Pamit

Pamit
57. Sudah Takdir


__ADS_3

Di bawah teriknya matahari banyak orang yang mengantar bu Lasmi ke rumah abadinya. Satu persatu dari mereka semua pulang ke rumah masing-masing. Tersisa ketiga anak dan juga Ayu dan Jaka yang masih berada di tempat.


Ayu menatap iba pada mantan suaminya. Entah berapa kali pria itu tak  sadarkan diri selama jenazah Bu Lasmi di proses. Sepanjang pemakaman tadi Anang hanya diam dengan linangan air mata yang terus mengucur tanpa diminta. Kedua anaknya sama rapuhnya, tapi mereka berusaha buat untuk sang kakak.


"Nang, mungkin memang kita nggak saling kenal. Hanya saling tahu nama saja. Aku tahu kamu hancur sekarang, tapi kamu nggak sendirian, masih ada adik-adikmu. Yang Ibu kamu butuhkan hanya doa, jangan seperti ini. Kasihan adik-adikmu, Ibu mu pasti sedih juga jika melihat anaknya yang begini." Jaka mengelus pundak pria yang kehilangan ibunya itu. Sejak tadi ia meletakkan kepalanya di nisan sang Ibu.


"Terima kasih." Hanya itu yang mampu Anang ucapkan.


"Ya udah, aku sama Ayu pamit pulang dulu, ya. Jangan sungkan untuk datang ke rumah kalau ada apa-apa." Jaka menatap kedua adik Anang dan menganggukkan kepala pelan, sebagai tanda dirinya dan Ayu untuk pamit pulang.


"Terima kasih, ya Mas, Mbak Ayu. Terima kasih sudah antar Ibu sampai sini. Sekali lagi, aku dan keluarga yang lain minta maaf atas kesalahan yang kami lakukan." Galuh berdiri mengikuti gerakan Ayu dan Jaka.


"Lupakan saja, semua sudah berlalu. Aku tidak mau ingat-ingat lagi."


Ayu dan Jaka berlalu dari sana. Entah masih terbawa suasana atau memang Jaka sedang mengambil kesempatan dalam kesempitan, tangan keduanya masih terpaut satu sama lain.


Sementara itu, Galuh masih berusaha untuk membujuk sang Kakak agar mau pulang.


"Mas, kita pulang, yuk. Ibu udah tenang, udah nggak sakit, udah nyenyak tidurnya. Kita istirahat juga."


"Nggak mau, aku mau di sini."


"Mas, apa yang membuat kamu jadi seperti ini? Kematian adalah hal yang pasti terjadi, nggak ada yang bisa menghindari itu. Ibu nggak butuh air mata kita, Ibu butuh doa."


"Kamu nggak tahu seberapa dalam penyesalan yang aku rasakan. Di hari-harinya terakhirnya aku tidak membahagiakan dia, justru aku meninggalkannya. Tidak seharusnya aku meninggalkan Ibu. Tidak seharusnya aku marah sama Ibu. Ibu sakit hanya karena memikirkan aku yang tak kunjung menemuinya. Aku yang menjadi penyebab utama kematian Ibu."

__ADS_1


"Semuanya sudah takdir, Mas. Mau kamu bagaimanakan semua akan tetap sama jika memang garis takdir Ibu seperti ini. Kalaupun kamu nggak marah sama Ibu, masih ada di sisi Ibu sebelum sakit. Jika memang ini kehendak Tuhan kamu bisa apa? Masih mau nyalahin diri sendiri? Kamu lihat dong Fadil. Dia juga butuh kita, Mas. Siapa yang akan jagain dia kalau nggak kita? Sekarang kita pulang, besok kita ke sini lagi. Mau setiap hari ke sini pun nggak masalah, tapi please, kamu juga harus peduli dengan diri sendiri dan adikmu. Fokus sama yang masih ada."


Teguran dari Galuh berhasil membuat Anang bersedia pulang. Meski wajahnya tak bisa di bohongi, ia belum terima dengan kepergian sang Ibu. Entah dari mana datangnya rasa bersalah yng menggelayut manja di sekujur tubuhnya.


*


"Ibu dari mana? Aku bangun tidur hanya ada Nenek Lin yang ada di rumah. Nggak biasanya Ibu pergi nggak  pamit aku. Aku khawatir, Bu. Lain kali jangan begini," protes Alif yang sejak pagi tak menjumpai sang Ibu.


"Maafin Ibu, ya. Ibu buru-buru. Tadi Ibu habis ke rumah sakit, menemui Nenek Lasmi yang sakit."


"Oh, terus bagaimana keadaan Nenek? Apa baik-baik saja? Nenek sakit apa?"


Itulah Alif, persis seperti Ibunya. Di mulut ia pernah mengatakan jika ia benci Neneknya, ia tak mau lagi bertemu dengan wanita tua itu, tapi kenyataannya ia masih peduli jika mendengar wanita itu sakit.


