Pamit

Pamit
38. Pamit


__ADS_3

Ayu dan Jaka kembali melanjutkan perjalanan. Mereka berencana akan mendatangi satu persatu rumah sakit yang berada di daerah itu.


Pikiran Ayu semakin tak karuan setelah mendengar kabar bahwa Alif kecelakaan dan nampak parah dibagian kepala. Ia sudah tak bisa memikirkan apapun lagi kali ini.


"Mas, sudah banyak rumah sakit yang kita datangi. Tapi nggak ada Alif di sana. Terus Alif ke mana, Mas?" Ayu menangis frustasi, saking lelahnya ia terduduk lemas di teras rumah sakit. Entah rumah sakit yang ke berapa tak terhitung lagi.


"Sabar, kita makan dulu gimana? Ini udah sore, dari pagi kita udah muter, kamu juga harus jaga kesehatan. Yang kamu urusin bukan kamu aja, tapi ada anak-anak, anak kamu ada tiga. Kalau kamu ada sakitnya, anak-anak kamu juga merasakan."


"Aku nggak nafsu makan, Mas.".


"Di paksa. Mau nyari Alif sampai ketemu, kan? Kalau sakit gimana kamu nyarinya?"


Ayu menghembuskan nafas panjang sebelum mengangguk. Dengan lemas Ayu berdiri dan bergegas pergi dari sana.


"Sus, suster. Dokternya mana? Itu anak yang kemarin saya tabrak udah siuman!" Gita dengan panik berteriak pada salah satu suster yang sedang melintas.


Teriakan dari Gita membuat langkah Ayu terhenti. Entah mengapa mendengar nama anak kecil ia ingin sekali kembali masuk ke dalam rumah sakit.


"Kenapa berhenti?"


"Nggak, aku tadi mendengar anak kecil yang di tabrak seseorang. Aku merasa ingin ke sana aja,"

__ADS_1


"Kita udah tanya dan tunjukkan foto Alif, kan tadi dan kata susternya nggak ada di sini. Jangan patah semangat, aku akan ada di samping kamu dalam keadaan apapun." Jaka menenangkan Ayu dengan mengelus pelan punggungnya.


Jujur saja sentuhan dari Jaka membuat Ayu semakin terasa lemah. Ingin sekali rasanya ia meletakkan kepalanya di pundak seseorang. Ia sungguh lelah hari ini baik lahir maupun batin. Penyesalan hingga kini tak bisa hilang dari pikiran Ayu. Seandainya saja ia tak mengizinkan Alif untuk ikut ayahnya, pasti ia akan masih berada di sisinya kali ini.


*


Anang pun sejak tadi pagi juga tak istirahat mencari sang anak. Ia mencari anaknya juga sambil mencari rumah kontrakan untuk ia tempati. Ia memutuskan pergi dari rumah selamanya, jika saja ia bisa memutuskan ikatan darah bersama ibunya, mungkin ia akan melakukan itu.


Pukul enam petang, Anang yang baru saja pulang langsung mengemasi barangnya. Ia akan pindah hari ini juga, ia juga kecewa atas apa yang dilakukan oleh sang ibu. Membuang anak yang tak berdosa atas kesalahan yang orang tuanya perbuat adalah tindakan kriminal.


"Nang, kamu ngapain kemas-kemas baju? Mau kemana? Dari pagi kamu kelayapan, bukannya kerja," protes bu Lasmi yang baru saja tiba di rumah anaknya.


"Kalau kamu pergi siapa yang akan urus ibu, Nang?"


"Ibu punya anak tiga. Ada Galuh dan Fadil. Anak bungsu ibu ada di sini. Biar dia yang urus ibu. Biar hobinya nggak hanya kelayapan keluar malam pulang pagi. Untuk biaya kehidupan ibu, minta sama Galuh. Anak laki-laki ibu yang selalu ibu banggakan pada semua orang. Lagi pula di antara anak-anak ibu, dia yang paling sukses dan kaya. Ibu nggak perlu mikir aku, aku bisa mengurus diriku sendiri. Aku pamit."


"Nang, berani kamu keluar satu langkah dari rumah ini, ibu tidak akan anggap kamu anak, kamu masih punya tanggunan kuliah Fadil."


