Pamit

Pamit
53. Penyesalan Tiada Akhir


__ADS_3

"Selamat pagi anak Ibu," sapa Ayu yang melihat Alif berjalan ke dapur.


"Ibu masak apa?" tanyanya duduk di meja makan.


"Kesukaan Alif, ayam kecap pedas manis," kata Ayu menyodorkan lauk pauk beserta nasi ke meja makan.


Alif refleks membuka mulutnya dengan lebar. Sudah lama ia tak makan ayam bumbu kecap. Dengan semangat dan sumringah Alif mengambil piring untuk makan.


"Emmm masakan Ibu memang paling enak," ujar Alif setelah memasukkan satu sendok nasi.


"Kamu bisa aja. Oh, ya Lif. Ibu mau tanya. Kemarin kamu sadar kamu ngomong apa ke Ayah? Kamu masih ingat?" tanya Ayu dengan hati-hati. Ia takut jika pertanyaannya membuat mood Alif menjadi buruk di hari yang masih pagi.


"Ingat. Memang kenapa, Bu? Memang, iya, kan? Dia bukan Ayah ku yang dulu." Alif menjawab degan acuh serta terus memasukkan nasi ke dalam mulutnya.


"Sampai kapanpun Ayah akan tetap jadi Ayah Alif. Ayah Anang dan Alif selamanya akan menjadi Ayah dan anak. Hubungan darah tidak ada yang namanya dulu dan sekarang. Selamanya akan tetap sama. Ibu tahu, Alif hanya kesal sama Ayah, kan? Nak, kesal boleh. Tapi jangan lama-lama, dosa. Nggak boleh Alif ngomong seperti itu sama Ayah, Ayah pasti sedih mendengar ucapan Alif kemarin."


"Ibu juga sering dibuat sedih sama Ayah."


"Ibu nggak pernah sedih sekarang, Ibu bahagia. Ibu sudah memaafkan Ayah, kamu tahu? Memaafkan kesalahan seseorang itu membuat kita jadi tenang, membuat hidup kita juga jauh lebih bahagia. Kenapa? Karena hati kita bersih dari dendam dan amarah. Kedua hal itu buruk untuk kesehatan, nggak baik, menyebabkan penyakit."


"Waktu aku ke rumah Ayah, Nenek lagi sakit. Jadi Nenek sakit karena benci sama kita, Bu. Ada amarah dan dendam di hati Nenek? Makanya Nenek jadi sakit-sakitan?"

__ADS_1


"Iya, itulah kenapa Ibu bilang, memendam amarah, kebencian, dan dendam di hati kita itu tidak baik. Tuhan tidak suka. Jadi, apa Alif memaafkan Ayah? Kalau ketemu sama Ayah janji nggak seperti kemarin?" Ayu menyodorkan jari kelingkingnya sebagai isyarat untuk berjanji.


"Janji." Alif juga menautkan jari kelingkingnya di jari Ibunya kemudian ia melanjutkan makan.


Ayu mengetuk ngetukkan jarinya di meja makan karena sedang memikirkan sesuatu. Ia ragu hendak menceritakan maksud Jaka semalam pada Alif. Ia takut jika Alif masih trauma dengan sosok Ayah.


"Ibu memikirkan sesuatu?"


"Ha? Kenapa kamu tanya begitu?"


"Aku lihat Ibu seperti memikirkan sesuatu, Ibu ada masalah, ya?" Alif menghentikan makannya demi mendengar ibunya bercerita.


"Jadi begini, Om Jaka semalam bilang ke Ibu, kalau dia mau jadi Ayah kamu. Kamu mau?"


"Iya, sayang. Alif memang punya Ayah. Tapi Ayah dan Ibu, kan sudah tidak tinggal bersama. Jadi Om Jaka punya niatan untuk tinggal bareng sama kita, Om Jaka jadi Ayah Alif juga dengan Ghiani dan Ghina, jadi anak Ibu juga."


"Ibu mau menikah dengan Om Jaka? Terus bedanya Ibu sama Ayah apa? Kalian sama-sama menikah lagi lalu ninggalin aku begitu?"


"Nggak, Sayang. Bagaimana bisa kamu berpikir seperti itu? Mana mungkin Ibu meninggalkan kamu? Kalau Ibu dan Om Jaka menikah, kita akan tinggal di sini bersama-sama. Menikah lagi bukan berarti sebuah kesalahan, Nak. Ibu dan Ayah sudah tidak ada ikatan pernikahan, Ibu dan Ayah sudah berpisah, jadi kalau baik Ayah ataupun Ibu menikah lagi itu bukan kesalahan. Kecuali kalau Ibu dan Ayah masih satu rumah dan Ibu atau Ayah menikah lagi, itu baru salah. Kalau kamu sudah besar kamu akan mengerti maksud Ibu."


