
Fadil yang masih terpukul atas kepegian sang Kakak memilih untuk menyendiri di kamar. Mengenang kembali masa-masa dua tahun terakhir yang tak pernah ia lewati tanpa Anang.
Kini Fadil harus memaksa dirinya untuk ikhlas, untuk merelakan kepergian Anang demi ketenangan kehidupan kedua sang kakak.
Sudah seminggu ini, Fadil tak keluar rumah bahkan untuk bekerja. Setiap hari calon istrinya datang ke rumah hanya untuk sekedar menyiapkan makanan dan menghibur sebelum memulai bekerja.
"Mas, Fadil. Udah bangun? Pas banget, ini makanannya udah siap. Aku nggak bisa lama-lama, aku ada rapat hari ini di kecamatan," ujar Fitri mencuci alat dapur yang tadi ia gunakan untuk memasak.
"Iya, makasih, ya. Udah mau menyempatkan waktu untuk masak buat aku. Belum apa-apa aku udah nyusahin kamu."
"Kok ngomongnya gitu? Kita beberapa bulan lagi akan menjadi suami istri. Kenapa masih sungkan?"
"Aku sudah kehilangan Ibu dan kemarin aku kehilangan kakak. Tapi Tuhan menghadirkan kamu sebagai gantinya. Aku nggak kebayang kalau nggak ada kamu bagaimana hidupku. Makasih, ya."
"Iya, Mas. Bangkit dong kalau begitu. Setidaknya lakukan untukku. Oh, ya kapan kamu mau kasih surat dari Mas Anang ke Mbak Ayu? Jangan lupa, itu amanah, Mas. Dan yang namanya amanah, harus di sampaikan."
"Nanti sore. Kamu mau ikut? Sekalian aku kenalkan ke Mbak Ayu dan keluarganya. Mbak Ayu baru saja melahirkan. Nanti sore aku jemput kalau mau."
Fitri nampak berpikir sejenak sebelum akhirnya ia mengangguk ragu. Wanita yang di kenal Fadil sejak semasa SMA itu berparas cantik di balik kerudung yang menutupi mahkotanya. Fitri, gadis lemah lembut dan sabar yang mampu membuat Fadil luluh lantak saat bertemu kembali beberapa tahun lalu. Sifat penyabar Fitri membuat Fadil luluh dan sangat pas menghadapi karakter Fadil yang mudah terpancing emosi.
"Hati-hati di jalan, ya. Hati-hati juga sama hatinya. Di jaga, nanti diambil orang," kelakar Fadil berusaha untuk mengembalikan senyumnya.
"Masih aja takut, emang kurang sabar apa aku ngadepin kamu, Mas."
Fadil kembali ke dalam rumah setelah motor Fitri benar-benar tak terlihat oleh mata.
***
__ADS_1
Jika hubungan Fadil dan Fitri semakinĀ lama semakin mesra dan harmonis, berbeda halnya dengan hubungan Rifki dan Dara. Sejak pengakuan Rifki pada Jaka justru pria itu menghilang tanpa kabar.
Terakhir komunikasi, Rifki mengungkapkan perasaannya secara langsung dan Dara justru merajuk karena merasa pria itu tak sabar menunggu. Padahal Rifki hanya mengatakan ingin menjalin hubungan lebih dari teman dan mengikat dirinya dengan sebuah cincin sederhana sebelum ia benar-benar melamar Dara dengan mambawa keluarga nantinya.
"Ra, hubungan kita udah dapat restu dari orang tuaku dan juga Ibumu. Bahkan Jaka juga sudah memberi lampu hijau untuk kita. Aku mau hubungan kita jelas. Aku ada ini buat kamu, memang sederhana dan nggak mahal. Ini hanya sementara saja, aku akan memberikan yang lebih dari ini nanti di hari pertunangan kita." Rifki memberikan sebuah cincin emas dan berniat akan memasangnya di jari manis Dara. Namun, gadis itu menarik tangannya dengan cepat.
"Ada apa?"
"Kamu, kan udah janji mau sabar. Kok sekarang malah ngasih cincin begini? Aku nggak mau nerima ini, aku akan menerima cincin di hari pertunangan dan pernikahan kita nantinya. Itupun kalau aku menerima pinangan kamu. Aku aja belum jawab mau nikah sama kamu apa nggak, kok kamu jadi lancang ngomong ke Ibu dan Abang?" tukas Dara kesal.
Rifki terbengong dengan jawaban Dara. Sebelumnya, tak pernah ia mendengar kalimat sesakit ini dari mulutnya. Dara memang sering marah dan merajuk padanya, tapi hal itu sama sekali tak membuat Rifki sakit hati. Tapi kali ini, ucapan Dara benar-benar merobek relung hatinya.
"Aku, tuh masih kesel ma kamu. Gara-gara kamu ngomong ke Bang Jaka, dia jadi curiga setiap aku keluar rumah keluarnya sama kamu. Padahal aku keluar sama temen kadang juga beli keperluan kuliah. Katanya aku pacaran mulu," sungut Dara.
