
Beberapa hari setelah bertemu sesaat denganĀ pria yang sudah melecehkan Dara, ia mendapat kabar dari temannya bahwa pria itu sudah tertangkap. Dan ternyata a adalah seorang buronan yang sudah dicari oleh pihak kepolisian beberapa minggu belakangan ini. Entah karena kasus apa Rifki tak peduli dan tidak akan pernah peduli. Baginya, ia sudah ditangkap polisi dan di penjara sudah cukup tak peduli urusan pribadinya dan juga bertemu dengannya, lebih baiknya mencari uang untuk bekal menikah daripada menemumui pria bejat itu. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk meninggalkan masa lalu.
Waktu memang terasa begitu cepat berlalu ketika seseorang sedang bahagia. Lagi-lagi ungkapan tak terasa adalah dua kata yang cocok digunakan untuk situasi Rifki. Memang Rifki tak menyadari bahwa waktu terus berjalan hingga tak terasa satu tahun sudah ia berjibaku dengan pekerjaan yang menuntutnya untuk segera menghalalkan Dara.
Pekerjaan yang Rifki dari dulu tak jauh-jauh dari uang, jika dahulu ia bekerja di pegadaian, sekarang ia bekerja di sebuah bank.
Seperti biasa, Rifki selalu menjadi pusat perhatian berapa orang, terlebih lagi para wanita. Perpaduan kulit putih mulusnya, ketampanannya, bentuk tubuhnya yang gagah, ditambah lagi dengan seragam bank membuat pria itu tampak benar-benar sempurna. Di manapun dan kapanpun pun pria yang mendapat gelar perjaka tua itu harus menjaga pandangan, menata hati dan juga menata kata-kata untuk menenangkan kekasihnya. Seperti sekarang ini, mereka berdua duduk di sebuah kedai sederhana dekat tempat Rifki bekerja. Dara yang bekerja melanjutkan usahanya untuk menjual online barang-barang milik Ayu membuat gadis itu fleksibel untuk mengikuti jadwal makan siang Rifki.
"Gimana kalau kita ketemu di kuburan aja, biar kamu nggak ngambek-ngambekkan begini. Masa udah setahun berlalu tetap aja nggak ngerti, bahkan setahun lebih masih aja ragu sama cinta aku. Biarlah mereka melirik ke aku aku, kan aku nggak. Yang penting, kan fokus aku masih di kamu."
"Biar apa ketemu di kuburan? Biar dilihatin sama kuntilanak, terus diikutin ditaksir, ditidurin gitu."
"Allahu akbar, emang kamu mau aku di *****-***** sama kuntilanak ngomongnya gitu bener. Makanya kalau diajak nikah itu buruan mau, kamunya entar-entar mulu. Kalau orang lihat kita ada cincin di jari kamu di jari aku, mereka juga nggak bakal lihat-lihat, kok. Kamu jangan terlalu cemburu gitu, Dek. Kesannya kamu kayak nggak percaya sama aku."
"Kok kamu jadi ngomel? Padahal aku ngetemu mau ngasih kabar baik."
"Apa? Kamu sudah siap aku lamar? Kapan?" tanya Rifki antusias.
"Kok, Kakak tahu? Ih dukun, ya," ujar Dara berusaha mencairkan suasana yang sempat tegang.
__ADS_1
"Iya, kan aakb dukun sakti yang bisa mengatasi kerewelan kamu. Jadinya kapan?" Rifki kembali bertanya setelah menyuapkan dari sendok penuh nasi ke dalam mulutnya.
"Kakak lupa bulan depan aku ulang tahun? Ulang tahun yang ke berapa coba aku tanya." Dara mengetes daya ingat kekasihnya itu.
Seketika Rifki tersedak dengan makan yang ia kunyah. Seakan pertanyaan yang diajukan oleh Dara adalah hal yang menyeramkan dan mematikan.
"Lupa pasti, makanya langsung keselek, kan?"
"Nggak, aku nggak lupa. Bulan depan kamu ulang tahun yang ke dua puluh empat. Itu artinya kurang lima harian lagi? Mendadak banget, Dek. Saudara-saudara, kan perlu di kasih tahu juga."