"Mulai detik ini aku bukan anak ibu. Sudah puas, kan? Ada aku atau tidak, tidak akan bedanya. Semua pengorbanan yang aku lakukan hanyalah sia-sia. Saking gilanya aku menghormati ibu, aku sampai lupa kalau aku punya anak dan istri. Mereka juga butuh aku, tapi aku buta dengan kasih sayangku ke ibu. Hingga detik ini, aku kehilangan semuanya, apa ibu merasakam kesedihanku, ibu iba padaku? Nggak! Ibu justru membuat aku malu dengan tingkah ibu. Aku berada di titik terendah sekalipun, ibu masih menuntutku untuk menuruti apa kata ibu. Aku budak atau anak, Bu? Aku yang biayai hidup ibu setelah ayah meninggal, pernah ibu hargai aku? Ibu hanya menganggap dan membanggakan anak ibu yang berhasil menjadi pengusaha sukses atas modal istrinya. Pernah ibu dikasih uang sama Galuh? Pernah ibu diberi sesuatu berupa barang dari Galuh? Pernah Galuh bantu aku membiayai kuliah Fadil? Nggak, kan? Ibu mendapatkan semua itu dari aku, bu. Anak sulung ibu, tapi ibu tidak pernah anggap itu. Yang selalu ibu agungkan anak ibu yang kaya raya itu."


"Kok kamu jadi itung-itungan? Kamu tidak ikhlas melakukan itu semua? Kamu harus tahu, merawat dan membesarkan kamu tidak butuh uang sedikit, ka...."

__ADS_1


"Apa ibu hanya membesarkan aku? Galuh dan Fadil di besarkan siapa? Ibu meminta aku membalas semua jasa ibu? Kenapa Galuh tidak? Aku baru tahu, entah ke mana saja aku selama ini, aku baru sadar aku dilahirkan dari wanita seperti ibu. Jika saja aku bisa memilih, aku lebih baik mati saja saat masih jadi gumpalan darah."


Anang melangkah pergi, sebelum ia benar-benar murka lebih baik ia pergi saat itu juga. Sejujurnya ia tak ingin berkata begitu jahat pada ibunya, ia tak mau dianggap anak durhaka. Tapi, di sisi lain, ia juga kecewa akan tindakan ibunya. Dirinya yang berjuang menghidupi dan menguliahkan adiknya sama sekali tak pernah dihargai.


"Anang! Berani kamu sama ibu?" teriaknya dengan lantang.


"Aku bukannya berani sama ibu, tapi sepertinya aku memang harus pergi dari sini. Pergi dari lingkungan yang tidak menghargai aku, sama seperti Ayu yang pergi dari kehidupanku, karena aku buta akan keberadaan dan ketulusannya padaku. Aku pamit!" kata Anang tanpa menoleh kepada ibunya.


Wanita itu hanya terdiam diri di tempat.  Egonya yang masih menguasai seluruh sel dan sendi dalam seluruh tubuhnya membuat beliau kembali menyalahkan Ayu.


"Semua ini gara-gara Ayu dan anaknya itu. Lagian ke mana, sih si Alif. Kenapa sejak kemarin Anang cari nggak ketemu juga? Bikin ulah aja!" gerutunya kesal.


*


Hari yang sudah malam membuat Ayu dan Jaka memutuskan pulang. Mereka kembali ke rumah dengan harapan yang masih abu-abu. Belum ada kejelasan mengenai keberadaan Alif yang mengalami kecelakaan.


"Kita sudah sampai, Yu," ujar Jaka sibuk melepas sabuk pengamannya.


Tak ada respon dari Ayu, Jaka mengalihkan pandangan pada wanita yang ternyata sudah terlelap. Sangat terlihat dari wajah Ayu bahwa ia nampak lelah. Guratan kesedihanpun terlihat jelas di wajah ayunya.


Jaka bingung hendak bagaimana, ia tak tega jika harus membangunkan istirahat Ayu. Tapi jika tidak di bangunkan... Ah jaka jadi mengusap kepalanya kasar karena bingung.

__ADS_1


__ADS_2