Pamit

Pamit
86. Khawatir


__ADS_3

Rifki memejamkan kedua matanya, entah mengapa sedari tadi perasaannya sungguh tak enak. Ada sesuatu hal membuatnya merasa begitu gusar.


"Bu," panggil Rifki tiba-tiba. Dirinya meraba-raba nakas, mencoba untuk mencari benda pipih yang sempat dirinya letakkan di atas meja.


"Iya, ada apa?" Bu Rini berjalan menghampiri putranya itu, menatapnya dengan sorot mata penuh kekhawatiran.


"Aku mau hubungin Dara, perasaan aku nggak enak," kata Rifki membalas pertanyaan ibunya.


Bu Rini tersenyum, dirinya duduk di tepi ranjang, meraih ponsel Rifki yang ada di atas bantal, "Ibu bantu kalau gitu ya," kata Bu Rini mulai mencari kontak Dara di ponsel putranya itu.


Nada tunggu terdengar di indera pendengaran keduanya. Cukup lama mereka terdiam, menunggu sang pemilik ponsel menerima panggilan. Namun sayangnya, tak ada jawaban sama sekali.


"Kok nggak di angkat ya," gumam Bu Rini,


"Ibu coba sekali lagi ya," sambungnya yang dapat diangguki oleh Rifki.


Rifki dan juga Bu Rini menunggu dengan sabar, seolah sudah sangat tak sabar menantikan Dara menerima panggilan itu.


"Masih nggak di angkat," gumam Bu Rini semakin membuat perasaan Rifki tak enak.


"Mungkin Dara masih di jalan," sambung Bu Rini menoleh ke arah putranya itu. Sangat terlihat jelas jika Rifki tengah merasa khawatir pada Dara.


Rifki menggelengkan kepalanya, "nggak mungkin, Bu. Dara udah dari tadi pergi, harusnya dia udah sampai." Lagi dan lagi Rifki mencoba meyakinkan.


Bu Rini terdiam, jika dipikirkan lagi apa yang putranya katakan benar adanya. Seharusnya Dara sudah sampai, mengingat sudah sedari tadi Dara pulang.


Namun, Bu Rini menggelengkan kepalanya kuat, menepis segala pikiran buruknya, "Mungkin aja Dara kejebak macet."


Bu Rini sungguh tak henti-hentinya mencoba membuat pikiran Rifki jauh lebih tenang. Dirinya tak ingin jika Rifki harus terus berpikiran buruk tentang apa yang belum tentu terjadi.

__ADS_1


"Bu, jika tidak keberatan, boleh aku minta tolong buat hubungin kakaknya Dara?" tanya Rifki hati-hati, mencoba untuk sebaik mungkin menjaga perasaan Bu Rini.


Rifki tidak ingin bersikap semena-mena terhadap Bu Rini. Mau bagaimanapun juga dirinya harus meminta pertolongan dengan tutur kata yang baik.


Bu Rini menganggukkan kepalanya sekalipun menyadari jika Rifki tidak akan melihat itu, "Ya, ibu bantu ya," kata Bu Rini.


Bu Rini mulai mencari kontak Jaka yang ada di ponsel milik putranya itu. Berharap jika nanti Jaka mau menerima panggilan darinya.


Untuk beberapa saat, hanya ada nada tunggu yang mereka dengar.


Bu Rini melirik anaknya itu, "Kita tunggu lagi sebentar, ya? Mungkin kakaknya Dara mau angkat teleponnya nanti," kata Bu Rini yang dapat diangguki oleh Rifki.


Mereka kembali menunggu dengan sabar, sekalipun perasaan mereka sudah gusar. Terutama Rifki yang merasakan hatinya yang tidak karuan, dirinya sungguh sangat mengkhawatirkan Dara. Takut terjadi sesuatu kepada kekasihnya itu, apalagi Dara pulang malam hari.


Jika dalam keadaan seperti ini, Rifki seolah menyalahkan dirinya sendiri. Rifki marah pada dirinya yang tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan hanya sekedar menelepon pun Rifki harus meminta bantuan ibunya. Bukankah hal itu sangat menyakitkan? Entahlah.


Bu Rini kembali menekan nomor Jaka, mengingat sedari awal Jaka tidak menerima panggilannya.


