
Alif masih setia duduk di bawah pohon pisang. Ia menunggu dengan keadaan lapar, sesekali ia menatap ke arah jalan yang ia tapaki saat masuk ke perkebunan yang luas ini.
Tak sanggup menahan lapar yang melanda akhirnya anak lima tahun itu beranjak dari duduknya. Ia sedikit lama berdiri mematung di tempat, ia bingung harus melanjutkan langkahnya untuk lebih masuk ke dalam atau kembali ke gang yang tadi.
"Aku nggak tahu jalan. Aku juga lupa sama jalan yang tadi dilewati, banyak belokan. Ah, ini lebih pantas disebut hutan dari pada kebun," gerutu Alif menoleh ke kanan dan kiri.
Akhirnya ia putuskan untuk kembali ke jalan yang tadi ia lalui. Sebentar-sebentar ia harus berhenti untuk memikirkan belokan mana yang harus ia ambil.
Dengan menahan lapar dan dahaga Alif terus berjalan mengikuti hati nuraninya. Hingga akhirnya setelah banyak menit ia habiskan untuk berjalan, bertemulah ia dengan jalan raya. Namun sayangnya jalan yang ia temui bukan jalan tempatnya berhenti dari angkot tadi.
Alif melihat sekeliling, ia sama sekali tak tahu ini di mana, belum pernah ia ke sini sebelumnya. Alif akhirnya memutuskan kembali berjalan, kepalanya sedikit pusing, karena badan mulai lelah dan merasa lemas. Entah jam berapa sekarang ia tak tahu, yang ia tahu hanya matahari yang sudah sedikit meninggi dan berhasil membuatnya berkeringat.
Merasa penat tak tertahankan, Alif duduk di bawah pohon beringin. Mengistirahatkan tubuhnya yang sudah lelah dan mengembalikan tenaga yang hilang.
Alif bingung hendak pergi ke mana lagi. Ia sama sekali tak tahu jalan, alamat rumah ibunya pun ia tak ingat.
"Ayah," kata Alif lirih.
Ya, ia melihat ayahnya yang sedang berhenti di lampu lalu lintas. Alif segera berdiri dan berlari menuju ayahnya berada, dan disaat bersamaan lampu lalu lintas berubah warna.
Dan akhirnya
Pyaaarrr
Gelas yang di tangan Ayu tiba-tiba saja pecah. Padahal ia memegang gelas tersebut dengan benar.
"Ya Allah kenapa tiba-tiba aku ingat Alif?" gumam lirih Ayu seraya memegangi dadanya bagian atas, ia merasakan perasaan yang tak enak.
Untuk memastikan kegundahannya, Ayu menghubungi Anang. Sekali panggilan tak ada jawaban. Ia mencoba untuk menghubunginya lagi namun hasilnya tetap sama.
"Ya Allah, lindungilah anakku di manapun dia berada, aku mohon jaga keselamatan anakku, ya Allah." Seuntai doa Ayu panjatkan pada Sang Maha Pencipta.
Dengan hati yang masih gundah gulana, Ayu melanjutkan kemas-kemasnya. Ya, hari ini Anin diizinkan pulang karena keadaan yang sudah stabil. Ayu berkemas seorang diri sembari menunggu Rifki datang. Pria itu sudah berjanji akan menjemputnya dan mengantar pulang.
"Udah siap?" tanya Rifki membuka pintu.
__ADS_1
"Udah."
"Kamu tunggu sini dulu, tasnya biar aku bawa duluan."
Ayu hanya mengangguk, ia sama sekali merasa tak tenang. Sejak tadi raganya di rumah sakit, tapi pikirannya sedang berkelana ke mana-mana. Sudah berusaha memikirkan hal yang baik-baik saja dan melupakan kegundahannya, namun otaknya terasa tak mau diajak bekerja sama. Otak dan hatinya terasa sama-sama kompak untuk memikirkan sang anak yang bersama dengan ayahnya sendiri.
"Yeee. Akhirnya kita pulang, Agil sama om, yuk!" Rifki berjongkok dan membawa Agil ke dalam gedongannya.
Melihat Ayu yang tampak diam dari biasanya membuat Rifki bertanya-tanya.
"Kamu kenapa? Ada yang kamu pikirkan?"
Ayu tak bergeming.
"Yu!" panggil Rifki sedikit lebih keras.
"Ha? Iya ada apa?" tanya Ayu sedikit terkejut.
