
Jaka menyisir jalanan yang Dara lalui, tentu saja Jaka tahu betul setiap jalanan yang adiknya itu lalui dari rumah ke rumah Rifki.
"Di mana Dara ini," gumamnya masih mencoba untuk melajukan motornya dengan kecepatan rata-rata. Jujur saja Jaka semakin merasa khawatir sekarang, dirinya tahu jika adiknya itu tidak mungkin pergi ke suatu tempat tanpa menghubunginya terlebih dahulu.
Jaka yakin, jika adiknya sedang dalam perjalanan pulang, sedari tadi pasti sudah sampai. Namun Jaka sama sekali tidak mendapati Dara ada di rumah. Begitupun dengan ibunya yang mengatakan jika Dara sama sekali belum kembali. Hal itu semakin membuat Jaka merasa sangat khawatir dibuatnya. Namun sebisa mungkin Jaka bersikap tenang, ada harapan dalam dirinya dan Jaka tekankan jika adiknya itu akan baik-baik saja.
Jaka mengemudi motornya, sembari terus mencoba melirik kanan dan kiri. Sebelah tangan Jaka pun bergerak, terus menerus menghubungi Dara, namun sama sekali tidak ada jawaban dari adiknya itu.
Jaka semakin merasa frustasi, dirinya tidak bisa menahan perasaan paniknya saat ini.
"Dara, di mana kamu ini…" gumam Jaka bermonolog. Dirinya masih terus berusaha semampu yang dirinya bisa.
Jaka menggelengkan kepalanya kuat, mencoba menepis segala pikiran buruknya. Ya, ada banyak hal yang Jaka pikirkan saat ini.
"Dara pasti ketemu," kata Jaka mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
Di satu sisi lain, Jaka ingin percaya. Namun, di satu sisi lain pula sangat sulit bagi Jaka untuk sekedar melakukan hal itu semua, bagaimana tidak? Adiknya tiba-tiba menghilang, sulit untuk dihubungi, hal yang wajar bagi Jaka merasa kalut seperti sekarang ini.
Beruntungnya Jaka masih memiliki harapan dari apa yang dirinya hadapi saat ini. Jaka berusaha sebaik mungkin untuk meyakinkan dirinya jika semuanya pasti akan baik-baik saja.
Dari kejauhan Jaka dapat melihat mobil yang persis seperti mobil miliknya. Dari plat nomor, warna mobil dan juga jenis mobilnya, semua yang Jaka lihat, dapat dirinya yakini jika mobil yang terparkir tak jauh di depan sana adalah mobil miliknya.
Kedua sudut bibir Jaka tertarik ke atas, merasa senang kala dirinya sudah menemukan mobilnya, itu artiny ia menemukan Dara.
"Apa jangan-jangan mobilnya mogok ya," gumam Jaka semakin mempercepat laju motornya. Dirinya sungguh tidak sabar menghampiri adiknya yang mungkin sedang menunggu di dalam mobil.
__ADS_1
Lagi pula, mengapa adiknya itu tidak menghubungi Jaka jika mobilnya mogok? Entahlah, Jaka pun tidak dapat memastikan hal itu semua jika belum melihatnya secara jelas.
Jaka memarkirkan motor miliknya tepat di belakang mobil miliknya.
Sungguh, sangat sulit bagi Jaka hanya untuk menunggu saja, maka dari itu dirinya berusaha untuk berjalan secepat mungkin.
Tok! Tok! Tok!
Jaka mengetuk kaca mobil, namun nyatanya tidak ada respon apapun dari dalam, membuat Jaka buka suara, "Dara? Kamu ada di dalam kan? Tolong buka pintunya," kata Jaka masih memiliki banyak harapan.
Jaka menarik pintu mobil itu, dan tiba-tiba saja terbuka, membuatnya bingung.
Namun, meski begitu Jaka kembali menariknya agar terbuka secara lebar, betapa terkejutnya Jaka saat tidak menemukan apapun di dalamnya.
"Dara?" panggil Jaka, dirinya mencoba untuk mencari-cari keberadaan Dara di dalam mobil. Namun hasilnya nihil, Jaka tidak menemukan keberadaan Dara, adiknya.
Jaka mencoba untuk memeriksa barang-barang milik adiknya itu yang ternyata masih berada di dalam mobil. Tidak ada yang kurang, di sana Jaka masih mampu menemukannya semuanya, tersimpan rapi tentunya.
