
"Kamu kurusan? Pipi kamu nggak gembul lagi kayaknya," ujar Rifki mencubit pelan kedua pipi gadis yang entah apa statusnya di kehidupan Rifki. Pria itu sangat berusaha dengan keras untuk tak menjatuhkan air matanya. "Gara-gara aku, ya?" imbuhnya.
"Iya, gara-gara kamu. Sadar nggak, kamu nyakitin aku dengan sikap kamu akhir-akhir ini. Lebih baik aku dengar kamu ngomel, protes atau ngatain aku dari pada kamu nyuruh aku pergi." Dara tak sanggup menahan lajunya air matanya.
"Ya apa lagi yang kamu inginkan dari aku? Aku nggak bisa apa-apa. Yang ada aku nanti akan jadi beban kamu aja."
'Kecuali kalau kamu punya ekstra sabar untuk nunggu aku.' lanjut Rifki dalam hati.
Seakan mengerti apa yang dikatakan oleh Rifki, kekasihnya itu mengatakan sesuatu yang jujur saja membuatnya menjadi lebih lega.
"Aku akan sabar nunggu kamu, kok."
Rifki diam. Ia bingung harus berekspresi bagaimana. Di satu sisi ia senang jika Dara bersedia menunggu. Ini adalah hal yang paling ia harapkan, namun di sisi lain ia juga menginginkan sebaliknya. Setengah hati melepas Dara dan sepenuh hati ingin bersama. Rifki dibuat pusing dengan perasaannya sendiri.
"Kenapa kamu bandel banget kalau di kasih tahu? Udah dibilang tingga.."
"Yang nunggu aku, kalaupun nanti ada yang di rugikan juga aku. Kenapa kamu jadi repot. Udah, ah. Kakak mau makan, nggak, aku mau beli seblak di depan rumah sakit, mau nggak. Atau beli satu aja, kita makan berdua."
"Biar romantis?"
"Nggak, biar hemat," jawab Dara terkekeh. "Ya udah tunggu bentar, ya. Aku akan kembali secepatnya."
Dara melangkahkan kali keluar, pintu ia tutup sedikit keras agar Rifki mengira bahwa ia benar-benar sudah pergi dari sana. Padahal ia terhenti di balik pintu dengan menatap Rifki yang berdiam diri seraya melengkungkan bibirnya membentuk senyuman.
"Dasar, gadisku itu memang nggak pernah berubah. Selalu bisa buat aku bahagia dengan tingkah konyolnya, kadang nyebelin, ngangenin, nggak jelas banget." Rifki bergumam dengan jelas.
Dara yang yang masih berada di dalam ruangan hanya bisa mengatupkan mulut menahan senyum. Sungguh kata-kata Rifki membuat Dara terasa dibuat terbang. Ia bahagia, Dara menyadari satu hal, Rifki tak benar-benar berubah, ia hanya insecure dengan keadannya. Baiklah, sekarang ia bisa berjuang dengan tenang, pikir Dara dengan pelan-pelan kembali membuka pintu.
"Mau ke mana?" tanya Jaka yang duduk tak jauh dari pintu.
"Eh Abang sama Ibu di sini," jawab Dara mengelus dadanya pelan karena terkejut.
"Iya, pulang sekarang? Nanti jam tujuh Rifki pulang, kamu nggak mau nunggu sekalian?"
__ADS_1
"Siapa yang mau pulang? Orang mau beli seblak di depan. Eh Abang ajalah yang beliin." Dara sejak tadi tak bisa menyembunyikan wajahnya yang sumringah.
Gadisku, satu kata itu masih terngiang jelas di telinganya.
"Kenapa, sih, Ra? Kamu sehat, kan? Jangan sampai masalah ini buat kamu jadi gila! Kamu kenapa dari tadi nahan senyum begitu?" tanya Jaka khawatir.
"Aku lagi seneng. Tadi aku pura-pura tutup pintu biar dikira udah keluar ruangan, tahu nggak Kak Rifki bilang apa? Masa dia manggil aku gadisku. Dia bilang gadisku itu nggak berubah, katanya aku selalu buat dia bahagia. Aku seneng, ternyata Kak Rifki nggak berubah, dia masih sayang aku, sekarang aku lega. Setidaknya aku masih ada di hatinya, tinggal gimana caranya aku buat dia percaya kalau aku cinta dia hari ini, besok dan selamanya," terang Dara sumringah.
Jaka dan Bu Rini ikut bahagia melihat Dara yang kembali mengukir senyum di bibirnya. Rasanya sudah lama mereka tak melihat lengkingan bibir gadis manis itu.
