
Di tempat lain, Rifki Masih bersama dengan ibunya.
Sebenarnya, dirinya berusaha untuk tidak merepotkan ibunya. Namun mau bagaimanapun juga Rifki tidak bisa melakukannya sendiri. Alhasil mau tak mau dirinya mencoba untuk meminta bantuan Ibu Rini lagi.
Rifki selalu berharap jika ibunya itu mau membantu tanpa mengeluh. Ya, memang sedari tadi Bu Rini membantunya dengan baik tanpa mengeluh sedikitpun. Hal itu sungguh membuat Rifki merasa sangat amat beruntung. Entahlah belakangan ini Rifki banyak memikirkan hal yang terkadang membuatnya hanya merasakan rasa sakit saja.
"Bu, bisa bantu aku buat telepon Dara lagi? Siapa tahu sekarang Dara mau angkat teleponnya," tanya Rifki mencoba untuk meminta bantuan pada ibunya, dengan tutur kata sebaik mungkin.
Semalaman Rifki sudah mencoba untuk menghubungi Dara, dengan bantuan ibunya. Ponsel Dara jelas aktif, namun Dara tidak menerima panggilannya itu. Tentu Rifki masih berusaha untuk bersikap positif saat ini, setidaknya dengan begitu Rifki mampu menenangkan dirinya sendiri.
"Loh, kok tiba-tiba nomor Dara nggak aktif, ya? Padahal semalam nomor Dara aktif," kata Bu Rini saat operator panggilan mengatakan jika nomor yang mereka tuju sedang tidak aktif.
"Apa Bu? Ponsel Dara nggak aktif?" tanya Rifki sungguh merasa kebingungan dengan apa yang dikatakan sang ibu.
Bu Rini mengangguk, "Coba ibu telepon sekali lagi, ya? Siapa tahu sekarang aktif," kata Bu Rini lagi kembali memanggil nomor Dara di ponsel putranya itu.
Lagi dan lagi operator mengatakan jika nomor yang mereka tuju sedang tidak aktif. Bu Rini menatap putarannya itu dengan sorot mata yang begitu sulit diartikan, "Ponsel Dara mungkin habis baterainya," kata Bu Rini masih mencoba untuk membuat putranya itu berpikiran baik akan apa yang terjadi.
Untuk beberapa saat Rifki terdiam, mencoba memikirkan segala kemungkinan yang mungkin saja terjadi.
"Mau ibu coba lagi?" tanya Bu Rini menyadari putranya itu sangat sedih.
Dapat terlihat jelas dari raut wajah yang putranya itu pancarkan.
"Aku mau coba telepon Jaka, Bu. Siapa tahu sekarang Jaka angkat teleponnya," kata Rifki menatap kosong ke depan, karena sudah jelas Rifki tidak bisa melihat apapun.
Bu Rini mengangguk sekalipun tahu Rifki tidak akan melihatnya, "Sebentar, ya. Ibu coba telepon Jaka," kata Bu Rini mencoba untuk mencari nomor milik Jaka. Sekalipun mungkin Bu Rini tidak yakin apa Jaka mau menerima panggilannya atau tidak, namun tetap saja Bu Rini melakukannya.
Sebenarnya Bu Rini tak tahu mengapa mereka melakukan hal itu, menghilang tanpa kabar, bahkan sangat sulit untuk dihubungi.
__ADS_1
Lagi dan lagi suara operator yang memberitahu mereka, jika nomor yang mereka hubungi sedang tidak aktif. Hal itu membuat Rifki sungguh tidak mengerti, ada apa dengan Jaka dan juga Dara? Bukankah tidak mungkin jika tiba-tiba ponsel keduanya mati begitu saja?
"Mau coba sekali lagi?" tanya Bu Rini mencoba untuk memastikan.
Namun, Jaka menggelengkan kepalanya, "Tidak perlu, nomor Jaka tidak aktif. Gimana kalau telepon Ayu?"
Bu Rini mengangguk, "Ibu coba telepon istri Jaka ya," kata Bu Rini sembari kembali mengotak-atik ponsel milik putranya itu. Mencoba untuk menghubungi Ayu.
Bu Rini menoleh ke arah putarannya, "Nah, kalau Ayu aktif," kata Bu Rini kepada Rifki.
