
"Mas, tolong jangan macem-macem sama saya," kata Dara berusaha untuk menepis tangan dua pria yang sedari tadi terus saja menyentuhnya, berjalan mendekat membuat Dara semakin dibuat kebingungan. Jika tahu begini Dara lebih memilih membiarkan kakaknya itu datang dan mengikutinya dari belakang, sayang sekali Dara sudah lebih dulu membatalkannya.
"Jangan sok jual mahal jadi cewek! Yang lebih cantik dari kamu banyak, mending sama kita aja," racau salah satu pria sembari terus berusaha menggapai tangan Dara.
Sedikit tidak nyambung, maklum, kedua pria itu sedang mabuk.
Dara masih berusaha untuk melindungi dirinya, dengan mundur perlahan, menghindar dari dua pria yang sedari tadi terus menyentuh tangannya.
"Ayolah! Sama kita aja!" Pria satu lagi menimpali, tangannya mulai menyentuh wajah Dara, membuat Dara mulai memberontak kuat, tak terima dengan perlakuan dua pria itu.
"MAS! TOLONG JANGAN KURANG AJAR YA!" bentak Dara sudah tak tahan dengan apa yang mereka lakukan. Dara melirik kanan dan kiri, jalanan yang lengang dan sepi membuat dua pria itu semakin leluasa mempermainkan Dara.
"Jangan marah dong," kekehnya semakin mendekatkan diri.
Dara menatap tajam keduanya, "Mas! Kalau kalian terus bersikap gak sopan kaya gini, saya bakal teriak da..."
"Teriak aja! Gak bakal ada yang nolongin juga," tukasnya membuat mereka tertawa terbahak-bahak.
Dara menahan nafasnya, dirinya menatap dua pria yang ada di hadapannya saat in. Mereka sungguh menghadang jalan Dara, padahal bisa saja Dara berlari. Namun, apalah daya ketakutan dan juga rasa khawatirnya lebih mendominasi.
"Atau mau dipaksa aja?" tanya salah satu pria.
Seolah tersambar petir, tubuh Dara semakin mematung dibuatnya. Tak terasa langkah yang sejak tadi ia undurkan perlahan membentur sebuah tembok bangunan besar. Dara tak bisa pergi kemanapun dirinya mau.
"Mas, saya nggak punya urusan sama kalian! Jadi tolong biarin saya pergi!" kata Dara masih memandang was-was keduanya.
Satu pria diantara dua pria itu tiba-tiba melangkah mendekat, Dara pun dengan sigap menyilangkan tangannya di dada, melindungi diri dari seorang pria yang baru saja menghampirinya.
"Kita juga tahu kali, kalau kamu mau," kekehnya menyentuh pipi Dara, namun dengan cepat Dara menepisnya kasar.
Dara menahan diri untuk tidak menangis, padahal sungguh dirinya sudah sangat panik. Ingin berteriak dan mengatakan pada seluruh dunia jika dirinya sungguh merasa ketakutan saat ini. Namun apalah daya, Dara tak ingin membuat pria yang ada di sampingnya ini emosi.
__ADS_1
"Udah, paksa aja!" kesal salah satu pria yang tengah bersandar di pintu mobil.
Dara menggelengkan kepalanya kuat, "Saya beneran gak punya urusan sama kalian! Jadi tolong biarin saya pergi," mohon Dara dengan suara yang dibuat sangat sopan.
Tujuan Dara menghentikan mobilnya hanyalah memastikan seseorang yang lewat di tengah jalan tidak terluka karenanya, namun sayang sekali hal ini malah jadi petaka untuknya.
"Kita memang gak ada urusan, lagipula siapa yang mau berurusan sama kamu?" kekehnya sinis, "Kita cuman mau main-main aja," sambunganya.
"Ayo ikut sama kita!" Pria satunya lagi menyahuti dari kejauhan.
Dara sungguh tak bisa menahan dirinya lagi, dirinya menatap tak percaya ke arah pria yang ada di sampingnya, "Saya udah sabar dari tadi, jangan biarin saya ngerasa muak sama hal ini!" kata Dara tegas, mulai tersulut emosi.
"Kalau kita gak mau gimana?" tanya pria satunya lagi dari kejauhan.
