Pamit

Pamit
19. Pergi


__ADS_3

Aku dan anak-anak berdiri di trotoar jalan. Aku sudah janjian dengan Risa untuk bertemu di jalan raya saja, aku tak mau ada yang melihat Risa membantu ku. Aku takut jika teman baikku itu akan jadi bulan-bulanan ibu.


Ternyata benar yang aku khawatirkan. Wanita tua itu sudah menyebarluaskan gosip mengenai hancurnya rumah tangga anaknya sendiri. Sekaligus menjadi ajang untuk kembali menghujani ku dengan hinaan. Bisa kalian bayangkan jika tadi banyak orang yang tahu bahwa Risa membantu ku. Pasti dia akan jadi bulan-bulanan para tetangga karena sudah membantu wanita hina seperti ku.


Tak lama kemudian, mobil Risa behenti di depan ku. Aku dan anak-anak segera naik, aku ingin cepat-cepat pergi dari daerah terkutuk itu.


"Makasih banyak ya, Ris, kamu mau aku repotkan," ucapku membuka obrolan.


"Santai aja, mbak, kayak sama siapa aja. Mbak Ayu udah aku anggap seperti mbak ku sendiri, sebenarnya ada apa, mbak? Kamu ada masalah apa? Itu wajahmu juga kenapa lebam begitu? Kita ke rumah sakit dulu?" Risa mengajukan banyak pertanyaan hingga aku bingung hendak jawab yang mana dulu.


"Nggak usah, Ris, ini nanti aku kompres juga sembuh kok. Aku mau pisah dari Anang, Ris. Dia udah duain aku, dia selingkuh dengan entah siapa aku nggak tahu sebelumnya hubungan mereka apa. Entah teman, mantan, atau mereka baru kenal, aku nggak tahu. Dia selingkuh hingga hamil dan akhirnya mereka menikah siri, aku juga baru tahu semalam. Aku nggak mau berbagi suami dengan siapapun, dan aku rasa tidak ada wanita yang rela membagi suaminya. Jadi, aku lebih memilih untuk pergi saja, biarlah dia bahagia dengan pilihannya."


Nampak wajah terkejut dari Risa, dia seperti tidak menyangka bahwa aku punya cerita kehidupan yang pelik begini.


"Jahat banget, mbak Ayu yang sabar ya. Aku yakin mbak kuat kok menjalani ujian ini, pasti bisa. Mbak harus kuat demi anak-anak."


"Iya, aku kuat kok, Ris. Ada anak-anak yang jadi penyemangat aku. Aku tidak mau mengingat atau meratapi takdir dan garis nasib yang aku jalani. Yang aku perlukan sekarang adalah bangkit."


Tangan Risa menggenggam tangan ku untuk memberi kekuatan. Hingga akhirnya dia dibuat terkejut lagi denganĀ  bekas guratan cengkraman tangan.

__ADS_1


"Ini semua ulah suami kamu, mbak?" tanya Risa kemudian.


"Iya, dia nggak terima jika aku pergi. Jadi dia salah paham saja sebenarnya, dia mengira kalau supir online yang ngantar aku semalam itu adalah simpanan aku. Kamu tahu kan kemarin itu ke penampilan aku beda banget dari yang biasanya, nah dia kira aku menghabiskan uangnya hanya untuk berdandan demi laki-laki lain. Aku sudah jelaskan tapi dia nggak percaya, ya sudah."


"Apa dia seperti ini sejak dulu, mbak? Maksudnya melakukan kekerasan dalam rumah tangga."


"Nggak, baru kali ini aja. Aku sendiri juga merasa kalau dia berbeda sekali dengan yang dulu. Tapi ya sudahlah, ini memang jalan yang harus aku lalui, Ris. Aku sudah ikhlas."


Ya, aku mengikhlaskan segalanya, waktu ku yang terbuang bertahun-tahun, tenaga yang rupanya tak ada artinya bagi Anang, kesabaran yang tidak terlihat di mata ibu mertua. Aku sudah tak mau memikirkan yang sudah terjadi.


