Pamit

Pamit
69. Hampir


__ADS_3

"Kamu serius? Anang sakit separah itu?" Jaka seakan tak percaya dengan cerita istrinya.


"Ya ampun, Mas. Kenapa aku bohong, sih? Aku tanya sendiri ke Fadil. Dan dia menjelaskan semua yang terjadi sama Anang ketika dia memutuskan pergi dari rumah. Jujur saja, aku jadi kasihan sama dia. Hidupnya benar-benar hancur lebur karena apa yang dia perbuat sendiri."


"Jangan di pikirkan, ambil hikmahnya saja. Memang ini garis hidupnya Anang. Aku yakin dia bisa melewati ini semua, Tuhan percaya dia kuat. Kita akan bawa anak-anak ke rumah Anang setiap weekend, biar dia ada semangat untuk sehat. Bagaimana?"


"Kamu yakin? Nggak cemburu?"


"Cemburu sama siapa? Kamu kok aneh-aneh aja mikirnya. Kan aku yang ngasih saran, masa iya aku cemburu."


"Aku beruntung punya kamu." Ayu merebahkan kepalanya ke pundak Jaka.


"Aku juga beruntung punya kalian, sangat beruntung. Aku nggak sabar lihat anak kita yang di sini. Udah kebayang, kan ramainya nanti kayak apa?" tanya Jaka terkekeh seraya mengelus pelan perut Ayu yang buncit.


Mereka selalu bersikap mesra di mana saja. Usia pernikahan yang sudah berjalan satu tahun tak mengurangi sedikitpun keromantisan mereka. Justru semakin hari cinta mereka semakin terlihat besar dan tanpa batas. Sakit yang sama-sama mereka rasakan di masa lalu membuat mereka saling menjaga hati satu sama lain.


***


Kemesraan tak hanya menyelimuti Jaka dan istrinya, tapi juga kedua manusia yang labil yang saat ini sedang melakukan video call.


"Ra."


"Apa?" jawab Dara galak.


"Kamu, tuh kenapa sih? Jangan galak-galak gitu, lah. Ini udah setahun kita menjalani hubungan yang nggak jelas. Setiap mau keluar sembunyi terus. Mau sampai kapan? Aku mau serius sama kamu, tapi kamunya susah terus. Aku nggak ada kabar kamu ngambek, aku ngabarin terus kamu ngomel. Aku niat serius kamu tunda terus, aku mau cari yang lain, ya nggak semudah itu," omel Rifki kesal dengan hubungan yang tak jelas.


Selama ini mereka sering keluar bersama. Meskipun dengan cara yang sembunyi-sembunyi seperti anak remaja yang pacaran tapi takut ketahuan orang tuanya.


Hubungan mereka pun tetap sama. Kadang bertengkar, akur, saling merindukan dan seperti sekarang ini. Mereka seringkali berdebat perkara kecil saja.

__ADS_1


Dara yang sadar mulai ada rasa dengan Rifki mulai bingung dengan langkah apa yang akan ia ambil. Jarak umur yang jauh membuat Dara ragu untuk jujur dengan orang tuanya. Ia takut jika langkah yang akan ia ambil tidak mendapat persetujuan dari Ibu dan sang Kakak.


Namun, di sisi lain jika ia membiarkan hubungannya begini terus, ia sadar ia akan kehilangan pria pertama yang membuatnya merasakan nyaman dan aman. Satu tahun bukanlah waktu yang singkat untuk sebuah hubungan tanpa status.


"Begini saja dulu, Kak. Aku takut langkah yang akan aku ambil akan salah. Kita sahabatan aja dulu kayak Kakak bersahabat dengan Mbak Ayu. Bagaimana?" tawar Dara.


"Nggak. Persahabatan itu nggak ada di antara laki-laki dan perempuan. Pasti salah satu di antara mereka ada yang menyimpan rasa."


"Berarti kamu dulu pernah simpan rasa buat Mbak Ayu?" tanya Dara curiga.


"Dulu, sekarang udah nggak. Sebenarnya apa yang kamu takutkan? Kamu tahu? Aku merasa jadi pria yang benar-benar pecundang karena antar jemput kamu kemanapun tapi nggak di rumah. Udah kayak anak abg yang takut ketahuan orang tuanya pacaran." Rifki masih menyuarakan protesnya.


