Pamit

Pamit
97. Awal Yang Baik


__ADS_3

"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam. Kamu sendirian?" tanya Bu Rini yang tidak seketus tadi.


"Iya, Bu. Aku sendirian."


Mereka berdua lalu masuk ke rumah dan duduk di sebuah kursi yang sama. Di detik berikutnya, Bu Rini bangkit ingin membuatkan sesuatu di dapur namun sayangnya Ayu menolak dengan halus. Obrolan kali ini lebih penting daripada minuman.


"Mungkin Ibu bertanya-tanya kenapa kamu menghilang tanpa kabar. Sebelumnya, saya atas nama keluarga minta maaf. Jadi, enam bulan yang lalu saat Dara baru saja pulang dari rumah ini. Dara mengalami kemacetan di sebuah jalan dan hingga larut. Mas Jaka waktu itu sudah berniat ingin menjemputnya tapi di tengah jalan ban bocor sehingga terpaksa ia membelokkan motornya ke bengkel. Dan di saat Mas Jaka masih di bengkel Dara menghubungi Mas Jaka untuk tidak perlu menjemputnya Karena dia sudah berhasil keluar dari kemacetan itu. Tapi sayangnya terjadi sesuatu dengan Dara, hingga saat ini pun kami tidak tahu kejadian persisnya bagaimana tapi yang jelas dari apa yang kita lihat enam bulan lalu Dara mengalami kejadian yang tidak mengenakkan. Entah Bagaimana ceritanya Dara dilecehkan oleh seseorang yang bahkan hingga kini kami tidak tahu siapa pelakunya karena memang tidak ada orang yang melihat tidak ada satupun saksi mata di sana. Dara ditemukan oleh teman Mas Jaka. Dia trauma berat tidak bisa bertemu dengan siapapun selain ibunya bahkan dengan Mas Jaka sekalipun dia tidak mau bertemu, dia ketakutan, keadaannya saat itu sangat memprihatinkan. Kami memang hilang bukan tanpa alasan. Kami hanya ingin fokus pada kesembuhan Dara. Alasan lain yang membuat kami tidak menghubungi kalian adalah kondisi Rifki. Kami berpikir jika kami memberitahu keadaan Dara yang sebenarnya, Rifki akan menjadi semakin terpuruk dan menyalahkan diri sendiri. Rifki baru saja semangat dengan hidupnya, baru saja tidak insecure dengan dirinya sendiri, kepercayaan dirinya baru bangkit setelah kecelakaan naas itu. Kami tidak mungkin memberikan kabar buruk ini padanya. Lagipula jika Rifki tahu keadaan sesungguhnya dia pasti akan datang ke rumah dan melihat Dara yang begitu histeris itu akan membuat Rifki semakin hancur dan tidak ada semangat untuk. Kami tidak ada pilihan lain waktu itu selain menghilang. Kami juga ingin menjaga kewarasan Dara dan Rifki. Memang ini pilihan yang salah, tapi jika kami memberitahu pun keadaan juga tidak akan berubah justru akan semakin menjadi lebih buruk."


Bu Rini hanya terdiam di tempat, beliau tak tahu harus berucap apa. Kenyataan yang beliau dengar tentu saja membuatnya syok. Beliau merasa bersalah karena sudah berpikir yang tidak-tidak tentang keluarga dara.


"Lalu Bagaimana keadaan Dara sekarang apa dia masih trauma?" Akhirnya pertanyaan itu muncul setelah beberapa saat terdiam.


"Alhamdulillah sudah jauh lebih baik. Dara sudah bisa tersenyum meskipun jarang. Sudah tak pernah histeris lagi, dengan masa kamu sudah mulai mengenal satu sama lain sudah mulai dekat lagi tapi tidak dengan orang lain."

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan ingatannya soal Rifki, apa dia melupakan anak Ibu?"


"Kami tidak pernah membahasnya, tapi yang kami tahu dia selalu melihat foto kebersamaan mereka sebelum kecelakaan itu. Tapi pernah dia bilang satu kali sama Ibu bahwa dia tidak mau dan malu jika harus bertemu dengan Rifki. Dia merasa sudah kotor dan tidak pantas untuknya. Jujur saja saya sedih melihat keadaan Dara. Itu sebabnya saya nekat mengatakan ini ke Ibu. Saya tidak mau salah paham ini menjadi lebih panjang dan lama tanpa adanya proses penyelesaian."