Rifki hanya mencoba untuk diam, menunggu seseorang di seberang sana menerima panggilannya.
***
Di tempat lain Ayu baru saja keluar dari dalam kamar mandi, dirinya bergegas memakai pakaian miliknya.
Ayu hendak pergi keluar, mengingat sedari malam dirinya terus menenangkan ibu mertuanya. Maka Ayu pergi untuk sekedar membersihkan diri dan akan kembali lagi untuk memenangkan Ibu mertuanya itu.
Ia mengernyitkan dahinya bingung kala seseorang yang baru saja menelponnya adalah Rifki, sahabat sekaligus calon suami adik iparnya.
Tanpa menunggu lama lagi, Ayu segera menerima panggilan itu. Lantas mendekatkan ponselnya ke samping telinga.
"Hallo," sapa Ayu.
"Assalamualaikum, Ayu. Ini Bu Rini, Rifki ingin berbicara sama kamu," sapa Bu Rini membalas ujaran Ayu.
Ayu hendak menjawab, namun suara deheman Rifki diseberang sana membuat Ayu tak sempat melakukan itu.
"Apa kamu tahu Dara di mana? Aku telepon dia dari tadi tapi nomornya nggak aktif. Semalam masih aktif sih, tapi Dara nggak terima panggilannya. Begitupun dengan Jaka, Jaka tiba-tiba nggak bisa dihubungi," kata Rifki di seberang sana, mencoba untuk menjelaskan kepada Ayu.
__ADS_1
Belum sempat Ayu menjawab, Rifki sudah kembali melanjutkan ujarannya, "Semalam Dara udah dari sini, dia pulang sambil bawa mobilnya. Tapi tiba-tiba aja Dara gak bisa dihubungi, Jaka pun terakhir kali bilang mau cari Dara," sambungnya masih berusaha untuk sebaik mungkin membeberkan alasannya menelepon Ayu, sekalipun Ayu sudah tahu perihal itu semua.
"Sebenarnya Da..."
Ujaran Ayu tiba-tiba saja terhenti kala ponselnya di ambil paksa oleh Jaka, Ayu menatap suaminya itu dengan tatapan penuh tanya, seolah tidak menyangka dengan apa yang Jaka lakukan dan.
Tiba-tiba saja Jaka memutuskan sambungannya, dan meletakkan ponsel milik Ayu di atas nakas.
"Apa yang kamu lakukan? Aku baru aja mau kasih tahu Rifki, enggak seharusnya kamu bersikap seperti itu," kata Ayu masih tak terima dengan apa yang Jaka lakukan.
Jaka menghela nafas berat, "Rifki nggak perlu tahu tentang apa yang terjadi di sini," balas Jaka semakin membuat Ayu tak mengerti dengan apa yang Jaka katakan saat ini.
"Rifki itu calon suaminya, Rifki berhak ta.."
"Jangan Sayang, jangan beri tahu Rifki dulu. Kita aja nggak tahu Dara bagaimana keadaannya. Nanti dia mikir yang nggak-nggak. Udah tahan dulu."
"Ya, kamu pikir mereka nggak akan mikir yang nggak-nggak kalau kalian hilang tanpa kabar."
"Udah, kamu hargai aku sebagai suami kamu. Jangan ngajak debat di situasi seperti ini."
Saking tertekannya Jaka, ia sampai bertengkar dengan istrinya sendiri. Ini adalah pertama kalinya bagi Jaka memarahi Ayu seperti ini.
Berbeda dengan Ayu yang sudah sangat kalut dengan sikap Jaka yang berbeda darinya. Seharusnya mereka memberitahu Rifki karena menurut Ayu, Rifki perlu mengetahui hal itu semua. Bukan malah menyembunyikannya seperti sekarang ini dan membuat Rifki merasa khawatir.
Ayu yakin, Rifki pasti bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi.
*****
maaf untuk pembaca Pamit yang ngikutin dari awal, ya. aku buat konflik mereka sedikit berat, biar cinta mereka juga kuat. Kan nggak mungkin aku menceritakan bahagia Dara Rifki aja 🙏🙏🙏
__ADS_1
semua ada masanya 😊