Pamit

Pamit
87. Usaha Yang Gagal


__ADS_3

Nafas Dara memburu, dirinya masih berlari sekencang-kencangnya. Mengingat dua pria mabuk yang sedari tadi mengganggunya masih mencoba untuk mengejarnya.


Ya, Dara menyadari jika dirinya hanyalah perempuan biasa, sedangkan dua pria di belakang sana adalah laki-laki. Tak heran jika hal itu membuatnya sungguh sangat kesulitan hanya sekedar menyeimbangkan diri. Mau bagaimanapun juga pria itu terlalu terobsesi untuk mengejarnya.


"TOLONG!!!"


"TOLONG!!!"


"TOLONG!!!"


Berkali-kali Dara berteriak, mencoba untuk meminta pertolongan. Namun sayangnya, tidak ada yang memberi respon apapun. Keadaan pun begitu sepi, mengingat ini sudah sangat malam dan Dara kesulitan mencoba untuk mencari pertolongan.


Dara menatap dua jalan di arah kanan dan juga kiri. Di mana belokan itu akan mengarah ke suatu tempat. Dara memilih belokan kiri, dirinya tidak mencoba untuk mempertimbangkan atau hanya sekedar berpikir panjang terlebih dahulu. Mengingat itu hanya akan membuang waktu juga membahayakannya saja.


Yang harus Dara lakukan saat ini hanyalah satu, terus-menerus berlari.


"JANGAN LARI!!!" teriak salah satu pria dari dua orang pria yang terus mengejarnya, sesekali mereka tertawa seolah menertawakan cara berlari Dara yang begitu pelan.


Padahal kenyataannya mereka masih belum bisa menggapai Dara. Entahlah Dara pun tidak tahu bagaimana dan apa maksud mereka.


Tubuh Dara menegang kala dirinya melihat jalan di depan sana. Jalanan buntu dan gelap. Bahkan, tak ada rumah satupun, hanya ada bangunan besar seperti pabrik dan sudah sangat sepi.


Dara berbalik, dirinya memandang kedua pria yang mulai mendekat ke arahnya. Tatapan Dara sudah berkaca-kaca, dirinya tidak tahu harus melakukan apa dan bagaimana.

__ADS_1


"Hahahaha!!! Bodoh, mengapa pula harus berbelok ke kiri!!" kekeh salah satu pria dari dua pria lainnya.


Dara mengepal kedua tangannya kuat, menatap was-was ke arah dua pria yang tak jauh darinya berada.


Lagi dan lagi Dara kembali berteriak histeris. Berharap ada seseorang yang menghampirinya kemudian membantunya, namun sayang sekali sedari tadi hal itu sungguh sia-sia.


"Untuk apa kau berteriak? Tidak ada yang peduli!" sinisnya menatap tak suka ke arah Dara, "Lagipula ini sudah malam, tak ada yang mau meluangkan waktunya untuk hal tak berguna, lebih baik mereka pergi beristirahat!"


Mendengar itu Dara tidak tinggal diam. Dirinya berjongkok dan mengambil beberapa batu yang ada di dekat kakinya, melemparnya ke arah dimana dua pria itu berada.


"Saya gak punya urusan sama kalian!! Tolong jangan ganggu saya, biarin saya pergi!!" kata Dara susah payah menahan diri untuk tidak menangis, Dara tahu jika dirinya menangis itu hanya akan memperburuk suasana.


"Kamu pikir semudah itu, ha?" tanya salah satu pria terkekeh geli kala mendengar apa yang dikatakan oleh Dara, "Kami sudah mengejarmu sejak tadi, kamu pikir kita mau lepasin kamu begitu sa..,"


"Tapi saya nggak punya urusan dengan kalian, awalnya niat saya baik mau nolong kalian dan mau tanggung jawab buat bantu kalian pergi ke rumah sakit. Tapi apa yang kalian lakukan sama saya? Kalian bertingkah kurang ajar sama saya! Tolong, lepaskan saya, saya benar-benar mohon pada kalian," kata Dara berusaha untuk tetap tenang, sekalipun dirinya merasa kebingungan dengan apa yang harus dirinya lakukan.


"Sudah, jangan dengarkan dia! Tangkap saja dia, dan bawa saja dia! Aku sudah sangat lelah mengejarnya," racau salah satu pria seolah memojokkan temannya itu untuk membawa Dara bersama dengan mereka.