"Harusnya aku yang tanya. Kayak ada yang dipikirin?"
"Lagian kamu juga kenapa biarin Alif sama bapaknya? Harusnya bujuk dia biar nggak ikut. Kamu nggak biasa jauh dari anak, mau kita susul aja apa gimana?"
"Nggak usah. Mungkin kamu benar, aku nggak biasa jauh dari anak-anak, jadi aku kepikiran. Ya udah kita pulang aja."
*
Anang yang mendengar suara tabrakan menghentikan motornya dan menengok ke belakang. Sudah ada kerumunan orang di tengah jalan raya itu. Niat hati ingin menolong urung ia lakukan karena ada yang lebih penting dari kondisi orang lain. Anaknya sekarang lebih butuh dirinya dibandingkan entah siapa yang tertabrak itu.
Akhirnya Anang melanjutkan perjalanannya setelah melihat orang-orang nampak menolong si korban.
Setelah beberapa meter memajukan kendaraannya, sampailah ia di gang yang dimaksud sang ibu. Ia segera masuk dengan membawa serta motornya.
"Astaga, benarkah ini perkebunan? Harus cari Alif ke arah mana jika perkebunannya seluas ini?" gumam Anang melajukan motornya dengan pelan seraya melihat sekeliling.
"Alif! Kamu di mana, nak? Ini Ayah!' teriak Anang dengan sekeras-kerasnya.
__ADS_1
Kekhawatiran dan kecemasan semakin naik ke puncak kepala saat ia sudah kehabisan suara. Pria itu sudah masuk ke perkebunan yang mirip dengan hutan itu jauh ke dalam. Tapi jangankan bertemu dengan Alif, tanda-tanda kehadiran manusia pun tidak Anang temukan.
Perut yang terasa lapar membuat Anang ingat bahwa anaknya itu belum makan. Pikiran Anang semakin tak karuan mengingat ini hampir tengah hari. Di tengah kegundahannya, ada seorang pria paruh baya datang mendekat.
"Mas, cari apa di sini? Lagi nunggu perempuan, ya? Mau mesum di sini?" tuduh pria itu.
"Ha? Nggak, pak. Saya nyari anak saya yang nyasar di sini."
"Kok bisa sampai nyasar ke sini? Tapi sejak tadi saya tidak melihat siapapun yang masuk ke sini. Saya sudah sejak pagi di kebun."
"Begitu, ya? Mungkin dia sudah keluar dari sini, pak. Tapi saya tinggalkan nomor telepon, ya barangkali bapak lihat anak kecil umur lima tahun, bapak hubungi saya. Nama anak saya Alif." Anang memberikan selembar kertas yang berisi nomor teleponnya.
Anang pergi dari sana setelah pria itu menerima kertas darinya.
"Ya Allah, nak. Harus ke mana ayah cari kamu? Mana udah siang, ayah harus jawab apa ke ibu, nak?" ucap lirih Anang dengan suara bergetar.
Sungguh Anang takut jika sampai Ayu tahu hal ini, ia pasti akan murka dan tidak mengizinkannya untuk bertemu anak-anak.
*
Pukul lima sore, Ayu semakin dibuat gelisah dengan tidak ada kabar dari Anang. Sudah sejak tadi ia menghubungi mantan suaminya itu tapi nomornya tak dapat dihubungi.
"Yu, lebih baik kamu susul Alif. Bukannya ingin berprasangka buruk, tapi tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Ibu takut kalau mantan suami kamu itu bawa anak kamu kabur," ujar bu Lin memberi saran.
Ayu nampak diam memikirkan apa yang dikatakan bu Lin. Hingga akhirnya ia putuskan untuk menerima saran dari wanita yang mengasuh anak-anaknya.
"Ibu benar, kenapa aku nggak kepikiran ke arah sana? Aku susul aja Alif. Aku tinggal anak-anak di sini, ya bu."
Ayu beranjak dari duduknya, baru saja berdiri dan belum melangkahkan kaki, ia melihat mobil yang masuk ke halaman rumah bu Lin. Mobil yang sama dengan mobil beberapa waktu lalu yang juga ke rumah bu Lin malam-malam.
Penasaran dengan siapa pemilik mobil itu, Ayu memutuskan berhenti sejenak.
Mata dan mulutnya sama-sama melebar begitu si pemilik mobil turun dari kendaraannya.
"Itu abang, mbak. Ayahnya Ghiani sama Ghina," kata Dara.
__ADS_1
"What?"