Pamit

Pamit
31. Bertemu Om Lagi


__ADS_3

Aku memutuskan langsung mandi begitu sampai rumah. Menyiapkan keperluan apa saja yang akan aku bawa ke rumah sakit nantinya. Setelah selesai dengan semuanya, aku ke rumah bu Lin. Tampak Agil dan si kembar, Ghiani dan Ghina sedang bermain di halaman rumah.


"Ibu," teriak Agil begitu anak itu melihat ku.


Agil berlari dan memeluk seketika. Aku membawa anak itu ke dalam gendonganku.


"Yu, Dara baru saja mau ke sana sama Agil."


"Emang nggak ada kuliah, bu?"


"Nggak ada kelas. Anin sama siapa di sana?"


"Rifki, laki-laki yang pernah datang ke sini waktu aku baru pindahan, bu. Ingat, kan?"


Bu Lin hanya manggut-manggut atas penjelasanku. Karena tak bisa berlama-lama, aku pamit kembali ke rumah sakit. Namun, bu Lin memintaku agar menunggu sebentar lagi karena Dara juga akan ikut. Akhirnya aku turuti saja permintaan beliau.


*


Aku sangat terburu-buru, langkahku nyaris bisa di sebut berlari dari pada berjalan. Sementara Dara sejak tadi bertanya padaku heran kenapa aku lari-lari? Apa ada yang darurat atau bagaimana? Aku hanya menjawab dengan ambigu saja. Yang terpenting sekarang aku harus cepat sampai ke kamar Anin karena Rifki sudah terlambat ke kantor. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi, aku bisa hahis kena omelannya.


"Rif, sorry telat banget. Jalanan macet, Rif," ucapku ngos-ngosan.


Pria itu tak langsung menjawab, dia justru terfokuskan pada Dara yang sama ngos-ngosannya denganku karena mengejar langkahku tadi.


"Iya, nggak apa-apa. Kenapa, sih kok pada ngos-ngosan begini?"


"Udah jam sepuluh, kamu kan berangkat jam sembilan tadi katanya."


"Astaga, Yu. Nggak usah sepanik itulah. Nggak apa-apa kalau aku telat dikit, mah. Nih, minum!"


Aku menenggak air putih yang berada di botol. Entah milik siapa aku tak tahu, mungkin saja Rifki tadi yang membelinya.


"Om minta, ya. Aku haus juga," sahut Dara dengan wajah yang sedikit pucat dan keringat membasahi dahinya.


"Nggak. Panggil yang bener dulu, baru gue kasih."


"Rifki, apaan, sih. Kasihan itu, jangan tega begitu. Jangan isengi dia."

__ADS_1


Aku merebut botol air yang berada di tangan Rifki. Aku membukanya dan memberikan botol itu pada Dara. Belum sempat Dara menerima botolnya, tiba-tiba saja dia tak bisa menopang tubuhnya sendiri. Dara limbung dengan memegang kepalanya. Untunglah Rifki dengan sigap menahan tubuh Dara hingga ia tak terjungkal ke belakang.


"Astaghfirullah, Dar. Kenapa kamu? Dudukin, Rif!"


Aku sedikit panik. Bagaimana tidak? Tadi dia baik-baik saja saat berangkat, kenapa sekarang jadi mendadak lemas? Ah aku jadi berasa bersalah mengajaknya berlarian dari parkiran  hingga ruangan Anin. Mungkin saja dia kelelahan karena sejak tadi berlarian dengan membantu tas bawaanku. Aku tak bisa membawanya karena aku menggendong Agil.


"Dar, gimana? Apa ada yang sakit?" tanyaku panik.


Dara menggeleng, "Nggak, aku cape aja, mbak. Aku lagi haid dan sedikit nyeri di perut. Udah baikan, kok. Aku nggak apa-apa," jawabnya berusaha duduk.


"Kalau lagi ada yang nggak enak di badan kenapa ikut ke sini? Istirahat di rumah? Kalau gini, kan repot jadinya," protes Rifki yang terlihat kesal.


Plak!


Aku memukul pelan lengan kekar miliknya. Aku kesal karena Rifki bersikap begitu, tak apa jika dia bersikap menyebalkan jika denganku, tapi jangan pada orang-orang terdekatku.


"Bisa diem nggak? Kamu nggak bisa memperlakukan semua orang kayak kamu memperlakukan aku. Nggak semua orang tahu karakter kamu yang menjengkelkan ini."


"Iya, maaf. Nggak lagi," jawabnya cemberut.


