Pamit

Pamit
93. Histeris lagi


__ADS_3

Dara sama sekali tidak bisa didekati oleh Romi. Sungguh sedari tadi Dara terus menerus berteriak histeris karena Romi berusaha untuk bertanya kepada Dara perihal apa yang sebenarnya terjadi pada Dara.


Alhasil, Lia memutuskan untuk membawa Dara ke rumah saja. Lia rasa keadaan Dara sungguh tidak baik-baik saja. Lia yakin Dara sedang tidak ada di posisi baik, karena itu Lia memutuskan untuk mencoba membuat Dara lebih tenang.


Dan, ya! Di sinilah Lia berada bersama dengan Dara, tepatnya di rumahnya Lia.


Lia mulai mendudukkan Dara di sofa yang ada di kamarnya. Sesaat Lia menatap Dara lekat, mencoba untuk mengamati raut wajah Dara juga sorot mata yang Dara pancarkan.


Sangat terlihat jelas, jika ada banyak hal yang terjadi pada Dara, namun Lia tidak berani untuk bertanya.


Sekalipun Dara tidak mengatakannya. Dara bisa menebak akan apa yang sebenarnya terjadi kepada Dara. Dirinya sama seperti Dara, dirinya seorang wanita, dirinya tahu apa alasan Dara bersikap seperti sekarang ini. Apalagi pada saat di kedai tadi, di mana Romi berusaha untuk mendekati Dara dan menanyakan sesuatu hal kepada Dara, namun Dara semakin histeris. Hal itu membuat Lia yakin akan dugaannya pada saat pertama kali melihat Dara.


"Aku ambilin air buat bersihin kamu, ya? Kamu tunggu di sini," kata Lia.


Lia berjalan menuju di mana kamar mandi berada. Mengambil air dan juga handuk kecil yang akan dirinya gunakan untuk membersihkan tubuh Dara.


Sungguh, Lia merasa sangat amat terkejut, melihat keadaan Dara yang sangat memprihatinkan. Entah bagaimana cara dirinya menjelaskan, namun sorot mata yang Dara pancarkan, raut wajah  dan juga rasa panik Dara saat Romi menghampirinya, hal itu cukup membuktikan jika Dara sangat amat tersiksa dengan ingatannya.


Hati Lia terasa begitu sakit, apalagi penampilan Dara dan pakaian yang Dara kenakan sangat kotor, terdapat banyak lumpur di sana, maka dari itu Lia mencoba untuk membantu Dara membersihkan tubuhnya.


Tak lama dari itu, Lia kembali keluar dari dalam kamar mandi, dengan membawa seember air dan juga handuk kecil berwarna putih di tangannya.


Lia segera menghampiri Dara, tersenyum ke arah Dara sekalipun Dara tidak merespon itu semua.


Dara hanya memandang lurus ke depan, seolah dalam kepalanya memutar banyak kejadian yang membuat Dara seperti sekarang ini.

__ADS_1


"Aku bersihin tubuh kamu ya," kata Lia mulai membersihkan kotoran-kotoran dari tubuh Dara yang terdapat banyak lumpur, termasuk di pakaiannya.


Tangan Lia bergerak, membuka pakaian Dara dan mencoba untuk terus membersihkan tubuh Darah yang kotor. Lia tidak berani untuk sekedar bertanya, dirinya terlalu sungkan dan merasa kasihan kepada Dara, alhasil ia memilih untuk diam.


"Aku ambil baju buat kamu pakai, ya," kata Lia bangkit dari duduknya, dirinya berjalan untuk mengambil gamis miliknya.


Tak lama dari itu, Lia pun kembali, dirinya memakaikan Dara gamis.


Lia memandang Dara sesaat, dirinya mencoba untuk menatap Dara dengan tatapan yang begitu sulit diartikan. Tak lama dari itu Lia pun buka suara, "Nggak masalah, sekarang kamu aman. Kamu bakal baik-baik aja, yang tenang ya?" bisik Lia mengusap lengan Dara dengan penuh perasaan, namun lagi dan lagi Dara tidak memberikan respon apapun.


