Pamit

Pamit
42. Insecure


__ADS_3

Aku ingin menjadi sesuatu


Yang selalu bisa kau sentuh


Aku ingin kau tahu


Bahwa ku selalu memujamu


(Once-Dealova)


Dengan di temani semilir angin yang berhembus pelan, Jaka memamerkan kepiawaiannya bermain gitar. Hal yang biasa ia lakukan saat sedang bosan dengan keadaan.


Keadaan menempatkannya pada keadaan yang serba salah. Di satu sisi ia ingin menjaga jarak dengan Ayu, tapi di sisi lain hatinya menolak untuk melakukan itu. Entahlah, rasanya terasa berat untuk melakukan apa yang menjadi keinginannya.


Kau seperti nyanyian


Dalam hatiku yang memanggil...


Jaka yang melanjutkan lagunya dibuat terkejut dengan sambungan lirik yang dinyanyikan oleh Ayu.


"Eh, Yu. Kok belum tidur?" Jujur saja jantung Jaka kini sedang tak baik-baik saja.


"Dari warung, beli ini," jawab Ayu menunjukkan sebuah tas kresek. "Kamu sendiri ngapain jam segini masih di luar?"


"Lagi bosen aja."


"Baru tahu kalau kamu pinter main gitar suara kamu juga nggak buruk-buruk amat lah, ya." Ayu terkekeh mengatakan itu.


"Ya kalau suaraku bagus nggak mungkin aku jadi supir taksi online."


"Jadi apa dong? Pengamen?" sahut ayu tertawa.


Jaka lagi-lagi dibuat terkesima oleh Ayu, dengan tawa renyahnya saja hati Jaka sudah kembang kempis dibuatnya. Seandainya saja jika ia mampu memberanikan diri untuk meminta hidup Ayu, maka sudah pasti ia akan lakukan. Tapi, lagi-lagi Jaka dibuat insecure oleh keadaannya sendiri.


Jaka merasa hanya seujung kuku di dalam kehidupan Ayu. Ia tak akan bisa membahagiakan Ayu jika suatu saat mereka akan bersama nantinya.


Jaka menatap dalam wanita yang duduk di sampingnya. Dengan anggun dan tenang ia menatap langit yang dihiasi rembulan dan bertabur bintang. Wajah yang sudah kembali tanpa make up tak sedikitpun melunturkan wajah ayunya. Tiupan angin yang sesekali menghembus membuat beberapa helai rambut menerpa wajahnya.

__ADS_1


Jaka yang terbawa suasana mengangkat tangannya untuk menyisipkan rambut Ayu, tapi tiba-tiba


"Hidup itu adil ya, Mas. Setelah aku melewati masa yang gelap akhirnya aku bisa bahagia juga, hidup aku lebih tenang sekarang. Kamu mau ngapain?" Ayu bertanya karena posisi tangan Jaka yang berada di dekat kepalanya.


"Ha? Ah nggak itu tadi tangan aku sedikit kram," elak Jaka gugup.


"Kebetulan, aku tadi ke warung juga beli balsem, nih coba pakai. Tangan aku juga sering kram-kram soalnya. Maklumlah, tiap hari packing orderan. Jualan aku yang di toko juga udah mulai banyak yang lirik, malah lebih mudah laku di jual online." Ayu menyodorkan sebuah balsem yang berwarna merah dan kuning.


"Makin sukses aja kamu. Jangan terlalu sukses dong. Nanti yang mau deketin kamu jadi ragu," celetuk Jaka yang sebenarnya ucapan itu adalah hal yang ia rasakan.


"Apa hubungannya?"


"Ya, kan kalau kamu semakin kaya yang deketin kamu jadi ragu. Gaya hidup kamu dilihat mata telanjang kan pasti mewah. Kalau yang deketin kamu orang sederhana ya pasti insecure." Jaka seakan memberi saran tapi sebenarnya ia sedang curhat dan ingin tahu bagaimana penilaian Ayu terhadap seseorang setelah ia menjadi janda yang banyak uang.


"Ya ampun, Mas. Aku aja nggak kepikiran sampai sana. Aku kerja keras buat masa depan anak-anakku, biar kehidupan mereka nggak kayak aku nantinya. Kalau ada yang mau deketin aku dan ragu, sih itu bukan urusan aku. Sebuah kesalahan jika meraka insecure karena materi yang aku punya. Mereka yang mau deketin aku kan harusnya tahu kalau aku kerja buat anak-anakku, buat kebahagiaan mereka."


"Jadi kamu nggak pandang orang dari sisi materinya? Kamu nggak mempermasalahkan kekayaan orang yang mendekati kamu?"


