
Tak mudah bagi Rifki untuk menjalani hari tanpa penglihatan dan tanpa bisa berjalan. Meskipun setiap hari ia mendengar suara Dara melalui sambungkan telepon tetap saja merasa dunianya berbeda.
Entah sudah ke berapa kalinya Rifki menjalaninya terapi untuk mengembalikan langkah yang sempat ia hentikan. Kemajuan sedikit demi sedikit ia rasakan. Meskipun lambat, setidaknya ada kemajuan.
Sebenarnya Rifki tak ada keseriusan saat menjalani terapi ini, ia sempat ingin berhenti, karena merasa apa yang ia lakukan adalah sebuah kesia-siaan. Percuma ia bisa berjalan, tapi tidak bisa melihat. Namun, satu kali omelan dari ibunya membuat ia kembali memaksakan dirinya untuk sembuh.
"Kamu ini, kenapa sekarang jadi sedikit-sedikit menyerah. Kenapa jadi sempit dan dangkal pikirannya, heran Ibu. Kamu nggak ada semangat-semangatnya untuk sembuh, kamu nggak menghargai Ibu dan Dara? Nggak kasihan kamu sama dia? Udah menerima kamu dan selalu ada di samping kamu tapi kamu sama sekali nggak balas effort dia. Kamu hanya bersikap manis, tanpa mau berubah. Setidaknya kalau kamu bisa jalan, kamu bisa ke kamar mandi sendiri, jalan sendiri. Bantu Ibu dikit-dikit." Bu Rini mengomel dengan panjang lebar. Omelan ini sudah Rifki dengar beberapa hari yang lalu.
Ucapan itu bagai cambukan untuk Rifki, ia berpikir, benar juga apa yang ibunya katakan. Setidaknya ia bisa meringankan pekerjaan ibunya dengan bisa berjalan sendiri.
Seperti hari ini, untuk kesekian kalinya Dara menemani Rifki untuk terapi. Jadwal Rifki yang sore hari mempermudah Dara, ia tak perlu izin untuk bolos kuliah atau mengganggu jadwal kuliahnya. Ia bisa leluasa jalan berdua dengan pria itu. Bahkan, Dara sampai mati-matian belajar mengendarai mobil hanya demi mengantarkan Rifki ke rumah sakit.
"Makasih, ya udah mau direpotkan. Aku jadi nggak enak sama keluarga kamu. Kayak benalu."
"Ngomong apa, sih, Kak? Baik Ibu ataupun Abang nggak ada yang berpikir seperti itu. Apa yang aku lakukan tidak sebanding dengan pengorbanan kamu buat aku dan juga anak-anak Bang Jaka. Ini nggak ada apa-apanya. Udah, ya jangan mikir yang nggak-nggak."
Seakan sudah menjadi kewajiban bagi Dara, ia selalu memberikan semangat yang berlebihan untuk kekasihnya itu. Tentu saja hal itu membakar semangat Rifki, meskipun ia tak terlalu menampakkan semangat dan senangnya hatinya.
"Alhamdulillah, hari ini terapi bejalan lancar. Apa aku bilang? Kamu pasti akan cepat sembuh. Harus cepat sembuh buat aku, ya." Mereka duduk di taman rumah sakit sebelum memutuskan pulang, menikmati udara menjelang malam nampaknya tak masalah.
"Iya, InsyaAllah. Mudah-mudahan. Makasih, ya udah mau temani aku sampai di titik ini. Kamu ada dan selalu ada di buat aku bahkan disaat aku sedang kehabisan percaya diri."
__ADS_1
"Iya, nggak perlu makasih. Anggap saja ini salah satu ujian untuk menguatkan kita. Biar kita sama-sama kuat untuk menghadapi ujian yang lebih berat lagi nantinya. Ini cara Tuhan untuk menguatkan kita, Kak. Jadi jangan pernah lagi merasa dirimu nggak berguna."
Dara menempatkan tangannya ke punggung tangan Rifki, dengan segera pria itu menggenggamnya erat-erat. Rasanya sudah lama tangan mereka tak saling bertautan seperti ini.
