
Dara menjadi pusat perhatian, dirinya masih belum berhenti berjalan. Entah mengapa rasanya sangat sulit untuk menghindar dari orang-orang yang hanya menertawakannya, memandangnya aneh tanpa berniat menolongnya.
Dara pun tidak berpikir untuk datang dan mencoba meminta pertolongan pada mereka. Karena Dara yakin mereka tidak akan mungkin mau memberinya pertolongan. Alhasil Dara masih terus berjalan sendiri, dirinya seperti seseorang yang kehilangan akal setelah kejadian yang menimpanya tadi malam.
Dara merasa kehilangan jati dirinya, Dara yang semula banyak bicara kini dirinya tak tahu harus melakukan apa, ia hanya berjalan ke sana kemari, sekali menyeka air matanya yang lagi dan lagi mengalir di pipinya.
Dara kembali mengingat apa yang terjadi semalam padanya, membuatnya merasa sangat kotor.
Dara terus menangis, terisak dan kembali menyeka air matanya. Semua orang hanya menatapnya tanpa berniat menolongnya. Hingga tiba-tiba saja langkah Dara membawanya melewati sebuua kedai.
Tentu saja Dara mencoba untuk terus melangkahkan kakinya. Menghindari tatapan semua orang yang memandangnya dengan tatapan penuh penilaian. Mereka seolah menghakimi Dara dan takut kepada Dara, mungkin karena melihat pakaian Dara yang terlihat berantakan.
"Ada apa dengannya?"
"Apa dia gila?"
"Shttt... Dia bisa mendengarnya!"
"Tidak, bukankah dia gila? Dia tak akan mengerti dengan apa yang kita katakan."
Bisik-bisik mulai terdengar di indera pendengarannya, namun Dara berusaha semampunya untuk tetap tegar. Sekalipun dengan tangis yang menyertainya.
Sungguh, Dara berharap semuanya tetap baik-baik saja. Dara berharap semuanya mampu dirinya pahami dengan baik. Hal yang wajar jika orang-orang memandangnya seperti itu.
Dara pun tidak menyalahkan mereka, toh pada kenyataannya dirinya terlihat seperti itu. Dara menyadari jika dirinya sungguh terlihat sangat aneh.
"Tolonglah dia," kata seseorang seolah menyuruh temannya untuk menolong Dara.
"Tidak, lagipula untuk apa menolong orang aneh, siapa tahu dia penipu."
__ADS_1
Dara menyadari satu hal, jika orang-orang di dunia ini hanya berusaha untuk menghakimi, tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Namun, meski begitu Dara tidak pantang menyerah, dirinya terus melangkahkan kakinya.
Entah sudah berapa banyak orang yang Membicarakan dirinya. Berusaha yak peduli, namun telinganya menangkap cemoohan itu dengan jelas. Mereka tak tahu apa yang terjadi, tapi mereka sudah memandang kotor dirinya. Bagaimana jika mereka tahu bahwa ia baru saja di lecehkan? Mungkin bukan gunjingan yang ia dapat, tapi ludahan dari banyak orang. Ya, sekotor itu Dara berpikir tentang dirinya.
"Ibu," gumam Dara lirih. "Tolong aku."
Dara tidak tahu mengapa hal ini bisa terjadi padanya, rasa sakit seolah terus menghampirinya. Hal buruk bertubi-tubi terjadi tanpa memikirkan bagaimana perasaan Dara saat ini.
Dara merasa sangat hancur, dirinya hampir saja kehilangan akal, karena kejadian semalam.
Dara masih mencoba untuk menyalahkan dirinya yang tiba-tiba menghentikan mobilnya dan keluar dari mobil tadi malam. Andai saja Dara tidak keluar dari dalam mobil atau paling tidak Dara tidak melarang Jaka untuk datang, mungkin semua hal yang sangat membahayakan tidak terjadi padanya.
Sudahlah, Dara hanya akan gila jika terus memikirkan itu semua.
"Dara!" Panggil seorang pria yang kira-kira berumur tak jauh dari Jaka.
Dara menoleh. Ia melihat seorang pria yang berjalan mendekatinya. Nafasnya tiba-tiba memburu, jantungnya seakan berontak ingin melompat dari tempatnya.
Romi menyadari tatapan yang Dara yang pancarkan. Tatapan itu seolah membuat Romi semakin bertanya-tanya, mengapa dan ada apa dengan Dara, adik dari temannya itu.