"Udah Bang Jaka beliin seblaknya, ya udah, deh hari ini aku traktir. Aku butuh satu aja. Barangkali Ibu mau? Atau mau yang lain? Biar sekalian dibeliin sama Bang Jaka."
"Nggak, nggak usah. Ibu masih kenyang. Apalagi lihat kamu yang begini, tambah kenyang Ibu," jawab Bu Rini terkekeh.
Bu Rini bersyukur Rifki mengenal Dara, meski gadis itu masih kekanakan, ia bisa mengimbangi Rifki yang benar-benar keras kepala.
Setelah lima belas menit menunggu, akhirnya Jaka kembali dengan banyak makanan. Mata Dara seketika terbelalak, ia fokus pada makanan yang di bawa oleh kakaknya. Ia memikirkan uang seratus ribu yang beberapa menit lalu ia berikan. Pasti habis tak bersisa, pikir Dara.
"Nih, seblaknya. Abang beli makanan banyak amat." Dara menatap rentetan snack dan dua makanan berat.
"Awas nanti kalau udah sampai di rumah," bisik Dara kesal di telinga kakaknya.
Dara pamit kembali masuk ke ruangan pada meraka. Dengan sumringah ia membuka pintu.
"Aku kembali," ucap Dara berjalan menuju ranjang. "Maaf lama menunggu, tadi antri banget. Aku sampai bilang kalau kakakku mau melahirkan dan ngidam seblak biar di dahulukan."
"Apa?" Rifki tak mampu menahan tawa. "Kamu tetap, ya. Asal ngomongnya, ya udah makan sana!"
"Sama kamu, aku suapin, ya. "
Rifki dengan ragu menganggukkan kepala.
"Kamu masih bersedia di sini sama aku kenapa? Kamu kasihan lihat aku begini? Pasti kamu mikir kalau aku nggak akan menikah karena kondisi ku, jadi kamu tetap mau sama aku?"
__ADS_1
"Nggak. Kalau nggak percaya sama cinta aku, ya udah ayo nikah besok. Biar aku urus semua pernikahan kita. Gimana?" tawar Dara menantang.
Rifki tersedak seblak seketika. Dengan segera Dara menyuapkan segelas air putih.
"Pelan-pelan."
"Kamu yang harusnya ngomong pelan-pelan."
"Aku ngomongnya pelan nggak ngegas."
"Iya, nggak ngegas, tapi udah kelewat batas. Ya, kali nikah besok," sungut Rifki.
"Berarti kalau nggak besok mau?"
Hening sesaat.
"Mana seblaknya, aku mau lagi." Rifki mengalihkan perhatian, ia merasa terjebak dengan ucapannya sendiri.
Sedangkan Dara hanya mengatupkan mulutnya, ia yakin Rifki pasti salah tingkah dibalik diamnya.
"Gimana? Masih mau nyuruh aku pergi? Kalau, iya. Kamu nggak hanya kehilangan aku, tapi juga dengan kebahagiaan aku dan kamu. Mungkin aku bisa pergi dan cari yang lain. Tapi tidak dengan kebahagiaan ku. Mungkin selamanya aku nggak akan bahagia, karena bahagia aku ada di kamu. Kamu juga sama, kan? Bahagia kamu ada di aku, kan? Kamu mau mengorbankan hati dan kebahagiaan kita selamanya? Kamu mau buat aku menderita sepanjang hidup karena nggak bisa bahagia? Apa itu yang namanya cinta?"
Rifki menghela nafas panjang. Seakan ia memikirkan jawaban apapun yang akan ia keluarkan adalah jawaban salah. Lalu ia harus bagaimana?
"Cinta nggak harus memiliki, kan?"
"Ya kalau gitu kenapa kamu dari dulu kejar aku? Kamu kejar aku sampai aku jatuh cinta sama kamu, begitu kamu udah dapat aku, udah dapat cinta aku, kamu pergi gitu aja? Nggak tanggung jawab kamu."
'Lebih baik kau diam Rif. Jawaban yang kau keluakan justru membuat kau tak bisa berbuat apa-apa. Ucapanmu seakan membuat kau harus mengakui kalau cintamu masih terlalu besar untuknya.' batin Rifki.
"Kamu mau aku tanggung jawab? Ya udah aku tanggung jawab. Emang nggak ada yang bisa mengalahkan kamu dalam perdebatan apapun."
"Ya udah panggil aku sayang lagi, jangan Dara."
__ADS_1
"Iya Sayang. Udah, kan?"
Dara mengatupkan mulutnya seraya melompat girang. Seandainya saja ia tak ingat bahwa ia sedang berada di rumah sakit, mungkin ia sudah berteriak.