Pamit

Pamit
72. Firasat


__ADS_3

Waktu bergulir begitu cepat tanpa diminta. Tak terasa esok hari adalah hari di mana Anang berada di posisi antara kematian dan kesempatan untuk kembali sembuh. Hari ini Anang akan bermalam di rumah sakit untuk memantau kondisinya sebelum operasi.


"Udah, siap Mas?" tanya Fadil membuka pintu kamarnya.


"Udah, kita ke rumah Ayu dulu, ya. Mau pamit sama anak-anak," jawab Anang dengan tatapan kosong.


Fadil sebenarnya merasakan hawa tak enak sejak kemarin. Namun, untuk penyebabnya Fadil sendiri tak tahu, ia merasa ingin menangis dengan alasan yang tak jelas. Sungguh Fadil tak bisa meraba apa sebenarnya yang ia rasakan.


"Galuh udah kamu hubungi untuk datang nanti malam? Adik-adik aku harus datang untuk menemani, biar aku juga merasa tenang."


"Udah, nanti malam mau ke sini, kok. Mas tenang aja, fokus aja sama operasi, semua udah aku atur."


Fadil mulai mendorong kursi roda sangat Kakak. Sejak beberapa bulan terakhir, Anang tak pernah melepaskan jari jemarinya untuk bertasbih. Tasbih berwarna coklat hadiah dari pemberian Ayu beberapa tahun silam. Untunglah ia masih menyimpan satu kenang-kenangan dari mantan istrinya.


'Kenapa musibah datang disaat kamu sudah berubah, Mas? Disaat aku juga mulai sadar dengan kehadiran keluargamu, aku juga kehilangan Ibu. Aku kehilangan sosok Ibu dan Ipar yang keibuan dalam waktu bersamaan. Apakah aku juga termasuk dalam hukuman Tuhan?'


Tak terasa sudut netra Fadil meneteskan air mata. Merasakan kepedihan yang tak terukur oleh angka, sakit yang teka bertepi, dan sedih yang tak berujung.


Anang merogoh sakunya begitu mobil melaju menggilas aspal. Mengeluarkan selembar kertas dan menyodorkannya pada Fadil.


"Apa, Mas?" tanya Fadil dengan mengerutkan kening, namun tetap menerima kertas tersebut.


"Jangan dibuka! Jangan coba-coba lancang untuk ingin tahu isinya. Berikan itu pada Ayu ketika aku sedang operasi. Dan katakan padanya, untuk jangan di buka sebelum dia tahu bagaimana hasil dari operasi yang aku jalani."


"Maksudnya gimana, sih Mas? Kenapa nggak kamu kasih aja ke Mbak Ayu pas selesai operasi nanti? Bikin ribet aja," protes Fadil.


"Nggak usah bawel. Kasih aja, dan sampaikan pesan dariku. Bisa jadi ini amanah terakhir dari, Masmu ini."


Fadil diam seketika, ia tak lagi membantah atau protes ketika Anang sudah berkata ke arah kematian. Fadil sudah hapal, perdebatan yang akan mereka lakukan malah berbuntut panjang dan emosi Fadil.

__ADS_1


Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang dan membosankan, akhirnya mereka sampai di rumah Ayu. Nampak sepi, karena memang ini adalah hari kerja. Hanya nampak Ayu yang bermain main dengan ke empat anaknya di teras dengan perut yang semakin besar.


"Assalamualaikum." Anang dan Fadil kompak memberi salam.


"Waalaikumsalam," jawab Ayu kesusahan bangkit dari duduknya karena membawa beban berat. Hal itu membuat ingatan Anang kembali ke masa lalu saat mantan istrinya itu hamil anak pertama mereka.


"Ayo masuk!" ajak Ayu kemudian.


"Kita di sini aja, Yu. Nggak ada Jaka nggak enak. Lagi pula anak-anak juga main di sini. Aku akan main dengan mereka."


Ayu mengangguk, "Agil, Anin ayo salim sama Ayah dan Om Fadil. Ghina sama Ghiani juga salim sama Om. Agil ajak adik-adinya, Sayang. Ibu ke dalam sebentar." Ayu beranjak masuk ke dalam rumah.


Ke empat anak itu mencium punggung tangan Anang dan Fadil bergantian. Lalu kedua pria itu memberikan hadiah berupa mainan dan snack untuk mereka.


Melihat kebahagiaan dan kecerian anak-anak yang Ayu besarkan membuat Anang merasa bersyukur. Ia merasa tak salah memilih Ibu untuk anak-anaknya. Sekarang ia tahu kenapa dahulu ia begitu kekeh dan ngotot untuk menikah dengan wanita itu. Ternyata memang Ayu adalah wanita terbaik yang ia punya. Wanita yang mampu menjaga keturunannya dengan baik dan benar.