Melihat bagaimana penampilan Dara, membuat Romi hendak membantunya, barangkali Dara mau berganti pakaian di dalam. Namun baru saja dirinya melangkah, Dara sudah menjerit histeris sembari terus melangkah mundur.
"Jangan! Jangan sentuh aku! Pergi kamu!" Dara terus meracau. Beberapa orang yang berada di kedai dan juga sekitaran tempat itu mengalihkan perhatian pada meraka. Sedikit malu, tapi Romo tetap berusaha untuk menolong Dara. Gadis itu adalah adik dari sahabat baiknya.
"Kenapa? Ada apa?" tanya Romi merasa ikut ketakutan dengan apa yang dilakukan oleh Dara.
Sedangkan dalam pikiran Dara memberontak, mengingat kembali kejadian-kejadian semalam, di mana beberapa pria tampak melecehkannya.
Dara seolah merasa takut kepada semua pria yanga mendekat. Bahkan dirinya takut saat melihat Romi yang hendak menyentuhnya. Itu hanya membangkitkan seluruh pemikiran buruk Dara dan juga ingatan-ingatan malam yang sangat tidak menyenangkan. Dara hampir gila dibuatnya.
__ADS_1
"Ayo masuk dulu, kita bicara di dalam, karena kalau kamu terus gini, aku nggak tahu harus gimana," kata Romi berusaha untuk menenangkan.
Namun, Dara terus-menerus menggelengkan kepalanya kuat, dengan tatapan penuh ketakutan.
"Nggak! Jangan deketin aku, tolong pergi! Pergi! PERGI!!!" teriak Dara di akhir kalimat, semakin membuat Romi merasa kebingungan.
Romi tak tahu harus apa dan bagaimana. Melihat adik dari temannya itu begitu histeris saat melihatnya, padahal Romi tidak melakukan apapun.
Romi melirik kanan dan kiri, dirinya tidak ingin orang-orang salah paham padanya, apalagi dalam keadaan Dara yang sepertinya sangat berantakan.
Lia yang sedari tadi berada di dalam kedai pun tampak mendengar teriakan dari seorang gadis. Dirinya menoleh melihat suaminya yang seperti tengah berusaha menenangkan seorang gadis yang terus melangkah mundur.
Lia yang merasa penasaran pun segera membuka apron di tubuhnya, kemudian berjalan keluar dari kedai miliknya.
"Ada apa?" tanya Lia pada Romi, dirinya menoleh ke arah di mana gadis itu berada, ternyata dia adalah Dara.
"Loh, Dara. Kenapa?" tanyanya penuh kekhawatiran.
Lia tak mendapat jawaban apapun dari Dara, Lia pun kembali menoleh ke arah di mana suaminya itu berada.
"Aku nggak tahu kenapa, cuman tiba-tiba dia datang dan histeris kayak gitu. Aku udah coba buat bantu dia, tapi dia nyuruh aku pergi," kata Romi berusaha untuk menjelaskan, takut jika istrinya itu salah paham.
Lia mengangguk mengerti, "Kalau gitu biar aku aja yang bawa Dara ke dalam," kata Lia yang dapat diangguki oleh Romi.
Romi tak bisa melakukan apapun. Melihat tatapan Dara yang semakin memancarkan ketakutan begitu dalam membuat Romi mau tak mau melangkahkan kakinya untuk pergi. Setidaknya dirinya tidak boleh semakin membuat Dara merasa seperti orang yang tidak memiliki akal.
Lia mencoba untuk menghampiri Dara, dirinya merangkul Dara dengan hati-hati, "Ayo, kita ke dalam," kata Lia dengan tutur kata lembut, bahkan penuh kehangatan, berusaha untuk membuat Dara tenang.
Nafas yang tadinya memburu sedikit demi sedikit mulai tenang. Masih ada guratan takut di wajahnya, namun Dara bisa menenangkan dirinya sendiri, meyakinkan pada dirinya, bahwa orang yang sedang merangkulnya ini adalah seorang wanita.
__ADS_1
"Aku nggak mau masuk! Ada dia aku takut."
"Ada aku, aku yang akan memukulnya jika dia melakukan sesuatu padamu. Lagi pula kita akan masuk ke rumah. Bukan ke kedai. Itu ada di sebelah sana."