emak yang mungil ☺πŸ₯°


Yang belum baca Senja dan derita, silakan mampir πŸ™.


__ADS_2