Pamit

Pamit
44. Membawa Perubahan


__ADS_3

Hari ini adalah hari ke tiga belas Anang di rawat di rumah sakit. Sejak mengobrol dengan Rahma beberapa waktu lalu, hari-harinya ia habiskan hanya untuk mendekatkan diri pada Tuhan.


Benar apa yang pernah dikatakan Rahma, hati, pikiran, dan batinnya kini jauh lebih tenang. Ia tak lagi mau memikirkan soal kehilangan anak, istri dan juga keluarganya, pikirannya meski sesekali ingatan itu terlintas. Namun, ia berusaha fokus pada perubahan dirinya. Ia percaya dan yakin jika kebahagiaan akan menyusulnya nanti.


"Selamat pagi," sapa Rahma ceria.


"Selamat pagi." Anang menjawab dengan senyuman yang akhir-akhir ini sering terukir di bibirnya.


"Keadaan kamu sudah stabil, nanti sore kamu bisa pulang." Rahma memeriksa kondisi Anang dan semua sudah kembali normal.


"Alhamdulillah, terus kenapa wajahmu begitu? Mana ada seorang Dokter yang menyampaikan kabar baik tapi wajahnya datar begitu?"


"Aku kehilangan pasien yang galak kayak kamu. Menurutmu, aku Dokter yang bagaimana?" Rahma bertanya dengan antusias.


"Apa kamu bertanya begini pada setiap pasienmu?"


"Aku tidak perlu bertanya mereka sudah jelaskan sendiri. Makanya aku tanya ke kamu, aku juga mau penilain kamu."


"Penting banget?"


"Penting buat aku, tapi kalau kamu nggak mau jawab nggak apa-apa, sih. Aku nggak bisa maksa kehendak aku ke orang lain." Rahma meletakkan bokongnya di kursi dan memperhatikan Anang dengan seksama.


"Kenapa ngelihatnya begitu? Nggak kerja lagi?"


"Aku jaga malam, jadi sekarang aku udah free. Kamu nggak ada niatan untuk menghubungi... "


Drrrt drrrt

__ADS_1


Rahma sedikit mencuri pandang ponsel Anang yang bergetar. Ia melihat ada foto tiga orang anak dan satu perempuan yang cantik. Jika Rahma boleh menebak, pasti mereka adalah anak dan istri Anang.


"Ada pesan, kenapa dilihat aja hapenya?" Rahma akhirnya buka suara karena Anang hanya diam menatap dirinya.


"Kamu lihat apa? Foto yang ada di hape aku? Mau tahu siapa mereka?"


"Kalau aku mau tahu, kamu mau kasih tahu memang?"


"Maybe. Kamu tahu? Aku merasa kamu bawa banyak perubahan di diriku. Entahlah, aku merasa banyak hal yang tidak aku ketahui, tapi kamu tahu segalanya. Kita baru kenal, tapi, ya seperti yang kamu bilang, mungkin inilah cara Tuhan untuk membuat aku tersadar. Coba bayangkan kalau aku nggak kenal kamu, bisa jadi sekarang aku masih terpuruk dalam tangisan dan penyesalan."


"Hahaha. Semua kembali pada diri sendiri, aku hanya membuka jalan pikiran kamu aja. Mau aku ajak jalan ke taman nggak? Kamu selama di sini nggak pernah lihat luar."


"Kamu seorang Dokter. Nggak pantes, kalau harus dorong-dorong pasien."


"Jam kerjaku udah habis. Jadi kita bukan pasien dan Dokter, kita teman. Aku ambil kursi roda sebentar."


Anang kembali memandangi ponselnya, mengamati foto yang ia jadikan sebagai wallpaper di ponselnya. Foto Ayu yang cantik seperti namanya dan foto ketiga anaknya yang terlihat bahagia. Tentu saja ini adalah foto satu-satunya yang ia punya. Itupun ia ambil dari media sosial milik Ayu.


"Maafin Ayah, ya Nak. Ayah ternyata belum bisa jadi Ayah yang baik buat kalian. Ayah nggak peduli dengan kebahagiaan kalian, Ayah hanya peduli dengan kebahagiaan Ayah sendiri, Ayah lupa dengan harta Ayah yang seharusnya tidak digantikan apapun. Tapi percayalah, disepanjang hidup Ayah untaian doa dan harapan terbaik tidak akan pernah berhenti terucap dari mulut Ayah. Berbahagialah bersama Ibu." Anang mengecup lama layar ponselnya.


