
Rifki terkejut begitu melihat status Dara dengan kaki yang bengkak dan mengkilap karena minyak. Tanpa pikir panjang, ia melunturkan egonya demi melihat langsung keadaan gadisnya itu.
Menyambar jaket dan mengendarai motor dengan kecepatan ugal-ugalan adalah jalan satu-satunya saat ini. Sempat terlintas dalam pikirannya nanti pasti ia akan di omeli oleh Dara karena menghilang tiba-tiba dan munculnya pun dengan tiba-tiba. Ia sudah cukup menguatkan menyal untuk itu.
'Ah biarkan saja. Kalau dia ngomel nantinya, cukup pasang telinga dan diam mendengarkan. Jangan banyak bicara apalagi mencela.'
Rifki turun dari motor besarnya dan melepaskan helm sebelum melangkah ke arah Dara yang berdiri di teras. Mereka saling tatap sejenak sebelum akhirnya sebuah teriakan membuat mereka salah tingkah.
"Ra, jemurannya udah diangkat belum? Sekalian di setrika, biar nggak marah-marah aja kamu kerjaannya."
"Ibu apaan, sih. Bisa-bisanya lempar kotoran di muka anak sendiri," gumam Dara begitu lirih. Ia khawatir Rifki mendengar celotehan ibunya.
Namun, nampaknya pria itu tak mendengar apapun, nyatanya ia masih diam memandang Dara seakan rindu yang ia tahan sedang ia luapkan melalui tatapan.
Dara berjalan dengan tertatih hendak mengangkat jemuran di samping rumah. Hingga sebuah suara yang ia rindukan menggema ke dalam telinga.
"Biar aku aja, masuk sana!" kata Rifki berjalan ke samping rumah.
Dara mengatupkan mulutnya, meski Rifki bicara dengan sendikit ketus. Pria itu ternyata tak berubah. Hati Dara berubah menjadi taman bunga seketika.
"Ini anak, di suruh angkat jemuaran malah ngejogrok di sini, ngapain pula kamu nahan-nahan senyum begitu?" Bu Lin tak paham ada Rifki yang sedang berdiri tak jauh darinya sedang membawa beberapa tumpuk pakaian.
"Assalamualaikum, Bu."
"Waalaikumsalam, lah, Nak Rifki sejak kapan di sini?" tanya Bu Lin mengedarkan pandangan ke bawah. Beliau tersentak begitu tangannya membawa pakaian jemuran. Dengan cepat dan sungkan beliau merebut baju-baju itu.
"Astaghfirullah, Nak kenapa kamu jadi angkat jemuran Ibu? Maafin anak Ibu kalau kurang ajar, ya." Pandangan beliau beralih pada Dara yang memasang muka biasa saja. Wanita itu melempar tatapan maut pada anaknya sendiri.
__ADS_1
"Ayo masuk, Nak. Udah lama kamu nggak ke sini, ke mana saja?" Bu Lin Menggandeng tangan Rifki untuk diajaknya masuk.
"Nggak ke mana-mana kok, Bu. Memang kerjaan lagi banyak aja."
"Ya udah, kamu duduk, Ibu buatkan minum."
Rifki mengangguk patuh. Tak melihat Dara di dalam rumah membuat ia menelengkan kepala ke arah teras. Ia melihat Dara yang sedang seperti mengatur nafas dan memegang dadanya bagian atas. hal itu membuat Rifki memasang wajah bingung.
"Kamu ngapain masih di situ? Nggak ada niatan buat menyambut tamu apa gimana?" ketus Rifki.
"Iya iya," sungut Dara berjalan dengan tertatih menahan sakit.
Mereka berdua duduk berdampingan di sofa yang sama. Sudah persis seperti pengantin yang duduk di pelaminan. Bedanya, pikiran itu masih ada dalam bayangan Rifki semata.
"Ini minumnya, Nak Rifki, maaf Ibu nggak bisa nemenin, masih ada kerjaan. Ibu tinggal ke belakang, ya."
"Iya, Bu nggak apa-apa."
"Itu kenapa kakinya bisa bengkak?" tanya Rifki lembut. Sangat berbeda dengan yang tadi, terkadang Dara merasa Rifki ini pria yang punya kepribadian ganda karena bisa merubah mood dengan mudah dan cepat.
