Pamit

Pamit
82. Sentuhan Rindu


__ADS_3

Sore itu, banyak orang yang berkumpul di sebuah ruangan yang serba putih. Meraka nampak mengelilingi sebuah ranjang yang berisi satu orang pria.


Pria itu hanya terdiam tanpa ekspresi, seakan ia tahu apa yang akan terjadi setelah perban itu terbuka.


"Di buka pelan-pelan saja, ya. Jangan di paksa." Dokter memberikan arahan pada Rifki setelah perban tersebut benar-benar menghilang dari matanya.


Sesuai dengan apa yang diarahkan, Rifki membuka mata dengan perlahan, sedikit demi sedikit terbuka. Dan semua gelap, padahal ia yakin matanya sudah terbuka dengan lebar. Ia ingat, bahwa ia membuka perban sore hari, itu artinya seharusnya lampu dalam ruangannya sudah menyala. Kenapa ini gelap? Mungkinkah lampu belum menyala? Tapi kalaupun, iya bukankah ruangan ini tak segelap ini? Rifki membatin dengan panjang.


"Nak, kamu bisa lihat Ibu, kan?" Ibu Rifki merangkul pundak lebar anaknya.


"Nggak, semuanya gelap," jawab Rifki sedikit tersenyum, seakan menunjukkan pada semua orang bahwa ia baik-baik saja. "Ibu jangan sedih, aku nggak apa-apa. Ibu mana?"


Dengan terisak Bu Rini mengarahkan tangan Rifki untuk memeluk dirinya. Kepalanya ia letakkan di pundak sang anak. Ujaran dokter beberapa waktu lalu nyatanya tak membuat Bu Rini siap menerima kenyataan hari ini.


"Ibu, kan udah tahu kalau kemungkinan aku nggak akan bisa lihat. Seharusnya Ibu sudah siap dan menata hati untuk ini. Aku nggak apa-apa, Bu. Udah jangan nangis, apa aku tidur lagi aja, nggak usah bangun?"


"Jangan!" jawab Bu Rini dengan cepat.


"Ya udah jangan nangis makanya. Kenapa nggak omelin aku aja? Aku lebih suka kalau Ibu ngomel dari pada nangis. Habis ini Ibu punya anak bayi lagi, apa-apa harus dibantu, ke kamar, makan, kamar mandi, gantiin baju, Ibu nggak apa-apa, kan aku repotin lagi?"


Rifki bicara dengan sangat tenang. Ia benar-benar menunjukkan bahwa ia tidak apa-apa dengan keadannya. Sangat berbeda dengan tadi pagi, ia sekarang lebih bisa menerima. Entah pura-pura tegar atau memang ia benar tegar, hanya Rifki yang tahu.


"Itu jauh lebih baik dari pada Ibu nggak lihat kamu. Jangan suka melawan kalau jadi anak bayi Ibu, harus nurut. Nggak boleh bandel." Bu Rini sangat berusaha kuat untuk menahan tangis. Tangannya tergerak untuk mengelap pipinya yang basah.


"Iya, janji aku akan nurut."

__ADS_1


Reaksi lain di tunjukkan oleh Dara, ia lebih banyak diam dan tanpa ekspresi apapun. Namun anehnya, air matanya terus mengucur dengan deras. Sang Kakak hanya bisa diam dan memberikan semangat melalui pelukan di pundak. Jaka tahu bicara apapun saat ini pada Dara pasti akan berujung kesia-siaan. Adiknya itu masih terpukul dan petuah apapun pasti tak akan masuk.


"Kemungkinan Rifki bisa melihat masih ada, kan, Dok?" Jaka yang bertanya.


"Tentu saja, Pak. Tapi kalau untuk operasinya saya tidak bisa menentukan kapannya. Akan saya kabari jika memang ada yang bersedia mendonor. Karena keadaan Pak Rifki sudah membaik dan semua normal, malam ini bisa pulang. Untuk terapi kakinya, nanti akan saya rundingkan dengan dokter yang bersangkutan. Akan saya kabari secepatnya, saya permisi," ucap Dokter pria itu ramah.


Rifki bertanya-tanya dalam hati, kenapa sejak tadi ia tak mendengar suara Dara. Ingin sekali rasanya hati bertanya, tapi lagi-lagi logikanya melarang Rifki untuk melakukan itu.