Tangan Rifki yang lain lalu berusaha mencari di mana wajah sang kekasih. Ia ingin menyapanya walau hanya melalui tangan. Mengobati rasa rindu yang sudah menyeruak dalam dada, mungkin saja jika tubuh manusia bisa meledak, Rifki udah hancur menjadi leburan karena saking banyaknya rindu untuk Dara.
Gadis itu mengerti apa yang Rifki cari. Ia segera meraih tangan kekasihnya lalu ia tempatkan pada wajahnya. Tangan itu langsung saja meraba wajah yang mungkin saja sudah semakin cantik.
"Pipinya kok masih tirus? Makan yang banyak biar gembul kayak dulu."
"Nanti aku gendut."
"Nggak, biarpun kamu gendut rasa aku ke kamu nggak berubah. Jangan banyak pikiran dong kamunya. Katanya udah bahagia? Apa sekarang nggak bahagia sama aku?"
"Ya udah jangan kurus-kurus badannya. Pulang, yuk! Nanti kamu kemalaman pulangnya, kamu perempuan, nggak baik kalau udah malam masih di jalan."
Mereka pulang tepat pukul tujuh. Suasana rumah sakit masih ramai, jalanan pun masih padat kendaraan karena memang jam tujuh adalah jam yang masih bisa dibilang sore jika berada di kota.
Waktu berjalan begitu cepat ketika kita bersama dengan seseorang yang kita sayang. Rasanya baru saja tadi sampai di rumah sakit, tapi kini Dara sudah berada di jalan seorang diri menuju ke rumahnya.
"Aduh, macet banget lagi. Apa aku lewat jalan tikus aja, ya? Agak sedikit sepi tapi." Dara ingin cepat sampai rumah, tapi kendaraan sejak tadi hanya merambat saja.
__ADS_1
Disaat Dara sedang menimbang-nimbang ingin melalui jalan mana, getaran di kursi sebelahnya membuat ia mengalihkan perhatian.
"Iya, Bang ini masih di jalan pulang. Ini macet banget, dari tadi merambat aja jalannya. Mau lewat jalan tikus aku takut, kan sepi."
"Di mana? Abang susul. Abang ikuti dari belakang. Jangan berani lewat jalan tikus atau Abang nggak akan kasih izin kamu buat nemenin Rifki. Share lokasi, Abang nggak tenang kalau kamu malam-malam belum pulang."
"Iya bawel."
Beberapa menit setelah menerima panggilan dari Jaka. Mobil perlahan mulai sedikit lebih lengang. Mobil berjalan tak sepelan tadi, dan akhirnya setelah lebih dari satu jam berada dalam kemacetan, Dara terbebas dan leluasa berkendara.
Merasa sudah bisa berjalan dengan nomal, Dara menghubungi sang Kakak untuk tak perlu menyusul.
"Ha? Udah bisa cepet jalannya? Ya udah ini Abang juga lagi di bengkel, ban pecah kena paku kayaknya. Hati-hati di jalan, ya! Ngebut tapi tetap dalam haluan, biar selamat. Ini sudah malam, nggak baik buat kamu masih keliaran di luar."
Dara sampai di ujung jalan raya, ia melewati jalanan yang cukup sepi, hanya ada beberapa pengendara mobil dan motor yang berlalu lalang. Bangunan dan rumah pun nampak tak serapat tadi.
Ciiiittt
Dara menginjak rem kuat-kuat saat tiba-tiba dua orang pria menyebrang jalan kurang memperhatikan keadaan sekitar. Tanpa berpikir yang tidak-tidak, Dara turun dan melihat kondisi pria yang hampir ia tabrak.
"Mas, nggak apa-apa, kan? Apa ada yang luka? Mau saya bawa ke rumah sakit?" cerca Dara.
__ADS_1
Kedua pria itu saling pandang lalu tertawa. Dara terkejut dan mendadak takut. Ia mendengar ocehan yang tak jelas dari kedua pria itu. Perlahan-lahan ia mundur karena sadar mereka sedang mabuk.
"Eits, mau ke mana? Kita belum kenalan," ujar salah satu pria dengan mencekal tangan Dara.