Sejak perdebatan itu, Rifki sama sekali tak ada menghubungi Dara, tak ada datang ke rumah, bahkan saat Ayu melahirkan saja sebagai sahabat ia sama sekali tak datang.
Jujur saja Dara merasa kehilangan, ada yang berbeda di setiap harinya. Ingin menghubunginya terlebih dahulu, tapi gengsinya yang di atas awan masih menguasai dirinya.
Dara melihat story Rifki yang memotret dirinya sendiri di sebuah ruangan yang ia tebak itu adalah ruangan kerjanya. Pria itu nampak tampan di usianya yang di atas tiga puluh lima tahun, dengan kemeja biru dan sebuah jam tangan berwana coklat bertengger di tangan kirinya.
Mencintaimu adalah sakit hati yang paling disengaja.
Itulah caption untuk foto Rifki yang sangat Dara rindukan.
Dengan memberanikan diri Dara mengetikkan sesuatu untuk mengomentari foto dan caption Rifki. Saat selesai dengan ketikkannya ia bingung hendak mengirimnya atau tidak.
Hingga sebuah suara panggilan membuatnya terkejut dan tak sengaja menekan icon kirim.
__ADS_1
"Ah, mampus, kan. Jatuh sudah harga diriku di mata dia," cetus Dara menepuk jidat. "Nggak apa-apa, deh. Aku kangen ngomelin dia. Mudah-mudahan di balas biar aku cekik dia dengan omelan," geturunya meletakkan ponsel di kasur dan berjalan keluar.
***
Pukul 15:00
Fadil dan Fitri sampai di rumah Ayu. Tak lupa sepasang kekasih itu memberikan kado untuk buah hati Ayu yang baru saja lahir. untuk ke lima anak yang lain pun ikut di beri sesuatu oleh Fadil.
"Assalamualaikum," teriak Fadil.
"Waalaikumsalam, eh Fadil, ayo masuk!' Jaka yang menyambut kedatangan mereka.
"Mas, nih buat anak-anak. Maaf baru ngasih sekarang, baru sempat ke sini." Fadil nampak sudah jauh lebih baik dari seminggu yang lalu.
"MasyaAllah, makasih banyak, ya. Kamu kalau mau ke sini, ke sini aja nggak usah bawa beginian nggak apa-apa. Kamu udah aku anggap adik sendiri. Kita ini keluarga, nggak usah lah sefornal ini." Pandangan Jaka beralih pada Fitri. "Calon istrimu?" tanyanya pada Fadil.
"Iya, namanya Fitri." Fadil memberi kode untuk berkenalan dengan Jaka.
Tak lama kemudian Ayu datang dengan anak bungsunya. Bayi gembul yang masih dibalut dengan kain bedong itu nampak tampan dalam tidurnya. Mereka bercengkrama sesaat sebelum Fadil memberikan amanah yang sudah dititipkan untuknya.
"Surat? Apa isinya?" tanya Ayu menerima kertas itu.
"Nggak tahu, kata Mas Anang aku nggak boleh lancang buka itu surat. Jadi, ya aku nggak buka Mbak."
Setelah itu mereka pamit untuk pulang, mereka ingin melanjutkan jalan-jalan ke suatu tempat. Sudah lama rasanya mereka tak memadu kasih dan mempererat diri.
"Sini, biarkan aku yang gendong Nathan, kamu baca coba itu apa? Pengen tahu juga aku." Jaka mengambil alih anaknya dan duduk dengan tenang mendegarkan Ayu membaca.
__ADS_1
Assalamualaikum, Yu. Saat kamu menerima ini, itu artinya aku sudah istirahat dengan ketenangan dan kenyamanan. Aku rasa aku nggak perlu untuk meminta apapun darimu. Kamu sudah bisa dan sudah tahu harus melakukan sesuatu tanpa aku minta. Aku hanya ingin memberitahumu, rumah kita yang dulu sudah aku ubah namanya menjadi namamu. Bukan bermaksud apa-apa, aku hanya ingin memberi apa yang tak pernah aku beri ke kamu dahulu, yakni nafkah lahir yang membuat segalanya menjadi hancur lebur. Mungkin kamu sudah tak membutuhkannya lagi, tapi setidaknya biarkan aku memberikan yang seharusnya menjadi hak mu dan anak-anak. Terima kasih sudah sudi meluangkan waktu untuk membaca ini, dan sampaikan salamku pada Jaka dan anak-anak. Selalu jaga kesehatan. Dan, ya, aku titip adik kecilku, ya. Wassalamualaikum.
Otor cukupkan untuk kisah Ayu sampai di sini, ya. Sudah cukup konflik mereka dan biarkan mereka bahagia dengan setengah lusin anaknya. Habis ini akan fokus sama Dara dan Rifki. Kalau aku ceritakan rumah tangga Fadil dan Fitri juga ada yang mau lanjut baca nggak, ya.