Pamit

Pamit
111. Hampir


__ADS_3

"Aku mohon jangan marah, Mas," pinta Dara yang tiba-tiba panik.


Rifki masih menatap datar.


"Mas," panggil Dara lirih dan matanya yang mulai berkaca-kaca.


Tes


Air mata yang beberapa saat lalu menumpuk di sudut netra Dara kini sudah menetes.


Rifki tersenyum simpul. "Kenapa nangis?" Rifki menghapus air mata yang sempat membasahi pipi. "Jadi ini yang kamu pikirin dari tadi? Kamu takut bilang sama, Mas? Kamu takut Mas marah, iya?" Rifki mengelus pelan pipi wanita yang baru saja sah menjadi istrinya.


Dara menganggukkan kepala lemah. Jujur saja ada rasa bersalah yang menyelinap masuk tanpa permisi.


"Emang marah sama kamu sebesar apa, sih? Kok sampai takut kalau mau ada yang diomongin. Apapun itu jangan seperti ini lagi jangan dipikirin sendiri, meskipun itu cuma sebentar, Mas nggak mau kamu menanggung semuanya sendirian. Mas jadi curiga kalau kamu mikirin ini dari beberapa hari yang lalu, iya, kan?"


"Aku takut Mas kecewa sama aku."


"Nggak ada yang lebih penting dari kamu. Kalau kamu belum siap, Mas nggak maksa kok. Suatu saat nanti kamu pasti siap, nggak apa-apa Mas akan sabar lebih lama lagi. Sebelum ini, kan Mas juga udah sabar. Kalau pelukan doang nggak takut, kan?"


Dara menggeleng.


"Ya udah sekarang kita tidur, ya, tapi tidurnya pelukan. Sini kamu rebahan di bahu Mas."


Rifki berbaring miring menghadap Dara, merentangkan tangan kanannya untuk dijadikan bantal sang istri. Tanpa ragu Dara mengikuti arahan dari suaminya. Mereka berbaring dengan saling berhadapan. Jarak wajah yang begitu dekat membuat wajah mereka menghangat karena hembusan nafas yang keluar.


"Gimana, nyaman nggak?"


Dara hanya mengangguk seraya tersenyum.


"Ya udah merem matanya, tadi katanya pusing kepalanya, aku pijitin."


"Nggak usah, gini aja udah jadi obat buat aku."


Dara meraih tangan kiri Rifki lalu ia letakkan di pipinya. Berusaha memejamkan mata agar ia lupa dengan rasa bersalahnya.


Maafkan aku, Mas.


Rifki masih belum mau terpejam, ia masih menikmati wajah dara yang manis tanpa make up sedikitpun. Mengelus-ngelus pelan pipi mulusnya, lama kelamaan mata Rifki tiba-tiba memanas. Entah kenapa ia ingin menangis saat itu. Ia tak tahu apa yang ia tangisi, trauma Dara yang ternyata belum sepenuhnya hilang, atau ia memikirkan hak yang seharusnya ia terima mulai hari ini, namun entah kapan ia akan mendapatkannya.

__ADS_1


Dengan perlahan tangan Rifki ia angkat dari pipi istrinya. Menghapus setetes air mata yang tiba-tiba jatuh. Kepalanya ia dekatkan ke kening Dara dan


Cup


Satu kecupan singkat mendarat di kening wanita itu. Sebelum ia menyusul sang istri ke alam mimpi, tak lupa pria itu menutup tubuh mereka dengan selimut.


Rifki memejamkan, mata seraya memeluk guling baru yang dapatkan tadi pagi. Tak membutuhkan waktu lama bagi Rifki untuk pergi menyusul Dara.


Bugh!


Dara mendengar suara dentuman yang begitu keras dan begitu dekat. Rasa terkejutnya membuat wanita itu terduduk di tempat tidur, menengok sekeliling, namun ia tak mendapatkan sesuatu yang aneh. Semua tertata seperti rapi, seperti sebelum ia tertidur. Tidak ada yang jatuh, pikir wanita itu.


"Tidurmu nakal banget, sih, Dek. sakit tau pinggangnya, Mas."


Dara menganga karena terkejut. "Ngapain, Mas? Kenapa tidur di bawah ini ranjangnya luas?"


"Siapa yang tidur di bawah? Kamu yang buat Mas tidur di bawah. Jahat banget kamu tidurnya, masa Mas di tendang." Rifki bangkit dan duduk di ranjang seraya mengelus-elus pinggangnya.


"Mas ketendang? Hahaha." Alih-alih minta maaf Dara justru tertawa terbahak-bahak.


Rifki diam mengamati Dara yang sedang tertawa. Tidak,  ia tidak marah, justru ia sedang menikmati keindahan dunia yang belum pernah ia lihat. Ini adalah pertama kalinya Dara tertawa lepas di hadapannya.


"Maaf ini terlalu lucu untukku, mana yang sakit?" Dara bangkit dan menatap di Rifki seraya menahan tawa melihat wajah suaminya yang menahan kesal.


"Udah nggak ada yang sakit, lihat kamu ketawa udah jadi obat buat, Mas."