"Ya udah, kasih tahu dari sekarang. Kalau belum siap, undur tahun depan juga nggak apa-apa."
Untuk yang kedua kalinya, Rifki kembali tersedak. Kali ini ia tersedak minumannya. Mendengarkan ucapan Dara membuat Rifki ingin menjatuhkan diri ke jurang. Bagaimana bisa gadis itu mengatakan dengan mudahnya bahwa jika ia belum siap bisa diundur tahun depan. Untuk sampai ke titik ini saja, Rifki harus meluaskan sabarnya dengan amat sangat tersiksa.
"Oh, ya aku lupa. Ini aku dapat dari rekomendasi temen-temen bajunya bagus-bagus. Lihat, deh. Untuk dekor, nanti aku sendiri sama Mbak Ayu aja. Dia menawarkan diri untuk bantu, make up juga sama dia aja katanya." Dara menggeser ponselnya yang ia letakkan di atas meja.
Rifki meraihnya dan mengamati gambar demi gambar yang tersimpan di galeri ponsel gadisnya itu.
"Kamu mau yang mana? Jangan pink, ya. Please, Dek. Bisa jatuh harga diri aku di depan sepupu sama Mbak Riana. Di nikahan juga jangan pink, temen-temenku yang sekarang pada julid. Aku nggak mau jadi bahan olokan se bank."
__ADS_1
"Kok jadi Kakak yang bawel. Ya udahlah, dari pada ribut, aku nurut aja. Aku akan pilihkan warna yang nertral."
Dan hari itu benar-benar terjadi, Rifki dan keluarganya duduk di ruang tamu yang besar menunggu Dara yang masih bersiap di kamar.
Rifki duduk menunggu dengan santai dan biasa saja, hingga akhirnya kesantaian itu berubah menjadi kegaduhan dalam jantungnya. Dara sudah selesai dengan make up nya, ia didampingi Ayu keluar kamar dan duduk di depan Rifki, namun dipisahkan oleh beberapa jamuan yang tersedia di sana.
Rifki tak berkedip, tatapannya terfokuss pada Dara yang memakai kebaya senada dengan kain batiknya. Kain berwarna biru cerah secerah hatinya, mampu membuat Rifki terhipnotis oleh keanggunan Dara yang sebelumnya tak pernah ia lihat. Bukan berarti Dara selama ini tidak Anggun atau cantik. Sebelum hari ini Dara selalu berpenampilan sederhana dan dengan make up tipisnya. Itu saja sudah cukup membuat Rifki terpesona apalagi hari ini. Ayu benar-benar merubah Dara bak bidadari Surga.
Plak!
Satu pukulan di dengkul Rifki membuat ia tersentak dari tempatnya. Ia menoleh pada sang Kakak yang duduk di sebelah kanannya, menatapnya dengan raut wajah kesal.
"Ngomong Rifki ngomong, jangan cuma diliatin doang."
"Ngomong apa?" Rifki bingung.
"Kan selama di mobil kamu tadi menghafalkan teks dari Mbak gimana, sih. Ya udah teks kamu apalin dari tadi bilang ke Dara." Kakak beradik itu ribut dalam bisikan.
"Acaranya belum dimulai, kan?"
__ADS_1
"Kalau belum dimulai ngapain aku dari tadi nepuk-nepuk kamu? Nyuruh kamu buat ngomong sama Dara sama keluarganya. Udah dimulai dari tadi Rifki. Makanya fokus ke acara, banyak orang ini jangan malu-maluin."
Rifki mendadak bingung, ia melupakan kata-kata romantis yang disusun oleh kakaknya semalam. Bagaimana bisa acara dimulai tapi ia tidak tahu? Nampaknya ia kini sedang merutuki dirinya sendiri karena tak fokus pada acara hanya fokus pada wanita di depannya saja. Hal itu terbukti dari Rifki yang menelan ludahnya dengan susah payah. Ia benar-benar lupa dan tak tahu apa yang harus ia ucapkan. Kegugupannya semakin bertambah tatkala semua pasang mata menatap dirinya.