
Pagi yang cerah, secerah perasaan dua insan yang sedang di rias di ruangan terpisah. Dua manusia yang sedang merasakan kebahagiaan di puncak kepala. Senyum tak pernah hilang dari bibir keduanya.
"Ada yang kurang, Mbak? Mungkin ada yang nggak srek dibagian mananya?" tanya si perias pengantin.
Ayu menatap pantulan dirinya di cermin. Ia pernah merasakan ini sebelumnya, tapi entahlah. Ia sangat bahagia seperti pernikahan yang pertama saja.
"Udah cukup, Mbak. Ini udah bagus dan nggak terlalu tebal," jawab Ayu masih menatap cermin.
"Mbak Ayu memang udah cantik dari setelan pabriknya. Nggak kelihatan juga kalau udah punya anak banyak," ujar perias itu terkekeh. Ayu dibuatnya semakin tersipu karena pujiannya.
Sepersekian menit berikutnya, Ayu dipanggil untuk bergabung dengan pak penghulu dan juga Jaka yang sudah tak sabar ingin mengucap ijab qobul.
Mata Jaka begitu berbinar dan senyumnya mengembang sangat sempurna. Sudah persis seperti kue yang diberi baking powder dengan takaran yang pas. Namun, senyumnya ia sembunyikan begitu Ayu duduk di sampingnya. Entah kenapa ia begitu malu saat ini.
"Mas, Jaka susah siap?" tanya pak penghulu.
"Sangat siap, Pak," jawab Jaka cepat dan tanpa ragu.
"Mbak Ayu siap?"
"Siap, Pak." Ayu sedikit menundukkan kepala karena malu.
Di bawah atap yang sama dan ruangan yang sama. Kedua manusia yang ingin menyatukan ikatan itu dilanda kegugupan yang tak berkesudahan. Jantung Ayu semakin bertalu-talu dengan nyaring saat tangan Jaka menjabat tangan pak penghulu. Hingga beberapa saat kemudian terdengar satu kata yang mampu mengembalikan oksigen di ruangan itu.
SAH
"Alhamdulillah. Ibu aku punya istri, Bu," ujar Jaka sumringah.
"Udah, jangan kayak bocah," omel bu Lin seraya melempar pelototan ke arah Jaka.
__ADS_1
Di sudut rumah Ayu yang lain, ada seorang pria yang akhirnya kehilangan Ayu untuk yang kedua kalinya. Namun, ada yang berbeda dari pernikahan kali ini. Jika dulunya Rifki benar-benar sakit hati hingga berakhir mengurung diri, berbeda dengan pernikahan Ayu yang kedua ini. Ia sungguh-sungguh ikhlas dan bahagia untuk Ayu. Tidak ada lagi rasa berat dan mengganjal dalam hati. Apalagi ada wanita cantik yang kini sedang duduk di samping dengan senyum yang menghias bibir.
Kedua mempelai melanjutkan ritual pernikahan seperti biasa. Serangkaian acara di laksanakan dengan lancar dan tanpa hambatan. Semua orang larut dalam kebahagiaan yang diciptakan oleh kedua mempelai. Tak terkecuali manusia beda generasi yang sering ribut jika di persatukan dalam satu waktu dan tempat.
Disaat semua orang sedang asyik dengan acara dan juga kedua mempelai yang sedang bahagia. Ada sepasang kekasih palsu yang sedang berperan sebagai baby sitter. Mereka diberi amanah untuk menjaga si kembar. Meskipun dengan gerutuan mereka tetap menjaga ketiga anak itu dengan baik.
"Yang ada gen kembar siapa, Ra? Keluarga kamu apa mantan istri Jaka?" tanya Rifki seraya bermain dengan Ghina yang tak mau diam di pangkuannya.
"Keluarga aku," jawab Dara singkat.
"Wah, berarti kalau kita beneran nikah bisa punya peluang besar buat punya anak kembar, dong. Ini pas, sih buat aku. Umur aku udah tiga puluh lima. Kalau sekali nanam langsung dapat dua udah ideal, kan? Seumuran aku udah pas banget punya anak dua," ujar Rifki antusias.
Dara hanya terpaku diam mendengar penuturan panjang Rifki. Ia masih mencerna kata demi kata. Memikirkannya dengan perlahan, ia masukkan ke dalam otak satu persatu.
Dara tidak tampak seperti sedang berpikir namun, lebih menunjukkan wajah linglung.