Dara tak tahu harus apa dan bagaimana. Dirinya sudah sangat ketakutan, jika bisa Dara menghilang, tentu Dara akan melakukannya saat ini juga.
"Udah! Nggak usah lama-lama lagi, kita bawa aja secara paksa," kesal pria itu tiba-tiba bergerak, berjalan menghampiri Dara dan juga pria satunya lagi yang masih bersandar di dinding, menatap Dara dengan tatapan yang begitu aneh.
"Kalau kita macam-macam emang kamu mau apa, ha? Kamu gak bisa apa-apa," kekehnya kembali menggapai tangan Dara, menariknya dan memaksa untuk pergi dengannya.
Satu pria lagi tampak menyentuh wajah Dara, membuat Dara semakin memberontak kuat.
"TOLONG!!!" jerit Dara tanpa aba-aba, dirinya kembali menarik dirinya dari dua pria yang terus saja menyentuhnya, sayang sekali kekuatannya tak seberapa.
"Teriak aja, gak bakal ada yang denger, lagian ini udah malem," kekehnya seketika pria satunya lagi tertawa terbahak-bahak, menyadari hal bodoh yang Dara lakukan.
"LEPAS!!" bentak Dara murka.
Dara menyadari, semakin dirinya berteriak, semakin dua pria itu menyentuhnya tanpa permisi, namun Dara pun tak tahu harus apa dan bagaimana, ini terlalu membuatnya merasa panik.
"Udah ikut aja! Daripada harus terus kita paksa kaya gini," kata pria itu masih berusaha menarik Dara, sekalipun Dara memberi perlawanan, namun hal itu tak seberapa untuk mereka.
__ADS_1
"Ini sih malu malu tapi mau," sahut pria satunya lagi.
Dara menggelengkan kepalanya kuat, "NGGAK! PERGI! LEPASIN! TOLONG!"
Dara terus berteriak kencang, berharap seseorang mendengarnya. Dua pria itu tak henti-hentinya menyentuh wajahnya, sembari menarik kedua tangannya untuk pergi, Dara pun sudah berusaha sekuat tenaga. Namun lagi dan lagi hal itu gagal, kekuatannya tak seimbang dengan kekuatan dua pria itu.
"Teriak aja terus, percuma juga," kekehnya santai, "Jangan jual mahal lah jadi cewek, kita kalau liat yang jual mahal kaya gini, bawaannya semangat," sambunganya.
"TOLONG!!! LEPASIN!!" teriak Dara.
"JANGAN SENTUH SAYA!" murka Dara kala pria di sampingnya tak berhenti menyentuh wajahnya, berkali-kali Dara memberontak. Berkali-kali pula Dara melakukan perlawanan, namun tak ada sedikitpun perlawanan Dara yang membuahkan hasil.
"Udah cepet, tarik aja! Jangan pake lama," kata pria itu membuat temannya mengangguk dan semakin menarik Dara untuk pergi dengan mereka.
Dara yang sudah sangat kehabisan cara pun mulai mengambil ancang-ancang. Dirinya banyak berharap dalam hati, semua ini berhasil, jika apa yang dirinya lakukan ini tidak berhasil, Dara akan kehilangan kesempatan lainnya.
Bugh!
Dara menendang perut pria yang sedari tadi menariknya dengan kekuatan penuh. Tak sampai disitu, Dara pun langsung berlari sekuat tenaga, tak ingin kehilangan kesempatan melarikan dirinya.
Dara sudah sangat ketakutan, namun Dara tidak bisa hanya diam. Dirinya terus berlari tanpa berhenti, melarikan diri dari dua pria yang sedari tadi mengganggunya.
"Jangan biarin dia lolos, gadis cantik seperti dia sangat jarang," kata pria itu membuat temannya mengangguk setuju dan mulai mengejar Dara.
Nafas Dara memburu, namun Dara masih terus berlari. Dirinya tak ingin kembali ke tangan pria itu, pria yang terus melecehkannya.
"BERHENTI!!!" teriak pria yang terus mengejarnya.
Dara terkejut bukan main, dirinya melirik sekilas dua pria yang sudah berada cukup dekat dengannya, tentu saja Dara merasa panik setengah mati. Namun, yang perlu Dara lakukan saat ini adalah berlari sekuat yang ia bisa.
"TOLONG!!!"
__ADS_1