"Ya udah tidur lagi, yuk! Aku masih ngantuk."


"Sebentar lagi subuh, lebih baik setelah sholat aja tidur lagi. Nanggung kalau tidur sekarang."


"Ya udah tiduran aja sambil peluk-pelukan." Cara mengatupkan mulutnya setelah mengatakan itu. Ia menyesal kenapa harus mengatakan hal yang menurutnya membuat dirinya sendiri malu.


Rifki tertawa kecil, "Dasar kamu, maunya mesra-mesraan terus."


"Ya nggak apa-apa, kan sama suami sendiri. Kalau sama suami orang baru nggak boleh."


Tak membutuhkan waktu lama bagi mereka, kini keduanya saling berhadapan dengan tubuh yang sudah berbaring di bawah selimut.


Rifki adalah pria yang normal, tentu saja dalam situasi seperti ini hasratnya tiba-tiba muncul walau hanya untuk ingin sekedar berciuman. Namun, ia teringat dengan ucapan Dara yang ia belum siap. Rifki berpikir jika ia mencium Dara sekarang maka hasrat yang lain akan timbul. Rifki menggeleng kepala pelan. Ia tak mau hanya karena ingin melampiaskan hasratnya, sang istri menjadi kembali trauma. Tidak, tidak ia tidak mau memaksakan kehendaknya.

__ADS_1


"Mas, makasih, ya kamu udah mau ngertiin aku. Aku benar-benar beruntung punya kamu."


"Iya, Mas juga belum tentu punya kamu. kita sama-sama beruntung karena kita bisa menyatukan cinta kita."


Rifki menyatukan keningnya dengan kening Dara. Dara memejamkan mata seolah ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. melihat hal tu Rifki semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Dara. Enyah pikiran dari mana, pria itu merasa bahwa istrinya memberikan lampu hijau hanya untuk sekedar berciuman.


Bismillah, mudah-mudahan tak apa.


Rifki mengecup singkat bibir istrinya, seakan ia meminta izin pada istrinya apakah tidak apa-apa jika, ia menciumnya sekarang? Melihat wanita itu yang diam saja membuat Rifki sedikit berbunga.


Pria itu kembali melancarkan aksinya, mendorong sedikit tengkuk Dara agar ia lebih mudah untuk meraih bibir ranum sang istri. Dengan sekali gerakan saja, bibir Dara sudah di raup oleh Rifki. Namun, tiba-tiba mata Dara yang sejak tadi terpejam terbuka seketika. Rifki terkejut dan refleks melepas pagutan bibir yang baru saja sedetik menempel.


"Maaf, aku pikir kamu nggak apa-apa, kalau sekedar aku cium. Maafin, Mas, ya." Rifki sedikit menjauh dan melepas tangan yang bertengger di tengkuk Dara.


"Bukan karena itu, Mas. Aku nggak pernah ciuman, aku mana bisa?"


Rifki ingin tertawa, tapi sekuat tenaga ia tahan. "Cuma itu? Kamu nggak marah, aku cium?"


"Nggak, kan nggak sakit. Iya, kan nggak sakit, kan?"


"Nggak, Dek. Mana ada ciuman sakit? Mas ajarin, ya. Nanti ikuti aja, apa yang Mas lakukan, ikuti gerakannya. Sebenarnya ini nggak perlu diajari, sih. Ikuti naluri saja."


"Mas bisa? Berarti Mas pernah ciuman? Sama siapa? Katanya Mas nggak..."


Tak mau kegiatan berciuman itu gagal karena omelan Dara, Rifki seketika malahap bibir mungil istrinya itu agar tidak banyak bicara.


Dara nampak terkejut tapi ia tidak menolak. Ia hanya butuh saya merilekskan diri saja, matanya terpejam dan berusaha mengimbangi gerak Rifki yang begitu halus dan pelan.


Entah berapa lama, bibir mereka saling menahut. Namun, nampaknya tidak ada yang mau melepaskan pagutan itu terlebih dahulu. Mereka sama-sama terbuai dalam sentuhan yang begitu lembut dan menenangkan.


Rifki memberanikan diri mengubah posisinya menjadi di atas Dara. Tak ada penolakan dari wanita itu. Tentu saja Rifki merasa senang, ia semakin membawa lidahnya masuk ke singgasana.


Merasa berhasil membuat Dara terbuai, Rifki menambah hasrat di diri Dara agar memuncak. Tangannya dengan lihainya menyelinap masuk ke dalam piamanya. Meraba-raba kulit yang selama ini tertutup oleh baju yang longgar.


Suara lengkuhan pelan tiba-tiba saja terdengar. Entah Rifki salah dengan atau tidak, ia tak peduli dan tak mau tahu, yang penting ia mendengarnya.


Tangan Rifki sudah sampai di lemak kembar Dara. Bersiap akan mencengkramnya dan tiba-tiba ponselnya mengumandangkan adzan subuh, pertanda masuknya waktu sholat subuh.


Astaghfirullah, untuk pertama kalinya aku menyesal tidak mematikan ponsel.

__ADS_1


__ADS_2