***


Di tempat lain, Jaka masih ada di jalan, dirinya baru saja kembali dari bengkel. Namun getaran di ponsel yang sejak tadi menggangu fokusnya, menbuat ia memutuskan untuk berhenti sejenak.


Ya, ponselnya itu bergetar sedari lama, Jaka pikir panggilan itu sama sekali tidak penting. Namun ternyata, pada saat dirinya melihat jika panggilan itu dari Rifki, segera Jaka mengangkat teleponnya.


Sungguh, Jaka tidak berniat untuk mendiamkan ponselnya seperti tadi, namun karena mungkin dirinya sedang mengemudi, membuatnya berpikir jika panggilan itu bisa didiamkan untuk sementara waktu.


"Ya, ada apa?" tanya Jaka saat setelah panggilan telah tersambung.


"Di mana?" tanya Rifki di seberang sana, seolah sangat mempertanyakan di mana keberadaan Jaka saat ini.

__ADS_1


"Aku masih ada di jalan, baru kembali dari bengkel, ada apa?" tanya Jaka cukup penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi. Mengingat Rifki tidak mungkin mendadak meneleponnya jika tidak ada sesuatu hal yang mendesak.


"Tidak ada, sebenarnya aku hanya ingin memastikan apa Dara sudah kembali ke rumah?" tanya Rifki lagi.


Jaka diam sejenak, dirinya merasa ragu untuk menjawab, bagaimanapun juga dirinya tidak tahu apa Dara sudah sampai atau belum.


"Aku tidak tahu, tapi aku coba pulang terlebih dahulu, dan memastikan apa Dara sudah pulang atau belum. Mengingat, terakhir kali aku menghubunginya dan Dara mengatakan jika dia sudah ada di perjalanan, dia terjebak macet. Tapi, saat aku hendak pergi menyusulnya, Dara bilang kalau dia udah nggak kejebak macet lagi. Nanti ku hubungi lagi jika dia ada di rumah," sambungnya kemudian memutuskan sambungannya secara sepihak.


Tentu saja Jaka pun merasa sangat amat khawatir dengan apa yang mungkin saja terjadi. Jujur saja Jaka tidak bisa menenangkan pikirannya di sini, Jaka rasa seharusnya Dara sudah pulang dan kembali ke rumah. Namun mendengar bagaimana nada bicara yang Rifki lontarkan, Jaka merasa ada sesuatu hal yang terjadi.


Jaka sadar satu hal saat Rifki menghubunginya, itu karena Rifki tidak bisa menghubungi Dara.


Jaka menambah kecepatan laju motornya. Dirinya tidak bisa terus mengulur waktunya saat ini, ia harus segera sampai ke rumah dan memastikan jika adiknya itu ada di rumah.


Padahal pada saat Dara menghubungi Jaka, Jaka merasa sedikit lebih tenang karena Dara mengatakan jika Dara sudah tidak terjebak macet lagi.


Jaka menghentikan motor di depan rumah miliknya, ia bergegas turun dari kendaraan yang dahulu miliknya dan di hibahkan pada Dara, ia berlari ke dalam rumah.


"Ada apa? Kok lari-lari," tanya Bu Lin tiba-tiba saja menghampiri Jaka, menatap Jaka dengan tatapan penuh tanya.


Jaka yang mendengar itu pun menghentikan langkahnya, dirinya menoleh ke arah di mana ibunya berada.


"Dara udah pulang, Bu?" tanya Jaka bergegas seolah tidak ingin berbasa-basi lagi.


Bu Lin mengernyitkan dahinya bingung, kemudian menggelengkan kepalanya cepat, "Belum kok, Ibu pikir Dara ada sama kamu, bukannya udah dari tadi ya?" tanya Bu Lin ikut merasa panik.


"Sebenarnya aku sempat mau susulin Dara biar Dara tetap aman, tapi Dara bilang buat aku nggak usah datang. Jadi aku rasa nggak ada yang perlu dikhawatirkan lagi, karena Dara juga udah nggak kejebak macet," beber Jaka.


Bu Lin menghela nafas berat, dirinya menatap Jaka dengan tatapan penuh kekhawatiran, "Ya sudah kalau begitu, kamu cari dulu adik kamu sampai ketemu, Ibu mau coba hubungi Dara, siapa tahu Dara mau angkat teleponnya," kata Bu Lin panik seolah mendesak Jaka untuk segera pergi mencari di mana Dara berada.

__ADS_1


__ADS_2