Pamit

Pamit
50. Ulang Tahun


__ADS_3

Di sore yang teduh dan hangat ini, keriuhan dan kegembiraan sedang terlihat di rumah Ayu. Tepat hari ini, Agil berulang tahun yang ke empat. Banyak anak-anak dan para orang tua yang sudah berkumpul di rumah Ayu untuk merayakan hari jadi sang anak. Tak terkecuali Jaka dan anak kembarnya, tak ketinggalan juga Rifki dan Dara yang membantu mempersiapkan keperluan acara dari awal hingga akhir.


"Selamat ulang tahun, kami ucapkan. Semoga panjang umur kita, kan doakan." Semua anak yang berada di sana menyayikan lagu secara serempak.


Ayu bahagia melihat anak-anaknya tak henti-hentinya mengulas senyum sejak tadi. Wajar, karena baru kali ini Ayu merayakan ulang tahun anaknya. Sebelumnya jangankan untuk beli kue, untuk makan saja ia harus ikut memutar otak dan banting tulang. Tapi sekarang keadaan sudah berbeda, dan Ayu pun tak ingin ingat-ingat masa lalu lagi. Biarlah masa lalu itu menjadi kenangan dan cukup tersimpan rapi dalam tempatnya.


Acara berlanjut dengan bermain badut. Semua anak-anak fokus bermain dengan manusia yang memakai topeng itu. Lain halnya dengan Jaka, fokusnya dari beberapa bulan lalu hingga sekarang masih sama. Ayu semakin hari semakin cantik dan menarik di mata Jaka.


Dan di hari ini, di hari yang bahagia bagi semua orang, terutama Ayu. Jaka akan mengutarakan perasaannya. Ia akan jujur soal hatinya. Hati yang sudah lama memilih Ayu untuk menjadi pendamping hidupnya.


Di ujung keramaian, Jaka mengeluarkan sebuah kotak bluduru berwarna merah. Mengambil isinya lalu menimang benda kecil itu dengan senyuman yang mengembang. Senyuman yang terlihat manis karena selalu memperlihatkan lesung pipi yang dalam, sedalam cintanya pada Ayu.


"Khem." Rifki berdehem menatap Jaka dan tangannya.


Dengan cepat Jaka mengembalikan cincin itu dalam kotak dan memasukkannya ke dalam saku celana. Meskipun ia yakin sebenarnya Rifki sudah tahu perihal cincin itu. Mudah-mudahan Rifki tak bertanya atau membahas apapun soal cincin, harap Jaka dalam hati.


"Kau ingin melamar seseorang?" tanya Rifki duduk di samping Jaka.


"Kenapa kau bertanya seperti itu?" Jaka masih berusaha untuk tak membahas perasaannya pada siapapun.


"Aku bertanya berdasarkan apa yang aku lihat. Siapa yang kau sukai? Bukankah kita ini sekarang teman? Apa kau tidak akan melibatkan aku dalam pernikahanmu nanti?" Pancing Rifki.


"Ayolah, Rif. Bahkan aku belum memulainya, dan kau bahas pernikahan. Sungguh ini bukan opsi yang bagus."

__ADS_1


"Ucapan adalah doa, kita harus mengucapkan apapun yang baik, kan?"


"Iya, paham. Tapi terkadang rencana bagus kita itu lebih baik tidak di bicarakan dahulu. Karena yang sudah-sudah adalah rencana itu akan gagal bahkan sebelum di mulai."


"Kau tahu, kau itu seperti kabel headset yang di taruh sembarangan di dalam tas, ruwet." Rifki dan Jaka tertawa bersama. "Biar aku tebak. Cincin itu untuk sahabatku, kan?" Rifki menatap Jaka dengan serius, begitupun sebaliknya.


"Rif, aku.."


"Kau serius atau tidak dengan pilihanmu? Kau tahu dia pernah gagal dalam rumah tangganya, bahkan bukan hanya gagal. Kebahagiaannya di renggut begitu saja hanya perkara fisik. Yang kamu lihat sekarang adalah Ayu yang sudah berubah. Jika saja kamu tahu, penampilan Ayu yang dulu, mungkin kamu akan berpikir dua kali untuk memintanya menjadi istrimu. Dia jika sudah jadi seorang istri lupa dengan dirinya sendiri. Selalu mementingkan suami dan anaknya, mementingkan kebersihan rumah jadi dia lupa mengurus diri sendiri."