"Kok tumben, ya udah sini ayah pangku." Anang membawa Agil ke dalam pangkuannya, tubuh kurus Anang membuat anak kecil itu menatap iba sang Ayah.


Sementara Anin yang tak terlalu kenal dengan sang Ayah hanya menatap lekat Agil dan ayahnya itu. Lalu sejenak kemudian anak cantik itu melanjutkan bermain, namun sedikit sendu.


"Anin mau di pangku juga sama Ayah?" tanya Anang dengan lembut, namun dijawab gelengan kepala oleh anak itu.


Fadil yang selama ini tak mengenal dekat dengan sang keponakan sedang berusaha untuk mengambil hati mereka agar bisa dekat. Pria itu baru sadar akan kesalahannya, sifat acuh yang ia pelihara ternyata berbuntut penyesalan yang dalam.


"Mas, Fadil ini minuman sama camilannya." Ayu kembali dengan nampan yang berisi penuh minuman dan camilan. "Agil, udah besar nggak boleh minta pangku Ayah begitu, turun!" ujar Ayu berjalan mendekati Anang.


"Biarkan saja, mungkin dia rindu padaku. Aku masih bisa dan masih kuat."


Ayu mengangguk canggung dan duduk di lantai dekat Fadil. Ia senang melihat perubahan laki-laki yang sudah ia anggap adiknya sendiri.

__ADS_1


"Oh, ya Yu. Maksud kedatangan aku ke sini aku hanya memberi tahu kamu, kalau besok aku akan melaksanakan operasi. Aku mau minta maaf sama kamu, barangkali ada kesalahan yang masih membekas di hatimu aku mangharapkan sebuah ampunan." Mata Anang mulai berkaca-kaca.


"Aku sudah melupakan semuanya, Mas. Aku sudah memaafkan kamu, mudah-mudahan semuanya berjalan dengan lancar dan kamu segera pulih kembali untuk menata semuanya dari awal."


"Alhamdulillah kalau begitu. Aku bisa pergi dengan tenang."


Ucapan Anang sontak saja membuat Ayu sedikit berpikir yang tidak-tidak. Namun, sesaat kemudian ia berusaha menghilangkan pikiran itu.


Tak lama setelah mengatakan itu, Anang dan Fadil pamit pulang. Anang harus ke rumah sakit untuk di pantau keadaannya sebelum operasi.


"Agil, Ayah minta maaf sama Agil kalau selama ini jadi Ayah yang gagal. Ayah nggak bisa jadi Ayah yang baik buat Agil. Tapi sekarang Agil sudah dapat pengganti Ayah yang baik, Ayah yang sayang sama Agil. Apa Ayah dimaafin?"


"Iya, Ayah. Aku memaafkan Ayah. Kata Ibu, kalau ada orang yang salah sama kita, dan dia minta maaf kita harus berbesar hati untuk memaafkan."


"Anak cerdas. Sekarang kamu turun, gantian Ayah mau ngomong sama adik Anin juga." Alih-alih turun dari pangkuan Anang, Agil justru memeluk Anang dengan erat. Pria yang sejak tadi dengan susah payah menahan tangis hanya mampu mendekap anak keduanya dengan erat dan mendaratkan kecupan di wajahnya. Beberapa saat kemudian Agil baru benar-benar turun dari sana.


Anin yang sedikit susah dekat dengan Anang harus di gendong dan dibujuk dahulu oleh Fadil.


"Kamu pasti bingung, ya. Nggak apa-apa. Kamu masih terlalu kecil saat itu, jadi wajar kalau kamu kurang paham sekarang. Tapi tak apa, nanti biar Ibu yang akan menceritakan soal Ayah, ya. Ayah minta maaf sama kamu, ya sayang." Anang melakukan hal yang sama pada Anin. Memberikan kecupan dan pelukan hangat. Nampak Anin yang diam saja.


"Kamu sendiri yang akan menceritakan dirimu pada Anin, Mas. Jadi berjanjilah padaku untuk kembali demi membayar hutang cerita pada Anin."


"InsyaAllah, aku tidak berjanji untuk itu. Oh, ya. Aku dan Fadil harus ke rumah sakit. Sampaikan permohonan maafku untuk anak sulungku dan Jaka, ya."


"Akan aku sampikan, Mas."


Fadil mulai memutar kursi roda, namun tiba-tiba Anang berucap, "Yu, kalau bisa besok datanglah ke rumah sakit. Aku hanya ingin banyak orang yang akan mengantarkan aku."


Ayu hanya mengangguk dengan perasaan yang tak enak.

__ADS_1


__ADS_2