Itu berarti, Dara meninggalkan mobilnya.
Namun, untuk apa?
Menyadari ada yang tidak beres dari semua hal yang dirinya temukan malam ini, Jaka mencoba untuk berjalan ke sekitar mobil, berharap jika adiknya itu ada di sekitaran mobil.
Entah mengapa mobil milik Dara berhenti di sebuah jalan yang begitu sepi. Sungguh Jaka pun tidak bisa menebak-nebak apa yang terjadi, yang pasti dirinya berharap tidak ada sesuatu hal buruk menimpa adiknya.
__ADS_1
Ah, sungguh! Jika terjadi sesuatu kepada adiknya, Jaka tidak akan pernah mampu memaafkan dirinya sendiri.
"DARA!!!" teriak Jaka masih berusaha keras untuk menemukan adiknya itu, Jaka sungguh menanamkan dalam dirinya jika adiknya itu ada di sekitaran mobilnya.
"DARA!!! KAMU DIMANA!!!" Lagi Dan lagi Jaka kembali berteriak seolah masih memiliki banyak harapan besar akan apa yang dirinya temukan.
Apa yang perlu dikhawatirkan memangnya? Toh mobil Dara ada, dan barang-barangnya masih sangat lengkap, tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Maka dari itu, Jaka masih memiliki pikiran positif, berharap tidak akan terjadi sesuatu kepada adiknya, sekalipun hal itu mungkin sangat sulit terbukti benar.
Jaka terus berteriak, mencoba untuk mencari keberadaan adiknya itu. Jaka memanggilnya lalu mencarinya ke sana kemari, berharap semua ini mampu membuahkan hasil.
Jaka menghela nafas berat kala dirinya tidak menemukan apapun di sekitarnya, Jaka pun memejamkan matanya sejenak. Merasakan rasa pening di kepalanya, dirinya sungguh tidak bisa berhenti merasa khawatir pada Dara.
Sungguh, Jaka akan gila jika terus-menerus seperti ini, dirinya merasa menyesal sekaligus kesal pada dirinya sendiri. Mengapa pula dirinya mendengarkan Dara tadi? Andai saja Jaka tidak mendengarkan apa yang Dara katakan dan pergi untuk mengikuti adiknya itu pulang dan memastikannya tetap aman. Mungkin hal ini tidak akan pernah terjadi, sayang sekali semuanya tampak sudah terlambat.
Jaka terdiam sejenak, dirinya mencoba memikirkan kemana sebenarnya adiknya itu pergi. Di sekitaran sini tak ada rumah, Jaka pikir tidak mungkin adiknya itu pergi untuk mengunjungi seseorang, sedangkan mobilnya ada di sini.
Pikiran-pikiran buruk mulai menghantui Jaka. Rasanya Jaka tidak bisa terus-menerus menahan dirinya untuk tidak berpikiran buruk di sini.
Jaka hendak melangkahkan kakinya kembali pergi. Namun tiba-tiba saja dirinya menginjak sesuatu dibawah sana. Seketika Jaka menundukkan kepalanya, dirinya mengernyitkan dahinya bingung kala menginjak sebuah gelang yang tidak asing di indera penglihatannya, Jaka pun segera meraih gelang itu.
"Bukannya ini punya Dara?" gumamnya pada diri sendiri. Sembari terus menatap gelang itu dengan tatapan yang begitu lekat.
Saat itu juga, Jaka menyadari satu hal. Jika ada yang tidak beres di sini, tentu saja Jaka tidak bisa tinggal diam.
Jaka segera meraih ponsel dari dalam saku celana, dirinya akan mencoba untuk menghubungi kepolisian dan melaporkan kehilangan ini. Karena mungkin jika adiknya itu diculik, sang penculik pasti belum pergi terlalu jauh. Maka ini kesempatan besar untuk Jaka melapor.
__ADS_1
Jaka menghela nafas berat, sebisa mungkin dirinya harus tetap tenang. Sekalipun gelang yang ada di tangannya seolah sudah cukup untuk membuat Jaka yakin jika adiknya itu sedang dalam masalah besar. Namun, Jaka rasa tak ada salahnya untuk dirinya menenangkan diri sendiri.
Jaka membuyarkan lamunannya kala panggilan sudah tersambung, dirinya berdehem sebelum buka suara, "Halo?"