Pamit

Pamit
105. Taman


__ADS_3

Dua sejoli yang baru saja merasakan hati yang berbunga setelah sekian lama terpisah, kini sudah berjalan beriringan seraya tangan bertaut satu sama lain. Bukan bermaksud lancang untuk menyentuh sebelum hala, hanya memberikan sentuhan dan rasa nyaman pada gadis yang pernah trauma adalah hal yang wajar, bukan. Ah sudahlah, Rifki tidak peduli dengan omongan orang. Yang terpenting adalah orang yang ia cintai merasa nyaman dan. Tidak akan ada habisnya jika kita mendengar omongan orang. Kita punya dua tangan untuk menutup telinga, biarkan saja! Nanti juga diam dengan sendirinya.


"Gimana, takut nggak?"


Dara menggeleng lemah. "Aku sedang berusaha untuk melawannya."


"Bagus. Aku selalu yakin kalau gadis kecilku ini lebih kuat dari apa yang dia kira. Mau jajan apa?"


"Kamu ada uang? Kan, kamu nggak kerja beberapa bulan terakhir."


"Masih ada dong, kan sebelum sakit aku udah kerja lama. Ya tetap ada tabungan meskipun beberapa bulan nggak kerja. Tapi sekarang aku harus cari uang lagi yang banyak, soalnya udah keluar banyak uang jug, kan? Kamu mau, kan untuk sabar lagi. Ya, mungkin paling lama satu tahun lagi. Akan aku usahakan sebelum satu tahun uang udah terkumpul untuk pesta pernikahan kita. Aku mau yang meriah dan mewah, karena aku mau menunjukkan ke dunia kalau aku menikah dengan wanita terhebat. Mau sabar, kan?"


"Aku nggak buru-buru kok, Kak. Lagipula aku juga belum skripsi, aku selama ini ambil cuti. Aku juga akan masuk kuliah secepatnya. Biar cepat lulus juga. Biar nanti kita bisa berjuang bareng-bareng. Apapun jika dilakukan bersama akan lebih mudah, kan?"


"Biar aku yang berjuang untuk kita sampai di pelaminan. Kamu cukup fokus dengan kuliah kamu, selesaikan kita menikah, baru kita berjuang bersama. Sampai sekarang aku nggak nyangka kalau aku jatuh cinta sama perempuan kecil yang dulu manggil aku Om, sumpah nggak nyangka banget." Rifki seketika tertawa ketika mengingat momen itu.


"Jangan diingat, ih aku malu tahu. Ya, tapi emang penampilan kamu itu sama sekarang beda, Kak. Lebih nyenengin yang sekarang, kelihatan muda gitu."


"Apanya? Aku dari dulu juga begini penampilannya nggak pernah berubah."


"Ya beda waktu pertama ketemu sama aku, kan kamu pakai baju kerja. Cuman pakai kemeja sama celana kain yang gombrong, pakai kacamata pula. Apaan kayak gitu," cibir Dara.


Apa Dara bilang? Apa Rifki tidak salah dengar? Gadis itu sudah mulai mengolok-olok dirinya, kebiasaan yang selalu ia lakukan sebelum perpecahan dimulai? Jika memang, iya itu Rifki tidak salah dengar, itu artinya ia berhasil membuat Dara perlahan-lahan mengembalikan jati dirinya seperti dulu. Dan itu berarti Dara sudah yakin bahwa ia adalah orang yang membuat gadis itu nyaman senyaman nyamannya. Buktinya belum ada satu hari mereka bersama tapi sedikit demi sedikit Dara sudah kembali seperti dulu. Setidaknya tidak perlu membutuhkan waktu lama bagi Rifki untuk bekerja lebih keras mengembalikan Dara. Gadis itu sudah kembali ke jati dirinya tanpa diminta.


"Ya, kan aku kerja pakai motor. Kalau nggak pakai kacamata, ya ntar kalau ada hewan yang masuk gimana? Kan bahaya. Kerja di kantoran mana ada yang pakai celana jeans, Sayang."


Entah berapa lama mereka berjalan mengitari taman. Akhirnya mereka berhenti di sebuah bangku yang terletak di bawah pohon rindang. Meskipun cuaca sedang sangat panas. Nampaknya duduk di bawah pohon besar bisa melindungi kulit mereka dari sengatan matahari.


"Kamu tadi perasaan nawarin aku jajan, kok malah duduk di sini nggak beli apa-apa lagi."


"Astagfirullah aku lupa. Ya udah kamu mau apa?"

__ADS_1


"Aku mau es krim."