"Jujur saja Ibu juga bingung harus bagaimana? Rifki perlu tahu soal ini sekarang atau nanti? Kebetulan tadi Ibu mendapat kabar dari dokter bahwa operasi Rifki bisa dilakukan bulan depan jika kondisi Rifki stabil. Dia tadi sempat menolak karena Dara sudah meninggalkannya, menurutnya untuk apa dia bisa melihat jika Dara tidak ada di sampingnya, masa depannya sudah pergi meninggalkannya bersama dengan perginya Dara."


Akhirnya Bu Rini pun membuka suara perihal kondisi Rifki yang putus asa dengan hilangnya Dara. Semuanya ceritakan tanpa terlewat.


"Mereka sama-sama saling mencintai, tapi sayangnya ujian begitu berat menimpa mereka bahkan sebelum mereka menikah," gumam Ayu.


Nafasnya memburu, jantungnya terasa berhenti berdetak, kedua tangannya mengepal keras. Emosinya tiba-tiba saja membuncah mendengar kabar bahwa Dara dilecehkan dan hingga trauma.


Benar yang dikatakan Ayu tadi, kini dalam hati Rifki merutuki di diri sendiri. Ia adalah penyebab dari semuanya. Rasa bersalah dan benci pada dirinya sendiri membuat hati dan kita rasa teriris perih. Emosi yang baru saja ia tampakkan kini berubah menjadi lelehan air mata, ia terduduk begitu saja di lantai dengan bersandar dinding.


Rifki menangis tersedu dalam hening. Berusaha meredam tangisannya agar tidak terdengar oleh dua wanita yang berada di ruang tamu. Ia begitu merasa bersalah untuk banyak hal. Semua karena ketidakberdayaannya yang menjaga Dara, ia benar-benar kesal dan marah pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Saking marahnya ia memukul-mukul dadanya sendiri dengan. Melampiaskan segala amarah atas kebodohannya. Apalagi Rifki berkali-kali menekankan pada dirinya sendiri bahwa hilangnya Dara karena ia sudah tidak mencintainya lagi karena gadis itu sudah menemukan kebahagiaan dengan laki-laki lain. Rifki benar-benar merasa benci pada dirinya sendiri karena sudah tidak bisa berpikir positif tentang kekasihnya.


Bu Rini dan Ayu yang mendengar suara pukulan seketika berlari ke belakang. Keduanya begitu terkejut mendapati Rifki yang sedang menangis dan memukuli dirinya sendiri.


"Astag, Rifki Apa yang kamu lakukan, Nak?" Bu Rini berjongkok dan berusaha meraih tangan Rifki agar tidak memukuli dirinya sendiri.


"Rifki sadar Rif, istighfar." Ayu ikut berjongkok dan menenangkan.


"Aku mendengar semuanya, Bu aku dengar. Aku mau ketemu sama Dara, Bu. Ayu bawa aku ke rumahmu, Yu." Rifki begitu memprihatinkan.


"Sabar, Rif. Sebentar lagi kamu akan operasi lebih baik menunggu operasi dulu. Supaya kamu juga bisa melihat wajah dara."


"Dia belum menika, kan, Yu? Dia masih cinta sama aku, kan?" Pertanyaan yang seharusnya tak perlu ia tanyakan karena ia sejak tadi sudah mendengar obrolan ibunya dan juga. Namun, kurang lega rasanya jika Ayu tak mengucapkannya di depannya.


"Iya Rifki dia masih cinta kamu. Itu sebabnya bersabarlah sebentar  tunggu hingga kamu bisa melihat. Itu pasti akan menjadi mood booster untuk Dara. Itu yang ia inginkan dari lama. Kamu jangan fokus sama kesalahan kamu,  jangan merasa bersalah, jangan menyalahkan diri sendiri. Nggak akan ada pengaruhnya apapun dengan hubungan kalian. Berjanjilah padaku untuk tetap kuat demi Dara. Kembalikan semangatmu yang pernah redup, sinarmu sudah kembali, kamu harus punya semangat untuk kembali sembuh. Aku akan mengajaknya ke rumah sakit tak jadwa operasimu. Tapi jika dia tidak mau kamu harus bersabar untuk membujuknya dan mengembalikan kepercayaan dirinya seperti yang sudah dilakukan Dara kepadamu waktu itu. Kamu harus lebih keras kepala dari Dara. Kepercayaan dirinya sekarang sedang terjadi sehabis pada keadaannya sendiri, Rif. Aku yakin kalau cinta kamu tidak memandang apapun. Aku yakin meskipun Dara sudah di le..."

__ADS_1


"Dara masih suci untukku."


__ADS_2