"Kamu, kan tahu alasannya aku begini."


"Selama setahun terakhir kuliah kamu gimana? Nilai turun? Malas? Apa ada masalah lain?" cerca Rifki kesal.


"Ya udah berarti, kan kedekatan kita nggak bawa pengaruh buruk. Kuliah kamu masih lancar, kerjaan aku juga lancar, hubungan kita nggak bawa pengaruh buruk, Ra."


"Iya, Kak. Aku tahu, aku paham. Tapi aku kasih belum berani buat terang-terangan," rengek Dara.


"Aku tanya, deh. Kamu cinta nggak sama aku?"


"Siapa yang cinta, Ra?" sahut Bu Lin diambang pintu.


Dara refleks meletakkan ponselnya di kasur. Menatap panik Ibunya, tiba-tiba ia merasa kesulitan bernafas, jangankan bernafas untuk mengantar salivanya ke tenggorokan saja rasanya ia kesusahan.


"Siapa yang jatuh cinta, Ra? Teleponan sama siapa kamu?" Bu Lin hendak mengambil ponsel Dara, tapi wanita itu kalah cepat dengan anaknya.


"Apa yang kamu sembunyikan dari, Ibu? Anak Ibu sudah main cinta-cintaan?" tanya Bu Lin lembut.

__ADS_1


"Nggak, Bu nggak. Aku nggak punya pacar," jawab Dara takut.


"Dara, jangan sembunyikan apapun dari Ibu. Kamu bisa bohong sama orang lain, tapi tidak dengan Ibu. Ibu tahu kamu sudah dewasa, dan kamu pasti ada keinginan untuk menjalin hubungan dengan seorang laki-laki. Rasa itu pasti ada, itu hal wajar. Dan jika kamu memang sudah merasakan itu, kamu cerita ke Ibu. Jujur sama Ibu, teleponan sama siapa?"


Baru kali ini Dara melihat Ibunya yang sangat berbeda dari biasanya. Begitu kalem, bijak dan lembut. Hal itu mendorong Dara untuk bicara jujur pada Ibunya.


Namun, baru saja hendak membuka mulutnya, terdengar suara yang memanggil Bu Lin dari luar. Wanita itupun akhirnya keluar kamar tanpa mendengar penjelasan apapun.


'Mungkin belum saatnya aku bicara soal niat Kak Rifki untuk mengajakku serius dalam berhubungan.'


"Dara, kamu masih di sana?" tanya Rifki yang ternyata masih belum memutuskan sambungan teleponnya.


Suara dari Rifki jujur saja membuat Dara terkejut, ia juga melupakan video call yang masih tersambung. Dengan gugup yang masih tersisa, Dara kembali mengarahkan layar ponselnya ke wajahnya yang sedikit memucat.


"Ibu udah pergi?"


"Udah, udah pergi ada yang nyari. Kenapa?"


"Nggak, nanya aja. Aku dengar tadi Ibu kamu ngomong. Kalau dari nada bicaranya nggak marah kalau kita menjalin hubungan lebih dari teman. Kamu aja yang parnoan."


"Jaga-jaga aja, Kak. Aku tidur, ah. Kamu bahasnya itu mulu."


"Iya, maaf. Aku nggak bahas lagi kalau gitu. Ya udah tidur dulu, sana! Udah malam, langsung tidur beneran, ya. Nanti bilangnya tidur tapi scroll tik tik. Good night, have a nice dream. Bye." Rifki melambaikan tangan tanda perpisahan.


Sambungan telepon terputus begitu lambaian tangan di balas oleh Dara. Pria itu lalu merebahkan dirinya di atas kasur. Menatap langit-langit kamar yang dihiasi lampu tidur dengan cahaya yang meredup. Tangannya ia lipat dan ia gunakan sebagai bantal.


Pria tiga puluh enam tahun itu sedang meratapi nasibnya yang hingga kini masih bujang. Kenapa ia merasa nasib percintaannya tak semulus orang-orang di luar sana.


"Ya Gusti, hidup tinggal duduk di pelaminan aja kenapa sesusah ini?" keluh Rifki lalu berusaha memejamkan mata.

__ADS_1


__ADS_2