Rifki menatap sekeliling, tidak ada penjual es krim, batinnya bingung. Namun, saat matanya melihat gerobak es boba membuat pria itu menawarkan es boba saja. Sudah yakin Dara mau, memangnya perempuan mana yang tidak suka dengan es itu, pikir Rifki.


"Mana ada penjual es krim? Itu ada es. Boba itu aja ya."


Dara menghela nafas panjang. "Baru aja tadi bilang kalau mau berjuang, eh sekarang udah lupa." Dara menyindir seraya memainkan ujung kukunya.


"Ya udah mana penjual es krimnya? Aku dari tadi lihat nggak ada, Sayang. Nggak ada yang jualan es krim di dalam taman."


Sebenarnya dalam hati Rifki ingin sekali mendebat kekasihnya itu, tapi rasanya tak elok jika membuat ia ngambek di saat pertama kali bertemu.


"Ya keluar taman dulu, itu di depan ada supermarket."


"Ya udah ayo ke sana."


"Panas."


Dengan langkah terpaksa dan berat Dara beranjak dari kursi. Mengikuti langkah Rifki yang lebar dan berusaha mengimbanginya.


Panas matahari yang menyengat membuat mata keduanya menyipit seketika. Sadar akan cuaca yang begitu panas tangan Rifki terangkat untuk menutupi mata Dara dengan telapak tangannya. Mereka lalu tersenyum saling pandang. Jangan tanyakan wajah Dara sekarang. Kulit wajah gadis itu sudah memerah bak tomat yang matangnya berlebihan. Apalagi di kala beberapa pengunjung taman menjadikan mereka pusat perhatian karena berjalan di bawah teriknya matahari. Selain itu juga perlakuan Rifki yang sederhana, namun bermakna dalam bagi wanita.


"Orang-orang lihatin kita."


"Iyalah, kan aku romantis pasti para cewek-cewek iri sama kamu," jawab Rifki jumawa.


"Bukan itu aja, kita kelihatan kayak bego aja panas-panas jalan mulu dari tadi."


"Yang buat kita jalan terus siapa coba?"


"Kamu nyalahin aku?"

__ADS_1


"Ya nggak, kata-kata mana yang nyalahin kamu? Sayang, kita baru ketemu, jangan ribut dulu lah. Nanti aja, di mana-mana orang yang baru pertama kali bertemu setelah sekian lama terpisah itu mesra-mesraan, romantis romantisan, bercanda, nah kita berantem."


"Siapa yang ngajak berantem, kan aku nanya doang? Kamu, mah nggak berubah, sensitif mulu bawaannya."


Rifki diam, tak ingin melanjutkan percakapannya, karena ia tak mau membuat pertemuan pertama ini rusak karena salahnya.


Dara mengambil apapun yang ia mau begitu sampai di supermarket. Memasukkan semua jenis jajanan ke dalam keranjang yang ia bawa. Nampaknya gadis itu kalap karena tak pernah keluar rumah walau hanya untuk sekedar membeli camilan.


Rifki hanya berjalan di belakangnya Seraya geleng-geleng kepala.


Begitu keranjang sudah terisi penuh ia teringat sesuatu. Ia mengembalikan beberapa camilan itu kembali ke tempatnya.


"Kenapa dibalikin?" tanya Rifki mencekal tangan Dara.


"Udah banyak, Kak. Ini cukup untuk kita berdua."


"Ambil lagi!"


Rifki sudah mengenal Dara sudah lebih hampir dua tahun. Rifki ingat betul ketika mereka sedang keluar bersama, Dara selalu memoroti uangnya dengan banyak jajanan dan juga makanan lainnya. Ia lebih suka makan berat atau snack daripada membeli pakaian. Dan selama membeli itu dan tidak pernah mengembalikan jajan tersebut ke dalam raknya.


"Kamu mau yang mana? Kamu kurang jajan sebanyak ini? Tumben, biasanya juga kalau aku yang ambil banyak kamu ngomel suruh balikin kayak yang udah-udah."


"Sekarang udah nggak, ambil lagi. Uang aku masih ada. Kamu khawatir sama ini, kan?" Rifki merogoh sakunya dan mengeluarkan dompet tebalnya. "Aku memang nggak kerja lama, tapi tabungan aku masih ada. Jangan khawatirkan sesuatu yang seharusnya tidak kamu khawatirkan. Ayo ambil lagi kayak biasanya." Rifki memasukkan jajan yang sempat dikembalikan oleh kekasihnya.


"Terus kenapa kamu dulu suka ngomel-ngomel kalau aku masukin jajanan banyak?"


"Belum sadar kalau aku cinta sama kamu."


"Sekarang udah sadar?"


"Udah bawel. Nanya terus, ih."

__ADS_1


__ADS_2