Pamit

Pamit
54. Penolakan


__ADS_3

Kehilangan semangat, setidaknya itulah yang sedang dialami Jaka. Rupanya kedekatannya dengan Alif tak menjamin anak kecil itu bisa langsung mengiyakan niatnya untuk menjadi ayahnya.


Jaka menunggu orderan penumpang dengan menatap langit biru tanpa awan. Terlihat cerah, indah di pandang mata meski tanpa adanya gumpalan awan yang menghiasinya. Sangat berbeda dengan dirinya yang terlihat layu tanpa adanya Ayu.


Ingatan Jaka kembali pada satu minggu yang lalu, hari di mana ia meminta jawaban atas pinangannya terhadap janda itu.


"Maaf, mas aku belum bisa menerima pinangan kamu. Bukan aku tak cinta, atau aku tak membalas rasamu, tapi Alif masih belum siap untuk punya Ayah baru. Kamu masih ingat waktu kita jemput Alif di kantor polisi setelah dia hilang? Dia bilang kalau dia benci ayahnya karena sudah menikah lagi, kan? Dan menikah lagi adalah penyebab dia kehilangan Ayah. Dia mengira aku juga akan meninggalkannya. Aku sudah berusaha untuk menjelaskan bahwa aku dan Ayahnya berbeda, tapi sepertinya dia belum bisa terima itu. Aku benar-benar minta maaf, Mas." Ayu sangat merasa bersalah mengatakan ini, Jaka orang baik, ia pun suka pada pria itu. Tapi jika anaknya belum memberi restu, se cinta dan sesayang apapun Ayu terhadap seseorang, Ayu tak bisa berbuat apa-apa.


Jaka memberanikan diri menggenggam jari jemari mungil Ayu. "Kenapa musti minta maaf? Ini hanya soal waktu saja. Jangan paksa Alif untuk memahami perasaan kita. Aku nggak apa-apa, kok." Jaka mengelus jari Ayu dengan Ibu jarinya.


"Kamu nggak marah atau kecewa, Mas?" tanya Ayu seraya memandang lekat wajah Jaka dan tangannya secara bergantian.


"Apa aku harus menunjukannya? Kecewa itu pasti, tapi percayalah, aku akan sabar nunggu sampai Alif mengerti tentang aku di kehidupannya dan juga ibunya. Aku akan berusaha untuk mengambil hati Alif tanpa aku memaksanya. Tapi, lain cerita kalau cinta aku bertepuk sebelah tangan."


"Siapa yang bilang kalau cintamu bertepuk sebelah tangan? Cinta kamu terbalaskan, Mas. Keadaan saja yang belum dukung kita." Pandangan Ayu beralih pada pepohonan yang berdaun rimbun. "Kok kayaknya aku kesannya murahan banget, ya Mas. Apa memang aku ini terlalu mudah jatuh cinta? Belum setahun menjanda udah cinta-cintaan lagi sama orang."


"Emang kamu bisa ngatur bagaimana perasaan dan hati kamu biar nggak jatuh cinta sama orang, kan nggak bisa. Perasaan itu ya secara alamiah muncul dengan sendirinya, caranya ngerem atau kita atur sesuai keinginan kita, ya nggak bisa. Apa yang salah dengan itu? Jangan mikirin yang aneh-aneh, nanti kamu kurus lagi," seloroh Jaka.


"Oh jadi sekarang aku gendut? Aku gemuk?" tanya Ayu menegakkan duduknya.


"Eh, bukan. Bukan itu maksudnya, kamu hanya berisi, kok. Iya hanya berisi, montok iya montok," ucap Jaka dengan semangat di akhir kalimat.


Jaka memang tak menampakkan kesedihannya di depan Ayu. Namun, setelah hari itu, tubuh Jaka terasa tak ada asupan energi meskipun ia makan enak dan banyak. Hari-hari Jaka terasa mendung meskipun setiap hari panas terik membakar diri.


Hubunganna dengan Ayu dan Alif memang baik-baik saja, bahkan Alif masih tetap bermain ke rumahnya saat pulang dari sekolah. Masih sering menemani Bu Lin dan si kembar. Tapi Jaka merasa ada yang berbeda saja, setelah hari penolakan itu. Ia dekat dengan Alif tapi tidak dengan hatinya. Ia gagal membuat Alif percaya bahwa ia dan Ayahnya berbeda.


*


Semakin ke sini kondisi bu Lasmi bukannya membaik, justru semakin lemah saja. Entah apa yang membuat tubuh wanita itu terasa sangat sulit untuk di gerakkan. Bahkan tak bisa bergerak, Bu Lasmi lebih pantas disebut lumpuh dari pada stroke.

__ADS_1


"A...yu. A...lif," ucap Bu Lasmi dengan kesusahan.


"Kenapa? Ibu mau ketemu Ayu sama Alif. Apa Ibu bertanya mengenai kondisi mereka? Mereka baik-baik saja, Bu. Mereka udah bahagia sama kehidupan mereka sendiri."