"Tidur?" ulang Alif melipat keningnya bingung. "Iya, aku udah maafin Nenek, kok. Kan Ibu bilang kalau kita punya amarah dan dendam di simpan dalam hati nggak akan baik buat kehidupan kita. Aku mau bahagia terus, makanya aku maafin Nenek," Lanjutnya kemudian. Meskipun ia sebenarnya masih bingung dengan kalimat ibunya, kenapa Neneknya tak mau bangun dari tidurnya? Setidaknya itulah salah satu pertanyaan Alif.


"Anak ganteng gimana sekolahnya tadi? Nggak diomelin sama Nenek Lin, kan? Coba lihat tadi belajar apa aja?" Jaka mengalihkan topik agar pembahasan kedukaan ini segera berakhir.


"Enak aja kalau ngomong. Ibu sering ngomelin kalian bukan berarti cucu Ibu juga kena omel, ya. Sembarangan kalau ngomong kadang-kadang si Jaka," sahut Bu Lin dengan omelan.


Ayu hanya tertawa saja melihat interaksi anak dan Ibu itu. Terlintas dalam pikirannya, kenapa ia dahulu tak bertemu dengan Jaka saja. Kenapa ia harus dipertemukan dengan orang yang salah. Kurang cukupkah penderitaan yang ia alami sejak kecil? Sehingga ia harus mengalami kepahitan yang lain saat ia dewasa.


"Tahu, nih Bang Jaka. Kalau sama Alif aja di tanya bagaimana sekolahnya tadi, aku nggak pernah di tanya gimana kuliahnya tadi? Nilai kamu berapa? Ada masalah apa? Uang jajan kurang nggak? Nggak pernah." Dara tak mau kalah.


"Ya udah Abang tanya, gi..."

__ADS_1


"Nggak usah. Udah telat!" potong Dara kesal.


"Mulai berantem lagi, kan. Dah lah, Yu Ibu mau pergi dulu ada keperluan sama Ibu-Ibu yang lain. Lebih baik kamu juga pulang kalau nggak mau pusing sama ocehan mereka. Ibu nggak tahu lagi harus bagaimana ngedepin abg tua seperti mereka." Bu Lin kembali mengeluh seraya mencari sandal yang entah beliau taruh di mana.


Ayu hanya tersenyum seraya geleng kepala. Entahlah meskipun sering ribut, mereka sebenarnya saling menyayangi satu sama lain. Ingin sekali rasanya Ayu masuk ke lebih dalam ke keluarga Jaka. Namun, semua itu harus ia tahan dan kesabarannya juga harus di tambah karena belum mendapat restu dari sang anak.


"Wah, tulisan Alif bagus. Om baru tahu." Jaka membolak-balikan buku yang baru saja di serahkan Alif padanya.


"Bagus, ya Om? Kalau gambaran aku gimana? Gambar ini aku selalu bawa ke mana-mana. Aku pernah tunjukkan gambar ini sama Ayah, ayah bilang aku nggak boleh mimpi terlalu tinggi. Nanti kalau aku udah besar dan nggak bisa jadi apa yang aku inginkan, aku akan kecewa." Alif mencetak wajah sedih ketika menyodorkan sebuah gambar yang menggambarkan seorang dokter dengen stetoskop di lehernya.


"Kamu pengen jadi dokter?"


"Iya, Om. Aku mau sembuhin orang-orang yang sakit. Aku ingat dulu, kalau Ibu sakit nggak pernah mau ke dokter katanya nggak cukup uangnya. Makanya aku mau jadi dokter buat Ibu. Biar kalau Ibu sakit aku bisa periksa sendiri dan kasih obat. Tapi Ayah mematahkan cita-citaku."


Nelangsa, hanya itu yang mampu digambarkan oleh Jaka dan Ayu. Anak sekecil ini punya orang tua lengkap, tapi serasa terasa hanya punya Ibu saja. Sepicik itu Anang yang dulu, untuk cita-cita anaknya saja ia patahkan, bahkan di saat Alif belum memulai mewujudkannya.


"Apa aku nggak pantes jadi dokter, Om?" tanya Alif yang melihat Jaka diam saja.


"Pantes dong, kamu mau jadi apapun pantes. Siapapun boleh punya cita-cita tinggi. Justru harus punya cita-cita tinggi, biar ada semangat belajar dan berusaha. Kalau Ayah kamu nggak dukung kamu, Om yang akan dukung kamu. Om akan temani kamu sampai kamu jadi dokter."


"Beneran, Om? Yeee," teriak Alif girang seraya memeluk Jaka dengan erat.


jangan lupa mampir ke sini juga, ya. baru saja lahir tadi pagi. up setiap hari juga seperti "pamit".


__ADS_1


__ADS_2