
Setelah menjadi sepasang raja dan ratu semalam, kini saatnya Jaka dan Ayu memadu kasih untuk pertama kalinya. Mereka nampak canggung lantaran baru pertama kali berada di ranjang yang sama.
Ayu sejak tadi tak beranjak dari meja rias. Ia pura-pura sibuk membersihkan sisa-sisa make up yang masih menempel di wajahnya. Padahal itu ia lakukan untuk menutupi kegugupannya.
"Sayang, sini dong. Bukain kado dari orang-orang, yuk! Ini pernikahan kedua kita, yang kasih kado banyak juga rupanya," ujar Jaka memilih kado yang akan ia buka. Entah kado dari siapa yang ia cari hanya Jaka yang tahu.
Tanpa menjawab Ayu beringsut dari meja rias dan berjalan ke arah ranjang. Ada banyak kado yang teronggok di tengah-tengah ranjang. Lalu Ayu duduk di sebelah Jaka dan
"Cari kadonya siapa, sih Mas? Kok dari tadi diambil di kembalikan, ambil lagi kembalikan lagi," tanya Ayu penasaran.
"Dara. Nggak tahu kenapa aku penasaran banget, tadi ngasihnya sambil cengengesan soalnya. Anak itu kadang suka aneh-aneh, ulang tahun pertama Ghiani sama Ghina aja di kasih alat make up sama ekor ikan duyung. Faedahnya di mana coba benda-benda begitu," jawab Jaka yang lebih pantas disebut gerutuan.
Mata Jaka berbinar saat menemukan kado dari Dara. Kotak yang berbungkus kertas kado warna pink itu segera di buka oleh Jaka. Sementara Ayu hanya duduk diam menunggu isi kado tersebut, entah kenapa wanita itu juga merasa penasaran.
Begitu kado terbuka, Jaka mengernyitkan dahinya. Ia mengambil baju yang lebih pantas disebut saringan tahu itu dan menjerengnya di hadapan Ayu. Sebuah lingerie berwarna pink terjereng dengan jelas.
"Nah, kan apa aku bilang? Ngapain dia kasih kamu beginian coba? Nggak usah pakai ginian juga aku.." Jaka menghentikan kalimatnya lalu mengusap tenguknya. Ia menatap Ayu seraya mengatupkan mulut dan menarik turunkan kedua alisnya.
"Apa, sih Mas, jangan begitu, ayo lanjutin dulu ini buka kadonya. Habis itu kita tidur," kata Ayu tersipu.
"Yakin tidur? Nggak mau yang lain?" goda Jaka menggigit bibir bawahnya.
Hal itu mampu membuat Ayu tiba-tiba merasakan keringat dingin. Jujur saja ia terlampaui gugup berada di posisi ini.
__ADS_1
Untuk menutupi gugupnya, Ayu mengalihkan perhatiannya pada kado yang masih terkumpuk. Sudut netranya menangkap kado terbungkus kertas berwarna coklat. Bentuk kado yang tipis dan kecil. Mirip dengan amplop, namun ukurannya lebih besar sedikit.
"Jangan menatapku seperti itu, Mas," ucap Ayu lirih seraya meraih benda yang menyita perhatiannya.
"Dari siapa, Sayang?"
Ayu sedikit salah tingkah dengan panggilan Jaka. Ia mengatupkan mulutnya demi menahan senyum. Hanya panggilan sederhana saja, namun berhasil membuatnya terasa terbang. Entah kenapa rasanya berbeda saat Jaka yang memanggilnya dengan sebutan 'sayang'.
"Rifki," jawab Ayu singkat seraya menyobek kertas yang menutupi entah benda apa di dalamnya.
"Voucher menginap dan makan malam, Mas. Ini, sih di hotel mewah. Rifki tahu aja yang kita butuhin," ucap Ayu lirih.
"Hem, kado dari Dara sama Rifki sedikit nyambung. Mereka akhir-akhir ini akur nggak, sih. Apa perasaanku aja. Waktu bantuin acara kita mereka terlihat dekat," tukas Jaka penasaran.