"Ma..af," kata bu Lasmi lagi.


"Ibu mau minta maaf sama Ayu dan Alif?"


Bu Lasmi mengangguk lemah.


Ada kelegaan dan rasa cemas di hati Anang saat Bu Lasmi menganggukkan kepala. Lega karena akhirnya ibunya terbuka hati dan pikirannya, tapi ia juga merasakan cemas dalam waktu bersamaan karena ia takut Ayu dan Alif tak bersedia datang ke sini, dan hal itu akan memperparah keadannya.


"Ibu mau aku aku bawa ke sini mereka?"


Bu Lasmi mengangguk lagi.


Anang memutuskan untuk berangkat ke rumah Ayu ketika Fadil sudah datang untuk menunggu ibunya. Dengan hanya modal nekat dan bismillah, Anang sangat berusaha untuk berpikir positif.


"Ayu pasti mau datang ke sini hanya untuk melihat Ibu. Aku tahu Ayu, dia tidak pernah bisa marah lama dengan seseorang sebesar apapun kesalahannya. Aku berharap ini juga berlaku untuk Ibu." Anang bergumam lirih seraya berjalan di koridor rumah sakit.


Di sepanjang perjalanan hanya tatapan kosong yang ia perlihatkan. Di balik kaca mobil taksi yang ia tumpangi pikirannya berkelana ke mana-mana. Entahlah, ia merasa akan ada sesuatu yang akan membuatnya merasa sedih. Perasaan tak enak selalu muncul ketika ia memikirkan ibunya. Entah apa yang akan terjadi, Anang tak sanggup dan tak akan pernah bisa sanggup bahkan hanya untuk sekedar membayangkan.


Beban yang berat sangat terlihat dari wajah Anang yang nampak pucat akhir-akhir ini. Sakit kepala hingga mimisan yang ia sembunyikan dari keluarganya nampak semakin berani menunjukkan bahwa dirinya sedang tak baik-baik saja.


"Terima kasih, ya Pak." Anang memberikan selembar uang begitu sampai di rumah Ayu.


Hampir gelap, itulah keadaan dunia ketika Anang baru saja menginjakkan kakinya di halaman rumah Ayu. Tapi bagi Anang, dunianya gelap setiap waktu saat Ayu dan anak-anaknya meninggalkannya. Cahaya yang selama ini selalu menghiasi hari, hati dan dunianya hilang bersama dengan perginya mereka. Ah tidak akan ada habisnya jika Anang menyesali apa yang sudah terjadi.


"Assalamu'alaikum," ucap Anang setengah berteriak.

__ADS_1


"Waalaikumsalam, Mas Anang. Ayo masuk!" ucap Ayu tanpa bisa menyembunyikan rasa keterkejutannya.


"Nggak usah, Yu. Aku duduk di sini aja." Anang menatap kursi yang teronggok di teras.


"Baiklah, silakan duduk. Aku ke dalam sebentar."


Tak berselang lama, Ayu kembali datang dengan secangkir teh hangat.


"Silakan diminum dulu."


Anang menyeruput teh hangat itu, ia sedikit mengulum senyumnya setelah teh hangat itu masuk ke dalam mulutnya. Bahkan Ayu masih ingat, teh yang tak terlalu manis adalah kesukaan Anang.


"Kamu mau ketemu anak-anak, Mas? Mereka masih main di rumah Bu Lin. Aku juga baru saja pulang dari toko. Akan aku ambil mereka." Ayu bersiap bangkit dari kursi, tapi dicegah oleh Anang.


"Nggak, Yu. Aku nggak mau ketemu mereka. Sudah cukup bagiku untuk melihat kebencian Alif terhadapku. Biarlah aku memendam rindu sendirian, aku nggak sanggup melihat anakku sendiri bersikap seperti itu. Aku ke sini hanya ingin memberitahumu." Anang berhenti sejenak, ia ragu hendak berucap.


"Beri tahu apa, Mas?"


"Ibu sedang sakit parah dan ingin bertemu denganmu dan juga Alif," kata Anang ragu.


Ayu membuang muka seketika, ia lebih memilih untuk menatap pepohonan yang ada di halaman rumahnya. Jujur saja, tak semudah itu Ayu melupakan apa yang sudah terjadi. Bertahun-tahun menahan sakit dengan perkataannya bukan perkara mudah. Apalagi tindakannya yang terakhir membuat Ayu nyaris kehilangan Alif untuk selamanya.


"Maaf, aku tidak bisa. Lebih baik kamu pulang, akan membuang waktu jika kamu terus di sini dan memohon."


"Yu,"


"Aku mohon, Mas jangan paksa aku."


Ayu beranjak dari duduknya dan berjalan masuk ke rumah. Ia bahkan mengunci pintu di saat Ananng masih di sana berdiri mematung di depan pintu.

__ADS_1


__ADS_2