
Sejak hari itu Rifki sudah benar-benar tak sabar ingin menjalani operasinya. Hal yang pernah tak ingin Rifki lakukan kini sangat ingin sekali ia lakukan dan bahkan ia merasa waktu berjalan sangat lambat.
Bayangan Rifki soal Dara yang dilecehkan dan trauma membuatnya semakin perih dan sakit. Ia menyadari satu hal, tidak ada di sampingnya saat kondisi seperti itu adalah sebuah kenyataan yang menyakitkan.
"Bu sekarang tanggal berapa?" tanya Rifki saat sarapan.
" tanggal satu, kenapa?"
"Nggak apa-apa, itu artinya lima hari lagi aku operasi, kan? operasinya jad, kan, Bu?" Entah berapa kali Rifki meyakinkan hal itu.
"Iya jadi, nggak sabar, ya pengen ketemu Dara?"
"Iya, aku berharap mudah-mudahan Dara nggak menjauhi aku seperti aku menjauhinya dulu. Kalaupun, iya aku juga akan keras kepala seperti dia. Aku jadi malu pada diriku sendiri, Bu. Aku sudah berpikir yang tidak-tidak, aku sempat berpikiran bahwa Dara melupakan aku, melupakan cintaku, melupakan cintanya dan bahagia dengan laki-laki lain. Mudah-mudahan Dara tidak pernah tahu pikiranku yang sepicik ini."
"Kalau kamu nggak ngasih tahu, ya dia nggak akan tahu. Ibu senang kebahagiaan kamu kembali."
***
"Ra, lima hari lagi Rifki operasi. Kamu mau datang ke rumah sakit?" tanya Ayu saat berkumpul bersama keluarga di rumah.
"Kok kamu tahu?" Jaka yang bertanya.
__ADS_1
"Beberapa minggu yang lalu aku ketemu sama Rifki aku datang ke rumahnya." Ayu menjawab secara terang-terangan karena sudah tahu bahwa Rifki menerima Dara apa adanya.
Jaka terhenyak. Wajar, karena ia tak pernah tahu kapan istrinya itu menemui Rifki di rumahnya. Sedikit kesal karena melakukan sesuatu tanpa seizinnya. Tapi ia baru saat tidak menunjukkannya di depan keluarganya.
"Kok gak izin sama, Mas? Kapan kamu ke sana?"
"Maaf, bukannya mau kurang ajar. Tapi, kalau aku izin sama kamu nggak kamu izinin, kan? Kalau aku nggak gerak siapa yang mau gerak? Kalau aku nggak ke sana kita semua nggak akan tahu kalau Rifki mau operasi. Aku melakukan ini karena nggak mau kesalahpahaman ini terus-menerus berlarut-larut. Kamu tahu nggak kalau Rifki selama ini berpikiran bahwa Dara itu udah bahagia sama laki-laki lain dia ngira Dara udah nikah. Kamu bayangin dong disaat kondisinya yang lumpuh buta dia memikirkan hal lain. Bahkan saat dia dikabari mau operasi pun dia nggak mau kenapa karena pikirannya itu tadi. Dia berpikir untuk apa dia bisa lihat kalau yang ingin dia lihat itu udah nggak ada. Aku disini nggak nyalahin siapa-siapa, ya Mas. Aku hanya menyayangkan waktu yang terbuang enam bulan itu."
Dara yang menjadi topik utama di pembahasan itu malah diam saja dan tak bergeming. Entah apa yang ia pikirkan, nampaknya ia terlalu tenggelam dalam pikirannya.
"Dar, kamu nggak apa-apa, kan?" tanya Bu Lin sedikit khawatir.
"Nggak apa-apa bu memang aku kelihatan kenapa-napa?"
"Aku malu ketemu dia, Bu. Aku nggak pantes buat dia, dia pasti bisa menemukan perempuan yang lebih baik dari aku."
"Kamu yang terbaik buat dia, Dara. Kamu nggak denger tadi omongan Mbak? Dia nggak mau operasi karena nggak ada kamu di samping dia. Itu artinya bisa diambil kesimpulan bahwa dia lebih baik buta selamanya daripada kehilangan kamu."
