
Di bawah tarik matahari yang terasa sedikit membakar kulit. Anang membolak-balikan kripik yang ia jemur. Kehilangan kaki dan pekerjaan tak membuatnya pasrah dan menengadahkan tangan di jalanan. Meski dengan kondisi satu kaki dan pergerakannya terbatas Anang sadar masih menanggung pendidikan sang adik yang kurang dari satu tahun lagi akan selesai.
Semenjak kecelakaan, Anang yang masih melakukan pendekatan pada Yang Maha Kuasa selalu berdoa dalam sujudnya. Ia hanya meminta untuk selalu di beri kesehatan hingga sang adik lulus kuliah. Ia juga minta pada Tuhan agar tak di jemput terlebih dahulu sebelum ia bisa bertemu dengan anak-anaknya.
Satu bulan lalu, pusing yang di derita Anang sejak ditinggal oleh Ayu kembali sering kambuh. Pusing kali ini lebih hebat dari sebelumnya, jika sebelumnya ia masih bisa menahannya, tidak untuk sebulan yang lalu. Ia sampai jatuh pingsan beberapa kali yang akhirnya ia bawa ke dokter untuk di periksa.
"Saya menemukan adanya sel kanker di kepala Bapak. Lebih tepatnya di bagian otak. Ini masih stadium awal, Bapak bisa melakukan kemoterapi untuk menghambat sel kanker tersebut."
Tak bisa berkata, setidaknya itulah yang dirasakan Anang. Hancur sudah kehidupannya sekarang, tidak ada lagi harapan untuk memulai kehidupan yang baru. Semua kehidupan seakan diambil paksa oleh takdir.
Tapi masih ada yang harus Anang syukuri, ia masih di beri waktu untuk bertaubat dan juga melunasi janjinya terhadap Ibunya. Janji yang ia buat beberapa tahun silam yang akan menanggung biaya kuliah adiknya. Meskipun kini ia bekerja di rumahan, tak masalah untuknya, yang penting ia bisa makan.
"Selamat pagi menjelang siang," sapa Rahma di pemilik usaha segala jenis kripik.
"Siang," balas Anang seraya menyipitkan mata karena silau akan terik matahari.
"Kamu sakit, Mas? Pucat mukanya."
"Ah, nggak. Kena panas jadi sedikit pusing aja, ntar kalau udah masuk ya udah nggak."
Rahma mengangguk pelan lalu beringsut ke dalam rumah usaha. Ia sempatkan untuk bertemu juga dengan karyawan lainnya.
Rahma bisa dibilang suskes di usia muda. Di usia yang baru menginjak dua puluh lima tahun, ia sudah menjadi dokter spesialis dan juga pengusaha terkenal. Hanya masalah percintaannya saja yang kurang berpihak padanya.
Setelah membalik semua kripik yang di jemur, Anang istirahat dengan mendudukkan dirinya di sebuah kursi panjang yang terletak di teras. Menerawang jauh jalanan yang ramai orang berlalu lalang. Bukan jalan yang besar, hanya jalan yang lebarnya tak seberapa, persis seperti jalanan yang ada di kampung halamannya.
Anang duduk termenung dengan menggoyang-goyangkan satu kakinya. Tak terasa empat bulan sudah ia hidup dengan satu kaki, kemanapun ia pergi bukan lagi motor yang menemani, tapi dua tongkat yang jadi sahabat seumur hidupnya.
__ADS_1
Saat sedang asyik menikmati angin yang bertiup semilir, tatapan Anang tak sengaja melihat seorang wanita tua yang menggendong bakul. Jika dilihat dari isinya, Sepertinya wanita tua itu berjualan jamu.
"Bu, sini!" teriak Anang melambaikan tangannya.
Dengan segera wanita itu berjalan ke arah Anang yang sudah di pastikan akan membeli jamunya.
"Mau beli jamu, Nak?" tanyanya begitu berasa di dekat Anang.
"Iya, duduk sini! Samping saya, jamu apa aja, yang penting jangan pahit-pahit banget ya," pintanya sedikit terkekeh.
Melihat tangan yang sedikit mulai keriput membuat Anang merasa iba. Di usia yang sudah tak lagi muda wanita ini masih berjuang mencari makan. Ke mana keluarganya?
"Bu, kenapa masih jualan? Kenapa nggak istirahat di rumah?" Entah mengapa Anang mempertanyakan hal itu.
"Ibu akan merasa sehat jika ibu banyak bergerak. Ibu pernah duduk diam di rumah, tapi badan ibu sakit semua. Ini jamunya." Wanita itu memberikan segelas jamu dengan tangan lelahnya.
