Pamit

Pamit
68. Bertemu


__ADS_3

Satu tahun kemudian.


Tak mudah bagi Anang untuk melewati hari demi hari dengan di temani oleh kanker yang semakin parah. Kanker yang sudah memasuki stadium akhir membuat Anang semakin sering sakit-sakitan. Kepala yang sudah tak memiliki rambut, badan yang semakin kurus kering, sering tak sadarkan diri, sudah menjadi teman Anang sehari-hari.


"Mas, jadi ke rumah Mbak Ayu?"


"Iya, aku takut kalau operasi ku gagal dan aku tidak ada kesempatan untuk bertemu dengan anak-anak. Lagi pula sudah dua tahun aku nggak ketemu mereka."


Ya, Anang yang pernah datang ke rumah Ayu tepat di hari pernikahannya, tak lagi mendatangi wanita itu. Niatnya yang akan datang beberapa bulan setelah pernikahannya entah kenapa ia urungkan. Ia terus menunda kedatangannya hingga akhirnya dua tahun sudah mereka tak bersua.


"Ngomong apaan, sih. Ngomong tuh yang baik-baik, Mas. Akhir tahun aku mau nikah, lupa kamu? Aku cuma punya kamu sama Mas Galuh. Jangan buat aku kehilangan semangat dengan kata-kata kamu," omel Fadil yang jujur saja sudah jengah dengan keputusasaan Anang.


"Iya, iya. Gitu doang marah. Ya udah kapan mau berangkat?"


Fadil lalu mendorong kursi roda Anang keluar rumah. Sudah beberapa bulan ini Anang tak turun dari kursi roda karena keadaan yang semakin melemah.


Badan yang semakin kurus, kepala yang sudah tak ada sehelai rambut pun. Wajah yang semakin hari semakin memucat. Anang sudah tak mau hidup lebih lama dengan kondisinya yang seperti ini. Ia bersedia operasi hanya karena ingin menjemput kematiannya sendiri. Karena ia tahu operasi yang akan dilakukan beberapa bulan lagi kemungkinan Anang untuk berhasil hanya lima puluh persen. Dan yang lima puluh persen lagi adalah kematian.


Selama di jalan tak banyak yang mereka obrolkan. Anang hanya berdiam diri seraya menatap pepohonan dan bangunan yang menjulang tinggi di pinggir jalan.


Sudah tak ada penyesalan dalam kehidupan Anang. Ia sudah mengikhlaskan apapun yang menimpa dirinya. Ada yang harus ia syukuri disaat seperti ini. Dirinya sudah berhasil menunaikan janjinya pada Ibunya. Ia pun sudah melihat keberhasilan dan perubahan kedua adiknya. Sudah melihat kebahagiaan Ayu dan anak-anaknya. Begitupun dengan Winda dan anaknya yang juga bahagia dengan keluarga barunya. Tak ada lagi beban yang harus ia pikirkan di saat hari-harinya sudah akan berakhir.


"Kita sudah sampai, Mas. Kayaknya rame di rumah Mbak Ayu. Lagi pada ngumpul, biasa weekend." Fadil membuka sabuk pengaman dan keluar dari mobil. Ia sedikit salah tingkah ketika banyak pasang mata yang menatap dirinya dari dalam rumah Ayu.

__ADS_1


"Assalamualaikum," ucap Fadil dan Anang bersamaan.


"Waalaikumsalam, Ayah," teriak Alif berlari ke arah Anang dan memeluknya. Kedua adiknya pun melakukan hal yang sama.


Tak ada yang bergeming dari tempat duduk mereka masing-masing. Semua menatap anak dan Ayah yang sedang berpelukan raga melepas dahaga kerinduan yang sudah lama memuncak di kepala.


Sementara Anang pun sama, ia tak bisa berucap apapun. Lidahnya terasa kelu dan kaku hanya untuk sekedar berucap 'Ayah rindu'. Hanya air mata yang terus mengalir dengan kurang ajarnya.


"Ayah aku kangen sama Ayah," ujar Alif dengan terisak. "Kenapa Ayah tak pernah datang ke rumah?" Alif masih terisak.


"Ayah juga kangen sama kamu, Sayang. Ayah kangen sama kalian. Bagaimana kabar kalian? Sehat, kan? Maafkan Ayah nggak pernah datang ke sini. Ayah sedang sibuk, maaf." Anang kembali memasukkan ketiga anaknya dalam dekapannya.