"Perutnya masih sakit? Kamu tahan, ya. Aku beli teh anget dulu. Kamu nggak apa-apa di sini sendirian?"


"Kan kamu kerja. Lagian dari tadi kamu nggak berangkat."


"Kamu kayak nggak tahu aku aja. Kamu duduk di sini istirahat, kan kamu juga habis lari. Aku aja yang beli."


"Eh nggak usah. Aku ada yang mau di beli juga. Bentar aja, aku akan segera kembali."


Aku melipir pergi dengan tetap menggendong Agil. Aku sengaja meninggalkan mereka berdua sebentar. Aku ingin mereka juga akrab dan dekat. Siapa tahu mereka sama-sama jodoh nantinya, aku kasihan pada sahabatku yang kurasa sudah lama menyendiri. Bahkan aku tak pernah sekalipun tahu Rifki menjalin hubungan dengan seorang wanita. Atau memang dia tak cerita padaku?


Beberapa saat kemudian, aku kembali dengan satu cup teh hangat di tangan. Aku samar-samar mendengar obrolan. Tapi aku tak tahu apa yang mereka bicarakan. Akhirnya aku buka saja pintunya dan dua manusia itu kompak melihat ke arah ku.


"Aku balik, ya, Yu. Kalau ada apa-apa hubungi aku."


Aku hanya mengangguk dan berterima kasih. Kalau tak ada dia sudah repot sekali hidupku. Aku lalu duduk di samping Dara dan memberikannya teh yang aku beli.


"Mau pulang aja, Dar? Kamu agak pucat. Maaf, ya. Karena aku kamu jadi ikut lari, tadi bilang aja harusnya."

__ADS_1


"Nggak apa- apa mbak. Udah jauh lebih baik."


"Kamu nggak diomelin, kan sama Rifki?"


"Nggak, dia ngajak aku ngobrol aja dari tadi biar nggak pingsan katanya," jawab Dara terkekeh.


"Cie udah akur," Ledekku.


"Apaan, sih, mbak," jawab Dara tersipu. "Dia terlalu tua untukku," imbuhnya.


"Lah, kan nggak ada yang nyuruh kamu jadian sama dia."


Dara nampak menyadari kebodohannya dan wajahnya semakin bersemu merah. Bukan karena tersipu lebih tepatnya karana malu.


*


Setelah makan siang, Dara pamit pulang lebih dulu. Agil ikut serta dengannya, aku bersikeras untuk membiarkan Agil di sini saja. Aku sudah merepotkan mereka, tapi Dara juga tak kalah keras kepala dariku. Akhirnya aku tetap kalah, dia membawa pulang Agil bersamanya. Tak lupa aku berpesan padanya, jika Dara atau ibu lelah lebih baik baik hubungi aku saja.


Tak lama setelah kepergian Dara, pintu ruangang kembali terbuka. Aku sedikit terkejut karena yang datang adalah Anang dengan menggendong Agil, beserta Alif yang berdiri di samping ayahnya.


Ah, seandainya saja pemandangan ini aku lihat saat kami masih jadi suami istri. Kenapa semuanya tampak berbeda ketika kami tak lagi bersama? Kenapa semua keinginan yang aku inginkan saat menjadi istri terkabul setelah aku menjadi janda?


"Mas, kok kamu bisa sampai sini?" tanyaku segrmah beberapa saat terdiam.


"Aku tadi ke rumah kamu, tapi kata tetangga kamu yang biasa jagain anak-anak bilang kalau kamu di rumah sakit. Kok nggak ngasih tahu aku, sih kalau Anin sakit?" protesnya duduk di tepian ranjang Anin.


Pria itu lalu mengecup seluruh tubuh anak perempuannya serta memberikan elusan pelan di puncak kepala.


"Maaf, aku belum sempat hubungi kamu. Aku kerepotan," jawabku sekenanya.


"Kamu udah makan?" tanyanya kemudian.


"Sudah."


"Yu, bagaimana kalau selama Anin di rawat di rumah sakit, Alif sama Agil biar sama aku aja? Biar kaki bisa fokus sama Anin, kamu juga nggak cape-cape banget."


"Ibu kamu, kan nggak suka sama anak-anakku. Siapa yang jaga mereka kalau kamu lagi kerja? Nanti mereka malah diperlakukan tidak baik. Nggak usah, yang ngasuh mereka di sini jauh lebih baik. Kamu nggak usah khawatirkan mereka."

__ADS_1


Anang diam seketika, aku melihat rayu kecewa di wajahnya. Aku berusaha tak mempedulikannya, aku bicara fakta.


__ADS_2