
"Saya ingin melaporkan kasus penculikan yang terjadi kepada adik saya sendiri. Bisakah tim kepolisian segera memprosesnya?" tanya Jaka tanpa ingin berbahasa-basi lagi. Dirinya mencoba untuk sebaik mungkin berbicara dengan tutur kata yang sopan. Sekalipun perasaannya sudah sangat tidak karuan. Jujur saja Jaka tidak bisa terus-menerus berpikiran positif, jika bukti-bukti yang dirinya temukan saja sudah cukup membuat dirinya berpikir pada sesuatu hal yang lebih mengarah ke arah negatif.
"Baik, Pak! Jadi kapan terakhir kali adik anda terlihat?" tanya seorang pria di seberang sana.
Lalu, semuanya mengalir dari mulut Jaka. Ia menceritakan semuanya pada polisi yang dirinya hubungi. Dimulai dari dirinya yang telah berbincang dengan adiknya lewat pesan teks beberapa jam yang lalu, hingga pada saat adiknya itu menolak untuk dirinya datang.
Ya, Jaka menceritakan semuanya tanpa terkecuali.
"Maaf, Pak! Laporan masih belum bisa diproses jika belum 2x24 jam, jadi Anda masih harus menunggu hingga waktu yang telah ditetapkan."
Jaka menganga tak percaya kala mendengar respon seperti itu dari pihak kepolisian.
Jaka menghela nafas berat, "Maafkan saya, hanya saja adik saya menghilang malam ini. Apa saya masih harus menunggu 2x24 jam untuk melapor? Saya sungguh akan kehabisan waktu jika harus menunggu selama itu. Apalagi saya tidak tahu bagaimana keadaan adik saya sekarang, sungguh saya membutuhkan bantuan kepolisian," kata Jaka masih mencoba untuk bersikap tenang. Sekalipun dalam dirinya Jaka merasakan rasa kesal dan juga marah yang dirinya miliki sekarang.
"Maafkan kami, Pak! Hanya saja, kami pihak kepolisian pun memiliki peraturan, jadi kami..."
Tanpa menunggu apa yang akan dikatakan oleh kepolisian, Jaka langsung memutuskan sambungannya begitu saja. Dirinya sungguh merasa sangat amat kesal, tak tahu harus melakukan apa.
Bayangkan saja, dirinya melapor untuk menyelamatkan adiknya. Namun kepolisian menyuruhnya untuk menunggu selama itu, padahal semuanya bisa saja menjadi berantakan kala mereka harus menundanya.
Lagi dan lagi Jaka menghela nafas berat, tidak ada yang bisa dirinya lakukan selain mencoba untuk memikirkan jalan keluarnya sendiri.
__ADS_1
Jaka kembali melangkahkan kakinya ke sana dan kemarin. Berharap jika dirinya bisa menemukan adiknya itu, namun hasilnya lagi dan lagi gagal, Jaka sama sekali tidak menemukan keberadaan adiknya, itu membuat Jaka merasa begitu kalut.
Akhirnya, Jaka berjalan kembali mendekat ke arah mobil milik adiknya itu, mencoba meraih tas milik Dara untuk dirinya bawa pulang. Bersamaan dengan itu, ponsel Dara yang berada di dalam tas kembali berdering, membuat Jaka segera meraih ponsel milik adiknya itu, ternyata panggilan dari Rifki.
Tidak ingin membuat Rifki dan juga ibunya khawatir, Jaka memilih untuk mengabaikannya saja.
Jaka berjalan sembari membawa tas milik Dara di tangannya, dirinya masuk ke dalam mobil, tak lupa memasangkan sabuk pengamannya, masih tak menyangka jika dirinya akan pulang dengan tangan kosong. Sesaay sebelum pergi, ia meminta tolong pada salah satu teman yang rumahnya tak jauh dari sana, ia minta bantuan untuk mengambil motornya.
"Ambil motir gue, ya. Tolong, ntar lagi gue share lokasi."
Jaka melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Dirinya sungguh merasa sangat amat panik, tidak tahu lagi harus melakukan apa, mengapa semuanya terjadi secara tiba-tiba? Dan lagi, Jaka masih merasa sangat kesal pada dirinya sendiri yang bahkan tidak mampu hanya sekedar menjaga adiknya sendiri. Bukankah seharusnya Jaka mengikuti adiknya dan memilih untuk tidak mendengarkan apa yang dikatakan oleh Dara? Mungkin dengan begitu semuanya pasti akan baik-baik saja.