Saking fokusnya pada ponsel, Anang tak sadar jika sejak tadi Rahma berdiri di tengah pintu mendengar semua yang keluar dari mulutnya.


Dari apa yang keluar dari mulai Anang, Rahma menyimpulkan bahwa Anang berbuat kesalahan besar sehingga ditinggalkan oleh anak dan istrinya. Anang baru menyadari kesalahannya ketika sudah tak bersama dengan mereka.


"Siap jalan-jalan?" Rahma berjalan masuk dengan wajah seperti biasanya, selalu ceria dan membawa energi positif untuk setiap yang melihatnya.


"Siap dong. Udah aku tunggu dari tadi, udah nggak sabar ngrepotin Dokter yang bawel, banyak bicara dan mau menang sendiri. Semua pasien pasti dibuat nurut sama dia," seloroh Anang yang mengundang tawa renyah di bibir Rahma.

__ADS_1


Dengan sedikit bersusah payah akhirnya Rahma berhasil membawa Anang ke kursi roda. Hal ini membuat Anang kembali di landa insecure yang merasuk ke relung tubuhnya.


Dengan perlahan Rahma mendorong kursi roda itu, sementara Anang yang selama di rawat tak pernah keluar kamar sekalipun hanya melihat sekeliling. Sama seperti rumah sakit pada umumnya, selalu ramai orang yang berlalu lalang.


Pandangan mata yang berkeliaran membuat Anang tak sengaja melihat sepasang suami istri yang sedang menimang bayi. Pemandangan itu membuat memori Anang kembali pada beberapa tahun silam saat Ayu melahirkan anak pertamanya, begitu bahagia, hangat dan ah sulit rasanya untuk kembali di urai dengan kata.


"Keinget masa lalu, ya?"


"Semua yang terjadi di depan mata dan di mana pun aku berada entah kenapa selalu mengingatkan aku pada mantan istriku. Seandainya saja aku bisa memilih, aku lebih memilih untuk kehilangan ingatan dari pada kakiku."


"Jadi kamu nggak ingin ingat anak-anakmu dan mantan istrimu?"


"Lebih tepatnya kenangannya."


"Semua itu hanya soal waktu, setiap luka pasti akan di sembuhkan oleh waktu. Baik luka itu hilang secara keseluruhan atau meninggalkan bekas. Tetap akan ada masanya untuk sembuh. Kenangan nggak akan bisa dilupakan baik itu kenangan buruk maupun manis. Karena otak kita udah mengambil alih semuanya, mau sekeras apapun kita melupakan, kenangan itu akan tetap ada dan tersimpan rapi di sana. Kita bisa disebut sembuh dari luka ataupun kenangan jika kita tidak lagi merasakan sakit atau sedih disaat kita ingat luka atau kenangan itu." Rahma duduk di samping kursi roda Anang.


Meraka duduk di bawah pohon yang cukup rindang. Banyak kupu yang mengelilingi bunga-bunga yang bermekaran. Taman rumah sakit yang nampak indah dan bisa menghipnotis mata siapapun yang melihat. Bahkan Anang yang tak terlalu menyukai bunga nampak terpesona dengan keindahan bunga yang berjejer dengan warna yang berbeda.


"Bagus, ya bunganya," ujar Rahma yang juga mengamati bunga yang sedang bermekaran.


"Usia kamu berapa?" tanya Anang tiba-tiba.


"Kenapa tiba-tiba nanyain umur?" Bukannya menjawab Rahma kembali melempar pertanyaan.


"Omongan kamu udah kayak orang yang lama hidup di dunia dan mengalami kisah hidup yang begitu pelik dan pahit."


"Umur hanya angka, dewasa itu pilihan. Kita tidak harus tua dulu baru bisa bersikap dewasa. Apa kamu pikir itu tadi ucapan nasihat untuk orang lain aja? Nggak, itu nasihat untuk diriku sendiri juga. Aku juga masih perlu banyak memahami rumus hidup di dunia ini. Tapi semakin aku belajar memahami, semakin aku tidak paham."

__ADS_1


Anang hanya diam mendengar Rahma yang banyak sekali bicara. Ia jadi berpikir apakah ini cara Tuhan untuk membuat dirinya jauh lebih baik? Malalui wanita yang bahkan ia baru kurang lebih seminggu yang lalu.


__ADS_2