Raut wajah wanita itu mendadak berubah, sorot matanya memancarkan kesenduan dan kesedihan yang dalam. Tak berselang lama sudut matanya berkaca-kaca.
"Saya membuat Ibu sedih? Tidak perlu di jawab, Bu. Maafkan saya," kata Anang merasa bersalah.
"Tidak. Ibu sudah tak punya siapa-siapa di dunia ini. Suami Ibu sudah meninggal, anak Ibu satu-satunya juga sudah pergi meninggalkan Ibu. Ibu dahulu adalah wanita pendosa, anak Ibu marah besar dan tak mau menemui Ibu lagi. Ibu tak tahu pergi ke mana anak Ibu. Tapi Ibu masih berharap dia khilaf dan pulang menemui Ibu, itulah sebabnya Ibu tak pergi ke mana pun meskipun ada badai sekalipun di sini. Ibu takut kalau anak ibu pulang dan dia kebingungan cari Ibu."
Anang merasa tersentil dengan cerita wanita tua ini. Ia merasa kisahnya dengan sang anak sama denga kisahnya dan Ibunya. Sama-sama dijauhi oleh anaknya sendiri.
Anang jadi teringat Ibunya. Hatinya terasa ngilu jika membayangkan Ibunya akan melakukan hal yang sama seperti Ibu ini. Entah mengapa pikirannya sangat berkelana begitu jauh.
"Ibu keliling lagi, ya Nak."
__ADS_1
"Ha? Iya, iya, Bu. Ini uangnya, ambil saja kembaliannya. Jamu ibu enak. Mulai sekarang jika lewat sini berhentilah di sini, Bu. Saya akan jadi langganan Ibu. Barangkali nanti juga teman-teman saya yang lain ikut beli, kan lumayan."
"Baik, Nak. Ibu akan mampir ke sini jika lewat sini. Terima kasih, ya. Ibu permisi."
Anang hanya mengangguk tersenyum. Bertemu dengan wanita itu membuat mata Anang kembali terbuka. Tentang perjuangan dan bertahan hidup di tengah gempuran cobaan kehidupan yang kejam.
"Ibu, kenapa aku jadi tiba-tiba ingat Ibu. Aku kangen, Bu. Aku sudah berusaha untuk mengenyampingkan Ibu dalam pikiranku, tapi hanya berhasil beberapa saat dan Ibu kembali lagi dalam pikiran aku. Ternyata aku tak benar-benar benci Ibu," ucap Anang lirih dengan tersenyum getir, bibirnya mengulas senyum tapi matanya sudah buram dengan cairan bening.
"Dor!" teriak Rahma mengagetkan Anang.
Anang yang terkejut seketika menjatuhkan air matanya. Tak ingin ada yang melihat ia menangis, dengan cepat ia menghapus air matanya.
"Kamu habis nangis?" Rahma memperhatikan wajah Anang.
"Kelilipan aja. Mau berangkat kerja?" Anang mengalihkan pembicaraan agar air matanya tak jadi topik pembahasan.
"Iya, aku mau berangkat. Aku tadi dengar kayak kamu lagi ngobrol, tapi begitu aku ke sini nggak ada orang selain kamu. Kamu masih waras, kan?"
"Masih, lah. Kamu berharap punya karyawan gila? Tadi ada tukang jamu gendong. Aku beli jamunya, aku ajak ngobrol sebentar. Mungkin yang kamu dengar tadi obrolanku dan Ibu penjual jamu."
Rahma manggut-manggut.
"Kamu boleh, kok izin sehari kalau mau istirahat. Aku lihat kamu agak capek, atau kamu lagi ada yang kamu pikirkan? Kamu sedang merindukan seseorang?" cerca Rahma.
"Kamu dukun apa dokter? Kenapa kamu lebih pantas disebut dukun dari pada dokter, kamu lebih pintar baca pikiran dan apa yang di rasakan orang dari pada menyembuhkan orang," ujar Anang tertawa renyah.
"Aku perempuan, perasaan dan insting kami lebih kuat dari pada kalian. Jangan sembunyikan apapun dari wanita, nggak akan bisa. Ujung-ujungnya akan ketahuan juga. Kami kalau sudah ingin cari tahu sesuatu, kami akan cari tahu sampai akarnya."
__ADS_1
Anang jadi teringat waktu masih berkeluarga dengan Ayu. Memang benar apa yang dikatakan Rahma, menyembunyikan sesuatu dari wanita sama saja memasang bom waktu pada diri sendiri yang akan meledak kapan saja dan di mana saja.