Dara merasa gelagapan, dirinya menggelengkan kepalanya terus-menerus. Mencoba untuk kembali berteriak, meminta pertolongan sekalipun rasanya hal itu sangat amat sulit dan mustahil dilakukan. Apakah masih ada sedikit harapan yang Dara miliki saat ini?


"PERGILAH KALIAN!!!" jerit Dara tak mampu lagi hanya sekedar untuk bernegosiasi dengan mereka. Padahal beberapa saat yang lalu Dara masih mencoba untuk berbicara baik dengan mereka. Namun kini Dara sudah kehabisan cara, dirinya terus menerus berteriak dan menjerit histeris, tangannya tak tinggal diam, mengambil apapun untuk dilempar ke arah mereka.


Namun, lagi dan lagi mereka dapat menghindar, padahal keadaan mereka tengah mabuk berat.

__ADS_1


"Pergilah! Aku tidak memiliki urusan dengan kalian! Jangan ganggu aku," teriak Dara histeris, terus menerus melemparkan apapun yang bisa dirinya lemparkan ke arah mereka.


Sekalipun Dara mulai merasa lelah, namun Dara tak bisa menghentikan apa yang dirinya lakukan.


"Merasa menjadi wanita kuat? Merasa menjadi wanita berani? Itu seperti lelucon, sebenarnya kita bisa menangkapmu saat ini juga, tapi kita masih ingin bermain-main denganmu," kekehnya seolah membanggakan diri.


Dara tidak menghiraukan apa yang dikatakan oleh mereka, Dara terus-menerus melempari mereka semua dengan batu.


Salah satu pria di antara mereka melipat kedua tangannya didada, "Bukankah sangat melelahkan jika kita terus mengulur waktu seperti ini?" gumamnya tak mengerti dengan apa yang sebenarnya mereka lakukan sedari tadi.


Rekannya itu terkekeh sinis, "Bukan seperti itu, terkadang saat kita bermain-main kita tampak merasa jauh lebih senang, itu maksudku sedari tadi," balasnya mencoba untuk meyakinkan.


"Ck! Tapi itu terlalu lama," decaknya sebal, menyandarkan punggungnya di sandaran tembok besar yang ada di sampingnya itu, merasakan pening yang mulai menyerbu kepalanya, mau bagaimanapun juga mereka tengah dalam posisi mabuk sekarang.


Sedangkan di sisi lain, Dara masih belum menyerah, dirinya terus melakukan apapun yang dirinya bisa untuk menyelamatkan dirinya. Dara tidak ingin mereka menangkapnya, apalagi sampai melecehkannya. Sungguh, Dara tidak akan memaafkan siapapun yang mencoba bersikap buruk padanya.


Tubuh Dara sudah mulai bergetar hebat. Sungguh Dara tidak bisa bersikap tenang di sini. Drinya mulai menggila, berteriak meminta pertolongan dan menjerit histeris. Sedangkan dua pria yang tengah mabuk itu memasang raut wajah santai, memandang remeh ke arah dimana Dara berada.


"Cepatlah! Aku sudah mulai lelah, kita harus membawanya, sudah terlalu lama kita mempermainkannya," kata salah satu pria seolah mendesak temannya itu untuk segera membawa Dara pergi.


Temannya itu berjalan linglung menuju ke arah di mana Dara berada, "Kamu tahu ini adalah hal yang paling mudah?" tanyanya dengan senyum menyebalkan, "Sebenarnya kita bisa melakukan hal ini sedari awal, sayangnya kita mencoba untuk terus mengulurnya," sambungnya masih terus meracau.


Dara yang sudah mulai lelah pun mulai menghentikan gerakannya untuk melempari mereka dengan batu.

__ADS_1


Dara mundur perlahan, dirinya menatap was-was seorang pria yang kini tersenyum misterius ke arahnya. Dara sungguh tak tahu harus melakukan apa, hingga tiba-tiba saja pria itu melayangkan satu pukulan ke arahnya, membuat tubuh Dara linglung.


Dara merasakan rasa sakit yang dirinya terima, hingga tiba-tiba saja tubuhnya ambruk dan kesadaran Dara pun perlahan hilang.


__ADS_2