"Itu, kan sebelum terjadi kejadian malam itu, Mbak." Dara masih kekeh dengan pendiriannya.
"Setelah dia tahu semuanya pun dia tetap sama, tetap sama pendiriannya, dia mau operasi karena tahu kalau kamu belum menikah dan dia tahu kalau kamu butuh dia."
__ADS_1
Dara terdiam. Ia tak tahu harus senang atau sedih ataukah malu dengan apa yang terjadi. Rifki pernah di posisi seperti ini kehilangan kepercayaan diri, tidak percaya dengan dirinya sendiri, membenci dirinya sendiri, tapi ia begitu kekeh dengan perasaannya. Ia kekeh dengan cintanya dan akhirnya Rifki kembali dengan semangat yang baru. Apakah pria itu juga akan melakukan sama terhadapnya?
"Gimana mau datang nggak?" Ayu bertanya kembali karena belum mendapatkan jawaban dari gadis itu.
"Jangan tanya itu dulu, Dek!" tukas jaka yang mengerti perasaan Dara yang bingung.
"Mungkin lain hari aja, Mbak ketemu sama dia, aku belum siap." Dara menjawab sembari menunduk.
Di malam hari.
Dara menatap halaman samping rumahnya yang dipenuhi dengan pohon mangga. Duduk di dekat jendela kamarnya dengan jendela terbuka. Merasakan angin malam yang bertiup sedikit kencang. Membuat rambutnya yang selama ini tertutup kerudung melambai-lambai karena tiupan angin.
Dara masih ingat betul bahwa seharusnya bulan ini mereka melangsungkan pertunangan. Dan ia pun seharusnya sudah sibuk dengan skripsinya. Tapi semua itu hanya angan-angan saja yang entah kapan akan terlaksanakan.
"Apa Tuhan percaya kalau cintaku ke kamu begitu kuat, Kak? Sampai-sampai Tuhan percaya kepada kita bahwa kita mampu menghadapi ini semua, ini terlalu berat untukku dan juga untukmu. Apa aku salah, apa aku berdosa, jika aku berharap kita bisa saling memiliki suatu hari nanti? Apakah aku terlalu egois jika berharap seperti ini. Aku nggak tahu lagi ujian apa yang akan menimpa kita ke depannya nanti, aku selalu berharap apapun jalan Tuhan nantinya kita akan bahagia. Meskipun aku sedikit memaksa pada Tuhan bahwa aku ingin bersama denganmu. Aku masih ingat pernah mengatakan bahwa cintaku ke kamu itu untuk hari ini, esok dan selamanya. Dan ternyata Tuhan masih mengabulkan doaku, cintaku padamu masih tetap sama apapun keadaanmu. Tapi aku terlalu takut untuk ketemu sama kamu."
Ditemani dengan gemerisik dedaunan yang tertiup angin. Dara, berbicara dengan dirinya sendiri. Mengira-ngira bagaimana perasaan keduanya dan bertanya-tanya kenapa ujian tak kunjung ada penyelesaiannya. Ia tak menyesali apa yang sudah terjadi, ia hanya menyelami apa maksud Tuhan memberikan ujian seberat ini.
"Jangan takut ada Abang! Kan kamu udah bilang tadi kalau Rifki mau operasi hanya karena kamu apa yang kamu takutkan?"
"Aku nggak tahu Bang, tapi rasanya aku belum siap ketemu sama dia. Meskipun aku sebenarnya pengen banget ketemu sama dia. Aku pengen peluk dia, aku mau menumpahkan tangisku yang selama ini tertahan untuknya." Dara mulai terisak. "Aku kangen banget, Bang sama dia. Aku merindukan semuanya aku hanya ingin.." Dara tak mampu melanjutkan kalimatnya dia memeluk pinggang sang Kakak yang berdiri di sampingnya.
__ADS_1
Jaka diam mengelus punggung adiknya. Membiarkan segala kesedihan dan beban yang selama ini ia tahan tumpah melalui air matanya.