Dara tak langsung menjawab. Sungguh ia ingin menghilang dari hadapan Rifki saat ini. Ingin sekali ia tersenyum lebar dengan memamerkan gigi putihnya atas pertanyaan sederhana yang Rifki lontarkan.
"Dara, orang tanya di jawab," pinta Rifki masih dengan nada lembutnya.
"Iya, jatuh dari motor. Tapi nggak apa-apa udah di kasih minyak urut tadi."
"Makanya kalau apa-apa itu pelan-pelan, untung cuma kaki yang bengkak. Coba sini aku lihat!" Rifki membungkuk hendak mengambil kaki Dara. Namun, dengan cepat gadis itu menyingkirkan kakinya.
__ADS_1
"Nggak apa-apa, Kak. Udah diobati tadi, kan sama Ibu. Nggak usah khawatir."
"Nggak usah khawatir kamu bilang?" Rifki memekik tak percaya. "Kamu sadar apa nggak kalau aku ini sayang sama kamu, cinta sama kamu, bagaimana ceritanya orang yang kita sayangi kenapa-napa terus nggak khawatir? Astaghfirullah, Dara." Rifki mengusap wajahnya kasar.
"Kok kamu jadi marah?" ketus Dara.
Rifki menghembuskan nafas berkali-kali. Mencoba untuk menahan kekesalan yang sedang meronta ingin di keluarkan.
"Nggak marah, Dara. Mana bisa aku marah sama kamu. Udah siniin kakinya, aku mau lihat."
"Udah lihat, kan tadi di foto? Lagian kenapa jadi sok peduli," gumam Dara di akhir kalimat. Namun, ucapan Dara masih terdengar jelas di telinga Rifki.
"Emang selama ini aku nggak peduli sama kamu, hm? Coba kasih aku contoh pada saat apa aku nggak peduli sama kamu. Satu aja," pinta Rifki mengubah posisi duduknya menjadi menghadap Dara.
Dara mendadak salah tingkah saat Rifki mengubah posisi duduknya. Dengan degupan jantung yang sudah lama tak ia rasakan, ia berpikir untuk menjawab pertanyaan Rifki. Berpikir dan terus berpikir, namun semakin lama ia berpikir semakin ia tak bisa menemukan jawaban.
"Kok masih tanya? Sebelum ini kamu kan menghilang tanpa kabar, apa itu bentuk dari sebuah kepedulian? Mana ada cinta dan sayang yang begitu?" sungut Dara dengan percaya diri telah berhasil berhasil menemukan jawaban yang menohok untuk pria perjaka tua itu.
Rifki tertawa kecil, "Kan kamu bilang, kalau kedekatan kita ini belum tentu membawa kita ke pernikahan, kan? Jangan lupa kalau kamu pernah bilang ke aku, kalau kamu belum tentu menerima pinangan aku. Setelah itu aku mencoba untuk mencari wanita lain yang bisa menerima aku jadi suaminya. Tapi ternyata aku nggak bisa, aku nggak menemukan apa yang aku cari. Karena semua yang aku cari hanya ada di kamu."
Dara terlihat menyesal dan merasa bersalah karena sudah mengatakan itu. Hal itu terlihat dari gestur tubuhnya yang menundukkan kepala dengan tangan yang masih memilin ujung kerudungnya.
"Sini lihat aku!" Rifki mengarahkan kepala Dara untuk menghadapnya.
Di detik berikutnya mereka saling tatap di bawah getaran jantung yang bersorak seakan ingin keluar dari tempatnya.
"Kalau mau lihat aku jujur apa nggak, kamu lihat mata aku. Kamu bisa cari kejujuran dari sana. Kamu juga akan lihat cinta aku yang aku pancarkan dari pelupuk mata. Kamu perempuan, perasaan kamu peka. Pasti bisa merasakan dan melihatnya." Rifki mengatakan itu dengan penuh kelembutan. Selembut pipi Dara yang saat ini sedang ia elus dengan ibu jarinya.
__ADS_1
Dara benar-benar menatap lekat mata pria di depannya. Ia sedang mencari apa yang dikatakan Rifki. Dan ternyata benar, Dara menemukan banyak cinta dan ketulusan di sana.
"Ra, Ibu ma... Eh sorry-sorry. Nggak tahu kalau lagi..." Jaka melipir dari rumah tamu dan berjalan ke belakang dengan mengelus tengkuknya.