"Hahaha, pikiran dari mana, sih, Mas kayak gitu? Mana pernah aku mandang orang dari materi, kalau memang iya aku begitu, harusnya aku nggak bertahan dengan Anang selama itu, aku udah cari laki yang lebih kaya dan tinggalkan dia di saat anak kami masih satu, tapi nyatanya nggak, kan? Aku masih bertahan sama dia. Aku sekarang lagi nggak mikirin pasangan, sih, Mas. Masih fokus sama anak-anak."


"Apa kamu trauma dengan pernikahan?"


"Tuhan tahu kamu kuat, itu sebabnya kamu berada di posisi ini. Aku harus banyak belajar dari kamu, sih."


"Belajar apa? Kamu belum move on dari ibunya si kembar? Hanya masalah waktu aja, semua akan berlalu bersama waktu yang juga terus berganti."


"Sok tahu, jangan belajar jadi dukun, jadi pedagan aja udah," ujar Jaka terkekeh.


Merasa sudah cukup malam, Ayu pamit pulang.


"Mau ke mana? Aku berani pulang sendiri nggak perlu diantar," ucap Ayu yang melihat Jaka mengikuti langkahnya.


"Mau kunci gerbang, berharap banget aku antar? Ya udah, ayo!"


Ayu hanya nyengir menahan malu, dalam hati ia mengumpat dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia sepercaya diri itu mengira Jaka mengantarnya pulang.


"Serius mau antar aku pulang? Rumahku, kan dekat, Mas."

__ADS_1


"Nggak apa-apa, jalanan udah sepi. Kita nggak bisa jamin setiap langkah kita aman atau nggak."


Berjalan berdua di suasana sepi seperti ini membuat Ayu gugup. Entah kenapa tiba-tiba jantungnya bergemuruh dengan hebat.


'Dasar jantung murahan, jalan begini doang deg-deg an.' rutuk Ayu dalam hati


Saking gugupnya Ayu ta melihat ada batu yang cukup besar terpampang di pinggir jalan, entah siapa yang meletakkannya, yang jelas hal itu membuat Ayu hampir tersungkur ke depan. Untunglah Jaka dengan sigap menangkap tangan Ayu hingga wanita itu tak sampai mencium aspal.


Mereka saling pandang dalam diam sejenak.


"Pelan-pelan jalannya, coba tadi kalau aku nggak antar, pasti udah rebahan di aspal kamu. Ada yang sakit?"


"Nggak, nggak ada kok. Kesandung aja. Lagian resek banget naruh batu di pinggir jalan," gerutu Ayu.


"Ya udah masuk sana! Hati-hati jalannya."


Ayu mengangguk kikuk lalu melangkah dengan cepat ke dalam rumah. Hal yang sama dilakukan oleh Jaka. Sepanjang perjalanan pria itu tak henti-hentinya menatap tangan yang tadi ia gunakan untuk menangkap Ayu.


*


Sudah seminggu ini Anang hanya berbaring di ranjang rumah sakit. Kecelakaan yang menimpanya benar-benar membuat Anang tersadar dari dosanya. Dosa yang teramat besar pada anak istrinya terdahulu.


Ingin sekali rasanya hati menggelar sajadah dan duduk bersimpuh di depan hadapan Sang Pencipta, tapi apakah dosa yang ia ciptakan akan bisa terampuni begitu saja? Apakah dengan memohon ampunan-Nya apa yang pernah hilang darinya akan kembali? Bisakah kebahagiaan kembali ia rengkuh di sisa hidupnya yang masih tersisa satu kaki? Bahkan untuk melangkah saja ia harus meminta bantuan. Hidupnya sudah benar-benar tak berguna.


"Selamat malam, Bapak, visit terakhir untuk hari ini. Semu..."


"Kapan saya bisa pulang, Dok?" potong Anang cepat.


"Apa Bapak merasa sudah jauh lebih baik?"


"Saya bosan di sini."


"Keadaan Bapak belum stabil, jika Bapak bosan, Bapak bisa jalan-jalan ke taman rumah sakit. Di sana banyak bunga-bunga dan tumbuhan yang membuat mata jauh lebih segar."


"Dokter lupa saya hanya punya satu kaki?"


"Bapak lupa jika di setiap rumah sakit punya kursi roda. Bapak bisa meminta bantuan suster kami untuk membawa Bapak ke taman. Jangan karena bagian tubuh Bapak diambil oleh pemiliknya, Bapak jadi merasa jadi orang yang tak berguna. Jangan merasa kehidupan akan selesai sampai di sini. Kehidupan masih panjang, setidaknya Bapak masih ada waktu untuk penebusan dosa."

__ADS_1


"Dosa saya banyak dan terlalu besar, saya malu."


__ADS_2