Anang menatap Agil dan Anin bergantian. Di antara ketiga anaknya, hanya Anin yang nampak masih bingung dengan keadaan.


Jaka yang sedari tadi hanya diam akhirnya angkat suara. Banyak pertanyaan yang bermunculan di kepalanya mengenai kondisi Anang yang jauh lebih memprihatinkan dari dau tahun yang lalu.


"Kok Ayah dibiarkan di pintu, sih? Ayo kasih jalan Ayah biar masuk rumah, Sayang." Jaka berdiri dan membantu Anang untuk masuk.


Sementara Ayu berdiri dan berjalan ke belakang untuk membuatkan minuman. Nampak mata Anang masih menatap lekat mantan istrinya yang sedang hamil.


"Sudah berapa bulan?" tanya Anang pada Jaka seraya mengarahkan dagunya ke arah Ayu yang berjalan ke belakang.


"Sudah enam bulan. Alhamdulillah masih di kasih rezeki sama yang di Atas, Nang. Gimana nolaknya?" tanya Jaka balik dengan terkekeh.

__ADS_1


Sejurus kemudian, Ayu datang dengan membawa nampan berisi minuman dan berbagai camilan. Ayu pun menatap iba pada mantan suaminya yang terlihat seperti tak baik-baik saja.


"Ayah, apa Ayah lagi sakit?" tanya Alif tiba-tiba yang secara tak langsung mewakili Jaka dan Ayu.


"Nggak, Ayah sehat kok. Memang Ayah kelihatan sakit? Ayah kurusan, ya. Iya Ayah memang lebih kurus sekarang, tapi nggak apa-apa, Ayah sehat," jawab Anang dengan senyuman.


Hal berbeda di tunjukkan oleh Fadil. Raut wajah pria itu nampak suram seakan ada sesuatu yang sedang di sembunyikan. Disaat anak-anaknya sedang asyik dengan Ayahnya, Ayu melipir ke arah Fadil yang duduk di dekat pintu.


"Bisa kita bicara sebentar?" tanya Ayu menyentuh pundak Fadil.


Pria itupun mengangguk cepat dan berjalan keluar rumah mengikuti langkah Ayu. Lalu mereka duduk di kursi teras yang terpisah oleh meja bundar.


"Jujur sama Mbak, ada yang kamu sembunyikan?" Ayu bertanya tanpa basa-basi.


Fadil diam sesaat, menghela nafas dalam dan, "Mas Anang sakit. Nggak lama setelah kecelakaan dan pergi dari rumah, Mas Anang di vonis kanker otak. Dan sekarang sudah stadium akhir."


"Apa?" sahut Ayu begitu lirih, nyaris tak terdengar. "Apa ini alasan kalian tidak pernah ke sini dua tahun terakhir?" tanya Ayu kemudian.


"Sebenarnya kami pernah ke sini, tapi hari itu tepat di hari pernikahan Mbak sama Mas Jaka. Mas Anang nggak mau masuk, karena katanya takut merusak acara Mbak. Aku sudah membujuk dia untuk setidaknya ketemu sama anak-anaknya. Tapi Mas Anang kekeh untuk ngajak pulang. Setelah itu kondisi Mas Anang semakin lama semakin memburuk. Dokter menyarankan untuk operasi, tapi Mas Anang menolak. Dia ngancam kalau aku terus memaksa di operasi, dia nggak mau berobat lagi. Aku nggak ada pilihan lain, selain menuruti apa katanya. Mas Anang sangat sulit diberi tahu. Dia seakan sudah bosan dan tak ada lagi semangat untuk sembuh. Aku tahu jadi Mas Anang tak mudah, aku tak pernah di posisi dia. Itu sebabnya aku sebagai adiknya hanya memberikan yang terbaik buat dia. Berusaha memberikan apa yang dia minta."


"Kenapa kamu nggak bilang sama Mbak? Mbak pasti bisa bantu bujuk dia untuk sembuh."


"Dia minta aku untuk tidak memberi tahu Mbak soal ini. Aku mohon sama Mbak. Jangan bahas ini sama Mas Anang. Atau Mas Anang akan merubah pikirannya lagi. Dia akan operasi beberapa bulan lagi," terang Fadil panjang lebar.

__ADS_1


__ADS_2