Jaka diam, ia memikirkan hal yang terlalu jauh ke depan. Mendengar kata jika mereka menikah membuat Jaka berpikir ke arah lain. Rifki adalah pria yang pernah menaruh rasa pada istrinya. Lalu jika Dara dan Rifki menikah maka, intensitas pertemuan mereka juga mau tak mau akan sering. Bagaimana kalau nanti...
"Kenapa, Mas? Lagi ada yang dipikirkan?" tanya Ayu menelengkan kepala di depan wajah Jaka.
"Ha? Nggak, kok nggak ada." Jaka geleng kepala.
"Aku tahu yang ada dalam pikiran kamu. Harus berapa kali, sih aku bilang kalau aku sama Rifki murni berteman. Aku tahu apa yang kamu khawatirkan." Ayu menggenggam tangan Jaka dengan lembut. "Bahkan di saat kita sudah menikah kamu masih memikirkan hal yang sama? Jika memang apa yang kamu pikirkan itu benar, dia nggak akan membiarkan aku menikah dua kali. Pondasi pernikahan adalah kepercayaan, Mas. Secinta apapun kamu, kalau kamu nggak ada kepercayaan sama aku semua akan berakhir sama. Per..."
Ayu menghentikan ucapannya saat jari telunjuk Jaka menempel di bibirnya.
__ADS_1
"Janji nggak akan mikir yang nggak-nggak. Maaf," ujar Jaka merasa bersalah.
Jari Jaka yang berada di bibir Ayu tiba-tiba saja melakukan pergerakan, jarinya mengelus pelan bibir tipis Ayu. Dengan kasih sayang dan kelembutan yang selembut sutra jari-jari Jaka mulai menyapu kulit wajah Ayu yang ternyata juga lembut, selembut kulit pantat bayi.
Sentuhan lembut Jaka membuat Ayu terbuai dan refleks memejamkan mata. Wanita itu mulai menikmati sentuhan demi sentuhan yang sudah lama absen dari tubuhnya. Nafas Ayu mulai naik turun tak beraturan, Jaka mengulum senyumnya dan menangkup wajah Ayu untuk ia tarik lebih dekat dengannya.
Hap
Akhirnya bibir mereka beradu dalam diam dan heningnya malam. Tak ada suara lain yang terdengar selain suara sesapan dari bibir mereka. Pertarungan lidah pun tak terhindarkan, detik demi detik yang terbuang membuat mereka semakin tenggelam dalam gairah yang memuncak.
Sepersekian detik berikutnya, suara yang semula hanya sesapan saja berubah menjadi lengkingan kenikmatan. Suara-suara yang Ayu ciptakan membuat darah Jaka berdesir dan membuat sesuatu yang di bawah sama semakin sesak dan meronta ingin di tenggelamkan.
Entah berapa lama Jaka bertaut dengan wajah dan leher Ayu. Entah sudah sejak kapan pula kini wanita itu sudah duduk tanpa mengenakan atasan apapun. Tangan Jaka rupanya masih lihai untuk urusan menanggalkan sesuatu.
Lelah dengan posisi duduk mereka, Jaka membaringkan tubuh Ayu tanpa melepas pergulatan yang kini pindah ke undukan lemak kembar yang sejak tadi sudah menyembul seakan menantang Jaka agar mencengkramnya.
Kado yang masih teronggok di ranjang, di tendang habis oleh Jaka. Benda-benda yang tadinya membuat ia penasaran ingin membukanya kini menganggu aktivitas malam mereka yang menggairahkan.
"Mas," panggil Ayu dengan suara lirih dan hampir tak terdengar.
Jaka tak menghiraukan panggilan istrinya, ia masih sibuk menenggelamkan kepalanya di lemak kembar yang diidamkan semua orang, baik wanita maupun pria. Sementara Ayu hanya semakin lama semakin belingsatan tak karuan.
Setelah sekian lama membuat aktivitas yang panas, akhirnya Jaka memulai eksekusinya. Dengan pelan dan perlahan ia menuntun sang adik untuk masuk ke dalam adonan yang siap di aduk. Semakin lama semakin dalam dan
__ADS_1
Blusssssh.