Pamit

Pamit
70. Terus Terang


__ADS_3

Tak mau lebih lama menjalani hubungan dengan sembunyi seperti sekarang ini, membuat Rifki nekat berkata jujur pada Jaka. Entah bagaimana responnya nanti ia tak memikirkan itu. Yang terpenting adalah berkata jujur pada Jaka bahwa ia berniat serius dengan adiknya.


Pada jam makan siang, Rifki menguatkan tekad untuk menghubungi Jaka. Mengajaknya bertemu di suatu tempat dan membicarakan masa depannya.


"Jak, lagi di mana? Lagi bawa penumpang nggak?" tanya Rifki begitu sambungan telepon terangkat.


"Nggak, ini lagi di jalan mau pulang."


"Pulang?" ulang Rifki mengernyit.


"Iya, sejak nikah aku makan siang di rumah bareng anak-anak sama Ayu. Ada apa?"


"Oh begitu, ya." Rifki mengetuk ketukkan jarinya di meja kedai yang baru saja ia masuki. "Padahal mau aku ajak makan siang bareng, ada yang mau aku omongin. Penting," imbuhnya.


"Ya udah ke rumah aja, sekalian makan bareng kita. Soal apa?"


"Nggak enak sama Ayu kalau ngomongnya di sana. Ini masalah perasaan," ucap Rifki sangat pelan, tapi masih terdengar di telinga Jaka.


"Perasan apa? Jangan buat aku mikir yang nggak-nggak, Rif. Ngomongnya jangan setengah-setengah."


"Jangan salah paham, bukan perasaan yang lama. Ya udah, deh tungguin aku di rumah. Aku ke sana sekarang."


Obrolan mereka berakhir. Rifki yang sempat memesan kopi di kedai tersebut segera menenggak habis kopinya dan berjalan keluar. Ia tak mau menunda-nunda omongan serius ini. Lebih cepat lebih baik, ia tak bisa tidur nyenyak sepanjang malam karena merasa menjadi pria yang pecundang.


***


"Mau apa dia ke sini?" tanya Ayu menyiapkan makan siang untuk keluarganya.

__ADS_1


"Nggak tahu, ada yang mau diomongin katanya, dia bilang soal perasaan. Jangan tanya perasaan apa, nggak tahu aku juga."


Ayu tak lagi bertanya, ia fokus menyiapkan makan siang untuk suami dan juga anak-anaknya yang sudah riuh sejak tadi.


Sedang asyik menata makanan di meja makan, Ayu dikejutkan dengan tingkah suaminya yang tiba-tiba saja menarik tubuhnya agar mendekat.


"Kamu, mah kebiasaan Mas. Bikin kaget," protes Ayu cemberut.


Jaka tak mengindahkan protesan Ayu, pria itu fokus dengan mengusap usap perut Ayu menggunakan kepalanya. Kebiasaan Jaka yang tak bisa Ayu cegah sejak dirinya hamil.


"Sehat-sehat di dalam, ya. Tiga bulan lagi kita akan bertemu, Ayah udah nggak sabar pengen ngajarin kamu berantem."


Ucapan Jaka sontak saja membuat Ayu tertawa, bagaimana bisa suaminya itu mengajari anaknya sesuatu yang  dirinya saja tidak bisa melakukannya.


"Yang ada babak belur, Mas. Udah ah, kamu ganggu aku terus. Ini nggak selesai-selesai. Anak-anak harus segera makan biar bisa tidur siang."


"Waalaikumsalam," teriak Jaka seraya berjalan menuju ruang tamu.


Nampak Rifki dengan pakaian kerjanya berdiri di tengah pintu. Jaka mempersilakan pria itu masuk ke meja makan. Di mana meja kotak itu sudah banyak makanan yang tersaji.


"Aduh, jadi nggak enak. Nggak pernah datang ke sini, sekalinya ke sini minta makan," seloroh Rifki sungkan.


"Halah, kayak sama siapa aja. Kalian silakan makan, aku mau suapin anak-anak dulu, ya."


Ayu pergi dari meja makan setelah mengambil beberapa piring nasi beserta lauk pauk lengkap. Terdengar suara lengkingan dari Ayu memanggil ke lima anaknya.


"Mau ngomong apa, sih Rif? Kok kayaknya penting banget." Jaka bertanya seraya mengunyah. Rasa penasaran yang sejak tadi memenuhi ruang kepalanya tak sabar ingin di keluarkan.