"Nggak mau, aku nggak mau Ibu menikah dengan siapapun. Aku nggak mau Ibu meninggalkan aku juga. Aku nggak mau Ibu seperti Ayah." Alif marah dan lari menuju kamarnya.

__ADS_1


"Ya Tuhan, bagaimana caraku menjelaskan pada anak itu?" Ayu bergumam seraya memijat pelipisnya yang mendadak pening.


Ayu tahu ini bukan hal yang mudah untuk Alif. Ia masih terlalu kecil untuk memahami semua ini. Niat hati ingin menerima lamaran Jaka, namun terhalang restu dari sang anak. Tidak mungkin ia menikah tanpa restu dari anaknya.


"Mas Jaka pasti ngerti. Mungkin akan butuh waktu yang lama atau tidak sebentar bagiku untuk memberi pengertian pada Alif. Ini hanya salah paham saja," ujar Ayu berdiri dari tempat duduk dan berjalan menuju kamar sang anak.


*


Anang masih setia duduk di samping Ibunya. Melihat wajah yang dulu ayu kini sudah berkerut, Anang begitu mencintai wanita di depannya ini. Meskipun segala ketidakadilan dan pilih kasih yang ia terima, sosok Ibu tak akan pernah tergantikan bagi anaknya.


"Ibu, Ibu sudah sadar? Ini aku, Bu. Ibu aku minta maaf sudah membuat Ibu menunggu begitu lama. Aku sudah salah meninggalkan Ibu, bagaimana bisa aku meninggalkan Ibu. Tidak, Bu. Aku minta maaf." Anang menggenggam tangan Ibunya dan mengecupnya beberapa kali. Tangisan mewarnai pertemuan pertama Anang dan ibunya setelah beberapa bulan terpisah.


"A.. Anang," sahut Bu Lasmi terbata-bata. "Ibu kangen kamu, Nak," imbuhnya dengan terbata-bata tentunya. Niat hati ingin memeluk sang anak, tapi entah mengapa bagian tubuhnya sangat sulit untuk beliau gerakkan.


"Jangan banyak bergerak, Ibu. Sudah jangan mengatakan apapun. Aku tahu ibu pasti mau minta maaf, iya Bu. Sudah kita lupakan semuanya. Aku juga punya salah sama Ibu, tidak seharusnya aku meninggalkan Ibu di saat Ibu butuh aku, disaat Ibu membutuhkan anaknya, aku justru pergi dan dengan mudahnya aku mengatakan aku tak akan menemui Ibu lagi. Tidak mudah untukku menjalani hari tanpa Ibu. Aku minta maaf." Sekali lagi Anang tak henti-hentinya mengecup punggung tangan sang Ibu dan puncak kepala beliau. Memberikan kecupan sayang agar sang Ibu punya semangat untuk kembali sehat.


Pandangan Bu Lasmi berpindah ke tongkat yang bersandar di tembok. Anang mengikuti arah pandangan Ibunya lalu mengulum senyumnya.


"Itu punyaku, Bu," ujar Anang seakan tahu arti tatapan sang Ibu. "Aku kecelakaan waktu pulang dari sidang Ibu, tapi nggak apa-apa. Aku masih sehat, kok. Ibu jangan sedih, aku yang akan sedih kalau Ibu nggak sehat-sehat. Ibu harus sehat, aku janji aku akan sering ke sini jika Ibu punya semangat untuk sembuh lagi."


"Maaf." Hanya itu yang mampu keluar dari mulut bu Lasmi.

__ADS_1


Dalam hati beliau merasa miris dengan apa yang menimpa keluarganya. Apa yang menimpa dirinya dan juga anak sulungnya, beliau sadar betul yang terjadi saat ini pada mereka adalah karena dosanya.


Menyesal? Tidak ada gunanya, mengulang semuanya? Tidak mungkin di lakukan, meminta maaf? Tidak akan ada yang kembali dari sebuah kata maaf. Waktu yang hilang, luka yang menganga, air mata yang sudah mengucur, sakit yang pernah terukir, semua tidak akan kembali seperti semula hanya dengan kata maaf.


__ADS_2