*


Begitu aku turun dari mobil, sudah ada pemilik rumah yang menunggu di teras. Aku dan Risa bersalaman, lalu kami berjalan menuju ke dalam rumah. Aku di beri kesempatan untuk membatalkan jual beli ini jika aku tak nyaman, atau kurang srek dengan segala sesuatunya.


Bagaimana bisa aku membatalkan begitu saja jika aku sudah mentransfer uang sesuai dengan harga rumah. Ada-ada saja ibu ini, batin ku tertawa geli.


Rumah yang aku beli memang tak sebesar rumah terdahulu, tapi jauh lebih bagus rumah yang aku beli ini tentunya. Aku lalu menyuruh anak-anak untuk tidur lebih dulu. Perjalanan dua jam pasti melelahkan bagi mereka.


Setelah berbincang sebentar, Risa pamit pulang. Aku memintanya lebih lama di sini, tapi kesibukannya membuat dia tak bisa lama-lama meninggalkan rumah.

__ADS_1


"Makasih sekali lagi ya, Ris. Sering-sering main ke sini. Aku masih tetap jadi member mu loh ya. Hehehe," ucapku terkekeh.


"Iya mbak, mudah-mudahan usaha kita sama-sama berhasil ya, mbak. Kalau ada apa-apa jangan sungkan hubungi aku. Aku nggak punya siapa-siapa di sini, tapi Tuhan kirim aku mbak Ayu yang sosoknya seperti kakak."


Aku memeluk Risa sesaat, aku dan Risa sama. Kami sama-sama jadi yatim piatu dan tak saudara kandung satupun, kami sama-sama terlahir jadi anak tunggal. Bedanya, Risa menjumpai nasib yang lebih baik dari aku. Sedangkan aku, harus menemui luka dan perih sebelum mendapat bahagia. Bahagia yang aku dapatpun rupanya hanya semu saja.


Sepergian Risa, aku beristirahat dan memainkan hape ku. Aku tak membawa apapun ke sini, jadi aku harus melengkapi kebutuhan ku. Seperti pakaian ku dan anak-anak, peralatan dapur, dan juga kebutuhan rumah tangga lainnya. Aku memesan semuanya melalui online, untunglah aku sudah punya banyak uang dari hasil menggadaikan rumah Anang. Aku tak tahu, jatuhnya itu yang haram atau tidak, tapi aku anggap uang itu adalah uang yang harusnya suamiku berikan saat kami masih jadi suami istri.


*


Sore harinya, aku mulai beradaptasi dengan para tetangga sekeliling rumah. Awal yang baik, mereka ramah-ramah dan welcome dengan kedatangan ku. Meskipun beberapa dari mereka mempertanyakan keberadaan suami dan juga keadaan ku yang babak belur.


Aku menjawab apa adanya.


"Kami baru saja pisah karena ada sesuatu yang memang akan menyakitkan jika kami bertahan."


Hanya itu yang bisa aku katakan, mereka mungkin paham dengan jawabanku yang sama sekali tak menyinggung keadaan wajahku.


Aku berkenalan sekaligus ingin mengundang meraka ke rumah esok hari. Aku ingin mengadakan syukuran atas rumah yang baru saja aku tempati, dengan harapan rumah ini membawa kebahagiaan dan keberkahan bagi kami dan orang-orang yang ada di sekelilingnya. Alhamdulillah mereka menyambut undangan ku dengan senang. Bahkan mereka bersedia membantu untuk memasak makanan nantinya.

__ADS_1


Setelah puas berkeliling, aku dan anak-anak istirahat. Kami hanya bisa tiduran di kamar karena belum ada TV, ternyata susah juga jika semuanya serba mendadak, tak ada apapun di rumah ini. Untunglah si penjual rumah bersedia meminjamkan kasur lantai. Tak apa jika kami berdesakan di kasur yang sama, yang terpenting kami bisa istirahat. Untunglah anak-anak ku tak ada yang protes dan rewel.


__ADS_2