Dara seperti mayat hidup, ya itulah Dara saat ini. Lia menyadari jika Dara seolah kehilangan dirinya saat ini, bukan hanya arah tujuan saja, namun juga arah kehidupan. Entah apa yang harus Lia lakukan, namun Lia tidak bisa berusaha untuk melakukan apapun selain bersikap lembut dan penuh ketulusan kepada Dara, mungkin dengan hal itu dirinya bisa membantu sekalipun kecil kemungkinan dirinya dapat membantu.


***


Sementara itu, Jaka masih merasa sangat kalut, dirinya tidak bisa menemukan keberadaan adiknya. Ditambah lagi istrinya yang tidak sepemikiran dengannya, sungguh hal itu membuat Jaka merasa sangat tertekan.


Tanpa berpikir panjang, Jaka segera menerima panggilan itu.


"Ada apa?" tanya Jaka tidak ingin berbasa-basi lagi. Semua hal yang terjadi padanya sedari malam sudah cukup membuat Jaka merasa penat. Dirinya tidak ingin hanya sekedar berbincang bersama dengan Romi terlalu lama. Menurutnya itu semua sungguh tidaklah membuatnya berguna.


"Dara ada di rumah," kata Romi.


Tanpa berpikir panjang, Jaka memutuskan sambungannya secara sepihak, dirinya langsung bangkit dari duduknya, dan pergi untuk memasuki mobilnya, melesat ke rumah Romi.


Jaka tidak membayangkan hal buruk terjadi kepada adiknya, karena Romi pun tidak mengatakan apa-apa, membuat Jaka merasa sedikit lebih tenang. Tidak mengatakan apa-apa? Bukan Romi yang tak mau mengatakan, tapi Jaka tak memberinya kesempatan untuk menjelaskan.

__ADS_1


Jaka terus mengemudi mobilnya dengan kecepatan penuh. Dirinya sungguh tidak sabar untuk melihat adiknya itu dan bertanya ke mana adiknya itu pergi semalam.


Jaka terus menggerutu di dalam mobil, dirinya menekan klakson berkali-kali, berharap mobil yang ada di hadapannya itu cepat melaju.


Dan, ya. Sedikit demi sedikit mobil itu mulai melaju, kemacetan mulai menghilang di jalanan ini, dan Jaka pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dirinya mendahului mobil-mobil yang ada di hadapannya itu, melaju sekencang mungkin, masih memikirkan apa yang sebenarnya terjadi kepada Dara, adiknya.


Beberapa menit berlalu, akhirnya Jaka menghentikan mobilnya tepat di kediaman rumah Romi dan juga istrinya. Jaka segera bergegas untuk turun dari mobil saat setelah membuka sabuk pengamannya, kemudian dirinya berlari sekuat yang ia bisa, untuk pergi ke pintu utama.


Jaka terus-menerus menekan bel rumah, dirinya sungguh tak sabar hingga melakukannya berkali-kali. Jaka sampai tidak peduli jika orang di dalam rumah akan sangat terganggu dengan itu semua.


Hingga tak lama dari itu, pintu pun terbuka. Jaka melihat Lia yang tampak menatapnya dengan sorot mata yang begitu sulit diartikan.


"Di mana Dara?" tanya Jaka tanpa ingin berbasa-basi lagi, dirinya sungguh merasakan rasa khawatir yang semakin menggebu-gebu dalam dirinya.


Untuk sesaat, Lia menatap ragu Jaka, namun tak lama dari itu Lia pun buka suara, "Dara ada di dalam kamar," balas Lia dan tanpa berpikir panjang lagi, Jaka pun berlari sekuat yang ia bisa, menuju kamar yang Lia maksud. Dirinya ingin segera menemui adiknya itu, melihat bagaimana keadaan adiknya saat ini.


Pintu terbuka, Jaka bergegas menghampiri Dara, "Dara, ka.."


"PERGI!!!" teriak Dara histeris sembari terus melangkahkan kakinya mundur, menghindar dari Jaka.


Seketika tubuh Jaka menegang, melihat adiknya itu tampak ketakutan olehnya.


"Dara ini..."


"JANGAN SENTUH AKU!!! PERGI!!!" Jerit Dara sekali lagi.

__ADS_1


Lia yang mendengar itu pun segera menghampiri mereka di dalam kamar.


"Lebih baik kamu keluar dulu, karena itu juga nggak bakal baik buat Dara," kata Lia berusaha untuk membuat Jaka mengerti dengan situasi yang sedang terjadi saat ini.


__ADS_2