"Pernah, kok. Aku pernah bertemu Ayu sebelum dia jadi yang sekarang ini. Aku tidak peduli dengan itu semua, Rif. Akan aku jelaskan jika kau tak tahu bagaimana masa laluku. Mungkin kau bertanya-tanya bagaimana bisa aku sudah menjadi duda di saat usia anakku masih balita. Itu artinya kami menikah hanya seumur jagung lalu berpisah. Jika kau berpikir seperti itu, memang, iya. Memang begitu kenyataannya. Aku dan Ayu sama, kami sama-sama di tinggalkan oleh pasangan. Aku yang di buang karena pasanganku merasa aku tak mampu membahagiakan dia, mungkin memang dari segi materi aku kalah jauh. Tapi soal kasih sayang aku nomer satu. Aku akan berusaha sekuat tenaga aku untuk membahagiakan mereka-mereka yang aku sayangi. Mungkin aku juga kalah kalau soal penghasilan dengan Ayu, penghasilan aku berapa, sih cuma supir taksi online, tapi..."


"Kau terlalu banyak bicara. Bukan itu yang aku tanyakan. Jadi ini yang buat kau sampai sekarang tak mengatakan apa isi hatimu? Kau insecure dengan kekayaan Ayu? Akan aku beri tahu, Ayu tak pernah mempermasalahkan ekonomi seseorang. Kau tak sekaya Ayu bukan berarti Ayu juga tak menghargaimu. Kau bekerja keras dan giat saja, sudah cukup. Yang terpenting kasih sayangmu juga penuh untuk dia dan keluarga. Itu yang tidak dia dapatkan di rumah tangganya yang dahulu. Intinya hanya itu yang dia mau, Jak."


"Kita sama-sama laki. Aku mengerti bagaimana seorang laki-laki jatuh cinta. Itu sebabnya aku bertanya padamu, kau mampu atau tidak memberikan apa yang tidak diberikan Anang dulu?"


"Tentu saja aku mampu, aku akan usahakan untuk menjadi apa yang Ayu mau."


"Kalau begitu lakukan!"


"Kau memberiku restu?"


"Tentu saja. Aku akan melepas Ayu untukmu. Ayu tak akan pernah bisa aku miliki, dia tak bisa aku genggam meskipun aku menginginkannya. Biarlah rasa ini aku sendiri yang rasa, melihat dia bahagia sudah lebih dari cukup buat aku."

__ADS_1


"Terima kasih, Rif. Aku akan menjadi yang lebih baik dari segi apapun dari pada orang-orang yang ada di masa lalunya."


"Aku udah kayak bapak yang memberi restu pada kekasih anaknya, ya." Mereka tertawa bersama.


Di luar rumah Ayu, tepatnya di pinggir jalan, Anang berdiri seorang diri. Mengamati buruk pikuk keramaian yang ada di dalam rumah mantan istrinya itu. Ia ingat hari ini adalah ulang tahun anak keduanya, ia membawa sebuah kotak yang dihias sedemikian rupa untuk anak yang tak pernah ia perhatikan.


Namun, Anang nampak ragu ingin maju atau tidak. Ia tak tahu akan ada perayaan begitu meriah di hari spesial anaknya.


"Aku lupa, kalau Ayu sekarang sudah mampu membuatkan apapun untuk mereka. Bagaimana bisa aku dengan percaya dirinya membawa kado sekecil ini untuk Agil," gumam Anang lirih seraya mengamati kado yang ia bawa.


Anang yang merasa tak punya muka jika harus berhadapan dengan banyak orang, memilih untuk melipir pergi dari sana.


"Ayah!" Agil berteriak dan berlari menuju ayahnya yang masih berada di pinggir jalan.


Melihat anaknya berlari menghampirinya membuat Anang seketika berkaca-kaca. Ia mengatupkan mulutnya menahan haru dan lajunya air mata yang sudah memenuhi pelupuk matanya.


Anang tertatih-tatih untuk memajukan langkah mendekati anaknya.


"Berhenti Agil, Agil stop!" teriak Alif berlari menyusul adiknya.


Teriakan dari Alif membuat Ibunya, Jaka, dan juga Rifki ikut berhamburan keluar rumah. Mereka semua melihat pemandangan yang mengejutkan di halaman rumah Ayu yang tak seberapa luasnya.


"Agil berhenti, dia bukan Ayah kita!" teriak Alif sekali lagi yang membuat jantung Anang terasa dilepas paksa. Langkahnyapun terhenti seketika.

__ADS_1


__ADS_2