"Ck!" decak Jaka sungguh merasa kesal dengan apa yang terjadi hari ini.
Beberapa menit berlalu, akhirnya Jaka sampai di depan rumah miliknya. Saat itu juga dirinya keluar dari dalam mobil, masuk ke dalam rumah disambut oleh ibunya yang tampak memasang raut wajah khawatir, sembari menatap Jaka dengan tatapan penuh tanya.
"Gimana? Apa Dara ketemu? Apa Dara baik-baik aja? Dara ada kan?" tanya Bu Lin bertubi-tubi, seolah sudah sangat tak sabar menantikan jawaban apa yang akan Jaka lontarkan.
Jaka menundukkan kepalanya, sungguh dirinya tidak akan tega untuk mengatakan hal demikian pada ibunya. Namun jika dipikirkan lagi semua ini memang harus dirinya katakan. Ibunya pun berhak tahu, ditambah lagi Jaka merasa jika tidak sepantasnya dirinya menyembunyikan hal besar dari ibunya.
Perlahan, Jaka mulai mendongakkan kepalanya, menatap ibunya itu dengan sorot mata yang begitu sulit diartikan, "Aku udah coba cari Dara, tapi yang aku temuin bukannya Dara, tapi mobilnya. Aku nggak tahu di mana Dara," kata Jaka mencoba menjelaskan, "Dan lagi, aku lihat ada gelang yang jatuh di tanah, gelang ini mirip punya Dara, sangat persis!" sambung Jaka menyerahkan gelang itu pada ibunya.
__ADS_1
Bu Lin menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan, dirinya sungguh sangat terkejut.
Kemudian, sebelah tangannya terulur, meraih gelang yang ada di tangan Jaka, mengamatinya dengan penuh ketelitian.
"Iya, ini gelang Dara, ini emang gelang Dara, ibu yakin!" kata Bu Lin saat dirinya menyadari jika gelang yang ditunjukkan oleh Jaka adalah milik Dara.
Kedua mata Bu Lin sudah berkaca-kaca, tak tahu harus melakukan apa.
"Bagaimana ini? Ibu takut terjadi sesuatu sama Dara, apalagi ini sudah malam," ujarnya merasa sangat amat panik.
Sekalipun Jaka merasa sangat khawatir, namun Jaka rasa tidak seharusnya dirinya bertingkah seolah kesulitan. Sungguh dirinya tidak ingin membuat ibunya merasa terkejut.
"Ibu tenang aja, kita pasti bisa cari Dara, dan aku yakin Dara baik-baik aja," kata Jaka dengan tutur kata selembut mungkin, "Sekarang ibu istirahat dulu, ya? Biar aku sendiri yang coba buat cari Dara," kata Jaka mencoba membujuk ibunya itu.
Namun, Bu Lin menggelengkan kepalanya tegas, "Nggak! Ibu mau ikut cari Dara, ibu nggak mau istirahat kalau Dara masih belum ketemu," ujarnya seolah tidak ingin melakukan apa yang dikatakan oleh Jaka, putranya itu.
Jaka menatap ibunya itu dengan sorot mata yang begitu sulit diartikan. Susah payah Jaka menahan sesuatu dalam dirinya, berharap dirinya mampu menahan diri dan menghiraukan apapun yang membuatnya merasa lemah di sini.
Jaka tidak boleh tampak terlihat lemah di hadapan ibunya. Jaka harus tegar dan membuktikan jika dirinya adalah anak laki-laki yang kuat dan dapat dipercaya.
Jaka menghela nafas berat, "Ibu tolong istirahat dulu, aku janji bakal cari Dara sampai ketemu. Kalau Ibu nggak tidur mungkin aku semakin ngerasa khawatir sama Ibu juga Dara," kata Jaka lagi dan lagi mencoba untuk membuat sang ibu mengerti dengan apa yang dirinya katakan saat ini.
__ADS_1
Jaka tahu, tidak mudah melakukan itu. Spalagi ibunya pasti sangat amat merasa khawatir dengan apa yang dikatakan oleh Jaka, kehilangan Dara tentu merupakan sesuatu hal yang paling menyakitkan.
"Gimana bisa Ibu pergi istirahat dan tidur dengan tenang, jika Ibu sendiri ngerasa khawatir sama putri Ibu yang hilang?"