"Dar, kenapa? Jangan bengong, kesambet aku juga yang repot. Acara belum selesai, mana bisa aku jagain dua anak begini," protes Rifki memukul pelan lengan Dara.
Rifki seketika tertawa dengan ucapan Dara. Ia tak menyangka, diamnya gadis itu rupanya memikirkan apa yang ia ucapkan. Niatnya hanya menggoda tapi malah dijadikan beban pikiran oleh gadis itu.
"Ngapain ketawa? Nggak ada yang lucu, ya!" sungut Dara kesal.
"Kamu yang lucu. Jadi kamu diam aja dari tadi mikirin ucapan aku? Jangan bilang kalau kamu membayangkan kita menikah lalu punya anak kembar." Rifki kembali tertawa karena ucapannya sendiri. Ia merasa geli jika punya istri bocah seperti Dara.
Dara menoleh ke arah Rifki dengan membawa tatapan tajamnya. Rifki yang melihat itu mendadak was-was dan seketika menghentikan tawanya.
***
"Belok ke sini, Mas?" tanya Fadil membelokkan mobilnya ke gang yang tak terlalu luas.
__ADS_1
"Iya, tapi kok kayak rame-rame ada apa, ya?" tanya Anang pada dirinya sendiri.
"Emang yang rame-rame itu rumahnya Mbak Ayu?"
"Iya, pelan aja, Fad," pinta Anang yang mendadak ragu ingin bertemu dengan anak-anaknya.
Setelah mendapat paksaan dan bujukan dari Fadil. Akhirnya Anang bersedia bertemu kembali dengan anak-anaknya. Hari ini ia datang dengan Fadil dan beberapa mainan yang banyak untuk mereka.
Namun, hatinya mendadak ragu saat melihat ada tenda yang persis seperti tenda pernikahan.
"Yang menikah Mbak Ayu, ya Mas?" tanya Fadil ketika mobil mereka terhenti di dekat tenda Ayu dan Jaka.
"Nggak tahu, kayaknya, iya. Aku takut kalau memang ini pernikahan Ayu, kehadiran aku menggangu dia. Lebih baik balik aja, Fad," kata Anang mendadak suram.
Pria itu menundukkan kepala. Melihat kaki palsu yang baru beberapa minggu menemani harinya. Paksaan dari Fadil yang membawa nama anak-anaknya menjadikan Anang kembali terbuka pikirannya.
Anang mau memakai kaki palsu demi anak-anaknya agar tak merasa iba saat melihat keadaannya yang sudah cacat. Sudah cukup adiknya saja yang mengasihani dan selalu memberikan tatapan iba saat bersama. Sungguh Anang benci tatapan itu. Anang tak suka di kasihani.
"Tapi kita sudah sampai sini, Mas. Lagi pula pas ketemu terakhir, hubungan kita dan Mbak Ayu baik-baik saja. Bahkan laki-laki yang bersama dengan Mbak Ayu bilang kalau kita bisa datang kapan saja, kan?"
"Iya, tapi bukan berarti pas ada pesta seperti ini. Udah balik aja, yuk. Beberapa minggu lagi aja, kita ke sini. Aku takut kalau mood Ayu akan berubah ketika melihat aku. Nanti rusak acaranya."
Fadil tak bisa memaksa, ia juga memahami perasaan Anang yang mungkin saja akan sedikit merasakan sakit hati ketika melihat ibu dari anak-anaknya menikah lagi.
"Ya udah, kita pulang." Fadil memutar mobilnya kembali.
"Apa Mbak Ayu nikah sama laki-laki yang itu, ya Mas? Yang pernah ikut ke makam Ibu."
"Mungkin, iya." Anang menjawab dengan singkat.
__ADS_1
Jujur saja, masih ada cinta di hati Anang untuk Ayu. Entah cinta yang dulu masih tersisa atau justru cinta itu baru saja hadir singgah hatinya. Ada sedikit rasa sakit saat melihat ada tenda pernikahan di rumah Ayu.
'Aku selalu berdoa di setiap sujudku, meminta kamu dan anak-anak kita selalu diberi kebahagiaan. Dan hari ini kamu menikah dengan Jaka. Mungkin ini cara Tuhan untuk menjawab doaku. Dari sekian banyak hari, aku datang di hari pernikahanmu. Cara Tuhan memang selalu sempurna untuk menunjukkan doa yang aku panjatkan.'