Dalam hati Rifki terselip sedikit doa untuk Dara. Ia meminta pada Tuhan agar Dara di berikan kesabaran sedikit lebih lama untuk menunggunya. Harapan itu begitu saja terucap di hati Rifki. Ia masih sangat berharap ada orang berhati malaikat yang rela mendonorkan salah satu panca indranya pada dirinya.


"Yang semangat, ya Rif. Pasti kau akan dapat donor secepatnya. Kau harus percaya kekuatan doa adalah segalanya."


"Iya, Jak. Terima kasih."


Rifki mengatupkan mulutnya. Ia merasa ada yang menghangat dalam hatinya. Ia yakin ada Dara di ruangan ini. Sesaat kemudian, Rifki sadar bahwa Dara benar-benar ada di dekatnya. Ia bisa merasakan wangi Dara yang biasa ia hirup saat bersama.


"Kamu mau sampai kapan lihat aku tapi diam aja? Kamu ada di sini, kan? Mau Ngomong? Ngomong apa coba aku dengar," ujar Rifki masih menatap kosong di depannya. Ia tak tahu ada di mana letak persisnya gadisnya itu.


Bu Rina dan Jaka memberi kesempatan mereka untuk berdua. Bicara dari hati ke hati, dan dengan hati yang dingin tentunya. Mereka berdua duduk di depan ruangan.


"Apa harapan Ibu kedepannya buat Rifki? Selain bisa melihat apa ada harapan lain?"


"Hanya itu saja, Nak. Itu yang paling penting sekarang."


"Untuk hubungannya dengan adik saya?"

__ADS_1


"Ibu udah cocok sama Dara. Dia baik, ada apanya, meskipun usia mereka beda jauh, tapi mereka saling melengkapi, dia bisa merubah Rifki menjadi lebih baik. Ibu juga melihat anak Ibu lebih bahagia setahun terakhir, saat sering menghabiskan waktu dengan adik kamu. Tapi, ya Ibu kan nggak mungkin untuk memaksakan kehendak Ibu. Yang menjalani mereka, Ibu serahkan saja pada mereka. Ibu kasihan sebenarnya melihat Dara yang begitu sedih menghadapi sifat Rifki akhir-akhir ini."


"Adik saya kuat, kok, Bu. Kelihatannya manja, cengeng, tapi saya yakin Rifki juga tahu hal ini. Kita berdoa sama-sama untuk meraka, ya Bu. Hanya itu, kan yang bisa kita lakukan."


Kembali lagi pada dua manusia yang masih berdiam diri di tempat masing-masing. Saking heningnya mereka, hanya terdengar suara dentingan jam yang beradu dengan hembusan nafas mereka.


"Dara, aku tahu kamu masih di sini, kan? Orang-orang udah pada pergi pasti, iya kan? Kita hanya berdua, ayo bicara," desak Rifki.


Dara masih diam.


"Ya udah kalau nggak mau ngomong, nggak apa-apa. Kamu mau lihat aku aja? Ya udah, silakan kamu lihat sampai puas." Nada bicara Rifki sejak tadi tak berubah, masih tenang dan dengan lembut.


Padahal bukan itu yang diharapkan Dara. Ia menunggu kekasihnya itu mengomel, ia sangat merindukan omelan dari Rifki. Omelan yang akan berujung ia yang meminta maaf lalu mencibir dengan sangat lirih.


"Kamu tahu aku ada di sini?" Akhirnya Dara bersuara setelah sekian lama terdiam.


"Ya tahu, kan yang bermasalah mata aku, bukan hidung aku. Masih terasa baunya, aku udah hapal sama aroma parfum kamu, itu aja."


"Kamu nggak kangen aku?"


"Kengen pun aku bisa apa, Ra? Aku hanya melihat kegelapan."


Tangan Dara lalu meraih tangan Rifki untuk ia letakkan di wajahnya. Kini kedua tangan Rifki sudah mengelilingi wajah ayu Dara.


Sentuhan pertama saat ia sudah tak bisa melihat. Pipi Dara terasa lebih tirus dari sebelumnya. Mata Rifki sedikit memanas, dan akhirnya sedikit demi sedikit pelupuk matanya berair.

__ADS_1


__ADS_2