__ADS_1


Rifki sedikit gugup, bukan hal yang mudah bagi seorang pria untuk mengatakan soal cinta di depan saudara laki-laki si wanita. Tapi jika tidak dibicarakan, maka hubungan Rifki tidak sehat entah sampai kapan.


"Soal Dara," jawab Rifki singkat yang berhasil membuat Jaka terbatuk seketika.


"Dara kenapa?" tanya Jaka setelah menenggak setengah gelas air putih.


"Nggak apa-apa. Aku mau tanya aja. Apa kau melarang dia untuk dekat dengan laki-laki sebelum lulus kuliah?"


Jaka berpikir sejenak sebelum menjawab, "Iya, aku memang melarang dia untuk dekat lebih dari teman dengan lawan jenisnya. Kau tahu sendirilah, anak zaman sekarang ini bagaimana? Kalau udah punya pacar, dekat sama seseorang dia akan lupa sama pendidikannya. Aku nggak mau Dara kayak begitu, aku mau Dara jadi orang, meskipun dia perempuan, yang banyak orang mengatakan bahwasanya perempuan kodratnya ujung-ujungnya di dapur. Para kaum perempuan, kan harus tetap punya ilmu, punya pengalaman, pendidikan yang layak. Perempuan adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Ada apa gerangan tiba-tiba kau menanyakan ini?" Jaka menghentikan makannya karena lebih tertarik dengan obrolannya.


"Tapi itu, kan tergantung pada pribadi masing-masing, Jak. Kau sebagai kakaknya apakah bepikir Dara seperti itu?"


"Budak cinta bisa merubah segalanya termasuk kebiasaan seseorang. Aku nggak mau ambil resiko dengan membiarkan atau memberikan Dara kesempatan untuk cinta-cintaan."


"Tapi bukankah Dara sudah dewasa? Hal itu pasti akan di rasakan oleh gadis seusia dia. Dia juga pasti ada keinginan untuk pernah merasakan apa itu cinta. Tidak semua pria merubah seorang wanita menjadi buruk, kan?"


"Sebenarnya arah pembicaraan mu ini ke mana? Jangan bilang kalau kau ada rasa dengan adikku," tukas Jaka yang mulai curiga.


"Iya, sudah setahun ini aku dekat dengan adikmu. Tapi dia selalu minta aku buat rahasiain ini karena dia takut denganmu dan Ibumu. Dia selalu mengatakan kalau dia nggak boleh pacaran atau berhubungan terlalu dekat dengan seorang pria. Jujur saja, aku bingung harus bagaimana. Di satu sisi aku mulai jatuh hati dengan adikmu, kau tahu bagaimana aku ketika jatuh cinta dan mencintai seseorang. Tapi di sisi lain, aku nggak mau berhubungan dengan seseorang jika bersembunyi dari keluarga perempuan. Bukankah pria seperti itu adalah pria yang pecundang? Aku nggak minta Dara buat jadi istriku sekarang, Jak. Aku sabar menunggu dia sampai lulus kuliah. Asalkan hubungan kita diketahui oleh kalian, itu aja. Tapi Dara selalu melarangku untuk datang ke rumah. Jadi tujuanku ke sini dan mengatakan ini adalah untuk meminta izin darimu, bahwa aku ingin menjalin hubungan serius dengan Dara."


"Apa hal ini tidak terlalu dini, Rif? Kau tidak tahu sisi lain Dara yang begitu kekanak-kanakan. Dia terlalu manja untuk dijadikan istri jika kalian langsung menikah ketika Dara lulus kuliah nanti. Apalagi Dara kuliah tinggal satu tahun lagi belum lagi jarak usia antara kalian terpaut cukup jauh. Ini bukan hanya soal usia, tapi juga pemikiran yang pasti akan jauh beda."


"Aku tahu hal itu, Jak. Aku sedikit banyak tahu karakter Dara. Selama kami dekat setahun ini baik-baik saja. Aku bisa menghadapi sifatnya yang memang begitu. Jak, kau kenal aku, kan? Kau tahu bagaimana aku ketika jatuh cinta dengan orang, kan? Mungkin kita nggak kenal lama, tapi istrimu mengenalku luar dalam, Jak."


"Apa? Luar dalam?" ulang Jaka terhenyak.


jangan lupa, gabung di gc yang baru aku buat, ya. makasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2